Les Láches

Les Láches
Hot and Cold


__ADS_3

Tian menggeliat pelan di balik selimutnya. Dengan mata setengah terbuka, ia mengintip jam di ponselnya. Jam sembilan pagi. Tepat satu jam berlalu sejak ia tiba ke Havana.


Ia merasa cukup segar setelah mengistirahatkan punggung yang sebelumnya kaku karena hampir 12 jam duduk di kereta. Setelah merapikan tempat tidurnya, ia bergegas masuk ke kamar mandi.


Hujan masih turun dengan sangat derasnya saat Tian berjalan menuju ke restoran hotel. Ia menelan irisan terakhir beef steak-nya sebelum menenggak habis teh miliknya yang sudah dingin. Kakinya lalu melangkah ke teras hotel, mencoba memperkirakan berapa lama lagi kira-kira hujan akan mengguyur kota itu.


Sebenarnya, ia enggan berjalan-jalan sendirian di kota yang asing itu. Entah mengapa, rencananya untuk mengunjungi beberapa tempat di Havana seolah tidak pernah terlintas sama sekali di kepalanya sekembalinya ia dari Cienfuegos. Namun, diam di kamarnya tanpa melakukan apa-apa juga bukan pilihan. Safira dan Afgar yang bisa kembali ke kamar hotel kapan saja setelah selesai mengakhiri sesi gym-nya jelas tidak akan membiarkannya sendirian.


Sebenarnya, ada satu pilihan lain yang terlintas di kepala Tian. Ia bisa meminta Meda menemaninya seperti biasa. Namun, sebelum mereka berpisah pemuda itu tidak mengungkit jadwal jalan-jalan Tian seperti yang sudah-sudah. Pemuda itu malah terlihat sedikit bersikap aneh dengan kebisuannya selama perjalanan dari stasiun menuju hotel.


Awalnya, Tian mengira Meda hanya lelah. Namun, setelah beberapa kali memeriksa ingatannya, Tian yakin bahwa ada lebih dari sekadar kata lelah dibalik kediaman Meda. Berpikir bahwa ia mungkin tidak akan menghabiskan waktu bersama pemuda itu lagi sampai hari kepulangan mereka ke Indonesia membuat Tian merasakan sebuah lubang menganga tercipta di hatinya. Namun, Tian tidak mau memaksakan diri untuk mencoba mendekati Meda kalau pemuda itu sendiri tidak berusaha untuk menemuinya lagi.


"Miss, you could borrow an umbrella from our receptionist if you want to go out." Seorang staf yang berjaga di pintu masuk hotel menghampirinya ketika Tian masih asyik melamun.


"Thank you." Tian melempar senyum kecil sebelum melangkah menuju resepsionis dan meminjam payung seperti yang disarankan oleh staf tersebut.


Selama hampir setengah jam, Tian melangkah di jalanan kota Havana tanpa sedikit pun berniat memasuki bangunan apa pun. Toko-toko yang berdesakan di jalanan utama pun tidak terlihat menarik di matanya. Hanya pertunjukan dari musisi jalanan yang dikerumuni oleh beberapa pengguna jalanlah yang membuatnya beberapa kali menghentikan langkah untuk menonton.


Keramaian di sekitarnya, membuat Tian melupakan kesendiriannya selama sesaat. Namun, begitu riuh rendah di sekitarnya meredup, Tian kembali mengingat keempat sahabatnya. Ia bahkan merindukan kebersamaannya dengan Meda. Beberapa kali ia mencoba menyingkirkan sosok itu dari kepalanya karena membayangkan kalau pemuda itu tidak sedang memikirkannya kembali terasa sedikit menyakitkan.


Tian memang masih mengingat momen di puncak Palacio del Valle. Namun, otaknya enggan menerjemahkan lebih jauh arti dari tatapan Meda senja itu. Tian bukan orang yang senang melambungkan ekspektasinya sendiri dengan spekulasi-spekulasi yang berlebihan. Jadi, kalau Meda sendiri tidak berniat mengungkit tentang momen singkat di Cienfuegos itu, Tian juga enggan menaruh kepedulian.


