
Terminal-3 di bandar udara José Martí sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti beraktivitas sekalipun waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tian berjalan menuju tempat pengambilan bagasi sembari meregangkan leher dan pinggulnya yang sedikit kaku. Pdahal ia sudah berusaha mengatur tempat duduknya dengan kemiringan yang paling sesuai dengan posisi tidurnya. Afgar memijat tengkuk sahabatnya itu sejenak sebelum berjalan mendahului Tian dengan tangan lainnya yang bertaut erat dengan tangan Safira.
"Mampir makan dulu ya, sebelum ke hotel. Aku laper banget." Hera yang berikutnya menyejajari langkah Tian menggamit lengannya dan setengah menariknya untuk bergegas.
"Iya, kita nanti minta chauffeur-nya mampir di Jama dulu." Alvin menenangkan.
"Di Jama ada nasinya?"
Pertanyaan itu membuat Tian melempar pandang ke sumber suara. Tatapannya bersirobok dengan Meda. Pemuda itu melempar senyum lemah yang hanya dibalas dengan anggukan singkat oleh Tian. Bukannya ia enggan melupakan insiden di kabin pesawat tadi. Tian hanya mengantisipasi agar tidak terlalu kecewa karena "kedamaian" di antara mereka berdua bisa berakhir secepat dimulainya.
"Spesialis masakan Asia 'kan, Ti?" Alvin melempar pertanyaan itu pada Tian.
"Iya." Tian menjawab singkat.
Selain melakukan riset tentang destinasi wisata yang ingin dikunjunginya, Tian juga mencari tempat makan yang sesuai dengan lidah Hera. Sahabatnya yang satu itu hanya bisa makan masakan Asia. Di luar itu, tubuh Hera akan melakukan berbagai protes keras. Salah satunya, dengan cara mengeluarkan seluruh isi perutnya beberapa saat setelah mengkonsumsi makanan "asing" tersebut.
"Nasi goreng ada enggak, ya?" Mulut Hera mulai berair ketika ia membayangkan seporsi besar makanan favoritnya itu tersaji hangat di hadapannya.
"Jauh-jauh ke Kuba makannya tetep aja nasi goreng." Afgar yang mendengar percakapan mereka hanya bisa menggeleng-geleng heran.
"Emangnya lidah manusia itu bunglon yang bisa berubah-ubah seleranya cuma karena beda tempat berpijak?" Hera membalas ketus. Tidak terima seleranya dilecehkan.
"Inget dietnya." Safira ikut berkomentar. "Vin, jangan lupa kamu tanyain dulu di mana gym-nya begitu sampe hotel. Nanti bangun tidur, pacar kamu kalap kalau enggak liat treadmill."
"Diem enggak!" Hera mencubit pelan pinggul Safira.
Pertengkaran kecil itu baru berhenti ketika bagasi mereka mulai terlihat.
***
Afgar mengernyitkan kening ketika mendengar Tian menyebutkan pesanannya.
"You okay? Tadi roti, sekarang salad. Kamu diet?"
Meda yang juga hampir menegur Tian karena kebetulan duduk bersebelahan dengannya, kembali menutup bibirnya.
"Enggak. Perutku lagi males aja ngolah yang berat-berat." Tian beralasan.
"Mana ada perut males. Yang ada kamu yang males." Afgar mulai mengomel.
Ujung matanya melirik Safira yang langsung melambaikan tangannya kembali ke arah pelayan yang baru saja kembali dari arah dapur.
"Si, señorita?*" Pelayan berkulit langsat itu tersenyum sopan saat menghampiri meja mereka.
"Puedo hacer pedidos adicionales?*"
Safira bertanya dengan logat Spanyol yang sempurna. Siapa pun yang mendengarnya tidak akan menyangka kalau gadis itu adalah turis yang bahkan berasal dari benua yang berbeda. Apalagi melihat tipe wajahnya yang memang kelatin-latinan.
"Por supuesto, Mam!*" Pelayan itu menyerahkan buku menu baru ke tangan Safira dan mulai mencatat ketika Safira menyebutkan pesanannya.
"Quieres un vaso de mojito? Está en la casa?" Pelayan itu mengatakan sesuatu setelah selesai mencatat.
