
Sebuah jaket parasut boomber berwarna hitam membalut tubuh Tian yang kini tengah berjalan menyusuri salah satu jalanan utama di kota Cienfuegos bersama dengan Meda. Meski kebesaran dua ukuran, jaket milik Meda itu lebih hangat dari mantelnya yang kini basah dan tergantung di lengan kanan pemuda itu. Meda yang mengkhawatirkan kondisi Tian jika gadis itu dibiarkan berjalan di luar ruangan dengan baju yang basah, memutuskan untuk membawa gadis itu ke sebuah bangunan dua lantai bercat krem. Bangunan yang bertuliskan Teatro Tomas Terry di tembok atas lantai duanya itu adalah sebuah gedung teater yang cukup terkenal di Cienfuegos.
Keduanya tiba di aula besar yang sepi karena sedang tidak ada pertunjukan. Saking besarnya gedung itu, keduanya bisa memilih tempat duduk yang berjauhan dengan pengunjung lainnya.
"Mau foto?" tanya Tian sambil mengeluarkan ponsel miliknya.
Sebenarnya, Meda tidak suka mengambil foto diri kecuali benar-benar dibutuhkan. Ia bahkan akan cepat-cepat kabur menghindar saat mendengar seseorang mulai menyebut kata "foto bareng" atau "selfie". Namun, entah mengapa, menolak permintaan Tian tiba-tiba terasa menjadi hal terakhir yang ingin dilakukannya saat ini.
Pada akhirnya, Meda mengatur posisi tubuhnya sehingga berada di dalam jangkauan kamera depan ponsel Tian. Gadis itu melempar senyum kecil ke arahnya sebelum menatap kameranya dan menekan tombol jepret. Meda yang mencuri lihat hasil jepretan yang kini ditampilkan di layar ponsel Tian mengernyitkan dahi.
"Ini kamera depan kamu yang rusak atau tangan kamu yang tremor waktu motret?"
Tian memberikan tatapan "take it or leave it" pada pemuda itu. Meda menghela napas panjang. Ingatannya kembali di malam saat Afgar mencoba memamerkan segala hal yang ia ketahui tentang Tian. Saat itu, Afgar memang menyebutkan bahwa Tian benar-benar payah soal mengambil gambar.
"Aku pinjam HP kamu, ya?" Meda tidak menunggu sampai Tian menjawab. Dalam hitungan detik, ponsel ungu metalik itu sudah berpindah ke tangannya.
"Buat apa?" Tian bertanya penasaran. Namun, ia tidak mencoba merebut kembali ponselnya.
"Buat menunjukkan ke kamu cara motret yang benar."
Meda memosisikan ponsel di tangannya itu dengan jarak beberapa sentimeter di depan tubuhnya. Tanpa menunggu Meda memberi aba-aba, Tian meletakkan dagunya di bahu pemuda itu. Hal itu refleks dilakukannya saat berfoto dengan orang yang lebih tinggi darinya. Meda yang tadinya berniat sedikit menjahili Tian dengan mengambil potret saat gadis itu tidak siap berpose akhirnya malah membuat dirinya sendiri yang terlihat tidak fokus dalam gambar.
Kepala Meda berputar hampir 90 derajat untuk memastikan bahwa gadis itu tidak dengan sengaja mengambil jarak sedekat itu dengannya. Namun, melihat Tian yang kelihatan lebih tertarik dengan hasil foto mereka dibandingkan dengan kedekatan yang sebelumnya tercipta di antara keduanya, membuat Meda mencoba tidak memikirkan hal itu lebih jauh. Setelahnya, ponsel milik Tian itu seolah menjadi hak milik Meda. Tian mempercayakan tugas dokumentasi pada pemuda itu, melihat kemampuan Meda untuk mengambil kualitas gambar yang bisa dibilang jauh lebih "layak" daripada dirinya.
Tepat pukul 2 siang, Tian mulai kelaparan. Meda yang mendengar suara nyaring yang berasal dari perut gadis itu langsung menyemburkan tawanya. Tian hanya bisa cengengesan salah tingkah. Keduanya memutuskan untuk mampir di sebuah restoran bernama Camillia yang memiliki pemandangan langsung ke arah laut. Sebenarnya ada banyak restoran dengan pemandangan serupa di jalanan yang mereka lalui itu, tetapi keduanya sepakat bahwa restoran itulah yang paling menarik untuk dikunjungi.
