Les Láches

Les Láches
Closer


__ADS_3

Tian memakan rotinya dengan satu gigitan besar, sesekali ia menyeka remahan di ujung bibirnya dengan ujung ibu jarinya. Namun, tidak sedetik pun matanya meninggalkan lembar-lembar kertas yang terbuka di dekat piringnya. Di sampingnya, Meda mencuri baca untuk melihat lebih jelas tulisan di buku milik gadis itu. Di sana, terpampang jelas nama beberapa. destinasi wisata. Tian membuat daftar tersebut saat mencoba mencari tahu aktivitas yang bisa ia lakukan di pulau terbesar di Karibia ini.


"Ada apa?"


Saking asyiknya membaca berbaris-baris tulisan tangan milik Tian, Meda sampai lupa bahwa ia seharusnya melakukannya secara sembunyi-sembunyi.


"Jadi, kita mau ke Havana lama dulu atau langsung ke Cienfuegos?" Meda menyebutkan dua nama tempat teratas yang dikenalinya dalam daftar milik Tian itu.


"Menurut kamu?"


Tian meminta pendapat Meda karena ia sendiri sebenarnya masih bimbang apakah ia benar-benar akan mengunjungi seluruh tempat dalam daftarnya itu. Ia sebenarnya sama sekali tidak antusias untuk menikmati ragam hiburan di negeri itu. Ia hanya membuat daftar itu sebagai alasan untuk menghindar apabila keempat sahabatnya yang saling berpasangan itu mulai menunjukkan tanda-tanda tidak tega meninggalkan Tian luntang-lantung sendirian tanpa rencana saat mereka sendiri memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan pasangannya masing-masing.


Namun, setelah ia mendengar dari Meda bahwa Hera dan Alvin meluncur ke bagian selatan Kuba untuk diving-trip selama 7 hari 8 malam, ia merasa dia tidak perlu repot-repot melarikan diri lagi. Apalagi ada Meda yang sudah "menjaga" Tian saat Afgar dan Safira kencan berdua.


"Kalau aku lebih tertarik untuk jalan-jalan ke lokasi yang lebih jauh dulu. Baru setelah itu, kita bisa keliling Havana dengan santai," usul Meda.


"Kita?" Tian mengangkat sebelah alisnya.


"Iya. Aku sudah bilang kalau aku akan ikut kamu, 'kan?"


Tian menatap kedua bola mata Meda. Ia tidak bisa melihat tanda-tanda bahwa pemuda itu sedang bercanda. Tian menghela napas. Alih-alih mengkhawatirkan kalau-kalau pemuda itu akan mengkonfrontasinya lagi di tengah perjalanan, ia mencoba melihat keikutsertaan Meda dengan sudut pandang lain. Dengan kemampuan Meda berkomunikasi dengan penduduk asli Kuba, Tian jadi tidak perlu mencari tour-guide untuk mendampinginya selama berkeliling Kuba. Lebih praktis karena Tian tidak perlu mengeluarkan biaya lebih, meskipun sebenarnya ia sama sekali tidak keberatan merogoh kantong lebih dalam. Di samping itu, ia juga merasa lebih nyaman berada di dekat orang yang lebih dikenalnya.


"Oke. Kalau gitu kita ke barat dulu, Pinar del Rio. Jalan-jalan di Viñales," putus Tian.


Meda mengeluarkan sebuah peta jalan dari dalam tas selempangnya. Ia membeli benda tersebut di salah satu stand yang dilihatnya di bandar udara internasional Kuba tepat sebelum Renault sedan yang disewa rombongannya meninggalkan bandar udara tersebut.


"Kita bisa pake GPS, Med." Tian mengingatkan sembari melambaikan ponselnya di depan pemuda itu.


"Oke." Meda meraih ponsel Tian yang ternyata sudah menampilkan pemandangan peta digital wilayah Havana dan sekitarnya. "Tapi aku akan tetap membawa peta cetak ini. Untuk berjaga-jaga saja kalau misalnya nanti modem yang kamu sewa tidak bekerja di tempat-tempat tertentu."


Meda hampir menyinggung nominal uang yang harus dikeluarkan Tian--yang kemungkinan tidak sedikit--untuk menyewa modem saku yang membuat gadis itu bebas online di mana pun. Namun, ia menahan diri. Mengingatkan Tian untuk berhemat tak seharusnya menjadi kewajibannya. Apalagi ia sadar bahwa sejauh ini, saran yang keluar dari bibirnya malah selalu terdengar seperti menghakimi gadis itu. Ya, Meda sedang mencoba untuk tidak menunjukkan sikap bermusuhan pada Tian sejak perdebatan mereka yang terakhir.


