Les Láches

Les Láches
The Jealousy


__ADS_3

Hujan baru saja reda ketika Tian dan Meda sampai di sebuah kafe yang menjadi tempat tujuan mereka. Tian melempar pandang jengah ke arah langit. Perasaannya jadi sedikit tak enak. Bukan karena mendung yang masih menggantung di atas kepalanya, melainkan karena titik air yang jatuh itu hampir selalu menjadi pertanda buruk bagi hubungannya dengan Meda.


Selain kenangan saat mereka berada di Lembah Viñales, tak ada lagi kejadian baik yang terjadi di antara keduanya sebelum, setelah, ataupun saat hujan turun. Sebut saja saat berada di Havana sehari setelah mereka kembali dari Cienfuegos atau saat berada di taman bermain beberapa minggu lalu. Tian merasa ia butuh lebih dari sekedar keberuntungan untuk membuat percakapan yang akan terjadi di keduanya berjalan ke arah yang semestinya.


Tian bergerak menuju meja kasir untuk memesan dua cangkir hot milkshake beserta satu loyang pizza keju pedas. Setelah membayar pesanannya di muka, ia kembali mendahului Meda untuk mencari lokasi tempat duduk. Lagi-lagi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meda yang biasanya menjadi "si pendiam" dalam interaksi antara keduanya bahkan sampai mencoba memeras otak untuk menemukan sesuatu yang bisa memancing gadis itu untuk bersuara. Namun, tak ada yang bisa ia pikirkan untuk mencairkan ketegangan tersebut mengingat dirinya bukan orang yang terbiasa membuka suatu percakapan.


Untungnya, Tian tidak memperpanjang aksi diamnya saat keduanya sudah duduk di sudut restoran pizza yang kebetulan sedang sepi itu.


"Aku biasa ke sini kalau lagi banyak tugas dari kampus. Di sini suasananya selalu setenang ini dan sekalipun lagi banyak pelanggan, biasanya aku bisa booking tempat di bagian belakang. Memang sedikit pricey, sih, tapi scenery-nya worth the bills."


Tian membuka percakapan dengan penjelasan panjang lebar, seolah tak pernah ada kediaman yang sangat mencekam di antara keduanya beberapa menit sebelumnya. Pertama kalinya sejak bertemu dengan Tian, Meda akhirnya bertanya-tanya bagaimana mekanisme kerja otak gadis itu, sampai-sampai dirinya bisa memproduksi kata-kata ajaib yang bisa melelehkan kebekuan di antara mereka dalam hitungan detik seperti itu.


"Kamu sering ke tempat ini sama Afgar?" Ironisnya, hanya itu kata-kata yang mampu dipikirkan oleh Meda untuk merespon ucapan Tian.


Tian tersenyum tipis. Ia tidak segera merespon pertanyaan Meda itu, tetapi menunggu sampai pelayan yang membawa minuman selesai meletakkan dua cangkir cairan kental berwarna putih di atas meja mereka. Setelah selesai melakukan tugasnya pelayan itu melangkah kembali ke arah dapur.


"Cuma aku. Ini adalah suakaku SENDIRI," tegas Tian sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ia semakin pesimis akan arah pembicaraan mereka melihat bagaimana pemuda itu menolak untuk berbasa-basi dan langsung melempar topik inti ke permukaan.


"Kamu tidak pernah mengajak laki-laki yang kamu sukai sejak kecil ke tempat ini dan malah mengajak aku, orang yang bahkan belum kamu kenal lebih dari tiga bulan? Sounds convincing enough for your own ears?"


Tian tahu bahwa pertanyaan yang dilemparkan Meda itu bersifat retorik, tetapi ia merasa perlu untuk menjelaskan pendapatnya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam sambil mencoba menyusun kalimatnya dengan baik sebelum melontarkan isi kepalanya.


"Aku mengajak kamu ke sini bukan untuk membandingkan siapa di antara kamu atau Afgar yang lebih berhak mengetahui eksistensi tempat ini. Aku mengajak KAMU ke sini karena kamulah orang yang ingin aku ajak bicara. Kamulah orang yang aku harap tidak salah paham mengenai perasaan aku. Kamu yang penting sekarang, bukan Afgar."


