
Pagi berikutnya, Tian sudah rapi dalam balutan pullover wol cokelat dan navy jeans-nya satu jam sebelum waktu yang dijanjikan Meda untuk menjemputnya. Setelah memastikan semua barang yang ingin dibawanya masuk ke dalam sling-bag cokelatnya, ia turun ke lantai satu. Sembari mencomot sepotong roti bakar dari atas counter dapur, ia melihat Bella masih berkutat dengan kari udang yang dimasaknya. Di sisi counter yang lain, sebaskom nila mentah terlihat masih tak tersentuh.
Tian melirik arlojinya. Mengetahui kebiasaan ibunya, nila itu akan tetap dalam keadaan mentah sampai ia menyelesaikan masakan sebelumnya. Padahal, beberapa menit lagi adalah jam ayahnya sarapan. Adler memang bukan orang yang akan mengomel karena sarapan tidak siap pada waktunya. Namun, ia tidak akan menunggu hingga masakan istrinya itu matang sebelum berangkat ke kantor. Mau tak mau, Tian harus turun tangan.
"Bumbunya udah siap, Ma?" tanya Tian.
Ia meraih celemek dari gantungan baju di dapur dan menggulung lengannya hingga melewati siku sebelum mulai membersihkan isi perut ikan itu.
"Belum."
Bella melempar tatapan putus asa kepada putrinya itu. Sebenarnya, ia ingin mencegah Tian ikut berkutat di dapur bersamanya karena ia tahu bahwa Meda akan menjemputnya beberapa saat lagi. Namun, ia sadar, tanpa bantuan Tian, ia akan membuat suaminya berangkat ke kantor dengan perut kosong.
Tian sendiri bekerja tanpa banyak bicara. Bahkan setelah ia melumuri ikan yang sudah dibersihkannya itu dengan jeruk nipis, ia mencicipi masakan Bella dan meminta ibunya untuk memberi sedikit lagi tambahan gula dan penyedap rasa. Pada akhirnya, semua menu itu tersaji di meja makan sekitar lima menit setelah Adler keluar dari kamarnya. Laki-laki itu melempar pandang penuh arti kepada Tian, karena ia mengetahui bahwa putri sulungnya itulah yang punya andil besar untuk menyiapkan menu sarapan kali ini.
"Kamu nggak makan nasi?" tegur Bella yang melihat putrinya telah menghabiskan potongan ketiga roti bakarnya sejak ia turun dari kamarnya.
Tian menggeleng cepat. Ia beralasan, perutnya sudah cukup kenyang berkat semua roti yang dikonsumsinya itu. Tepat saat Bella berniat menyuapi Tian dengan makanan dari piringnya, suara bel pintu depan berbunyi.
"Itu pasti Meda."
Tian langsung tahu bahwa yang datang adalah Meda karena ia sudah berpesan pada Eko, tukang kebun sekaligus penjaga pos depan rumahnya, untuk langsung mengizinkan pemuda itu masuk saat ia tiba. Namun, sebelum Tian bangkit dari kursinya, Bella menahan lengan putrinya.
"Kamu cuci tangan lagi sana. Jangan-jangan masih bau amis. Biar Mama yang buka pintu," perintah Bella yang langsung membuat Tian mengendus-endus jarinya.
Sekalipun Tian tak yakin ada bau tidak sedap yang tertinggal di tangannya, terutama karena ia tidak punya kebiasaan memelihara kuku panjang, ia tetap menurut dan berjalan ke arah wastafel dapur untuk mencuci tangan dengan perasan jeruk nipis dan sabun sebanyak-banyaknya. Saat ia kembali dari dapur, sudah tak ada satu orang pun yang tersisa di meja makan, bahkan Adler kelihatan buru-buru menghabiskan sisa makanan di piringnya sebelum meninggalkan meja makan.
Tian langsung tahu alasan dibalik "menghilangnya" semua penghuni rumahnya itu. Gadis itu berjalan ke ruang tamu dan menemukan orang-orang yang dicarinya itu sedang asyik duduk mengobrol bersama Meda. Pemuda itu terlihat tampan dengan polo abu dan jeans dengan warna navy yang sama dengan milik Tian. Jaket boomber hitam yang diletakkannya pada pinggiran kursi mengingatkan Tian pada momen kedekatan mereka di Cienfuegos.
"Nah! Ini Tian!" seru Bella yang terlambat menyadari kehadiran putrinya itu karena posisi duduknya membelakangi jalan keluar.
"Yuk!" Tian memberi isyarat kepada Meda yang langsung mencium tangan Adler dan Bella sebelum melangkah keluar dari rumah.
