
Sepeninggalnya Tian, Afgar mengusap wajahnya yang basah dan berjalan santai keluar dari pekarangan depan rumah Tian.
Sebelum benar-benar pergi, ia masih menyempatkan diri untuk menyapa Diro dan Eko, dua orang yang dipekerjakan Adler untuk menjaga rumah dan keluarganya. Kedua laki-laki paruh baya itu juga sempat mempertanyakan alasan Meda dan Tian terburu-buru pergi tanpa menunggu Afgar. Tentu saja, keduanya mungkin sudah bisa menebak bahwa sepasang kekasih itu sedang bertengkar melihat dari cara Meda dan Tian pergi, hanya saja mereka tidak mengetahui penyebab pertengkaran mereka.
“Ribut sedikit tadi. Namanya orang pacaran, Pak. Pasti masih banyak berantemnya. Sedang melalui masa penjajakan.” Afgar mencoba menjelaskan.
“Itu dia. Kenapa nggak sama yang wes lama kenal saja pacarannya? Iyo ndak, Mas Afgar?” sahut Eko dengan logat Jawanya yang kental, sambil memain-mainkan alisnya ke arah Afgar.
“Hush! Sembarangan kowe, Ko. Sama-sama sudah punya gandengan semua.” Diro menepuk lengan Eko sambil menyengir malu-malu ke arah Afgar seolah dirinya lah yang mencetuskan ide ngawur itu.
Afgar menggeleng kecil sambil memasang raut wajah sedih sebelum membalas ucapan Diro tersebut.
“Saya sudah sendiri sekarang, Pak Diro.”
“Lho!” Diro dan Eko berseru hampir bersamaan.
“Sama Mbak Safira kan sudah tunangan? Kok bisa putus, yo?” Eko menatap Diro meminta persetujuan, tetapi malah mendapat cibiran dari rekannya itu.
“Tunangan itu beda sama nikah, Ko. Jadi, masih bisa putus juga.” Diro menggeleng kecil atas pertanyaan lugu dari laki-laki yang sebenarnya lebih tua empat tahun dari dirinya itu, sebelum menatap ke arah Afgar lagi. “Ada masalah apa Mas Afgar sama Mbak Firanya? Mbak Tian sudah tahu?”
Afgar tersenyum tipis sebelum menjelaskan, “Tian tentu yang pertama tahu mengenai berita apa pun tentang saya. Saya sama Safira, yah—kami terlalu banyak menumpuk masalah kecil, sehingga ketika ada gesekan besar, masalah kecil itu jadi bom yang meledak dan menghancurkan semuanya.”
“Mbak Tian nggak terlibat ‘kan, Mas Afgar?”
Pertanyaan Diro yang tepat sasaran membuat Afgar sempat menahan napas.
Laki-laki yang satu itu memang mengenal dirinya dan Tian sejak kecil. Ia bahkan mengenal Afgar jauh sebelum Tian datang ke rumah Adler karena ayah Afgar adalah sahabat baik Adler. Hal itu membuat Afgar merasa bahwa terkadang laki-laki itu bisa membaca dirinya dengan sangat baik.
“Terlibat piye toh, Ro?” celetukan Eko menyelamatkan Afgar dari keharusan untuk menjawab.
“Ya, terlibat ... semacam orang ketiga gitu. Eh, apa ya nyebutnya. Mengganggu hubungan gitu lah, Ko. Ah, kamu ini! Apa-apa nggak tahu,” omel Diro.
“Weleh, guendeng kamu iki, Ro. Mosok kamu nyamain Mbak Tian kayak pelakor gitu,” celetuk Eko tak terima majikan kesayangannya itu dijelek-jelekkan.
__ADS_1
Diro sendiri hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil mengusap dadanya dan berucap istighfar. Bukan karena mengakui kesalahannya, melainkan karena frustasi dengan cara Eko menarik kesimpulan dari pertanyaannya.
Afgar sendiri mengambil kesempatan untuk berpamitan di tengah keributan antara kedua laki-laki itu.
Saat kakinya sudah jauh melangkah meninggalkan bangunan rumah Tian, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengirim pesan kepada Tian.
*Aku pulang dulu. Aku minta maaf kalau kedatanganku hari ini bikin kamu dan Meda berantem lagi.
Maaf. Mungkin ini pertanda bahwa kita memang harus menjauh, Ti. Ini mungkin akan jadi terakhir kalinya aku menemui kamu. Tapi, sekali lagi, kamu bisa tetap hubungi aku kalau kamu perlu. Meskipun mungkin selama beberapa minggu ini, aku tidak akan ada di rumah dan membantu kamu secara langsung.
Aku mau menenangkan diri dulu.
See you, maybe, Tian*.
Afgar menekan tombol send setelah beberapa kali membaca isi pesannya sendiri dan memastikan bahwa pesan itu bisa melancarkan tujuannya untuk memecah perhatian Tian agar tak melulu terfokus pada Meda. Ya, dengan mengisyaratkan bahwa dirinya ingin menyendiri setelah putus dengan Safira, Tian pasti semakin tak mampu menuruti kemauan Meda untuk menjauhi dirinya.