Hujan semakin mereda dan awan gelap yang sebelumnya membayangi kota Havana telah menghilang. Tian melipat payungnya dan membawanya dengan tangan kirinya. Mata gadis itu jatuh ke sebuah stand yang menjual pernak-pernik kecil gantungan kunci, ketika ia kembali melanjutkan langkah. Tian bergerak mendekat dan menyapa pemuda yang berdiri di balik meja dengan senyuman ramah. Pemuda berwajah ceria itu membalas senyumnya dan berdiri tepat di depan tumpukan gantungan kunci berbentuk anak kucing yang sedang diamati oleh Tian.


"How much?" Tian membuka aplikasi google translate sebelum mengulang pertanyaannya kembali "Cuánto cuesta?"


"You can get three items for 25 pesos."


Dari wajah oriental Tian saja, pemuda itu sudah menangkap bahwa gadis itu bukan penduduk lokal. Apalagi mendengar logatnya yang lucu saat mengucapkan pertanyaan dalam bahasa Spanyol itu. Karenanya, ia mencoba menyesuaikan diri untuk membuat pelanggannya itu tetap nyaman melanjutkan transaksi.


"Then, I'll take six. Could you help me to pick the best ones for the rest five?"


Sejak awal, Tian memang kesulitan menjatuhkan pilihan di antara banyaknya model gantungan kunci yang tersebar di permukaan meja. Seperti biasa, ia hanya mampu menemukan satu benda yang menarik perhatiannya dan kehilangan ketertarikan untuk membandingkannya dengan benda-benda sejenis. Bahkan ketika benda itu ditawarkan padanya dengan harga yang lebih murah.


"Depends on what's the standard of 'best' you looking for." Pemuda itu tertawa kecil.


"I'm sorry. I don't mean to..." Tian berniat meminta maaf karena berpikir ia menyinggung pemuda itu.


Namun, pemuda itu memotong cepat.


"It's nothing, Miss. I just wanna know about your preference, so I can help you to find the right ones." Pemuda itu menjelaskan tanpa sekalipun kehilangan senyum cerianya.

__ADS_1


"Well, I come here with two women and three men. Maybe the preferences are two more girly things and three things that could scream out its masculinity."


"Alright!" Pemuda itu bergerak cepat membungkus semua benda yang ditemukannya ke dalam plastik-plastik berukuran kecil.


Tian sendiri melihat-lihat benda lain yang dijual di stand itu. Ada bermacam model liontin, rantai kalung, gelang tangan, cincin, anting-anting, dan ....


"Maps? You sold it?" Tian menunjuk ke sebuah keranjang di dekat kaki meja yang menjadi tempat selembar peta itu berada.


"Yes. You also wanna take this one?" tawar pemuda itu.


Tian tidak berpikir sama sekali saat menganggukkan kepalanya. Baru ketika ia berjalan kembali ke arah hotel, ia sibuk memikirkan apa yang bisa dilakukannya dengan benda tersebut. Meminjam alasan Meda pun terasa tidak tepat. Sebab, Tian sama sekali tidak memiliki rencana untuk mengunjungi tempat-tempat yang bisa membuatnya kehilangan sinyal modem atau bahkan pergi ke suatu tempat dengan mobil sewaan yang melarang pengemudinya untuk mengaktifkan GPS.


Pada akhirnya, ia menyimpulkan bahwa keimpulsifannya itu dipicu oleh keramahan pemuda itu saat menawarkan barang-barang yang dijualnya. Sekitar beberapa meter sebelum mencapai hotel, Tian melihat sosok Meda yang tengah berjongkok di tepi jalan sambil memberi makan seekor kucing. Tian menarik napas dari tempatnya berdiri sebelum mendekati pemuda yang seolah tak melihat apa pun selain kucing di hadapannya itu.


"Meda," sapa Tian ketika dirinya berada di jarak pendengaran pemuda itu.


Meda bergeming, membuat Tian berpikir bahwa pemuda itu tak mendengar suaranya. Namun, ketika Tian bersiap memanggil namanya untuk kedua kalinya, pemuda itu menarik kucing itu ke dalam pelukannya dan bangkit untuk memandang Tian. Tian merasakan sebuah dinding tidak kasat mata saat menatap ekspresi pemuda itu. Dinding yang kembali menciptakan jarak di antara keduanya, seperti di awal pertemuan mereka.