"Safira sama yang lain sudah masuk duluan," ujar Tian saat mereka hampir sampai di taman bermain yang menjadi lokasi tujuan mereka yang pertama sebelum nonton di bioskop.
Keempat sahabatnya itu memang memutuskan ikut bergabung dengan rencana pertemuannya bersama Meda. Meda mengatakan bahwa dirinya tidak keberatan. The more the merrier. Begitu ucapnya saat Tian memberitahunya permintaan yang dititipkan Hera kepadanya itu. Meda tulus mengatakan hal itu karena menurutnya jika hubungannya dan Tian berhasil, maka teman gadis itu merupakan temannya juga. Tidak ada salahnya mengakrabkan diri sedini mungkin.
Setelah memarkir Mustangnya, Meda dan Tian berjalan ke loket karcis. Keduanya membayar tiket untuk diri mereka masing-masing. Tian sengaja menolak saat Meda berniat untuk membayar semua pengeluaran mereka hari ini. Baginya, jika ia belum bisa menerima perasaan Meda seutuhnya, maka ia pun tak boleh mengharapkan pemuda itu memperlakukan dirinya sebagai kekasih yang dapat memanfaatkan isi dompet Meda sesuka hati.
"Tian!"
Sebuah suara dari sudut taman bermain yang meneriakkan namanya membuat Tian berpaling. Terlihat Safira melambaikan tangannya. Memberi isyarat pada dirinya dan Meda untuk mendekat.
"Dih, panda!" Tian mendengus melihat gambar hewan pemakan bambu yang terpampang di tengah oversized sweater yang dikenakan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ini kerjaan si Hera. Suka tiba-tiba kambuh jayusnya kalau belanja oleh-oleh buat temennya." Sambil cemberut, Safira melempar lirikan tajam ke arah Hera yang langsung memasang wajah innocent.
"Kan kamu pecinta panda," sahut Hera yang semakin membuat Safira mendesis kesal.
Sebutan pecinta panda yang ditujukannya pada Safira itu, bukannya tanpa alasan. Kecintaan Safira pada warna hitam putihlah yang membuat Hera memberinya julukan tersebut. Gadis itu memang paling kreatif kalau soal memberi nama aneh pada orang-orang di sekitarnya. Termasuk Tian yang mendapat julukan Nyi Roro Kidul berkat benda-benda berwarna hijau yang mendominasi semua koleksi benda dan perabotan yang dimilikinya.
"Untung aja potongan bajunya nggak norak." Safira masih menggerutu ketika ia melangkah menuju wahana perahu ayun yang menjadi wahana pertama yang ingin dicobanya.
"Dan untungnya juga warnanya hitam putih. Cocok sama gambar pandanya." Bibir Tian gatal ikut berkomentar.
Hera tertawa puas karena merasa mendapat sekutu, sedangkan Safira yang keki akhirnya naik ke wahana itu seorang diri tanpa menunggu yang lain menyusul.
"Ti."
Afgar menahan Tian tepat sebelum gadis itu melangkah ke dalam perahu ayun. Meda yang bersiap menyusul tepat di belakangnya agar ia bisa duduk di samping Tian, ikut berhenti untuk mendengarkan.
"Ada apa, Gar?"
Afgar menunjuk ke arah kepalanya sendiri sebelum melempar tawa geli ke arah Hera dan Alvin yang juga berada di dekatnya. Alvin yang pertama bereaksi terhadap kode tersebut dengan tawa hebohnya, sedangkan Hera mencoba sekuat mungkin menahan senyum sebelum akhirnya menyerah dan ikut tertawa. Tian sendiri merespon isyarat dari Afgar itu dengan segera merogoh sakunya dan mencari-cari sesuatu. Beberapa saat kemudian, tangannya bergerak ke arah rambutnya dan mengikatnya dalam bentuk cepol.
"Kenapa, Ti?" Meda yang hanya bisa kebingungan melihat pemandangan itu, akhirnya bertanya.
"Nanti aja pas kita turun dari wahana, aku ceritain." Tian membalas singkat sebelum mulai memasuki wahana.
Saat turun dari perahu ayun, Meda menempel di sebelah Tian seolah khawatir gadis itu melupakan janjinya berkat guncangan yang terjadi selama wahana bergerak. Tian tersenyum kecut sebelum mulai menceritakan kenangan saat mereka pertama kali naik wahana itu. Saat itu keempatnya masih duduk di bangku SMA dan belum mengenal Safira. Alvin sendiri saat itu belum berpacaran dengan Hera.