Safira melempar pandang ke arah lima orang lain yang berada di meja yang sama dengannya, menunggu jawaban. Tanpa ia sadari bahwa hampir semua orang yang duduk di meja itu tidak memahami satu pun kata yang terucap dari bibir Safira dan pelayan itu. Hampir. Karena pada detik berikutnya, Meda berdeham dan menyelamatkan keempat korban "buta bahasa" itu dengan mengulang pertanyaan itu menggunakan bahasa ibu mereka.
"Enggak ada yang mau minum mojito? Gratis."
Empat kepala menggeleng cepat sebagai jawaban.
Pelayan yang memperhatikan kejadian itu hanya bisa tertawa dalam hati sebelum menyesuaikan diri dengan para pelanggannya itu.
"Okay. Your order will come in about 15 minutes. Please, excuse me."
"Hemh!" Tian mengembuskan napas yang tak sengaja ia tahan.
__ADS_1
"Wow!" Alvin ikut bersuara.
"Kamu belajar bahasa Spanyol di mana?" Alvin mencondongkan tubuhnya di depan Tian untuk meninju dada Meda pelan.
"Di rumah," jawab Meda singkat.
"Privat?" Safira ikut penasaran.
"Otodidak."
Lima orang yang mendengar jawabannya itu saling bertatapan. Tidak ada yang menyuarakan isi pikirannya dengan lantang, tetapi mereka yakin bahwa mereka sependapat atas satu kata.
Jenius.
Apa lagi kata yang lebih tepat untuk menyebut orang yang sukses mempelajari sebuah bahasa tanpa melalui proses transfer ilmu antar guru dan murid? Mungkin mereka tidak akan bereaksi seperti itu, kalau Meda hanya memahami bahasa tulisan. Namun, pemuda itu membuktikan ia memahami bahasa tutur yang biasanya hanya bisa dikuasai ketika ia secara aktif mempraktekkan penggunaan bahasa itu dalam kehidupan sehari-hari. Mengikuti kelas privat dengan guru yang dibayar mahal, misalnya.
Afgar memecah keheningan ketika pesanan mereka datang.
"Dihabisin," ucapnya sambil melirik Tian yang hanya bisa menatap mangkuk berisi jamur dan sayur-sayuran di hadapannya itu dengan perut bergejolak.
"Kayanya penyakit Hera nular ke aku deh, Vin," bisik Tian lirih, sehingga hanya ia dan Alvin yang bisa mendengar.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi ketika rombongan itu tiba di kamar hotel mereka. Alvin memesan dua suite room dengan masing-masing ruangan memiliki dua kamar tidur. Mereka akan tinggal di sana selama beberapa hari ke depan. Hera dan Tian tidur di kamar yang memiliki double bed karena Hera takut tidur sendiri dan hanya Tian yang rela berbagi ruangan dengan orang lain. Di sisi lain, Alvin tidur di kamar utama di suite-nya, sedangkan Meda dan Afgar berada di kamar lainnya.
Tian merasa baru tidur selama beberapa menit ketika ia mendengar pintu ruang kamarnya diketuk. Tian menggeliat pelan sebelum melihat ranjang Hera yang sudah tidak berpenghuni. Gadis itu mengerang pelan saat melihat jam di dinding kamar hotel yang masih menunjukkan pukul 9 pagi lebih sedikit. Ia tidur 1 jam lebih sedikit daripada Hera dan Safira yang kebetulan sedang tidak memiliki kewajiban untuk menanti waktu subuh. Karena itu, ia berharap tidak diganggu sampai setidaknya beberapa puluh menit lagi.
"Tian." Suara bariton yang menyertai ketukan berikutnya itu kontan membuat mata Tian terbuka selebar-lebarnya.
Seluruh indranya terjaga sempurna saat otaknya mengenali pemilik suara itu. Tian buru-buru melompat turun dari ranjangnya. Namun, akibat tubuhnya belum berfungsi optimal karena kurang tidur, lututnya tidak mampu menopang beban tubuhnya. Tian jatuh dalam posisi menyamping, lengan kirinya terbentur pinggiran kasur milik Hera. Dari bibir Tian meluncur suara mengaduh keras tanpa bisa ia cegah. Ia sudah bisa meramalkan bahwa beberapa jam lagi, bagian lengannya yang terbentur itu akan menunjukkan jejak memar. Tian sudah bangkit dari lantai ketika pintu kamarnya terbuka dan Meda menerobos masuk ke ruangan.
"Kenapa kamu teriak?" Meda yang menghentikan langkahnya di dekat kaki ranjang Hera bertanya panik.