"Tapi kita tidak akan duduk di sini kalau bukan karena laki-laki itu." Meda mencondongkan tubuhnya ke arah meja.


"Jangan," tukas Tian cepat, "panggil Afgar dengan sebutan 'laki-laki itu'."


"See?" Meda tertawa sinis.


"Afgar sudah tidak lagi menempati posisi orang yang aku sukai dalam hati aku, tapi tidak akan ada seorang pun yang bisa membuat aku membuang dia sebagai sahabatku." Tian menatap Meda tajam.


"Cuma sahabat? Yakin?"


"Meda. Jangan buat aku kecewa dengan terus-terusan menyerang hubungan pertemananku dengan Afgar." Tian memperingatkan sembari menahan kekesalannya yang mulai menjelma air mata.


Hati Meda sedikit mencelos saat melihat ekspresi Tian, apalagi saat mendengar kata "kecewa" dari bibir gadis itu. Semarah apa pun dirinya saat ini, ia tidak ingin membuat gadis itu membalas perasaannya itu dengan emosi yang sama. Ia tidak mau sampai Tian menyerah padanya karena kekeras kepalaannya.


"Lalu apa yang harus kita bicarakan di sini tanpa mengungkit nama Afgar?" Meski memutuskan untuk menyerah, rupanya Meda masih belum bisa melepaskan nama itu dari daftar penyebab masalah di antara dirinya dan Tian.


"Kita akan membahas Afgar, tapi nanti di saat yang tepat."


Gadis itu kembali menghentikan ucapannya. Kali ini giliran satu loyang pizza yang diantar ke meja mereka. Tian mulai memotong-motongnya menjadi beberapa bagian dan meletakkan irisan pertama di piring Meda.

__ADS_1


"Yang aku mau tanyakan adalah ke mana aja kamu selama beberapa minggu ini? Apa maksud dari menghilangnya kamu akhir-akhir ini? Kamu sedang mencari solusi atau memang itu cara kamu untuk menunjukkan kalau hubungan kita ini tidak bisa dilanjutkan?" Tian menutup pertanyaannya dengan ekspresi seperti usai membayangkan sesuatu yang memuakkan.


"Apa kita punya 'hubungan', Ti?" Meda balik melempar pertanyaan.


"Menurut kamu tidak?"


"You tell me. Coba tempatkan diri kamu pada posisiku. Seseorang menolak untuk meresmikan hubungan romantisnya sama kamu dengan alasan masih ingin mencoba melihat kesungguhan kamu lebih jauh. Namun, pada saat kamu sedang berusaha mati-matian mengejar pengakuannya, kamu malah mendengar kalau dia dan sahabatnya pernah saling suka." Meda menyisir satu sisi rambutnya ke belakang. " Kalau kamu jadi aku, apa kamu tidak akan meragukan banyak hal, seperti 'Apa dia sudah benar-benar menyudahi perasaannya di masa lalu? Atau dia hanya mencoba memanfaatkan kamu untuk membantu dirinya melupakan mengenai sahabatnya?'"


Tian mengerutkan keningnya. "Aku nggak menyangka kamu sampai berpikiran seperti itu. Maaf karena aku sudah membuat kamu merasakan perasaan tersebut. Namun, kamu harus percaya bahwa aku mengatakan semuanya dengan jujur sama kamu. Perasaan sukaku sama Afgar sudah jadi masa lalu."


"Dari mana kamu tahu semua itu? Atas dasar apa kamu bilang kalau kamu sudah moving on?" Meda mencecar Tian dengan pertanyaan lainnya.


"Atas dasar nama yang selalu aku sebut dalam hati setidaknya lima kali sehari, atas dasar chat history yang kubaca setiap kali aku merindukan sosok yang mengirim pesan itu untuk aku, juga atas dasar wajah laki-laki yang kuingat sebelum aku terlelap. Semua itu tak lagi ada kaitannya dengan Afgar. Yah, tapi melihat watak kamu yang biasanya, tentu penjelasan dari aku ini akan tetap membuat kamu memendam keskeptisan yang tersisa." Tian mengangkat bahunya pelan. "Padahal dengan kamu duduk di depanku untuk membicarakan hal ini saja seharusnya sudah memberikan petunjuk yang gamblang tentang siapa sosok yang tidak mau aku biarkan terus salah paham mengenai perasaanku."


