
Tian membuka pintu rumah kontrakannya dengan hati-hati, tetapi usahanya untuk masuk ke dalam rumah tanpa membuat keributan itu gagal berkat suara derikan keras dari pintu yang sudah termakan usia itu. Tak berselang lama setelah tanda kehadirannya itu berkumandang, terdengar suara beberapa langkah kaki yang berderap di lantai keramik bangunan itu. Tian mengangkat lengannya yang dipenuhi kantung plastik berisi bahan masakan dan susu formula untuk Marcela demi mengantisipasi sesuatu yang akan terjadi berikutnya, tetapi tetap tak bisa menahan dirinya untuk tidak terhuyung ke belakang ketika tiga pasang tubuh bocah perempuan menabrakkan dirinya ke kakinya dan menggelayut manja di sana.
“Kok pulangnya agak telat, Kak?” tanya Joan penasaran.
“Tadi beli susu dulu buat Marcela, sama ....” Tian berjalan ke arah dapur kecil dan membongkar isi kantung plastik lain yang dibawanya, “cemilan buat temen Lidia begadang, cemilan buat nemenin Joan nonton drama korea, sama Nyam-nyam buat Marcela.”
Tian mencubit gemas pipi tembam adik bungsu yang disebutnya terakhir itu. Gadis cilik itu terkekeh kecil sambil berlari menjauhi Tian setelah berhasil merebut makanan ringan yang diangsurkan kepadanya itu.
“Udah makan?” tanya Tian bergantian kepada Lidia dan Joan. Kedua gadis itu mengangguk serempak.
“Mama masak apa?” tanya Tian lagi sambil melangkah ke arah kulkas untuk menyimpan bahan-bahan masakan yang dibelinya.
“Mama nggak masak,” jawab Joan sambil duduk di depan televisi tabung di ruang tengah yang tergabung dengan ruang tamu.
Tian mengernyitkan dahinya. “Jadi, tadi kalian makan apa?”
“Dibawain makanan sama Kak Afgar,” jawab Joan lagi.
“Kecilin TV-nya, Jo. Kak Lidia lagi belajar tuh. Marcela mau minum susu?” Bergantian Tian mengawasi adik-adiknya yang berpencar ke segala sudut rumah ternyaman versi diri mereka masing-masing.
“Tadi kamu bilang dibawain siapa, Jo?” tanya Tian kembali setelah berhasil mengatur ketiga adiknya itu.
__ADS_1
“Kak Afgar,” jawab Joan sambil mengerucutkan bibirnya, sakit hati karena ditegur oleh kakaknya.
“Dibawain apa?” tanya Tian lagi.
“Ayam panggang sama salad, Kak.” Giliran Lidia yang menjawab. “Itu jatah buat Kak Tian di bawah tudung saji, tapi tadi dicolekin sama Joan.”
Lidia tak melanjutkan ucapannya ketika Joan berlari ke arahnya dan memiting lehernya dalam usahanya menutup mulut Lidia. Tian memutuskan untuk tidak melerai keduanya karena ia tahu pertengkaran di antara kedua adiknya itu tak pernah berlangsung lama.
Ia lalu berjalan ke bagian belakang rumah dan membuka pintu yang mengarahkan langkahnya ke sebuah beranda kecil yang dilengkapi dengan dua buah kursi rotan di sudut kirinya. Ia mengusap layar ponselnya dan mencari nama Afgar di kontaknya. Setelah menekan tombol panggil, ia meletakkan ponsel pintar itu di telinga kanannya. Tak perlu waktu lama bagi Afgar untuk mengangkat teleponnya.
“Ada apa, Ti?” tanya suara di ujung teleponnya.
Sebuah suara alunan musik yang familiar di telinga Tian mengalun samar-samar dari seberang telepon, membuat gadis itu lupa dengan tujuan awalnya menelepon dan menanyakan judul lagu yang familiar di telinganya itu.
Afgar ikut terbahak. Ia tahu benar alasan di balik tawa Tian. Sejak kecil, Tian selalu mengejek bahwa Tuhan cukup adil karena ia memberikan segalanya pada Afgar—wajah yang tampan, otak yang cerdas, keluarga yang kaya—tetapi tidak dengan suara nyanyian yang layak didengar.
“Udah, ah, ketawanya. Kamu udah makan, kan?” tanya Afgar sambil menyudahi tawanya.