Gadis itu berpura-pura membereskan tempat tidurnya sambil meraih sebuah bantal dan mendekapnya di depan dada sebelum kembali menatap Meda.
"Kenapa kamu ke sini pagi-pagi?"
Meda mengangkat alisnya. "Kamu yakin ini masih pagi?"
"Untuk orang yang baru tidur jam 5 subuh ... sure, this is early." Tian membela diri.
"Sarapan cuma sampai jam 10. Kalau kamu enggak turun sekarang, kita terpaksa harus cari makan di luar hotel."
"Kita?" Tian mengernyitkan dahi. "Kamu juga baru bangun?"
"Hell, no! Memangnya aku kamu?"
Tian berdecak kesal. "Terus kenapa kamu juga belum sarapan?"
"Aku menunggu putri tidur yang sepertinya tidak akan bangun kecuali dicium sama pangerannya."
"For real? Kamu sadar sarkasme kamu garing banget, 'kan?" Tian mendengus sinis.
"Tian. Aku butuh sarapan secepatnya." Meda menekankan.
"So do I. Aku juga butuh sesuatu yang lebih mengenyangkan daripada ocehan orang yang kalau laper galak, kalau kenyang nyebelin!"
Tian melempar bantalnya kembali ke kasur dan berjalan ke arah kamar mandi dalam kamarnya. Ia menutup pintunya dengan kekuatan yang wajar sekalipun ada dorongan kuat dalam dirinya untuk melampiaskan kekesalan pada benda mati yang tak akan bisa membalas perlakuan semena-menanya itu.
***
"Ayo."
__ADS_1
Tian keluar dari kamarnya dalam balutan balloon dress hitam bermotif bunga-bunga. Kali ini Tian tidak menguncir rambutnya karena ujung-ujung rambutnya masih basah.
Meda memperhatikan pakaian yang dikenakan gadis yang berjalan di depannya itu dan membandingkannya dengan pakaian yang dipakainya saat kali pertama mereka bertemu. Meda, seperti laki-laki pada umumnya, hampir tidak peduli dengan bentuk pakaian seperti apa yang membalut tubuh perempuan yang ditemuinya. Namun, entah mengapa, sejak ia melihat penampilan Tian saat bangun tidur tadi, otaknya tidak bisa berhenti memunculkan sosok gadis berparas manis itu dengan tiga balutan busana yang berbeda. Saat akhirnya ia menyadari apa yang sebenarnya ia cari dalam ingatannya itu, wajahnya memerah tanpa mampu ia cegah.
"Aku jalan duluan. Semoga buffet-nya belum dirapiin." Meda mencoba mendahului langkah Tian yang ternyata tengah asyik membaca sebuah note kecil di tangannya.
Meda yang awalnya berniat menjauh demi meredakan pikiran-pikiran aneh di kepalanya itu berhenti demi melihat tulisan yang menjadi judul catatan kecil itu.
"Escape plan?" Meda membaca keras-keras kalimat tersebut. "Seriously? Kamu mau kabur dari apa, Ti?"
"Sopan sekali." Tian melemparkan catatan itu kembali ke dalam ransel yang baru Meda sadari keberadaannya.
"Kita mau ke mana bawa ransel, Ti?"
Tian menghentikan langkahnya, berbalik menatap Meda yang ikut berhenti. "Tidak ada 'kita', Meda. Cuma aku. You're out of the plan." Tian berkata tegas. Ia butuh liburan untuk melepas kepenatan, bukan untuk menambah stress dengan terus beradu mulut dengan Meda.
"Kamu bisa anggap aku sebagai surprise. Out of plan, 'kan?"
Tian melongo tak percaya. "Kamu bukan kejutan, Med. Kamu itu disaster. Kamu enggak cuma ngerusak mood aku, tapi juga merusak rencanaku untuk mencoba bersikap baik sama kamu. Serius, deh! Aku sampe mikir aku punya saudara dengan wajah yang mirip banget seperti aku dan dia pernah mutusin kamu pas kamu lagi sayang-sayangnya!"
Meda tidak bisa menahan tawanya mendengar ocehan absurd yang meluncur dari bibir mungil gadis itu.
"Sinetron banget," dengkusnya di sela tawa.