"Kamu belum menjawab dugaanku tentang kamu yang mungkin dengan atau tanpa sadar mencoba memanfaatkan aku untuk melupakan Afgar." Meda menatap potongan pizza di piringnya yang sama sekali tak tersentuh.


"Lihat mata aku dan bilang kalau kamu melihat aku berharap bahwa yang duduk di hadapanku ini bukan seorang Andromeda Harel. Bilang kalau kamu melihat ketidak tulusan di sana."


Tian sadar bahwa hal yang dikatakannya itu terlewat dramatis untuk didengar di kehidupan nyata. Namun, dengan sebagian otaknya tidak bisa menemukan kata-kata yang lebih meyakinkan daripada itu; sementara sebagian lainnya merasa cukup yakin bahwa kontak mata terbukti secara ilmiah dapat membuat manusia membaca isi hati satu sama lain, ia melontarkan pernyataan penutupnya itu.


Meda menuruti permintaan Tian untuk menatap ke dalam mata gadis itu. Sayangnya, Meda tidak bisa menahan tawanya saat melihat pipi Tian yang semakin memerah seiring dengan semakin lamanya waktu yang mereka habiskan untuk saling menatap. Tian merengut kecewa saat pemuda itu memutuskan kontak mata itu terlebih dahulu. Namun, kekesalan itu tak berlangsung sama ketika tangan pemuda itu terangkat di atas meja.


"Oke. Kita baikan," ujar Meda sambil melempar senyum tulus.


Tian buru-buru menyambut uluran tangan Meda seolah takut pemuda itu akan berubah pikiran jika Tian tak segera bereaksi.


Tian melempar tatapan geli ke arah Meda untuk yang kesekian kalinya. Pemuda itu terlihat masih merasakan efek pedas pizza yang tadi dimakannya, sekalipun sudah menghabiskan dua botol air mineral berukuran tanggung dalam perjalanan pulang dari restoran. Tian sudah hampir membuka mulutnya untuk menggoda Meda kembali ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Iya, Ra?" sapa Tian setelah membaca nama Hera di layar ponselnya.


"Tian!" pekik Hera di seberang telepon, membuat Tian hampir menjatuhkan ponselnya dalam usahanya untuk menjauhkan benda itu dari gendang telinganya. Bahkan, Meda yang duduk di sebelah Tian bisa mendengar volume suara Hera yang di luar batas kewajaran itu.


"Kenapa nggak cerita kalau kamu jatuh dari tangga?! Masa aku harus datang ke rumah kamu kayak gini dulu untuk denger kabar terbaru dari kamu?!" keluh Hera masih dengan suara melengking.


"Iya, sorry! Rencananya aku mau telepon kamu nanti begitu sampai di rumah."


Tian melempar pandang sekilas ke arah Meda saat pemuda itu bersiul pelan saat mendengar kalimat terakhirnya. Meda tentu sudah bisa menebak bahwa cerita tentang percakapan di antara dirinya dan Tian akan menjadi topik utama yang dibicarakan pada "telepon" itu.


"Ngomong-ngomong ada apa sampai kamu main ke rumah tanpa nge-chat dulu? Nggak biasanya," lanjut Tian lagi.


"Ada yang mau aku bicarain langsung sama kamu, Ti. Secepatnya," balas Hera.


"Tentang?" Dahi Tian berkerut.

__ADS_1


Meda yang sesekali mencuri pandang pada ekspresi gadis itu saat bertelepon, ikut-ikutan mengerutkan dahinya tanpa sadar.


"LANGSUNG." Hera menyahut penuh penekananan.


Tian menghela napas sebelum mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang dan akan tiba beberapa menit lagi.


"Telepon aku kalau kamu sudah selesai bicara sama Hera." Meda berpesan sebelum pergi meninggalkan pekarangan depan rumah Tian.


Namun, telepon yang dinantikan pemuda itu tak kunjung datang hingga hampir tengah malam. Dan tepat setelah ia memutuskan untuk mencoba menghubungi Tian terlebih dahulu, yang sebenarnya sudah dipikirkannya sejak beberapa jam lalu, ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.


Dari Tian.