Keduanya asyik membicarakan tentang potret-potret yang mereka ambil sepanjang perjalanan. Meda sendiri mulai terbiasa menjadi objek bagi kamera ponsel Tian dan tidak lagi berpikir dua kali untuk ikut berpose ketika Tian meneriakkan kata selfie saat berada di tempat-tempat yang menurutnya instagramable.
Saat sedang asyik mengobrol, Meda tidak sengaja menjatuhkan potongan daging ayam yang ditusuknya asal-asalan dengan garpu. Saus tomat yang melumuri potongan daging itu jatuh di permukaan kaos putih yang dikenakannya dan meninggalkan noda oranye kemerahan. Meda sudah mencoba mencuci noda itu di toilet, tetapi hanya bisa menghilangkan sisa saus yang menempel di permukaan kaosnya saja.
"Pake jaket kamu lagi nih!" Perintah Tian yang melihat jejak noda itu malah kelihatan semakin melebar di bagian kaos Meda yang awalnya tidak terkena cipratan saus. "Masa ganteng-ganteng berantakan."
Tanpa sadar, Meda tersenyum kecil mendengar komentar gadis itu. Baginya, mendengar orang lain memuji ketampanan wajahnya bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Namun, mengetahui bahwa gadis itu memberinya penilaian serupa membawa sensasi baru baginya.
Meda menolak mengambil kembali jaketnya. Baju Tian memang sudah mengering, tetapi mantel tebal yang sejak beberapa jam lalu disimpannya dalam ransel itu, tentu tidak akan mengering dengan sama cepatnya. Ia tidak akan membiarkan gadis itu berkeliaran di jalanan Cienfuegos yang sedang berangin kencang tanpa mantel untuk melindungi tubuh mungilnya.
Tian tidak memaksa lebih jauh. Dirinya tidak yakin bisa mengalahkan kekeraskepalaan pemuda itu tanpa melalui perdebatan panjang yang menguras emosi. Tidak. Perjalanan mereka masih panjang. Tian tidak mau kelelahan jauh sebelum perjalanan itu berakhir.
__ADS_1
Saat keduanya membayar pesanan mereka di kasir, Tian melihat setoples kecil kapur tulis putih di sisi mesin hitung.
"Meda. Tanyain ke kasirnya, boleh enggak kita beli kapurnya satu biji aja," bisik Tian sambil sedikit berjinjit untuk memastikan suaranya sampai di telinga pemuda itu.
"Buat apa?" tanya Meda setelah menyampaikan permintaan Tian pada kasir itu.
Tian menunjuk bagian depan kaos Meda yang dihiasi noda saus. Dahi meda semakin berkerut, tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Meda merasa bahwa dirinya tidak akan menangkap maksud Tian kecuali ia melihat sendiri apa yang akan dilakukannya dengan benda itu. Segera setelah Meda meletakkan benda itu di telapak tangan Tian, gadis itu menariknya ke arah wastafel yang berjajar di depan toilet pada bagian belakang gedung.
"Permisi, ya," ujar Tian sembari menarik ujung kaos pemuda itu dan meletakkan tangannya di belakang bagian tempat noda saus itu berada.
Meda hanya bisa menatap semua itu dengan mata melebar. Degupan jantungnya yang terdengar sampai ke telinga itu membuatnya cemas kalau-kalau Tian juga mendengarnya. Padahal, Tian sendiri yang kelihatan tengah sibuk menggoreskan kapur di atas kain yang terbentang di permukaan tangannya itu, sebenarnya juga sedang mati-matian mencoba berkonsentrasi untuk menghilangkan noda di kaos Meda secepat mungkin sambil meredakan debaran di dadanya sendiri.
Tian mencoba untuk tidak mengangkat wajahnya yang terasa menghangat. Namun, ketika Meda bergerak-gerak gelisah, punggung tangan Tian menyentuh kulit di balik kain itu. Spontan Meda menahan pergelangan tangan Tian yang memegang kapur dan membuat gadis itu mengangkat wajahnya. Meski sekilas, Meda sempat menangkap semburat kemerahan di pipi Tian yang ternyata disembunyikannya sedari tadi.
