
“Vin, kenapa nggak angkat telepon kamu?” Sebuah suara yang berasal dari balik anak tangga membuat Alvin hampir menjatuhkan mugnya. “Kamu nggak lupa kalau besok ada janji dinner sama klien mama, kan?”
Sesosok perempuan berperawakan jangkung muncul dari seberang ruangan luas yang mendominasi seluruh bagian rumah di lantai satu sambil membawa sebuah map besar penuh kertas. Ruangan tersebut bisa dibilang sebagai ballroom pribadi di rumah utama keluarga Petra tersebut. Map-map yang dibawa perempuan tersebut sendiri berisi dokumen-dokumen yang berhasil dikenali Alvin sebagai berkas yang dipersiapkan untuk disertakan pada pembicaraan sarat muatan bisnis yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi.
Alvin merutuk dalam hati. Itulah alasan dia tidak pernah datang ke bangunan rumah utama selama beberapa hari terakhir. Ia tidak ingin dilibatkan dalam jalinan kerja sama profesional apa pun yang diinisiasi baik oleh ayah maupun ibunya. Ya, perempuan yang tengah berbicara dengannya tersebut adalah sang ibu, Yima.
“Ma, aku udah bilang aku nggak bisa ikut!” sergah Alvin kesal.
“Why?” jawab Yima tanpa merubah ekspresi dan nada suaranya yang lembut, tetapi sarat ketegasan tersebut.
“No special reason. Just dont wanna.”
Alvin menutup pintu lemari es setelah menuangkan cukup air ke dalam mug dan mengambil botol air mineral besar yang lain untuk dibawa kembali ke tempat tinggalnya yang berada di bangunan berbeda. Benar, satu-satunya alasan yang membuat ia akhirnya terpaksa menampakkan diri di rumah utama adalah karena kehabisan stok air mineral. Tenggorokannya yang sudah kering kerontang karena tidak meminum cairan apa pun sejak semalam, tidak bisa menunggu sampai ia mengisi stok air mineralnya di minimarket terdekat.
“Jadi, kamu cuma mau malas-malasan di rumah?” Yima kembali bertanya dengan nada lemah lembutnya, tetapi Alvin bisa merasakan tatapan sedingin es yang seolah menusuk-nusuk punggungnya.
Alvin mencoba menguatkan hatinya dengan tidak merespon pertanyaan itu dan cepat-cepat berlalu. Namun, seperti yang sudah-sudah, Yima pantang menyerah.
“Kalau gitu seterusnya aja di rumah. Nggak usah kuliah, nggak usah kerja. Kamu main-main aja terus. Uang mama sama papamu cukup kok buat bikin kamu hidup nyaman sampai mati. Gimana? Perlu sekalian mama bagi jatah saham mama di perusahaan papa untuk kamu sekarang?”
Alvin berbalik cepat. Ingin sekali dirinya berteriak, tetapi ibunya bukan sosok yang bisa diajak bicara dengan keadaan emosional. Di samping itu, seorang Yima bukanlah orang yang suka mengucapkan ancaman kosong. Mau tidak mau, Alvin memang harus mengatakan dengan jujur alasan yang membuatnya harus menolak permintan ibunya itu.
“Aku udah ada janji sama Hera, Ma,” ujar Alvin akhirnya.
__ADS_1
“Hera yang putri bungsunya Freddy Cho?” tanya Yima dengan sebelah alis terangkat.
Alvin menghela napas lelah. Bukan pertama kalinya ibunya memberikan pandangan seperti itu saat dirinya sedang membicarakan Hera. Alvin sangat tahu bahwa pertanyaan itu tidak dilontarkan ibunya hanya karena ia tidak tahu bahwa Alvin menjalin hubungan dengan Hera, melainkan karena ia mempertanyakan alasan putra bungsunya itu bisa bertahan selama bertahun-tahun dengan gadis itu.
Yima memang tidak terlalu menyukai Hera. Di matanya, Hera hanya seorang gadis manja yang dibesarkan dengan kasih sayang dan harta keluarganya yang berlimpah, sedangkan bagi Yima yang terpenting dari seorang perempuan adalah ambisi untuk menjadi sosok yang punya arti dengan usahanya sendiri. Bukan dengan dukungan siapa pun.
“Bungsunya om Freddy itu Marita, Ma.” Alvin mengoreksi ingatan Yima yang tentu saja hanya berakhir dengan pengabaian dari perempuan berambut sebahu itu.
“Well, janji yang kalian buat bukan hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti janji pertemuan yang mama buat, kan? Mama minta kamu bijak Alvin. Coba pikirkan mana yang harus kamu prioritaskan? Kamu tahu kan mama nggak pernah banyak minta sama kamu. Kalau ada Dominiq di sini jelas mama nggak akan minta kamu buat hadir. Kamu paham?” cecar Yima.