Alhasil, terjadilah dua kejadian memalukan saat rombongan itu turun dari wahana. Anak kecil yang menangis karena permennya "tercemari" dan Tian terpaksa berkeliling wahana dengan ujung rambut yang basah setelah berusaha membersihkan jejak permen yang membuat beberapa ujung rambutnya saling melekat itu. Hera sendiri aman karena saat itu ia mengepang rambutnya.
Sepulangnya dari taman bermain, Tian memangkas hampir separuh panjang rambutnya dan sejak saat itu, ia tidak pernah memanjangkan rambut sampai melewati batas tengah punggungnya. Tian mencoba memeriksa ekspresi yang ditunjukkan oleh Meda selama ia menceritakan pengalamannya. Pemuda itu sama sekali tidak berkomentar dan hanya beberapa kali menanggapi kisah Tian itu dengan seringaian geli.
Sepanjang perjalanan berkeliling, Tian sama sekali tidak menurunkan rambutnya. Beberapa kali ia memperbaiki ikatannya karena satu-satunya tali rambut yang ia temukan sudah hampir kehilangan keelastisannya. Di sampingnya, Meda ikut tidak tenang melihat Tian yang tidak bisa diam. Sampai akhirnya, ketika otaknya mengingat hal yang ia lihat sebelum memasuki taman bermain, ia meminta izin untuk meninggalkan rombongan sejenak.
"Aku tunggu kamu di deket Hysteria, ya?" Tian sedikit berteriak saat mengatakannya karena pemuda itu sudah melesat menjauh sebelum dirinya menyelesaikan ucapannya.
Beberapa menit kemudian, Meda kembali dengan sebuah kantong plastik putih bertuliskan Cabello Accesories di salah satu tangannya dan empat buah bando berbentuk telinga hewan di tangan lainnya. Di kepala Meda sendiri sudah terpasang sebuah bando telinga ala karakter Mickey Mouse berwarna hitam. Ia menyerahkan bungkusan di tangannya kepada Tian sebelum membagikan bando-bando itu kepada keempat orang lainnya dalam rombongan.
Hera mendapat bando telinga kucing, Alvin mendapat telinga kelinci, dan Afgar memperoleh bando telinga singa yang dipenuhi banyak bulu di seluruh permukaannya. Afgar langsung protes saat melihat tampilan aksesoris kepalanya yang lebih heboh dibandingkan dengan milik kelima orang lainnya itu. Namun, saat Tian berkomentar bahwa model tersebut kelihatan hangat dan cocok untuk Afgar yang tidak tahan dingin, pemuda itu akhirnya menyerah dan memakai bando itu. Dalam hati, ia bertanya-tanya apakah Meda sedang membalas dendam kepadanya saat memilihkan model itu untuknya.
Sebenarnya, kalau bicara soal protes, Safira lah yang paling berhak menyampaikan pendapatnya. Meda membelikan bando telinga panda untuknya. Ia melempar tatapan kesal pada Meda yang hanya membalasnya dengan cengiran lebar. Tanda bahwa ia memang menaruh perhatian pada pembicaraan di antara mereka sejak awal.
Tian memeriksa isi kantong yang diserahkan Meda dan mengeluarkan sebuah bando karakter Minnie Mouse dan ikat rambut yang sangat cantik. Ikat rambut itu berwarna hitam dan dihiasi dengan pita biru dan mutiara putih di permukaannya. Tian menggumamkan terima kasihnya sembari memakai benda itu untuk mengganti tali rambut yang sebelumnya ia kenakan.
Rombongan itu kemudian masuk ke dalam antrian Hysteria. Tian diam-diam bersyukur karena dirinya tidak terlalu banyak makan saat sarapan sehingga kecil kemungkinan baginya untuk mengeluarkan isi perutnya setelah turun dari wahana itu.
__ADS_1
Wahana berikutnya yang mereka naiki adalah ontang-anting. Itu menjadi wahana ketiga sekaligus terakhir yang dinaiki oleh Tian. Gadis itu hampir jatuh terjerembap ke tanah karena pandangannya yang berputar-putar begitu turun dari tempat duduknya. Untung saja, Meda sigap menahan lengannya dan membimbing gadis itu ke salah satu bangku terdekat. Keempat temannya yang lain memutuskan untuk ikut duduk sejenak sembari membeli jajanan dan minuman untuk menemani waktu istirahat mereka.
Saat Tian yang sudah pulih ikut mengantri untuk membeli snack bersama rombongannya, sebuah tangan menepuk pundaknya dari samping. Tian menoleh dan memekik pelan saat mengenali wajah tak asing dari si pemilik tangan.
