Les Láches

Les Láches
55.


__ADS_3

“Aku nggak tahu harus gimana lagi nunjukin rasa terima kasihku ke kamu, Gar.” Tian menatap pemuda yang juga tengah menatapnya balik dengan senyum merekah. “Saat harusnya kamu hidup enak di Surabaya, kamu malah harus bantuin aku ngatasin masalah keluargaku sendiri di sini.”


Tian mempererat pegangan tangannya pada sebuah map dari mika yang berisi dokumen-dokumen penting yang menyatakan bahwa dirinya sudah resmi diterima sebagai mahasiswa di kampus barunya. Ia menjalani semua proses transfernya tersebut dengan mulus berkat keberadaan Afgar yang selalu setia mendampinginya dan membantunya melakukan segalanya, mulai dari mengurus berkas, menanyakan banyak hal mengenai materi perkuliahan yang diterima oleh mahasiswa lainnya di semester sebelumnya, fasilitas dan organisasi kampus, bahkan pembayaran perkuliahan selama satu semester ke depan pun ditanggung oleh pemuda itu. Singkatnya, pemuda itu tak hanya memberikan dukungan mental bagi dirinya, tetapi juga dukungan materi.


Sekalipun begitu, Tian berniat untuk mengembalikan uang yang dikeluarkan Afgar untuk dirinya tersebut. Tian tahu Afgar pasti akan menolak keras niatnya kalau pemuda itu sampai mengetahui isi kepalanya itu. Karenanya, Tian berencana untuk diam-diam mengumpulkan uang untuk menebus hutangnya itu dari hasil kerja paruh waktu yang berhasil ia dapatkan tepat seminggu setelah kedatangannya di kota kelahiran sang ibu tersebut. 


Kafe tempat dirinya diterima bekerja paruh waktu tersebut memang tidak menawarkan bayaran yang besar, tetapi pemilik kafe tersebut memberikan jam kerja yang sesuai dengan status Tian sebagai seorang mahasiswa, yakni sekitar pukul 13.00 hingga pukul 19.00.


Nasib Bella, ibu Tian, juga tak jauh berbeda. Perempuan itu sendiri terpaksa melakukan pekerjaan apa pun yang dimulai di atas pukul 15.00, karena harus menunggu kepulangan Lidia yang dipercayanya untuk menjaga Joan dan Marcela selama dirinya bekerja. Tentu saja, hanya pekerjaan serabutan yang mengandalkan tenaga alih-alih pikiran yang dimulai di jam-jam tersebut. Bella bekerja sebagai cleaning service di hari-hari tertentu atau penjaga minimarket 24 jam pada shift malam di hari-hari lainnya. Sama seperti halnya Tian, pekerjaannya yang berhubungan dengan bidang jasa dan pelayanan tersebut juga tidak mengenal hari libur.


Bella sama sekali tak mencoba memikirkan akan seberapa lelahnya dirinya menjalani pekerjaan semacam itu. Kenyataan bahwa ia tidak pernah ditempatkan dalam situasi yang mengharuskan dirinya harus bekerja sekeras itu pun tidak membuatnya gentar. Yang dikhawatirkannya hanyalah reaksi keempat putrinya yang dirasanya masih belum cukup dewasa untuk mengalami kesulitan hidup seperti ini, terutama Tian, putri sulungnya, yang bersikeras ikut bekerja untuk membantu pemasukan keuangan keluarga mereka itu. Bella cemas pendidikan gadis itu akan terganggu karena beban pekerjaan dan masalah keluarga yang sedang mereka alami itu. Bella menyampaikan isi hatinya itu kepada Tian setelah ia memberikan kabar pada ibunya tersebut bahwa dirinya memperoleh pekerjaan freelance. Malam itu, Tian hanya bisa menenangkan ibunya tersebut dengan janji bahwa dirinya tidak akan melepaskan studi dan cita-citanya menjadi seorang kurator, tak peduli sekeras apa pun kesulitan yang menderanya. Sebab Tian merasa mimpi tersebut bukan hanya miliknya, melainkan milik semua orang yang mendukungnya sepanjang perjalanan menuju titik tersebut.


“Makan dulu, yuk!” seruan Afgar menarik Tian dari keruwetan isi kepalanya. “Masih ada waktu satu jam lebih sebelum shift kerja kamu dimulai, kan?”


Afgar memberikan tatapan yang seolah mengancam Tian bahwa ia tidak akan membiarkan gadis itu pergi dengan mudah sebelum menuruti ajakannya. Tian menghela napas sebelum menatap layar ponselnya, memastikan kebenaran ucapan Afgar tentang sisa waktu yang dimilikinya untuk tiba di tempat kerjanya tersebut.

__ADS_1


Setelah Tian memberikan anggukan singkat ke arah Afgar sebagai respon untuk permintaannya, pemuda itu menggandeng tangan Tian dan membimbingnya memasuki sebuah rumah makan yang sejak awal telah diliriknya sejak melewati jalanan tersebut. Rumah makan yang menjual makanan hasil olahan seafood tersebut cukup ramai dipadati pengunjung. Keduanya hampir pergi keluar karena tidak berhasil menemukan tempat duduk, ketika seorang pelayan menghampiri mereka dengan terburu-buru.


