Les Láches

Les Láches
Home


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 10 malam saat Tian dan kawan-kawannya kembali menginjakkan kaki mereka di bandar udara José Marti. Dua puluh tiga menit sebelum mereka memasuki pesawat yang akan mengantarkan kepulangan mereka ke tanah air.


Saat rombongan tersebut duduk di boarding room, Meda melihat sepasang suami istri yang duduk tidak jauh darinya. Di gendongan sang suami, seorang bayi laki-laki lucu tengah tertawa riang saat melihat ekspresi-ekspresi aneh yang dibuat ayahnya itu. Meda ikut tertawa saat melihat pemandangan tersebut. Tian mengikuti arah pandang Meda dan tersenyum canggung. Ia tidak pernah merasa nyaman berada di sekitar anak kecil, apalagi bayi.


"How old is he?" Meda mencoba membuka percakapan dengan si ayah bayi itu.


Laki-laki itu tidak memiliki wajah yang ramah, tetapi tidak akan pernah ada orang tua yang menghindari topik pembicaraan mengenai anak mereka.


"About three months."


Laki-laki itu tersenyum tipis. Mungkin tidak biasa memulai perbincangan basa-basi dengan orang yang baru ditemuinya. Namun, berbeda dengannya, sang istri kelihatan ceria dan mudah bergaul. Dengan antusias, wanita muda itu mulai bercerita.


"His name is Arthit and he's four months old. Suchart keeps forgetting that our baby is growing," kata wanita yang memperkenalkan dirinya dengan nama Siriporn itu sambil melirik gemas ke arah suaminya.


Percakapan yang awalnya membahas tentang Arthit, dengan cepat melebar ke topik lainnya. Siriporn bercerita bahwa suaminya adalah seorang pemilik usaha dari Thailand yang bisnisnya bergerak di bidang otomotif. Selain untuk liburan, kedatangan mereka ke Kuba adalah untuk mengunjungi salah satu calon klien yang mencari produsen untuk memenuhi kebutuhan komponen pendukung kendaraan dalam jumlah besar. Beruntung, perjalanan mereka tersebut tidak sia-sia. Perusahaan Suchart berhasil memenangkan tender dan menjadi kontraktor bagi perusahaan itu selama 1 tahun ke depan.


"Stop it, Porn. Maybe he has no interest about our family bussiness," potong Suchart.


Meda terkekeh pelan. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Suchart bukannya sedang mengingatkan istrinya untuk tidak bercerita terlalu banyak mengenai perusahaannya, melainkan tengah meremehkan pengetahuan Meda di bidang itu.


"I'm sorry to disappoint you, Sir. Actually I kinda resourceful on that field since it's become a part of my multinational company's bussiness," jelas pemuda itu membuat ekspresi terkejut melintas sekilas di mata Suchart. "But, I'm agree with you. We shouldn't delve in each other properties and enjoy our trip home instead."


Siriporn adalah wanita yang cerdas, bahkan mungkin lebih cemerlang dari suaminya andai dirinya tidak dibesarkan dalam kekentalan budaya patriarkal yang memosisikan dirinya tidak lebih dari sekadar alat untuk mendukung dan melayani kebutuhan suaminya. Untuk mencairkan suasana, ia melempar senyum ringan untuk menyapa Tian yang berada di samping Meda dan ikut menyimak percakapan mereka dalam diam.


"Is she your girlfriend?" tebak Siriporn saat melihat kedua muda-mudi yang duduk berdampingan itu tidak mengenakan sesuatu yang terlihat seperti cincin pernikahan di jari mereka.


Meda tertawa pelan sebelum mencondongkan sesuatu ke arah Siriporn.


"She hasn't said yes," kata Meda dengan suara yang hanya bisa didengar oleh pasangan di hadapannya itu.


"Why? I mean, you guys look so cute together."


Suara Siriporn cukup keras untuk didengar oleh Tian, bahkan oleh keempat sahabatnya yang terpisah sedikit jauh dari tempatnya duduk. Dari kalimat tersebut, kelima orang itu pun bisa menebak apa yang dibicarakan oleh Meda dan Siriporn. Meda menggelengkan kepalanya sambil tertawa lepas. Tidak menyangka bahwa wanita itu akan bereaksi sedemikian rupa.


