
Tian menggigit bibir bawahnya dan mulai menghembuskan napas yang sempat ditahannya. Ia mencoba menahan diri untuk tidak mempertanyakan maksud kalimat Afgar seolah dirinya mencoba menggali makna yang lebih jauh dari kata-kata yang diucapkan pemuda itu. Ya, ucapan rindu di antara dirinya dan Afgar tak pernah menjadi hal yang akan menimbulkan kecanggungan seperti ini sebelumnya. Namun, entah mengapa, kali ini ucapan itu seolah menghadirkan atmosfer berbeda di antara keduanya. Setidaknya begitu bagi Tian.
Tian mencoba menepiskan perasaan itu dari benaknya. Ia sedikit menyalahkan Meda karena pikiran-pikiran buruknya ternyata cukup mempengaruhi penilaian Tian pada Afgar. Ucapan Afgar, serta seluruh tindakan yang dilakukannya pada Tian tentu tidak memiliki tendensi yang lebih dari seharusnya. Afgar hanya memandang Tian sebagai sahabat yang berharga, begitu pun dirinya.
“Makanya jangan main jauh-jauh. Nggak punya temen ngobrol ‘kan di sana.” Tian memutuskan untuk menanggapi pernyataan Afgar tersebut dengan candaan kecil.
Afgar tersenyum tipis. Sebenarnya jantungnya cukup berdebar setelah mengucapkan kalimat yang spontan terlintas di kepalanya itu. Ia ingin perasaannya segera mencapai Tian, tetapi di sisi lain ia juga takut atas akibat yang akan ditimbulkan jika Tian terlalu cepat menyadari keinginannya itu.
Untuk memiliki Tian, Afgar harus menyingkirkan Meda. Karenanya, sebelum hal itu tercapai, Afgar seharusnya berusaha untuk terus menahan perasaannya yang semakin membuncah dan menggerogoti logikanya itu.
"Oke. Aku bakalan balik lebih cepet. Mungkin lusa," ujar Afgar dengan tawa ringan.
***
Meda meletakkan berkas terakhir yang dibacanya ke tumpukan dokumen di meja sebelum menyandarkan punggung lebarnya di bantalan kursi. Matanya memandang langit-langit, tetapi yang dilihatnya adalah bayangan pertengkaran terakhirnya dengan Tian yang menghantui pikirannya selama beberapa hari terakhir.
Ia masih mencoba memaknai ancaman yang diucapkan Tian beberapa waktu lalu itu; berusaha mengingat bagaimana tepatnya nada suara dan ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh gadis itu sebelum dirinya pergi. Namun, berkat emosi yang menumpulkan seluruh indranya malam itu, tak banyak yang bisa ia temukan dalam ingatannya itu. Kesungguhan maksud ucapan Tian pun semakin kabur bagi Meda.
Logika Meda sebenarnya sudah memaksanya untuk menerima semua keputusan Tian jika gadis itu benar-benar bermaksud mengakhiri hubungan keduanya. Namun, ia tidak mampu mengingkari harapan terdalamnya bahwa Tian akan datang mencarinya lagi dan mengajaknya berbaikan seperti yang sudah-sudah. Harapan yang semakin pupus sebenarnya, seiring dengan semakin lamanya waktu yang berlalu sejak pertengkaran mereka dan fakta bahwa Tian tak kunjung menghubunginya.
Saat Meda semakin tidak bisa mengontrol pikirannya sendiri, sebuah ketukan di pintu membawanya keluar dari keramaian isi kepalanya itu.
“Masuk!” seru Meda sambil memperbaiki posisi duduknya.
__ADS_1
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahunan membuka pintu ruangan Meda sambil membawa tumpukan dokumen lain yang harus diperiksa olehnya. Meda menahan diri untuk tidak menghela napas panjang, tetapi ekspresi kelelahannya tentu tak luput dari penglihatan tajam Rina, asisten yang mendampinginya sejak ia diangkat ke posisi GM dua tahun lalu.
“Pak Meda perlu saya buatkan teh hangat?” tawar perempuan itu sambil mengambil tumpukan dokumen yang sudah diperiksa oleh Meda.
Meda menggeleng kecil. Dirinya tidak terlalu menggemari minuman yang satu itu.
“Saya cuma perlu sedikit tambahan hari libur,” canda Meda agar perempuan itu tidak terlalu mengambil hati atas penolakannya tersebut.
“Penerbangan ke Paris dengan layanan first class, saya pribadi akan menganggap hal tersebut lebih dari cukup untuk mengompensasi atas hari libur yang kurang.”
“Kamu mau bertukar posisi dengan saya?” goda Meda.
“Saya yang GM, Pak Meda yang asisten?” Perempuan berkaca mata lebar itu balas menggodanya.