"Elmira, 'kan?" Tian bertanya ragu. Berharap agar ia tak salah mengingat nama milik perempuan yang dikenalinya sebagai teman satu organisasinya saat SMA itu. Tian langsung bernapas lega saat perempuan itu mengangguk cepat.
"Makin cantik aja kamu, Ti," puji Elmira tulus, meskipun hal tersebut selalu hanya dianggap sebuah bentuk basa-basi oleh sosok di hadapannya itu.
"Makasih. Kamu juga makin kelihatan dewasa sekarang. Aku denger bulan kemaren abis lahiran, ya?" Tian membuka percakapan.
"Iya. Cewek. Kembar. Namanya Rara sama Rere."
Elmira lalu mulai bercerita bahwa ia tengah kencan bersama suaminya. Saat dirinya sedang menunggu suaminya kembali dari toilet, ia mengenali sosok yang mirip Tian dan memutuskan mendekatinya untuk mencari tahu.
"Masih sama Afgar?" tanya Elmira kemudian.
"Masih."
Tian menjawab sambil celingukan mencari sosok Afgar. Pemuda itu berdiri satu meter dari antrian dan sedang asyik bermain dengan ponselnya setelah selesai membeli makanannya. Tian menyerukan nama Afgar dan melambaikan tangannya, memberi isyarat pada pemuda itu untuk mendekat. Afgar memutar tubuhnya dan berjalan ke arah Tian, bando yang tadi dipakainya tergantung di lehernya.
"Masih inget Elmira?" Tian melempar seringai lebar, menunggu respon terkejut muncul di wajah Afgar.
"Elmira yang anak bahasa sepuluh-sembilan?" tanya Afgar memastikan ingatannya. Saat kedua gadis di hadapannya itu mengangguk membenarkan, ia mengangsurkan tangannya untuk bersalaman dengan Elmira.
"Apa kabar, Mir? Sehat ya sekarang?" Afgar menggoda Elmira yang memang kelihatan berisi setelah melahirkan.
"Namanya juga abis ditempatin bayi kembar. Lucu aja kalau aku masih selangsing Tian," sahut Elmira sambil pura-pura cemberut. "Kalian tuh yang kapan nyusul? Buruan nikah, jangan pacaran melulu," celetuknya menambahi.
Tian dan Afgar saling bertukar pandang, sedangkan Meda yang berdiri tak jauh dari keduanya hanya bisa mengenyit tak suka.
"Kami nggak pacaran, Mira." Tian menjadi yang pertama memecah keheningan.
Mata Elmira membulat. "Putus?"
"Kami bahkan belum pernah pacaran."
Kali ini Afgar ikut mengoreksi. Ada sedikit perasaan aneh di dadanya saat mendengar kesalahpahaman Elmira. Namun, Afgar mencoba mengabaikannya.
"Bukannya kalian," Elmira sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya. Namun, karena pada dasarnya ia memang bukan sosok yang bisa menyembunyikan rasa penasaran, ia akhirnya menelan keraguannya, "sama-sama suka?"
Kali ini Afgar tidak bisa mengendalikan perasaannya dan menatap Tian sebagai gantinya. Ia tahu bahwa Elmira tidak akan membual mengenai hal tersebut karena sebagian fakta yang ia katakan, bahwa Afgar memiliki perasaan pada teman masa kecilnya itu, adalah sebuah rahasia kecil yang pernah ia ceritakan kepada Elmira tanpa sengaja. Dan mengingat bahwa Tian memang cukup dekat dengan gadis itu selama di SMA, semakin membuat Afgar yakin bahwa Elmira sama sekali tidak mengada-ada.
"Bener, Ti?"
__ADS_1
Afgar kembali menuntut respons dari Tian meskipun ia sudah bisa melihat dengan jelas jawaban itu dari ekspresi serba salah yang ditunjukkan oleh gadis itu. Ia sendiri tidak bisa berpikir jernih mendengar fakta yang tak diketahuinya selama bertahun-tahun itu. Otaknya bahkan lupa bahwa ia sudah berada di masa depan dengan banyak hal yang tak mungkin bisa berubah walaupun ia berusaha mengkonfirmasi kebenaran di masa lalu.
Tian mulai menunduk saat merasakan tatapan Afgar semakin intens. Dan ketika kesabaran Afgar yang habis membuatnya berniat semakin mendekati Tian, Meda akhirnya menyela dengan meraih lengan Tian dan menariknya menjauh setelah berpamitan dengan Elmira yang kelihatannya sadar bahwa ia telah mengungkit sesuatu yang tidak semestinya.