Sebenarnya, ia sama sekali tidak keberatan kalau perasaannya diketahui oleh lima orang lain dalam rombongannya, terutama Afgar. Namun, yang ia cemaskan adalah Tian. Sebab, sepertinya gadis itu berhati-hati untuk menunjukkan kedekatan di antara mereka berdua saat berada di tengah sahabat-sahabatnya. Padahal yang sesungguhnya dilakukan Tian adalah "melindungi" Meda agar tidak terganggu oleh sikap Hera dan Safira kalau sampai keduanya mengetahui ungkapan cinta Meda kepada Tian.


Kedua gadis itu bukan hanya akan merecoki Tian dengan berbagai macam pertanyaan untuk membuatnya menceritakan setiap detail kronologi hingga ia dan Meda sampai ke tahap itu, melainkan juga merongrong Meda untuk turut ambil bagian dalam setiap aktivitas kelompok mereka. Sebab, Hera dan Safira sepakat bahwa siapa pun yang menjadi kekasih Tian, akan dianggap sebagai bagian dari kelompok mereka juga.


"You wanna hold him?"


Siriporn kembali menatap Tian, membuat gadis itu sontak mematung. Meda yang melihat perubahan ekspresi di wajah gadis itu buru-buru mengambil alih situasi.


"Let me." Meda meraih Arthit ke dalam pelukannya.


Bayi laki-laki kecil itu sepertinya mewarisi watak ibunya. Ia sama sekali tidak takut berada di gendongan orang asing. Meda pelan-pelan memutar posisi duduknya sehingga kini berhadap-hadapan dengan Tian. Gadis itu sendiri tengah menatap tubuh mungil yang berada di lengan Meda tersebut dengan takjub. Ia mengamati baik-baik letak tangan pemuda itu saat menggendong tubuh Arthit.


"Coba gendong." Meda mengangsurkan tubuh Arthit ke arah Tian sembari menahan lehernya dengan satu tangan dan tangan lainnya menahan agar bayi itu tetap mantap di gendongannya.


Tian menggeleng ragu. "Aku bener-bener nggak bisa."


Kali ini, wajah Tian malah semakin memucat. Meda tahu benar alasannya. Trauma masa lalu Tian jelas punya andil untuk membuatnya merasa secemas itu.

__ADS_1


"Tenang. Bayinya tidak akan kenapa-kenapa." Meda mendekatkan Arthit ke arah Tian, membuat gadis itu refleks mengangkat lengannya.


Dalam hitungan detik, tubuh kecil Arthit sudah berada di pelukan Tian. Jantung Tian berdebar tidak beraturan dan keringat dingin terasa membasahi bagian punggung dress-nya. Gadis itu mencoba menenangkan hatinya karena ia pernah membaca bahwa seorang bayi biasanya sangat sensitif dengan perasaan orang yang berada di sekitarnya. Untungnya, Arthit terus memasang wajah ceria hingga Tian menyerahkannya kembali pada Siriporn.


"See? Tidak ada masalah, 'kan?" bisik Meda sembari mengusap keringat di telapak tangan Tian dengan sapu tangannya.


"Thanks, tapi kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu harus ngapain waktu perempuan itu minta aku untuk menggendong bayinya," ucap Tian sebelum berjalan menaiki bus yang akan membawa mereka ke pesawat.


Tian kembali duduk bersebelahan dengan Meda di kabin first-class dan menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol tentang judul-judul novel yang pernah dibaca Meda. Apa lagi kalau bukan novel karangan Agatha Christie. Seperti yang sudah pernah dikatakannya, Tian memiliki hampir semua buku yang disebutkan oleh Meda.


"Aku harus benar-benar melihat sendiri buku-buku yang kata kamu lengkap itu." Meda meletakkan satu sisi kepalanya di bantalan kursi sambil menatap Tian yang juga tengah bersandar dengan selimut menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya.


"Kamu bisa hubungin aku kalau mau dateng ke rumah," jawab Tian sembari mengangsurkan ponselnya ke arah Meda. Namun, alih-alih menerimanya, Meda malah melambaikan ponselnya sendiri.


"Aku sudah punya nomor kamu," kata Meda.


Tian hampir bertanya bagaimana pemuda itu bisa menyimpan nomornya ketika kemudian ia mengingat bahwa Meda mengenal Safira dan mungkin mendapatkannya dari sahabatnya itu. Padahal, Meda "mencuri" nomor ponsel Tian saat gadis itu mempercayakan ponselnya pada Meda di Cienfuegos.