“Fine. Tapi Mama nggak boleh ganggu waktuku lagi sepanjang sisa liburan ini.” Alvin menatap tajam ke arah mata ibunya.
“Come on, Vin! Meskipun kamu sedang bernegosiasi sama mama, kamu harus memberikan penawaran yang berimbang. Sisa liburan kamu masih lebih dari sebulan lagi dan kamu mau mama setuju untuk membiarkan kamu bebas selama itu dengan hanya satu pertemuan bisnis saja?” Yima tersenyum penuh arti.
Sesampainya di rumahnya, Alvin berjalan ke dapur yang berada di area terbuka di bagian belakang bangunan tersebut. Di pekarangan belakang tersebut juga terhampar lahan berumput hijau dan deretan pohon dan tanaman hias yang tak diketahui namanya oleh Alvin sendiri. Taman mini tersebut hanyalah sebagian kecil dari dunia yang dibuatkan oleh kedua orang tua Alvin untuknya.
Seperti yang dibilang Yima sebelumnya, Alvin selalu bisa mengandalkan kedua orang tuanya untuk hidup dengan nyaman tanpa melakukan apa-apa. Hal yang tak gratis tentunya. Sebagai ganti dari semua kemewahan yang dihadiahkan padanya itu, Alvin harus rela dirinya dijadikan boneka dalam panggung drama pada media yang seolah selalu haus dengan berita apa pun yang melibatkan keluarganya.
Tentu saja, banyak yang penasaran untuk “menonton” kehidupan sempurna bak negeri dongeng yang dimiliki oleh keluarga Petra karena hampir tak ada yang tidak dimiliki oleh garis keturunan keluarga Petra. Kaya raya, berprestasi, memiliki reputasi tanpa cela, punya pengaruh di bidang politik dan ekonomi bangsa, belum lagi diperhitungkan oleh pebisnis-pebisnis lintas negara.
Alvin duduk di sebuah kursi rotan di beranda belakang bangunan rumahnya sambil menenggak habis isi mugnya. Ia kemudian meraih ponsel yang tadi diletakkannya dalam saku celana pendeknya dan menghubungi nomor ponsel Hera. Ia berniat untuk mengganti jadwal pertemuannya dengan Hera menjadi malam itu karena besok ia harus menuruti permintaan ibunya untuk menghadiri pertemuan bisnis keluarganya.
“Iya, Vin?” sapa suara lembut Hera di ujung telepon membuat perasaan Alvin sedikit membaik.
__ADS_1
“Kamu lagi di mana?” tanya Alvin.
“Em.” Ada jeda sejenak pada jawaban Hera, “aku lagi di rumah Tian.”
“Ngapain di rumah Tian? Kok nggak pamit kalau mau ke luar rumah?” Mood Alvin dengan segera kembali memburuk.
“Ya, aku pengen ketemu aja sama Tian. Udah lama nggak ngobrol sama dia. Pengen tahu juga keadaan dia.” Hera menjawab cepat-cepat karena ia bisa merasakan perubahan perasaan kekasihnya itu.
“Kan bisa lewat telepon!”
“Udahlah, Vin. Kalau kamu marah karena aku nggak ngabarin kamu, oke, aku minta maaf. Nggak bakalan kejadian lagi kayak gitu. Kalau perlu, habis ini aku bakalan minta izin sama kamu buat makan, mandi, buang napas, tarik napas,” celetuk Hera kesal.
Ia tak habis pikir mengapa emosi Alvin semakin hari semakin sulit untuk dikontrol. Padahal Hera juga sedang dibingungkan oleh permasalahan yang menimpa sahabat-sahabatnya karena dia terlalu asyik mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Alvin. Kalau sudah begini, Hera jadi ingin menyalahkan Alvin atas keterbatasan ruang geraknya untuk membantu sahabat-sahabatnya yang sedang kesusahan itu.
Alvin sendiri bukannya tidak sadar kalau dia sedang melampiaskan kekesalannya pada Hera. Karenanya, ia buru-buru mengatur napasnya dan mulai merendahkan nada suaranya kembali. “Ayo ketemu.”
“Buat apa?” tanya Hera dengan nada masih sedikit ketus.
“Aku kan ada janji sama kamu.”
Hera mengernyitkan dahinya. “Bukannya besok?”
“Besok mama ngajak aku ke acara perusahaan,” jawab Alvin dengan helaan napas lelah, padahal belum satu jam berlalu sejak dia terjaga dari tidurnya.
__ADS_1
Hera sendiri hanya bisa pasrah menerima keputusan Alvin tersebut. Ia benar-benar sedang tidak dalam mood untuk terlalu banyak berdebat. Perpisahan Safira dan Afgar sedikit banyak membuatnya berhati-hati dengan hubungannya sendiri dengan Alvin.