“Maaf, Mas, Mbak. Tempat yang di depan penuh. Tapi di belakang ada beberapa meja yang bisa ditempati. Cuma ya itu, masih agak berantakan karena baru selesai diperluas,” ucap perempuan yang kira-kira berusia 40-an itu sambil mengamati ekspresi kedua tamunya yang penampilannya cukup menarik perhatian dan membuat beberapa pasang mata pengunjung lain sempat mencuri-curi pandang itu.


Afgar melempar pandang ke arah Tian seolah dirinyalah yang ingin masuk ke tempat itu sejak awal. Tian menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa berniat berdebat. Semakin cepat mereka makan sesuatu, semakin cepat pula Tian bisa tiba di tempat kerjanya. Bagaimana pun, ia ingin menunjukkan kesan yang baik sejak awal kepada pemilik kafe sekaligus rekan-rekan kerjanya.


“Pesenan kita samain aja,” bisik Tian dengan cepat kepada Afgar saat keduanya berjalan mengekori perempuan yang menyambut kedatangan mereka itu.


Perempuan itu sedikit berlebihan saat mengatakan bahwa bagian belakang rumah makan yang mereka tuju tersebut “agak berantakan”. Sebab menurut pandangan Tian, tempat itu jauh lebih baik daripada ekspektasinya saat membayangkan bagaimana seharusnya kondisi sebuah tempat bisa disebut “agak berantakan”. Malah pada kenyataannya, tempat yang mereka tuju tersebut sama sekali tidak terlihat berantakan, hanya kosong. Tian menduga karena ukuran bagian rumah makan yang satu itu terlalu luas jika hanya diisi dengan dua buah meja berukuran tanggung yang masing-masing dilengkapi empat buah kursi kayu.


“Masalah apa kira-kira yang kamu khawatirin? Terus kamu mau bantu nyelesaiin masalah aku dengan cara apa seandainya kamu tahu?” tantang Tian sambil tertawa kecil.


“Well, masalah apa pun. Pokoknya kalau ada yang bikin kamu nggak betah kerja di sana, kamu bilang aku. Aku akan bantu kamu nyari kerja yang lebih baik daripada ini,” balas Afgar dengan penuh tekad.


“Gar, kamu nggak mikir aku nggak bisa melakukan apa pun tanpa bantuan kamu, kan?” tanya Tian penuh selidik.

__ADS_1


“Hah? Nggak lah. Maksud aku, kamu harus tahu batasan diri kamu sendiri dan nggak lupa kalau masih ada aku yang bisa kamu jadikan tempat bergantung,” jelas Afgar mengklarifikasi kecurigaan Tian. Ia sangat tahu betapa tinggi harga diri gadis itu. Meminta bantuan bukan hal yang akan dengan mudah dilakukan olehnya.


"Itulah yang aku takutin, Gar, bergantung sama orang lain," kata Tian dengan perasaan tak nyaman. "Aku takut kalau suatu saat kamu nggak di deketku lagi, maka aku nggak bisa melakukan apa pun sendirian."


"Kenapa aku merasa kamu ngomong bukan berdasarkan teori, tapi pengalaman?" tanya Afgar sambil menyeringai. Maksud sebenarnya adalah untuk menggoda Tian. Namun, demi melihat raut wajah sedih gadis itu, Afgar kembali memasang tampang seriusnya.


"Kamu masih mikirin Meda, ya?" tanya Afgar lagi.


"Sedikit. Aku nggak melalui banyak hal sama dia, tapi anehnya aku nggak bisa dengan mudah ngelupain dia. Seolah tanpa dia, aku kosong. Aku bodoh banget, ya? Ini kali, ya, yang namanya bucin?"


Tian bertanya lebih kepada dirinya sendiri, tetapi Afgar memutuskan bahwa gadis itu juga harus mendengar pendapat dari sudut pandangnya.


"Nggak mudah melupakan orang yang pernah mengisi hati kita dengan perasaan spesial, Ti. Itu adalah indikasi bahwa hati kita belum siap mengucapkan selamat tinggal. Tapi, kamu harus inget bahwa ada dua jenis orang yang akan membuat kita merasakan perasaan itu. Orang yang nggak pernah nyerah dalam usahanya untuk bikin kita merasa spesial atau orang yang pernah bikin kita merasa spesial, tapi pelan-pelan berubah dan membuat semua perasaan spesial itu hanya tinggal kenangan. Untuk tipe yang terakhir ini, kamu harus belajar melepaskan. Sebab, kamu akan terus menderita kalau kamu pikir sisa-sisa ingatan manis itu bisa membahagiakan kamu," ujar Afgar panjang lebar.


Tian tertunduk dalam, air matanya kembali menggenang saat memeriksa ingatannya tentang Meda kembali. Berdasarkan semua yang dilaluinya sebelum perpisahannya dengan Meda, ia yakin bahwa pemuda itu jelas tak lagi memperjuangkan dirinya, bahwa yang tersisa di antara keduanya hanyalah kenangan. Namun, hatinya masih sulit menyerah, seolah masih ada ruang bagi dirinya dan Meda untuk kembali bersama.

__ADS_1


Hanya saja, Tian tak bisa mengungkapkan kegelisahan hatinya itu pada Afgar. Di matanya, Afgar baru saja menggali ingatan menyakitkannya tentang Safira saat memberikan nasihat bijak itu kepada Tian. Karenanya, ia tidak berniat membuat perasaan pemuda itu terbebani lebih jauh lagi.


__ADS_2