Meda tertawa dalam hati mengetahui bahwa kedekatan ini bukan hanya mempengaruhinya, melainkan juga Tian. Dan ia tidak lagi bisa menahan diri saat menyadari semuanya. Tangannya menyentuh pipi Tian yang semakin memerah.
"Kamu sakit? Kok muka kamu merah?."
Meda semakin gencar menggoda Tian yang mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil mengucek permukaan kain di tangannya itu. Meda yang awalnya hanya menyentuh pipi Tian dengan ujung jari, kini menggunakan kedua tangannya untuk menangkup wajah gadis itu dan menarik kepalanya untuk mendongak.
Tian yang sejak tadi sudah merasa gemas karena menyadari maksud tindakan Meda, meninju perutnya dengan tenaga yang cukup untuk membuat pemuda itu kesakitan selama beberapa saat. Sambil bersungut-sungut, Tian membasuh permukaan kaos Meda yang sudah kembali putih seolah tidak pernah terkena noda saus sama sekali.
Ponsel Tian yang berada di saku Meda berbunyi. Meda mengeluarkannya dan menunjukkan nama Afgar yang muncul di layar ponselnya. Tian memberi isyarat pada Meda untuk mengangkatnya karena tangannya basah dan ia tidak mau membuang-buang tisu yang tadi sengaja "dicurinya" dari meja restoran untuk mengeringkan pakaian Meda. Restoran di Kuba memang berbeda dengan tempat makan di Indonesia yang dengan murah hatinya menyediakan sekotak tisu di setiap mejanya.
"Halo?" Meda menjawab telepon dari Afgar itu sambil kembali mencubiti pipi Tian.
"Meda?" Di seberang telepon, Afgar mengerutkan keningnya. Safira yang melihat perubahan ekspresi Afgar dari balik etalase totebag mencoba menebak apa lagi yang sekiranya membuat mood kekasihnya itu jungkir balik.
"Tian di mana? Kenapa HP dia ada di kamu?" tanya Afgar lagi. Sama sekali tidak menyembunyikan ketidaksenangan dalam suaranya.
"Di sebelah. Kalau ada yang mau dibicarakan, bilang saja. Nanti aku sampaikan," jawab Meda.
"Kalau ada yang mau aku sampaikan sama Tian, aku akan ngomong sendiri sama dia, bukan sama kamu."
"Oke. Kalau kamu bisa pilih-pilih seperti itu berarti hal yang ingin kamu bicarakan dengan Tian tidak semendesak itu. Kami sedang menghabiskan waktu berdua. Jadi, aku akan menutup teleponnya dulu." Meda mengatakannya sembari berjalan menjauh dari Tian dan melangkah ke luar restoran.
Tian keluar dari balik pintu restoran. Jaket milik Meda kembali membalut tubuhnya dan hanya memperlihatkan bagian bawah minipants-nya saja. Tangan Meda kembali bergerak ke pipi Tian yang masih memerah, tetapi kali ini gadis itu menampik tangannya.
__ADS_1
"Aku hanya mau bilang terima kasih." Meda beralasan sambil menunjuk bagian kaosnya yang sudah kembali bebas noda, meskipun masih sedikit basah. Melihat itu, Tian kembali mengingat tisu-tisu yang disimpannya tadi. Ia mengeluarkan benda itu dari balik saku jaket dan menyerahkannya pada Meda.
"Tadi Afgar ngomong apa?" Tian membuka percakapan saat keduanya melanjutkan agenda jalan-jalan mereka.
"Sepertinya dia ingin tahu kamu sedang berada di mana, tetapi waktu kamu keluar tadi teleponnya sudah dimatikan." Meda mengangkat bahu. "Kamu mau telepon balik?"
Meda berniat menyerahkan ponsel itu kembali ke arah Tian, tetapi gadis itu menggeleng pelan. Ia malah memasukkan tangannya ke dalam saku jaket yang dikenakannya. Sedikit menggigil ketika angin laut berhembus melewatinya. Meda mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan ponsel Tian dari sakunya, lalu menarik tangan kanan gadis itu keluar dari saku jaket yang dikenakannya. Namun, sebelum Tian menyuarakan protesnya, tangan Meda menggenggam erat tangannya dan mulai kembali berjalan. Tian hanya bisa membuka tutup mulutnya menanggapi kelakuan pemuda yang masih memasang ekspresi poker-face itu.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5 sore waktu setempat. Kini, keduanya tengah berada di atap bangunan Palacio de Valle, sebuah kastil yang dibangun di wilayah Cienfuegos sekitar tahun 1800-an. Sebuah restoran yang berlokasi di teras atap bangunan itu menjadi tempat keduanya melepas penat sekaligus melihat sunset di ujung Teluk Cienfuegos. Pelabuhan yang terletak di samping teluk itu pun terlihat dipadati pengunjung.