Tian sedikit merasa risih mendengar pertanyaan pemuda itu. Kalau yang bertanya adalah orang lain, mungkin Tian akan buru-buru menutup telepon karena tidak mau membuang waktu dengan seseorang yang mengira punya kesempatan untuk memperpanjang percakapan dengannya menggunakan basa-basi sepicisan itu. Namun, karena yang bertanya adalah sosok sahabat yang dikenalnya sejak kecil, ia menepiskan perasaan kurang nyaman yang menderanya itu dan kembali mengingat tujuan awalnya menelepon pemuda itu.
“Belum,” jawab Tian sambil mencoba merasakan apakah dirinya masih kelaparan setelah tadi sempat mengonsumsi tiga potong pizza yang dibawa oleh salah satu rekan kerjanya dalam rangka merayakan hari gajian tersebut.
__ADS_1
Tian sendiri ikut menerima jatah gaji bulan ini meskipun ia baru bergabung kurang dari satu bulan. Tentu saja dengan nominal yang tak terlalu besar mengingat jumlah gaji utuh yang ditawarkan padanya pun sangat kecil. Jumlah yang hanya akan tersisa sedikit setelah dikurangi dengan biaya untuk uang belanja bulanan dan uang sewa bangunan kontrakan.
“Aku bawain makanan yang tadi aku kirim ke WA kamu lho. Nggak kebagian?” tanya Afgar cemas.
“Kebagian kok.” Tian tertawa kecil melihat sikap buru-buru Afgar itu. Seolah yang tidak mendapat jatah makanan adalah dirinya sendiri. “By the way, dalam rangka apa kamu bawa makanan ke rumah?”
“Oh. Nggak dalam rangka apa-apa sih. Cuma tadi kayaknya kamu penasaran sama makanan yang aku foto tadi,” jelas Afgar.
“Makasih ya, Gar. Tapi aku akan lebih berterima kasih lagi kalau kamu nggak melakukan itu lain kali.” Tian mencoba mengingatkan pemuda itu dengan hati-hati. Ia memang sedikit terganggu dengan tindakan Afgar, tetapi ia tidak ingin sampai penolakannya itu membuat Afgar sakit hati.
“Kenapa?” tanya Afgar setelah jeda yang cukup lama.
Tian menghela napas panjang. Ia sudah menduga bahwa Afgar akan mempertanyakan keputusannya itu, tetapi tidak mudah baginya untuk melontarkan jawaban yang sudah dipersiapkannya jauh sebelum menelepon itu.
“Aku nggak mau terlalu banyak berhutang budi sama kamu ...”
“Hutang budi lagi yang kamu bahas. Kenapa niat aku untuk membantu kamu seolah kamu anggap sebagai tindakan untuk membuat kamu merasa berhutang?” tanya Afgar dengan kekesalan yang terdengar jelas dari suaranya.
“Aku bisa apa, Gar? Perasaanku sangat terbebani dengan semua bantuan dari kamu. Aku tahu niat kamu baik, tapi aku nggak bisa membujuk hati aku untuk terus-terusan menganggap bahwa semua pemberian dari kamu ini wajar,” jelas Tian.
“Terus perasaan aku gimana, Ti? Coba kamu bayangkan kalau aku yang ada di posisi kesusahan. Apa kamu bisa melihat aku melalui semua ini tanpa bantuan? Itulah yang aku rasain, Ti. Hatiku ikut sakit ngelihat kamu dan keluarga kamu ditimpa musibah seperti ini. Aku nggak bisa bantu kamu menyelesaikan masalah ini secara langsung. Yang aku bisa cuma mendukung dengan hal-hal seperti ini. Jadi, ya, ini yang aku lakukan. Apa aku salah, Ti?” cerca Afgar panjang lebar.
__ADS_1
Tian kembali menghela napas. Ia menjadi merasa bersalah setelah mendengar ucapan Afgar. Namun, hatinya masih merasa tak nyaman dengan pemberian cuma-cuma yang diberikan oleh pemuda itu. Karenanya, ia mencoba mencari jalan tengah agar tidak ada yang tersakiti dalam masalah ini, baik dirinya maupun Afgar.
“Gar. Kamu perlu bantuan di apartemen kamu, kan? Aku nggak akan protes mengenai hal ini lagi kalau kamu ngebiarin aku bantuin kerjaan beres-beres di apartemen kamu.”