Les Láches

Les Láches
The Things He's Fighting for


__ADS_3

Berdasarkan penelitian, jatuh cinta membuat seorang wanita meyakini bahwa dirinya terlihat semakin cantik. 


Mulanya, Tian selalu skeptis pada premis yang satu itu. Dulu, ia tidak mengerti proses mekanisme sebuah perasaan internal manusia bisa mempengaruhi penampilan eksternalnya. Namun, sejak bertemu dengan Meda, Tian bisa memahaminya.


Sebelum bertemu dan menjalin hubungan dengan Meda, Tian tidak pernah sekali pun merasa penampilannya menarik, apalagi cantik. Sekerap apa pun semua orang terdekatnya memuji fisiknya, Tian tidak pernah percaya. Di matanya, cantik itu seperti Hera yang mewarisi darah Tionghoa dari ayahnya dan Safira yang berwajah kelatin-latinan. Bella, ibunya, apalagi. Sudah barang tentu cantik. Namun, Tian tidak merasa mewarisi kecantikan fisik sang ibu.


Sang ibu berkulit putih, bermata tajam, berwajah oval sempurna, dan memiliki tubuh yang tinggi serta langsing, sedangkan sosok yang dilihat Tian setiap berkaca adalah gadis dengan tubuh gemuk–orang-orang menyebutnya sintal karena mungkin segan untuk menyematkan label negatif tersebut di depannya–wajah bulat dengan pipi tembam, dan mata bulat. Satu-satunya hal yang diapresiasi positif oleh Tian adalah alisnya yang melengkung sempurna dan bibirnya yang penuh, juga gigi kelinci yang diakuinya memang membuatnya terlihat sedikit menggemaskan–tetapi tidak cantik.


Namun, segalanya berubah setelah ia bertemu Meda. Apalagi setelah pemuda itu mengakui perasaannya pada Tian. Sejak saat itu, ada sesuatu yang bangkit dari diri Tian. Sebuah rasa kepercayaan diri yang tak pernah dimilikinya pelan-pelan tumbuh seiring dengan segala hal yang dilakukan oleh Meda untuknya. Karena Meda, Tian merasa dirinya dicintai, berharga, dan diinginkan. 


Selain itu, sejak berpacaran dengan Meda, Tian juga termotivasi untuk memperhatikan penampilannya. Ia belajar cara berpakaian yang tertutup, tetapi masih tetap bisa terlihat memikat dari ibunya; belajar cara mengaplikasikan riasan yang menarik, tetapi tetap natural, untuk menonjolkan fitur-fitur di wajahnya yang ingin ia tonjolkan; juga belajar tips-tips praktis untuk membuat Meda selalu ingin terus bertemu Tian. 


Yang terakhir masih sedikit sulit untuk dipraktikkan oleh Tian karena saran dari Hera tersebut melibatkan beberapa kontak fisik yang masih canggung dilakukannya karena usia hubungannya masih sebentar. Ia bahkan ragu kalau Meda akan melakukan kontak fisik selain menggenggam tangannya –yang jujur saja masih membuat Tian berdebar-debar tak peduli seberapa sering Meda melakukannya. Pemuda itu terlalu sopan. Hal yang justru membuat Tian semakin kagum, sebenarnya.


Seperti kali ini, saat Tian dan Meda sedang berduaan di perpustakaan miliknya. Itu adalah kali kedua pemuda itu berada di rumah Tian yang kosong karena hampir semua penghuninya sedang beraktivitas di luar rumah. Adler bekerja dan Bella mengajak Marcela mengantar Lidia serta Joan ke sekolah masing-masing, sebelum berangkat ke acara arisan istri-istri karyawan yang bekerja di perusahaan milik Adler dengan diantar oleh Diro.


Keluarga Adler sendiri tidak menyewa pembantu untuk membersihkan rumahnya. Setiap usai subuh, Adler dan anggota keluarganyalah yang turun tangan sendiri untuk menjaga kebersihan rumahnya. Adler membantu Bella membersihkan lantai satu rumahnya, sedangkan Bella dan adik-adiknya membersihkan lantai dua. Bahkan Marcela yang baru berusia kurang lebih dua tahun, ikut “membantu”.


Adler bukannya tidak punya cukup uang untuk menggaji seorang pekerja rumah tangga lain di rumahnya, karena sekalipun ia “didepak” oleh keluarga besarnya, ia memiliki perusahaan sendiri yang berkembang pesat dengan profit yang tidak sedikit setiap bulannya. Adler melakukan semua itu untuk mengajarkan keempat putrinya untuk terbiasa hidup sederhana sejak dini.

__ADS_1


Belajar dari perlakuan buruk keluarga besarnya kepada orang-orang yang dianggap tak selevel, ia ingin mendidik keluarga kecilnya agar tidak menjadi sosok yang menyepelekan pekerjaan kecil yang dilakukan oleh orang lain, orang yang tak seberuntung mereka, karena terkadang uang tak sebanding untuk mengukur kerja keras yang dilakukan oleh orang-orang tersebut. Beruntung istri dan putri-putrinya sangat mendukung niat Adler tersebut.