Sementara, di sisi lain kabin tempat Afgar dan Hera duduk, kedua sejoli itu tengah memulai percakapan serius.


"Kamu sudah tanya ke Tian?" Afgar mengingatkan Safira pada pertanyaan yang pernah diajukannya saat mereka masih di Kuba.


"Aku nggak akan nanya apa pun kecuali Tian sendiri yang mulai cerita," jawab Safira kesal.


"Kalau gitu, aku yang akan nanya ke Tian sendiri," putus Afgar.


"Berhenti terobsesi sama Tian, Gar. Dia mau pacaran sama siapa aja nggak ada pengaruhnya sama kamu!" bentak Safira dengan suara tertahan karena kabinnya hanya terpaut satu baris dengan kabin Meda dan Tian.


"Apa kamu lihat dengan mata kepala kamu sendiri kalau dia nyakitin Tian?" potong Safira cepat.


"Mereka berulang kali berantem ...."


"Kita pacaran juga sering berantem. Terus apa itu berarti kita juga harus menjauhi satu sama lain?" tanya Safira sinis.


"Ini beda, Fir. Belum apa-apa aja mereka sudah berantem sesering itu." Afgar masih ngotot.


"Itu karena sifat mereka bertolak belakang."


"Dan itu semakin menambah daftar alasan buat menjauhkan mereka berdua."


Mata Safira menyipit. "Aku nggak percaya, aku mendengar ucapan itu dari seseorang yang berprinsip bahwa koneksi yang luas adalah aset wajib bagi seorang calon pewaris bisnis keluarga. Atau mungkin kamu sudah menyerah sama posisi satu itu?"


"Sejak kapan pembicaraan ini jadi soal aku?" tanya Afgar dingin.


"Ini soal kamu. Pusat masalah ini adalah kekhawatiran kamu yang berlebihan. Kamu terus-terusan mencoba memvonis kalau hubungan mereka nggak akan pernah berhasil. Aku jadi penasaran, itu prediksi atau ekspektasi?"


"Fir. Berhenti memutar semua fakta untuk menyerang aku." Nada suara Afgar terasa dingin, seolah sedang memperingatkan Safira untuk tidak terus-terusan mengonfrontasinya.


"Kamu yang seharusnya berhenti bikin aku mencemaskan hal-hal aneh. Ini peringatan terakhir dari aku, Gar. Jangan ikut campur di masalah itu lagi. Kalau kekhawatiran kamu terbukti, aku akan jadi orang pertama yang memastikan bahwa Meda menanggung akibatnya." Safira memberikan ultimatum terakhirnya sebelum menutup pintu geser di kabinnya.


Pesawat yang ditumpangi rombongan itu tiba di Juanda International sekitar pukul 8 pagi. Sebuah Hummer lengkap dengan sopirnya telah menanti kedatangan keenam orang tersebut. Sebelum keberangkatannya menuju Prancis, Adler memang berpesan pada sopir pribadinya untuk menjemput Tian dan kawan-kawan sepulang dari Kuba.

__ADS_1


"Pak, Papa bilangnya pulang ke Indonesia kapan?" Tian bertanya pada Diro, laki-laki setengah baya yang telah dikenalnya sejak kali pertama menjadi bagian keluarga Adler.


"Bapak bilang kira-kira akan pulang tanggal 30, Mbak." Diro mengalihkan pandangannya sejenak dari jalanan ketika menjawab pertanyaan dari putri sulung majikannya itu.


Tian menghitung dalam hati jumlah hari yang tersisa sampai tanggal tersebut dan memperoleh angka seminggu. Tian mengerang pelan, membuat Diro terkekeh. Bukan hanya Bella satu-satunya yang menganggap putrinya itu sebagai makhluk terimut di seantero kediaman keluarga Adler.


"Kamu bisa nginep di rumahku kalau takut sendirian," tawar Afgar cepat.


"Enak aja! Kalau harus nginep, Tian ke rumah aku." Hera menyahut tegas.


Meda dan Safira yang hampir melancarkan protesnya masing-masing kembali menutup mulutnya. Meda merasa bisa berhenti khawatir saat Hera berbicara. Kalau salah satu sahabat perempuan Tian sudah turun tangan untuk menghalangi niat Afgar, tidak mungkin bagi pemuda itu untuk memaksa melanjutkan rencananya. Safira, di sisi lain, menjadi tenang dengan alasan yang berbeda. Ia tahu, Hera tidak akan mau kalah dengan Afgar kalau soal berebut "kepemilikan" seorang Tian.