Seperti yang ia katakan sebelumnya, Meda tidak pernah bersikap seperti itu pada orang yang baru ditemuinya seperti Tian. Hanya saja, gadis itu kerap mengingatkannya pada orang-orang di keluarga besar ayah dan ibunya. Orang-orang yang kalau bisa tidak perlu ia sebut sebagai kerabat.


Meda sendiri pun ingin berubah. Keinginan itu bukannya timbul secara tiba-tiba berkat pertemuannya dengan Tian, melainkan akumulasi dari perasaan yang selama ini ia pendam atas sifat mudah menghakimi yang membuatnya tidak bisa akrab dengan orang-orang tertentu. Selama ini, Meda memang merasa sikapnya itu kekanak-kanakan. Namun, ia tidak terlalu memedulikan efek tindakannya itu karena tak ada yang pernah berniat untuk mengonfrontasi dan berbalik mengoreksi dirinya. Tidak pernah ada, selain Tian.


Gadis itu membuat Meda sadar bahwa ia mungkin akan mencemari kepribadian orang lain berkat sifatnya itu. Meda ingin menebus kesalahannya dan mencoba memperbaiki kualitas dirinya lewat eksistensi dan jalan pikiran seorang Titiana. Karena itu, ia berniat menghabiskan lebih banyak waktu dengan gadis itu. Di samping itu, Safira, cucu dari CEO di perusahaan tempat ibunya bekerja, yang mengajaknya ikut serta dalam trip kali ini memang berpesan untuk menemani sahabatnya itu selama ia menghabiskan waktu bersama Afgar.


"Aku enggak keberatan naik bus." Tian melirik layar ponselnya yang masih berada di tangan Meda. Jemari pemuda itu menari di atas laman yang membuka persewaan mobil.


"Yakin?" Meda mengangkat alisnya, lebih kelihatan seperti tidak percaya daripada terkejut. "Kita juga bisa naik taksi," tambahnya cepat setelah berhasil mengendalikan ekspresinya.


Tian mengabaikan keskeptisan Meda dan menunjuk ke arah keterangan di bagian bawah tampilan peta jalan yang masih berjalan di latar belakang.


"Kalau naik taksi, kita memang bisa lebih cepat 1 jam untuk sampai ke Viñales, tapi ongkos yang kita keluarkan bisa mencapai 10 kali lipat daripada kalau kita naik bus. Menurutmu itu sepadan?"


Penjelasan Tian tersebut membuat Meda tercenung. Bukan berarti ia tidak tahu soal beda biaya yang dibutuhkan untuk berkeliling kota antara dua kendaraan tersebut. Ia malah tahu benar kalau perbedaan itu bagaikan langit dan bumi. Yang membuatnya tercengang adalah Tian mau repot-repot menghemat pengeluarannya dengan pertimbangan tersebut, meskipun sebenarnya ia bisa dengan bebasnya mengeluarkan uang sebanyak apa pun untuk menikmati perjalanan yang lebih mudah.


Meda menebak keputusan yang diambil Tian itu disebabkan oleh pernyataan Meda beberapa waktu lalu. Meda memang sempat menyatakan bahwa biaya perjalanan selain tiket pesawat pulang pergi dan biaya penginapan selama di Kuba akan menjadi tanggung jawabnya pribadi. Ia merasa bu yang dibawanya cukup untuk membuatnya bertahan hidup di Kuba selama 7 hari, asalkan ia bisa berhemat.

__ADS_1


Tian mungkin mencoba mengimbangi gaya hidup rekan seperjalanannya itu karena Meda memang ngotot akan membagi dua ongkos yang mereka habiskan selama melakukan perjalanan berdua. Hal itu menghadirkan sensasi aneh di dada Meda. Seperti ada desiran hangat dan sebuah beban yang cukup berat terangkat dari hatinya. Pertama kalinya, semenjak keduanya bertemu, Meda melemparkan senyum termanisnya pada Tian.


Tian yang sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan reaksi yang seperti itu dari Meda hanya mampu terpaku. Otaknya bekerja keras menyimpan potret wajah bak malaikat itu ke alam bawah sadarnya, sementara jantungnya sibuk berdetak kencang dan mengirim sinyal-sinyal aneh ke seluruh saraf di tubuhnya. Hal berikutnya yang Tian rasakan adalah wajahnya yang menghangat dan timbulnya sensasi menggelitik di perutnya.