Adler bukannya sama sekali tidak mau menyewa pekerja rumah tangga untuk keluarganya. Hanya saja, ia membatasi hal tersebut. Misalnya, saat ada anggota keluarga yang sakit, seperti saat Tian harus mengenakan gips di tangan kanannya sampai beberapa hari lalu, atau saat ia dan Bella harus meninggalkan Indonesia untuk kepentingan pekerjaan. Kebetulan, agenda yang terakhir akan berlangsung minggu depan. Keduanya– tiga, kalau menghitung Marcela–akan terbang ke Swedia untuk menangani proyek lanskap lainnya.


Tian sendiri, yang tiba-tiba mengingat hal itu saat dirinya dan Meda tenggelam dalam bacaan masing-masing, membuka percakapan untuk memberi tahu hal tersebut kepada Meda. Gadis itu begitu senang membagikan cerita sekecil apa pun kepada Meda, meskipun kekasihnya itu hampir tidak pernah melakukan yang sebaliknya.


“Papa sama Mama mau ke Swedia pekan depan, urusan pekerjaan.” Begitu Tian bercerita.


Meda segera membalik bukunya dengan posisi terbuka di permukaan meja agar ia tak kehilangan halaman yang ia baca sebelumnya.


“Berapa lama, Da?” tanya Meda yang kini mengalihkan perhatiannya kepada Tian.


Da dari kata Mada. Begitulah Meda sesekali memanggil kekasihnya itu kini. Nama lengkap Tian adalah Titiana Hamada dan dari sanalah Meda mengambil nama panggilan itu. Pemuda itu begitu tertarik saat mengetahui namanya mirip dengan nama belakang Tian itu sehingga ia kerap menggunakannya untuk menyapa Tian. Ide tersebut–nama panggilan sayang yang diberikan oleh pasangan kekasih–bisa saja sangat disukai oleh Tian, kalau bukan karena nama tersebut lebih mirip nama laki-laki daripada perempuan.


Mata Meda melebar. “Selama itu?”


Tian mengangguk.


“Lalu yang mengurus perusahaan siapa?”

__ADS_1


“Di perusahaan ada jabatan Direktur Pelaksana. Jadi, Papa bisa mendelegasikan tugas-tugasnya ke beliau waktu Papa lama di luar negeri. Namanya...,” Tian menggerak-gerakkan kepalanya saat mencoba memancing sebuah nama keluar dari ingatannya, “Om Arya.”


“Orangnya bisa dipercaya ‘kan, Ti?” tanya Meda lagi.


Tian mengernyitkan dahinya. “Tentu. Beliau sahabat baik Papa. Yang menemani Papa saat akan merintis perusahaan baru ya Om Arya ini.”


Sejujurnya, ia sedikit merasa terganggu dengan nada pertanyaan Meda yang terkesan meragukan kesetiaan rekan terbaik ayahnya itu, bahkan secara tak langsung juga meragukan cara ayahnya mengelola bisnis. Meda sendiri menyadari perasaan Tian itu. Karena itu, ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Tian yang duduk di ujung meja yang lain.


Sambil menggenggam tangan Tian, Meda berkata, “Aku nggak bermaksud menyinggung kamu, Ti. Aku cuma nggak mau kamu mengalami apa yang ayahku alami, yang dimanfaatkan oleh saudaranya sendiri saat sedang mengelola bisnis keluarga. Pada akhirnya, saat perusahaan keluarga ditutup karena pailit, Ayah kehilangan semua harta warisan yang dulu dirupakan dalam bentuk saham. Saat aku dewasa, aku berniat untuk menyelidiki laporan keuangan perusahaan itu karena aku berpikir Ayah tidak mengerti mengenai praktik permainan saham. Kalau ada kemungkinan terjadi kecurangan, aku akan mengajukan data yang kuperoleh sebagai bukti untuk membuat laporan ke pengadilan. Namun, Ayah menghentikanku dan berkata bahwa Ayah tak butuh uang dari keluarga yang telah membuangnya hanya karena tidak mau mengelola bisnis keluarga. Saat itulah, aku tahu kalau Ayah selalu sadar bahwa dirinya ditipu oleh saudara-saudaranya. Ayah memang berkata tidak peduli, tetapi aku tahu hati Ayah sangat terluka.”


Genggaman tangan Meda terlepas dan matanya berkaca-kaca saat mengatakan semua itu. Tian mengusap tangan pemuda itu dengan lembut untuk mencoba menghibur pemuda itu.


“Karena itu kamu ingin jadi sukses, 'kan? Untuk membuktikan pada keluarga besar ayahmu kalau ayahmu bisa membesarkan seorang anak yang membanggakan. Benar, kan?”


Meda mengangguk.


“Menurutku, kamu sudah sukses, Med. Orang tuamu juga pasti bangga punya anak yang cerdas, berbakti, dan mandiri seperti kamu,” kata Tian lagi.


Kali ini Meda menggeleng. “Belum, Tian. Ini belum cukup.”

__ADS_1


“Apa lagi rencana kamu ke depannya Meda?” tanya Tian sedikit cemas saat melihat pancaran di mata Meda, tetapi Meda tak merespon pertanyaannya.


Tian tidak bisa membaca perasaan Meda dari ekspresi yang ditunjukkannya itu, tetapi firasatnya mengatakan ada sesuatu yang kurang baik saat melihat tekad Meda itu. Namun, Tian memutuskan untuk tidak memaksa pemuda itu menjawab lebih jauh karena ia yakin bahwa Meda yang dikenalnya tidak akan menyakiti orang lain dengan sengaja meskipun yang menjadi bahan bakar atas kemauannya untuk sukses adalah perasaan marah dan dendam.


__ADS_2