"Rumahku paling deket sama Tian. Lebih gampang kalau Tian butuh ngambil sesuatu dari rumahnya." Afgar masih mencoba menawar.


"Aku akan menyediakan apa pun yang dibutuhin Tian tanpa perlu nunggu Tian pulang ke rumah. Lagipula, kalau laki-laki itu nyari Tian, dia bakalan dengan gampangnya nemuin Tian di rumah kamu yang PALING DEKET sama rumah Tian itu." Hera juga tidak berniat mengalah.


"Nah! Kebetulan kamu membahas soal peneror itu." Afgar menjentikkan jarinya. "Kalau laki-laki itu beneran muncul, bukannya lebih aman kalau Tian ada di rumah yang banyak laki-lakinya?"


Hera membelalakkan matanya. "Kamu pikir walaupun hampir semua orang di rumahku perempuan, aku nggak bisa menjamin keselamatan Tian? Aku bisa nyewa bodyguard yang jumlahnya bahkan lebih banyak daripada jumlah orang di rumah kamu."


Telinga Tian mulai gatal mendengar pertengkaran kedua sahabatnya itu.


"Aku di rumah aja. Laki-laki itu nggak akan datang ke rumah. Aku yakin," lerai Tian. "Kalau memang terjadi sesuatu yang nggak biasa, kalian berdua akan jadi orang yang pertama aku hubungi."


"Berlima dong," sahut Safira.


"Empat," timpal Afgar.


"Kamu nggak bisa ngitung?" Safira menunjuk Meda yang hanya bisa bertukar pandang dengan Alvin.


Kedua pemuda itu hampir tidak bersuara sejak tiba di Indonesia.


"Iya. Pokoknya semua yang di mobil ini bakalan aku teleponin satu-satu kalau ada masalah. Termasuk Pak Diro yang tidur di kamar bawah. Oke, Pak?" Tian mengacungkan ibu jarinya ke arah pria itu.


Diro merespon pertanyaan Tian dengan memberikan isyarat yang serupa. Dalam hati, ia ikut lega karena gadis itu memiliki teman-teman yang peduli padanya. Selama perjalanan, pria itu memikirkan beberapa cara untuk menghibur Tian. Namun, melihat keadaannya saat ini, sepertinya bantuannya tidak terlalu diperlukan. Tugasnya tinggal memastikan bahwa putri kesayangan majikannya itu aman dalam pengawasannya.


"Kalau kamu udah di rumah, telepon aku ya?" pinta Hera saat dirinya dan Alvin turun di depan gerbang rumahnya.


Alvin tiba-tiba berencana menggantikan Tian yang batal menginap di rumah kekasihnya itu. Awalnya, Hera menolak. Namun, ketika Alvin mengikutinya turun dari mobil, ia menyerah untuk berkata tidak.


Tujuan berikutnya adalah rumah Safira. Gadis itu kelihatan kelelahan dilihat dari bagaimana ia menghabiskan sebagian besar waktu di mobil untuk tidur. Ia tidak mengatakan apa-apa seusai turun dari mobil dan mengecup pipi Tian. Ia bahkan tidak memberi salam perpisahan "spesial" pada Afgar. Kejadian yang amat jarang terjadi tersebut tentu tifak luput dari pandangan Tian, membuatnya mengingatkan diri untuk menghubungi Safira dan mendengar penjelasannya.


Rumah terakhir yang adalah rumah Meda. Bangunan bergaya rustic, dengan dinding bata ekspos yang menjadi pondasi utamanya, itu terdiri dari dua lantai. Yang menonjol dari bangunan tersebut adalah adanya dua beranda di lantai dua. Beranda pertama berukuran sedang dan berada di bagian tengah depan bangunan. Dindingnya tersusun dari palet kayu bercat putih yang disusun vertikal. Beranda kedua berukuran lebih besar dengan bentuk yang memanjang mengikuti bentuk dasar lantai pertama.


"Mau mampir sekarang?" Meda menggoda Tian yang kelihatan terkagum-kagum dengan gaya eksterior rumahnya. Padahal, rumah bak kastil miliknya jelas mempunyai nilai properti yang jauh lebih tinggi daripada bangunan rumahnya.


"Next time. Salam buat ayah ibu kamu, ya." Tian tersenyum sembari melambaikan tangannya.


Catatan Penulis :


__ADS_1


Rumah Meda


__ADS_2