***


Bus yang mengantar perjalanan Tian dan Meda menuju Viñales mulai menggerakkan roda-rodanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 waktu setempat. Meskipun keduanya harus berdiri sedikit lebih lama, suhu Kuba yang sedang melalui musim hujan, membuat kedua muda-mudi itu bersyukur karena memilih berdesakan di bus yang padat penumpang itu. Keduanya baru bisa mengistirahatkan betis mereka setelah hampir setengah jam berdiri.


Tepat ketika Meda akhirnya akan membuka percakapan dengan Tian, dari ponsel gadis itu mengalun nada dering yang menandakan sebuah panggilan masuk. Tian buru-buru menjawab setelah melihat nama si pemanggil.


"Iya, Gar?"


Meda menyandarkan kepalanya di bantalan kursi sambil membuka buku yang diambilnya dari dalam tasnya. Tian tersenyum sumringah saat mengenali sampul buku yang dipegang oleh Meda. Pemuda itu membalas senyumnya sembari melambaikan buku berjudul "Dekut Burung Kukuk". Jilid pertama novel seri yang dipinjamnya dari Tian.


"Kamu di mana, Tian?" Afgar bertanya dari ujung telepon.


"Aku di bus mau ke Viñales, Gar."


Afgar yang baru saja mengempaskan tubuhnya di ranjang segera bangkit dari posisi tidurnya, mengernyit tak senang.


"Sama siapa?"


Tian memutar bola matanya. "Siapa lagi? Cuma ada Meda yang ada di hotel."


"'Kan kamu bisa telepon aku dan Safira buat ...."


"Buat ganggu kencan kalian?" potong Tian sebelum menggeleng pelan.


"Bukan soal kamu dan Safira atau Alvin dan Hera. Ini soal aku yang enggak mau mengganggu waktu kalian berdua. Sekali-kali kalian harus jalan berdua aja tanpa ada aku. Please pahamin maksud aku, Gar," bujuk Tian.


"Aku ngerti, tapi bukan berarti kamu harus pergi ke sana sendirian. Ini bukan di Indonesia loh, Ti. Kalau ada apa-apa sama kamu, kamu pikir aku bisa tenang?"


"Gar. Aku seperti halnya kamu adalah orang dewasa. Aku punya kemampuan untuk melindungi diriku sendiri. Apalagi ada Meda sekarang."


"Sudah, Ti. Aku enggak mau berdebat. Aku akan nyusul kamu ke Viñales sekarang." Afgar bersiap menutup telepon.


"Afgar." Suara dingin Tian membuat Afgar mengurungkan niatnya. Meda sendiri terhenyak saat melirik ekspresi gadis itu dari balik buku yang dibacanya.


"Kalau kamu masih keras kepala kayak gitu, aku akan pulang ke Indonesia setelah balik dari Viñales." Tian menutup teleponnya.


"Dia cuma khawatir, Ti," gumam Meda pelan.


"Aku enggak bodoh, Med. Aku tahu benar betapa pedulinya Afgar sama aku dan sahabat-sahabatnya yang lain, tapi aku enggak mau ada yang terluka gara-gara sikap dia itu."


Tian memijat pelipisnya, lalu melempar pandang ke luar jendela. Meda tersenyum tipis. Ia sudah bisa menebak siapa "korban" yang dimaksud oleh gadis itu.


Setelah menempuh hampir 3 jam perjalanan, bus yang mereka tumpangi berhenti di sebuah jalan besar yang diapit oleh rumah-rumah sederhana berlantai satu. Segera setelah turun, Meda berjalan menuju sebuah bangunan besar yang terletak di sisi selatan jalan utama itu. Karena pemuda itu tidak mengatakan apa-apa sebelum pergi, Tian memutuskan untuk menunggunya di luar gedung sambil mengamati pemandangan yang membentang di hadapannya. Sejauh mata memandang, Tian melihat hamparan ladang, kebun, dan bukit kapur yang mengisi lembah Viñales yang hijau.


"Kamu sudah tahu harus ke mana dulu?" tanya Meda sekembalinya dari gedung yang ternyata merupakan Kantor Taman Nasional, tempat pengunjung bisa memperoleh segala informasi yang berhubungan tempat wisata tersebut.

__ADS_1


"Ada tiga gua di sini yang pengen aku datengin, tapi kayaknya waktu kita enggak cukup. Jadi, dua gua aja," terang Tian. "Kamu sendiri enggak pengen ke mana-mana?"