"Empat jam lagi kita balik ke Havana, Ti," Meda menyeruput kopinya sambil menatap wajah Tian yang tengah memandang jauh ke tengah lautan.
"Iya. Kamu udah bilang tadi habis sarapan." Tian mengubah posisi duduknya untuk kembali menatap Meda.
Meda melihat sisa-sisa cahaya matahari yang menimpa wajah Tian membentuk siluet di satu sisi wajah gadis itu. Pemuda itu menahan napas ketika angin yang berhembus di ketinggian gedung memainkan helai-helai rambut Tian yang sebelumnya terselip rapi di belakang telinga. Tatapannya tidak bisa beralih. Bahkan saat gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap balik ke dalam bola mata Meda.
***
"Have a safe journey, Pal."
Pitó memberi tepukan hangat di pundak Meda ketika pemuda itu menyambut pelukan perpisahan yang ditawarkannya. Tian di sisi lain menerima kecupan dari Yeni di kedua pipinya. Setelah puas saling berbalas lambaian tangan dengan pasangan pemilik hostel itu, keduanya lalu berjalan beriringan menyusuri jalanan menuju stasiun.
Segera setelah keduanya memasuki gerbong dan duduk di sudut kursi masing-masing, keheningan melingkupi keduanya. Sejak beberapa jam lalu, keduanya memang sudah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Momen saat keduanya tidak bisa melepaskan pandangan dari satu sama lain di atap Palacio de Valle mungkin adalah salah satu pemicunya. Atau mungkin seluruh waktu yang mereka habiskan di jalanan kota Cienfuegos-lah yang membuat keduanya merasa perlu untuk menyibak makna di balik kebersamaan itu.
Percakapan pertama sejak mereka keluar dari kota Cienfuegos terjadi ketika Tian menyadari waktu yang ditunjukkan oleh arloji di tangan kirinya. Waktu tidur Meda.
Setelah mengetahui penyakit Meda, keduanya memang sesekali berbincang tentang topik tersebut selama perjalanan. Dari sana, Tian mengetahui bahwa selain meminum obat dengan teratur, Meda juga harus mematuhi jam tidur dan bangun yang sama setiap harinya demi mengontrol agar narkolepsinya tidak kambuh. Tepat pukul 11 malam inilah saat di mana Meda seharusnya mulai mengistirahatkan tubuhnya.
"Meda. Kamu tidur aja. Nanti jam 4 aku bangunin," kata Tian sambil melirik wajah Meda yang memang terlihat kelelahan.
"Boleh pinjam bahunya?"
Pertanyaan itu meluncur cepat dari bibir Meda tanpa sempat ia cegah. Namun, pemuda itu sama sekali tidak berniat menarik kembali kata-katanya. Ia menatap mata Tian sebagai gantinya. Gadis itu sendiri tengah mempertimbangkan sikap apa yang harus diambilnya. Pada akhirnya, kepalanya yang tidak bisa memikirkan apa pun selain kata "ya", hanya bisa mengangguk pelan.
Meda menggeser posisinya untuk lebih mendekati Tian yang duduk di dekat jendela. Ia mengembuskan napas lega ketika pelipisnya menyentuh bahu gadis itu. Sebelum terlelap, Meda memikirkan momen-momen yang dilaluinya bersama Tian. Mulai dari saat ia melihat sosok gadis itu menuruni tangga rumahnya, pertengkaran di mobil hingga kabin pesawat, sampai semua petualangan mereka di Kuba.
Sesungguhnya, hatinya tak sulit menerjemahkan segala yang dirasakannya dalam satu kata. Namun, ada sesuatu di kepalanya yang menahan agar ia tidak menyentuh lebih dari yang seharusnya ia sentuh, atau mengatakan lebih dari yang sepatutnya di dengar gadis itu. Tidak sebelum ia sendiri mampu menemukan apa yang membuatnya ragu untuk mengungkapkan perasaannya dengan jujur.
__ADS_1