Rina memasang mimik wajah serius atas penawaran atasannya itu. “Benar-benar menggiurkan, Pak Meda. Sayangnya, orang yang dipandang paling mumpuni oleh Pak Feri di anak perusahaan ini adalah Pak Meda. Andai Pak Meda bisa menjamin bahwa Pak Meda siap menerima amukan dari Pak Feri karena saya yang berangkat ke Paris, mungkin saya masih berani mengiyakan tawaran ini.”
“Benar juga. Amukan Pak Feri lebih menakutkan daripada kesepakatan yang batal, bukan?” Meda ikut memasang ekspresi berpikir keras.
“Wah, secara tidak langsung Pak Meda bilang kalau kesepakatan dengan Uranus akan batal kalau saya yang turun tangan?” Rina berkacak pinggang, tetapi mengakhiri kalimatnya dengan tawa lebar.
Meda menangkupkan kedua tangannya di depan wajah sebagai respon atas pertanyaan asistennya itu.
“Hubungi saya jika Pak Meda tidak punya cukup waktu untuk menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk menuju Paris,” kata Rina akhirnya setelah melihat Meda sudah jauh lebih baikan usai berbincang dengannya.
__ADS_1
Meda menyerukan kata “terima kasih” atas tendensi Rina untuk meringankan bebannya tersebut, sebelum perempuan itu menghilang di balik pintu ruang kerjanya yang kembali tertutup rapat. Ia bersyukur memiliki asisten yang cekatan dan juga menyenangkan untuk diajak berbicara seperti Rina. Tak banyak orang yang bisa cocok dengan karakter Meda yang sensitif dan perfeksionis di tempatnya bekerja itu. Bahkan Feri, sang direktur utama, mengakui bahwa sifat Meda yang menyusahkan itu membuatnya jauh lebih ditakuti oleh seluruh karyawan yang bekerja di lantai yang sama dengannya, daripada Feri yang notabene orang nomor satu di perusahaan multi nasional tempatnya bekerja itu.
Meda menghela napas sebelum kembali menenggelamkan diri ke dalam tumpukan dokumen yang harus diperiksa sebelum ia pergi ke Paris. Beban pikiran atas permasalahan pribadinya memang cukup diringankan berkat percakapan kecil yang diinisiatif oleh Rina, tetapi ternyata kesunyian yang lagi-lagi memenuhi ruangan 3x5 meter persegi yang ditempatinya sendiri itu membuat suasana muram dengan segera membuatnya sesak.
Akhirnya, Meda memutuskan untuk menyalakan musik dari komputernya. Sebenarnya, Meda cukup suka mendengarkan musik, tetapi ia tidak memiliki banyak pilihan lagu yang bisa didengarkan dari penyimpanan PC-nya itu. Ia memang cenderung lebih suka menggunakan layanan streaming untuk menambah pengetahuannya atas perkembangan musik yang sedang tren di pasaran. Hal itu dilakukannya karena ia tidak terlalu suka dihadapkan dengan banyak pilihan jika terus menumpuk lagu-lagu yang pernah didengarnya di dalam ruang penyimpanan gawainya. Kalaupun ia menyimpan lagu-lagu tertentu, hal itu biasanya karena lagu tersebut punya makna nostalgik bagi dirinya.
Sebuah judul lagu yang tak sengaja tertangkap oleh penglihatannya saat jemarinya sedang asyik menggeser roda gulir di mouse-nya membuat Meda terpaku. Bibir Meda terkatup rapat dan membentuk garis tipis panjang. Tangan kirinya yang sedang menggenggam salah satu kertas dari map laporan penjualan dari salah satu divisi yang dipimpinnya, tanpa sadar ikut mengepal rapat, membuat kertas A4 yang awalnya licin tanpa cela itu kini berubah kusut dan bahkan hampir berlubang.
Meda memandangi benda tak bersalah yang akhirnya ia letakkan kembali di dalam map itu.
“Sial!” geramnya. Suaranya pelan, tetapi sarat kekesalan.
Meda memejamkan matanya, tetapi lirik lagu yang membuatnya mengingat sosok yang coba disingkirkan dari kepalanya itu malah terngiang di telinganya. Tak perlu memutar lagunya lagi untuk membuat Meda bernostalgia. Tiap kata dalam lagu tersebut yang dihapalnya di luar kepala membawanya kembali ke sebuah restoran kecil di Lembah Viñales.
Aku berharap sesuatu terjadi dan menghapusmu seutuhnya.
Sebuah cahaya yang menyilaukan, atau salju yang ditumpahkan dari langit.
Kuharap apa pun itu akan membawaku ke dalam pelukan kematian.
Agar aku tak melihatmu sebanyak ini, agar aku tak berjumpa denganmu sesering ini
Catatan Penulis:
__ADS_1
In case ada yang lupa, penggalan lirik terakhir berasal dari lagu Ojala yang pertama kali didengarkan oleh Meda dan Tian saat berada pada sebuah restoran di Lembah Viñales, Kuba.