Tian tidak bisa menebak apa alasan yang mendasari perubahan suasana hati pemuda itu. Namun, Tian paham bahwa mencoba mendengar segalanya dari bibir Meda sendiri bukanlah hal terbaik yang bisa ia lakukan saat ini. Akhirnya, ia memutuskan untuk bersikap seolah segalanya normal sampai pemuda itu mengekspresikan perasaannya sendiri.


"Mau kamu bawa ke mana kucingnya?" tanya Tian untuk memecah keheningan.


"Ke toko pakan hewan," jawab Meda singkat sambil membenarkan posisi kucing berbulu keabuan yang terlihat nyaman di gendongannya itu.


"Kamu mau ngerawat dia?" tanya Tian lagi.


"Aku cuma mau kasih makan dia."


"Ya itu namanya ngerawat."


"Terserah kamu menyebutnya apa. Yang penting aku tidak perlu persetujuan siapa-siapa untuk memberi makan kucing ini," tandas Meda.


Entah kenapa, ucapan itu membuat dada Tian terasa sesak. Tepat seperti dugaannya, sesuatu telah terjadi tanpa ia sadari dan membuat pemuda itu kembali seperti di awal mereka bertemu. Dingin dan tidak tergapai.


Tian menelan ludah, mencoba mengabaikan gumpalan asing yang terasa menekan tenggorokannya dan mencegahnya berbicara. Namun, ia memaksa lidahnya bergerak, meskipun suara yang dihasilkannya sedikit bergetar.


"Kalau kamu memperlakukan kucing liar seperti ini, mereka enggak akan terbiasa cari makan sendiri. Mereka akan nyari manusia lain untuk ngasih makan mereka. Padahal, enggak semua manusia itu peduli mau mereka makan atau enggak. Masih bagus kalau kucing ini cuma diusir, kalau disakitin? Malah lebih kasihan, 'kan?" Ia mencoba membujuk pemuda itu baik-baik.


"Jadi, maksud kamu lebih baik mereka mati kelaparan daripada mereka mati dipukuli manusia. Skenario yang kedua itu bahkan belum tentu terjadi dan kamu sudah melarang aku buat memberi makan kucing ini?" Nada suara Meda semakin dingin.


Tian menyibak rambut yang jatuh di wajahnya karena tiupan angin sebelum menatap tajam ke arah Meda.

__ADS_1


"Yang aku larang adalah kamu melakukan lebih jauh dari yang seharusnya kamu lakukan. Kalau kamu enggak bisa bener-bener merawat kucing itu, jangan memanjakan dia seperti itu. Dia bukan manusia yang bisa membedakan mana kewajaran mana keberuntungan."


"Jadi, menurut orang seperti kamu? Sudah sewajarnya kucing ini mati kelaparan dan tindakan aku ini akan membuat dia lupa sama kodratnya sebagai kucing liar yang memang SEWAJARNYA hidup seperti itu?"


Tian menghentikan langkahnya. "Orang seperti apa aku di mata kamu, Meda?"


Meda berbalik. "Orang kaya yang cuma peduli sama diri sendiri karena mereka terlahir dengan segala kelengkapan hidup. Orang yang mungkin berpikir bahwa orang-orang dari kasta rendah tidak boleh menerima 'keberuntungan' yang berlebihan."


Mata Tian menyipit. "Kamu yakin kita membicarakan hal yang sama di sini."


"Apa aku salah?"


"Salah! Karena kamu jelas enggak menangkap inti dari kata-kata aku dan malah memutarnya ke topik yang sama sekali enggak berhubungan. Aku membicarakan soal kamu yang sampai harus mencari toko hewan untuk mencarikan makan kucing yang enggak mungkin bisa kamu rawat. Aku berbicara soal kamu yang mungkin sudah hampir menjadi orang tidak bertanggung jawab yang mengerjakan sesuatu setengah jalan sebelum seenaknya melanjutkan hidup kamu sendiri." Tian tertawa sinis.