"Yeah? Kamu mau tahu apa yang lebih sinetron? Kamu memusuhi orang yang baru pertama kali kamu temui. Kamu tahu kenapa itu sinetron? Karena kemungkinan terjadinya seharusnya enggak lebih dari 10 persen. Tapi, ternyata ini terjadi di antara kita berkat kamu." Tian menghembuskan napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Jadi, kalau kamu MEMANG mau kisah hidup kamu terus berlanjut dengan alur seperti sinetron-sinetron itu, kamu bebas untuk tetap bersikap seperti itu ke aku."
Tian memutar langkahnya menuju lobi hotel dan keluar dari gedung megah itu. Perutnya yang memang sejak awal sudah menunjukkan tanda-tanda pemberontakan semakin membuatnya kehilangan selera makan. Ia sudah siap melangkah kembali ketika tangan Meda menahan lengannya.
"Aku ikut kamu." Meda berkata tegas.
"Enggak!" tolak Tian tanpa ragu.
"Aku ikut kamu." Meda mengulangi dengan penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.
"No. Kita enggak boleh berada pada jarak kurang dari 100 meter. Kamu itu racun buat mood-ku." Tian sama sekali tidak menahan diri lagi untuk mengeluarkan kata-kata kasar. Pemuda di hadapannya itu seolah punya magnet untuk menguras semua emosi negatif keluar dari dirinya.
"Fine. Aku tidak akan bicara kalau aku tahu itu akan bikin kamu marah. Jadi, biarin aku ikut kamu." Meda masih tidak melepaskan cengkeramannya dari lengan Tian.
"Di pesawat kamu bilang akan berhenti men-judge aku dan memberi aku kesempatan untuk bersikap 'normal', tapi kamu memulai pertengkaran sebelum genap satu jam kamu bilang begitu. Kita bahkan belum turun dari pesawat dan kita sudah enggak akur lagi." Tian menggeleng pelan. "Aku biasanya bukan orang yang suka terlibat dalam pertengkaran soal benar dan salah, tapi kamu bikin aku kelihatan seperti orang yang suka mencari masalah dalam pertemuan sesingkat ini. Aku enggak bisa merusak jati diriku lebih jauh gara-gara kamu, Med."
Tian mencoba menarik paksa lengannya, tetapi Meda bergeming.
"Aku juga bukan orang yang suka membuat keributan sebelum ini, Ti." Pemuda itu mengusap wajahnya. "Oke. Aku sadar. Aku yang memulai semua pertengkaran ini dan aku tidak bisa bilang kenapa. Ini juga asing buat aku, tapi bukan berarti aku membenci eksistensi kamu. Aku cuma ...."
Meda menggigit bibirnya. Kemarahan Tian sedikit mencair melihat penyesalan yang terpancar di wajah pemuda itu. Ia tidak lagi mencoba menepis sentuhan Meda dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan pemuda itu dengan sabar.
"Aku merasa ... aku berulang kali merasa salah memberikan penilaian sama kamu. Semua itu karena, kurang lebih seperti yang kamu bilang, kamu mengingatkan aku pada beberapa orang di masa laluku yang pernah nyakitin aku."
Tian memutar bola matanya.
"Aku tahu kamu bukan mereka dan sama sekali tidak mirip mereka, tapi kamu membuat aku merasakan perasaan yang sama seperti saat itu. Aku sendiri tahu, menyamakan kamu dengan mereka itu tidak adil. Aku sadar kamu tidak seburuk itu. Karena itu, aku sedang mencoba memperbaiki kesalahan aku dalam menilai kamu dengan cara terus berada di dekat kamu dan memperhatikan kamu lebih baik," jelas Meda.
"Kamu sadar 'kan ini kedengarannya aneh banget? Apa aku harus merasa tersanjung karena kamu ingin 'memperhatikan' dan 'menilai' aku seolah aku barang yang harus lulus uji kelayakan sebelum dipajang di etalase?" Tian tertawa sinis.
"Fine, Tian! Aku butuh bantuan kamu untuk mengatasi trauma menyebalkan yang bikin aku semena-mena memberi penilaian buruk ke orang lain ini." Meda mempererat cengkeramannya tanpa sadar.
"Fine, Meda. Kalau begitu kamu bisa mulai dengan cara menilai tindakanku sesuai dengan sudut pandangku, bukan sesuai standarmu. Kita awali dengan ngobrol tanpa sarkasme dan tendensi saling sindir. Bisa?"
Catatan Penulis
Si, señorita? = Ya, Nona?
Puedo hacer pedidos adicionales? = Boleh aku memesan makanan tambahan?
__ADS_1
Por supuesto, señorita! = Tentu, Nona!