Afgar tak peduli meski ia sendiri menilai caranya cukup rendahan. Melihat cara Meda mengatur-atur hidup Tian dan memaksakan pendapatnya pada gadis itu−bahkan sampai mendikte dengan siapa saja Tian bisa berteman—Afgar semakin yakin bahwa laki-laki itu bukan yang terbaik untuk Tian. Bukan tak mungkin bahwa laki-laki itu akan memonopoli Tian lebih jauh lagi saat Tian sudah benar-benar ditaklukannya.
Tian berjalan terseok-seok saat memasuki pekarangan rumahnya. Ia tak benar-benar mendengarkan ucapan dari Eko yang duduk di pos jaga bersama Diro saat dirinya asal membalas seruan itu dengan lambaian tangan kirinya. Tangannya yang satu lagi sedang menjinjing heels yang sengaja ia lepas karena membuat pergelangan kakinya yang terkilir semakin nyeri.
Suasana rumah yang sepi karena ayah, ibu, dan adik bungsunya sedang berada di Swedia, semakin membuat perasaan Tian hampa. Beruntung, masih ada Lidia dan Joan yang menemaninya di rumah. Keduanya tetap berada di Indonesia karena mereka harus bersekolah.
Joan terlihat sedang asyik meracuni Lidia dengan berderet-deret informasi mengenai dunia K-Pop yang digilainya itu, saat Tian ikut bergabung di ruang tengah. Lidia sendiri terlihat sangat serius menyerap data mentah baru yang dijejalkan ke otaknya itu, meskipun tak lupa untuk menjawab salam yang diucapkan oleh Tian.
Tian memeriksa ponselnya dan membaca pesan dari Afgar. Kalau tidak ingat bahwa di dekatnya ada dua adiknya, ia pasti sudah menangis meratapi seluruh kejadian yang ia lalui hari ini. Pertama kemurkaan Meda, lalu Afgar yang sepertinya depresi karena masalahnya dengan Safira.
Ia tidak bisa memilih di antara dua orang tersebut. Jelas kalau berbicara cinta, hanya nama Meda yang ada di hati Tian. Namun, kasih sayangnya pada Afgar yang menjaganya sejak kecil tentu tak mudah diabaikannya. Apalagi saat keadaan Afgar sedang terpuruk seperti ini.
Tak tahan lagi dengan semua tekanan yang menyesakkan benaknya, Tian akhirnya mengalihkan perhatiannya kepada kedua adiknya yang masih asyik berbincang.
“Kalian sudah belajar?” tanya Tian.
Lidia mengangguk cepat, sementara Joan terlihat tak acuh saat menjawab, “Nggak ada PR.”
__ADS_1
Tian hanya bisa menggigit lidahnya agar tidak meneriakkan petuah-petuah bahwa belajar dan mengerjakan PR itu sudah beda kelasnya; bahwa seharusnya belajar dilakukan setiap hari, bukan menunggu kalau ada tugas. Sebab, ia sendiri ingat bahwa dirinya di usia yang sama dengan Joan pun tidak suka memegang buku pelajaran saat sedang di rumah.
Namun, sekalipun tidak suka belajar, Tian tahu cita-citanya. Yah, meskipun cita-cita itu akhirnya berubah seiring dengan semakin berkembangnya nalar dan pengalamannya.
“Kamu pengen jadi apa dengan semua pengetahuan itu?” Tian memutuskan bertanya pada Joan saat Lidia meminta jeda untuk mengambil air minum.
“Jadi artis,” jawab Joan penuh semangat.
“Artis Korea?” tanya Tian dengan nada sedikit menggoda membuat Joan meliriknya tajam.
“Artis go international. Bisa konser di Indonesia, Korea, Jepang, China, Hollywod.” Meski kesal, rupanya Joan masih terlihat antusias menyampaikan rencana-rencana masa depannya.
“Hollywood itu buat aktris yang main film, Jo. Katanya kamu pengennya jadi kayak BoA yang bisa nyanyi sama dance itu.” Lidia yang baru kembali dari dapur mengoreksi penjelasannya.
“Oke, konser di Amerika.” Joan mencebik kesal karena tak suka ketahuan salah.
“Tapi di rumah nggak ada yang ngerti musik,” tambahnya sambil melipat tangan di depan dada.
“Ya, kalau Kak Meda ke rumah, kamu bisa ngobrol tuh sama Kak Meda. Kak Meda kan pernah cerita kalau dia sempat punya band di sekolahnya,” usul Lidia polos.
Dan keduanya kembali terlibat perbincangan seru. Kali ini tentang betapa kekasih kakak sulungnya itu selain berbakat di bidang tarik suara juga memiliki wajah mirip dengan idol-idol K-Pop yang mereka lihat di koleksi MV milik Joan. Mengabaikan Tian yang sekali lagi tenggelam dalam kegalauan atas ingatan pertengkarannya dengan pemuda itu.
Catatan Penulis:
Wes \= sudah
Kowe \= kamu
Piye toh \= gimana sih
Guendeng kamu iki \= (gendeng)/ gila
Mosok \= masak
__ADS_1