"Oke. Mungkin tadinya kamu enggak terpikir sampai ke sana, tapi anehnya isi kepala kamu malah semakin bergerak ke arah yang salah. Kenapa kamu tiba-tiba membawa kasta dan status sosial di pembicaraan ini? Apa semua orang kaya bener-bener pendosa di mata kamu? Kamu tipe orang yang hanya bisa berpikir kalau sesuatu tidak putih, berarti dia hitam?" tanya Tian dengan mata berkaca-kaca.


Meda tertawa pahit. "Tidak semua orang kaya jelek di mataku, tapi menurutku kamu bukan salah satu dari orang-orang itu."


Setetes butiran basah meluncur dari ujung mata Tian.


"Bye, Meda," bisiknya sebelum berbalik.


Meda terpekur di tempatnya berdiri selepas gadis itu menghilang dari pandangannya. Kucing di pelukannya mengeong lemah seolah mencoba bertanya apa yang dipikirkan pemuda itu.


"Aku selalu berakhir mengatakan hal-hal yang menyakitinya setiap kali aku mencoba menutupi perasaanku sendiri," bisik Meda sebelum meletakkan kucing itu kembali ke tanah. "Pergilah. Maaf membawamu ke dalam pertengkaran ini."


Seolah mengerti apa yang dikatakan Meda, kucing berbulu abu itu melesat menjauh dan menghilang di celah antara dua bangunan toko di dekatnya.


Di kamar hotelnya, Tian menghempaskan tubuhnya ke kasur. Menarik selimut hingga menutup kepalanya. Matanya terus basah karena air mata yang tidak kunjung berhenti mengalir dan kepalanya tidak bisa berhenti memutar kata-kata terakhir yang diucapkan Meda.


Menghabiskan waktu 2 hari terakhir bersama pemuda itu membuat Tian berpikir bahwa setidaknya keduanya bisa menjalin hubungan pertemanan dengan baik. Sekarang ia merasa benar-benar konyol karena bahkan sempat memikirkan kemungkinan munculnya perasaan romantis di antara dirinya dan pemuda itu. Ya, rupanya sedikit banyak perkataan Safira di malam keberangkatan mereka mempengaruhi alur pikirannya.


Tian berbaring seperti itu tanpa bergerak selama hampir setengah jam sebelum bangkit dan mengganti pakaiannya. Saat mengambil tas yang tadi dilemparnya sembarangan ke lantai, sebuah bungkusan plastik jatuh di kakinya. Bungkusan berisi gantungan kunci dan peta cetak yang dibelinya di pusat kota sebelumnya.


Ingatannya kembali menghadirkan sosok Meda, salah satu orang yang seharusnya menerima benda di dalam bungkusan itu. Tian menghela napas ketika mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk jam kayu dari dalam kantong di tangannya itu. Ia bertanya-tanya apa yang harus dilakukannya pada benda yang tadinya akan diberikannya pada Meda itu, karena tidak akan ada lagi kesempatan baginya untuk berbincang dengan pemuda itu di masa depan.


Tian menghela napas, entah untuk yang keberapa kalinya. Seharusnya ia berpegang pada prinsipnya sendiri dan tidak terlibat dengan orang yang rumit seperti Meda, begitu pikirnya. Sebab, hal-hal seperti itu hanya akan membuang waktunya dan membuat dirinya terjebak dalam situasi drama yang melelahkan fisik sekaligus mentalnya.


Sembari bertekad untuk melupakan seluruh kenangan--entah baik maupun buruk--bersama Meda, Tian kembali melempar tubuhnya ke balik selimut dan bersiap tidur. Namun, saat ia hampir terlelap, dering ponsel yang lupa diaturnya ke dalam mode getar membuat Tian terlonjak dari posisi rebahnya.


Sambil merutuk dalam hati, gadis itu meraih ponselnya. Tadinya, ia hanya berniat untuk membaca isi pesan yang sudah membuatnya hampir terkena serangan jantung itu sambil lalu. Namun, ketika matanya menelusuri setiap kata dalam pesan itu, ia tidak lagi ingin tetap berada di tempat tidurnya. Ia bahkan tidak lagi ingin berada di Kuba saat ini.

__ADS_1


__ADS_2