Meda menggeleng. "Aku cuma nanya soal jasa tour-guide yang bisa kita sewa. Kata petugasnya sih, di tiap destinasi sudah ada tour-guide yang akan mendampingi kita."


"Oke."


Gua pertama yang dituju oleh Tian bernama Cueva del Indio. Dengan didampingi salah seorang penjaga, ia dan Meda memasuki gua. Setelah beberapa menit berjalan, tampak sebuah sungai bawah tanah terpampang jelas di hadapan mereka. Meda mengangguk kagum. Akhirnya, ia paham kenapa Tian penasaran ingin mengunjungi tempat ini. Tidak banyak, memang, gua yang memiliki sungai bawah tanah seperti itu.


Keduanya melanjutkan perjalanan menyusuri gua itu dengan menaiki sebuah perahu yang dikemudikan oleh salah satu penduduk lokal yang sangat ramah dan banyak bercerita. Dengan cepat, Meda berbincang banyak hal dengan laki-laki paruh baya itu. Sesekali ia menjelaskan apa isi percakapannya dengan laki-laki yang memperkenalkan diri dengan nama Lisandro itu.


"Pak Lisandro bilang dia bisa mengantar kita ke Santo Tomás. Kalau berangkat sama penduduk lokal, kita bisa dapet potongan harga." Meda menerjemahkan apa yang dikatakan Lisandro ketika ia mengatakan tujuan mereka berikutnya.


"Gracias!" Tian tersenyum lebar sebelum menyalami tangan Lisandro. Laki-laki itu hanya tertawa ramah dan membalas jabatan tangan gadis itu.


"Ella es tu novia?*" Lisandro kembali membuka percakapan saat ketiganya berjalan beriringan menuju lokasi berikutnya.


"Qué? No*!" Meda menggoyangkan kedua tangannya dengan cepat.


"Estás seguro?" Laki-laki itu memandangnya tak percaya. "Ella es bonita*. Mejor date prisa o alguien más la arrebatará."


Lisandro terkekeh pelan sambil mengedipkan satu matanya ke arah Tian yang hanya bisa tersenyum canggung dan menatap Meda penuh harap untuk meminta penjelasan. Namun, Meda hanya bisa menggaruk pelipisnya.


Tempat kedua yang mereka kunjungi merupakan sebuah gua yang memiliki jalur menyerupai labirin. Tanpa ditemani pemandu, keduanya bisa saja tersesat di galeri sepanjang 46 km itu. Dinding gua itu dipenuhi ukiran-ukiran kuno. Yang paling menarik adalah sebuah mural yang sangat besar.


Lisandro mengatakan bahwa lukisan itu dibuat oleh orang-orang yang dulu pernah menjadikan bagian gua itu sebagai tempat tinggal. Namun, belum ada yang bisa menerjemahkan makna dibalik coretan-coretan itu. Di bagian dinding yang lain juga terdapat beberapa jejak hewan-hewan purbakala yang telah menjadi fosil.


Tian tidak bisa berhenti menyerukan kekagumannya. Bahkan hingga rombongan itu berada di luar gua.


"Sir. Would you like to take a picture with us?" Tian memberanikan diri berkomunikasi dengan Lisandro menggunakan satu-satunya bahasa asing yang dikuasainya.


"Gladly." Lisandro menyambut tawaran itu dengan sumringah.


"Let me take a picture of you guys." Usai berfoto bertiga, Lisandro mengangsurkan tangannya untuk meminjam ponsel milik Meda.


"Um?" Meda menatap Tian canggung. Gadis itu juga melempar pandang ragu ke arahnya sebelum akhirnya mengangguk dan berjalan mendekati Meda.


"Closer!" Lisandro memberi aba-aba.


Meda menarik lengan Tian untuk sedikit mendekat. Tian yang tak menduga datangnya sentuhan itu sedikit terperanjat dan spontan menatap wajah Meda yang juga tengah menatapnya balik. Lisandro memotret momen itu dengan cepat sebelum pasangan itu tersadar.


Catatan Penulis


Gracias = terima kasih


Ella es tu novia? = apakah dia kekasihmu?


Qué? = apa?


Estás seguro = apa kau yakin?

__ADS_1


Ella es bonita = dia cantik


Mejor date prisa o alguien más la arrebatará = kau harus bergerak cepat atau orang lain akan merebutnya duluan


__ADS_2