Meda buru-buru menekan tombol "lihat" pada tampilan pop-up di layar ponselnya yang bahkan belum sempat terkunci sejak berjam-jam lalu, saking seringnya pemuda itu memeriksa ponselnya tiap beberapa menit sekali.


"Maaf aku nggak bisa nepatin janji aku untuk telepon kamu hari ini. Aku sama Hera dan Alvin harus ke Denpasar malam ini juga. Aku nggak bisa jelasin banyak ke kamu sekarang. But, I promise, I owe you so much explanations when I get back home."


Begitu isi pesan dari gadis itu.


Meda tahu bahwa ia harus menahan diri untuk tidak memaksa Tian menjawab semua keingintahuannya saat ini. Termasuk pertanyaan mengapa nama Afgar dan Safira tidak disebutkan dalam rombongan itu. Meda menggelengkan kepalanya pelan sebelum meletakkan ponselnya ke atas nakas di samping tempat tidurnya dan mulai merebahkan dirinya untuk menjemput kantuk.


Sementara itu, Tian di sisi lain, sedang duduk di kursi first class pada pesawat yang beberapa jam lagi akan mendarat di pulau dewata itu. Gadis itu memang terlihat sedang mengistirahatkan tubuhnya, tetapi sebenarnya pikirannya sedang melanglang buana ke segala penjuru. Ingatannya kembali pada kabar yang membuat Alvin dan Hera terburu-buru mencarinya sampai ke rumah, sore tadi.


"Safira kabur ke Bali." Begitu Hera membuka percakapan di antara ketiganya.


"Kabur gimana?" Alis Tian hampir bertaut mendengar perkataan sahabatnya itu. Setahunya, Safira yang berasal dari Bali itu memang sering "pulang" ke sana saat sedang ingin.


"Dia habis ribut sama Afgar."


Mendengar nama itu kembali disebut untuk yang kesekian kalinya seharian itu membuat Tian berjengit tanpa sadar.


"Kamu udah tahu?" Kali ini giliran Alvin yang bertanya, mengira kalau Tian telah mendengar kabar itu dari Afgar yang memang sangat dekat dengannya.


"Aku baru dengar," koreksi Tian.


Sesampainya di Denpasar, ketiga muda-mudi itu pergi ke vila milik Safira dengan menggunakan taksi. Di tempat itu, Safira ternyata sedang mengadakan sebuah party. Vila yang berukuran masif itu dipadati oleh hampir seratus tamu undangan yang asyik dengan kesibukan mereka sendiri-sendiri. Safira sendiri, yang baru berhasil ditemukan oleh Alvin setelah hampir setengah jam pencarian, sedang berada di atap vila yang menyerupai rooftop gedung-gedung tinggi di tengah ibu kota. Gadis itu tengah asyik menghisap asap dari sebatang rokok di tangannya sambil memandang ke arah kelap-kelip lampu pemukiman penduduk yang berada di sebelah barat vila itu.


"Oh my gosh! Safira!" Hera langsung menghambur dan memeluk Safira saat gadis itu memalingkan wajahnya yang pucat ke arah ketiga tamunya itu.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Safira dengan suaranya yang tak biasanya terdengar selemah itu.


"Kami khawatir sama kamu, Idiot! Kamu pasti berantem hebat sama Afgar sampai-sampai kamu kabur ke sini dan ngerusak diri kamu kayak gini lagi." Hera melempar tatapan menyalahkan kepada tumpukan karton bungkus rokok yang hampir semuanya sudah habis dihisap oleh Safira itu.


Alvin tidak menunggu sampai Hera melanjutkan omelannya saat tangan lebarnya membuang semua batang rokok yang tersisa ke arah tanah. Safira tidak memprotes karena perhatiannya kini teralih pada Tian. Setelah terdiam cukup lama seolah tengah menimbang-nimbang apa yang ingin dikatakannya, gadis itu akhirnya membuka suara.

__ADS_1


"Tian. Ada sesuatu yang terjadi waktu kita jalan-jalan ke taman bermain beberapa minggu lalu?"


Pertanyaan itu sebenarnya murni keingintahuan dari Safira, tetapi di telinga Tian yang memang menyembunyikan sesuatu dari Safira, semua itu terdengar seperti sebuah tuduhan telak yang menjatuhkannya dalam vonis bersalah.


__ADS_2