Les Láches

Les Láches
53.


__ADS_3

Setelah hampir seharian terjebak dalam penerbangan dari Bristol menuju Indonesia, Afgar akhirnya kembali menginjakkan kakinya di daratan. Sesungguhnya, seluruh sendi dalam tubuhnya terus-terusan meneriakkan kata istirahat, tetapi Afgar mengabaikan kepenatannya itu dan berjalan tergesa menuju Jaguar F biru miliknya. Ia segera melajukan kendaraannya tersebut dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Tian. Dalam perjalanannya menuju ke Indonesia, ia memang mendengar tentang kabar yang menimpa keluarga Adler itu dari sang ayah.


Perjalanannya menuju rumah Tian cukup lancar karena waktu masih menunjukkan pukul 03.00. Ia sengaja merencanakan perjalanannya agar bisa tiba di Indonesia pada pagi hari. Hal itu akan membuat dirinya bisa berbicara dengan Tian sebelum kesibukan apa pun mengganggu perbincangan keduanya.


Mobil yang dikendarai Afgar tiba di depan pintu pagar rumah Tian tepat setelah 23 menit perjalanan. Pagar tinggi itu terbuka lebar sebelum Afgar membunyikan klaksonnya. Afgar  melajukan mobilnya sedikit dan berhenti di dekat Diro yang mendapat giliran jaga tadi malam.


“Langsung masuk saja, Mas Afgar. Mbak Tian sudah bangun dari jam 02.00-an tadi,” kata Diro setelah bertukar salam dengan Afgar.


Afgar mengangguk cepat dan melajukan mobilnya kembali. Ia menghentikan mobilnya itu tepat di depan teras rumah Tian dan mengetuk pintu yang sudah setengah terbuka itu. Tak butuh waktu lama sampai pintu itu terbuka lebar sepenuhnya dan sosok Tian muncul dari balik pintu dengan muka sembap dan pucat. Afgar tak sempat menyusun kata-kata untuk membuka percakapan ketika gadis itu melingkarkan tangannya ke punggung Afgar dan memberikan pemuda itu pelukan yang sangat erat.


Jantung Afgar berdetak kencang berkat kontak fisik yang terjadi di antara keduanya itu. Sejak keduanya menginjak bangku SMP, keduanya tak pernah berpelukan seintens itu. Debaran di dada Afgar yang tak bisa dikendalikannya itu membuatnya hampir meninju dirinya sendiri. Tidak seharusnya pikirannya teralihkan dari masalah sesungguhnya yang sedang dihadapi oleh sahabatnya itu. Karenanya, ia mencoba untuk sedikit menjauhkan diri dari pengalih perhatian yang masih menggelayut di bagian depan tubuhnya itu.


“Kita ngomong di dalam yuk!” ajak Afgar sambil mendorong tubuh Tian dengan lembut untuk memasuki rumahnya.


Keduanya lalu duduk berdampingan pada sofa yang terletak di sudut ruang keluarga. Tian hanya menundukkan kepalanya dan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Sebuah cairan bening mengalir dari sela-sela jemari tangannya. Afgar tak sampai hati melihat gadis yang sangat disayanginya itu menangis. Karenanya, ia mengesampingkan kekhawatirannya yang sebelumnya dan menarik gadis itu agar bersandar di dadanya.


Tangis Tian bukannya mereda karena tindakan Afgar itu. Gadis itu bahkan semakin tercekik oleh kesedihannya sendiri. Ia memang lega karena di saat-saat seperti ini ada orang yang bisa memeluknya dan menenangkannya seperti ini, tetapi di lubuk hati terdalamnya ia merindukan sosok yang lain. Itulah yang membuat Tian semakin merasa dirinya menyedihkan. Di saat-saat seperti ini pun yang berulang kali terlintas di pikirannya malah bayangan Meda.

__ADS_1


Tian menarik tubuh Afgar semakin mendekat seolah menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan pemuda itu bisa membantunya melupakan apa pun yang berkaitan dengan Meda. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa tindakannya itu semakin membuat Afgar semakin panas dingin. Ia terlalu teralihkan dengan sesak pikiran di kepala dan benaknya sampai tak menyadari debaran jantung Afgar yang bahkan terdengar oleh telinga pemuda itu sendiri. 


Beruntung, Tian melepaskan pelukannya saat Afgar mulai terbiasa mengontrol perasaan dan ekspresi wajahnya. Afgar mencoba memeriksa kondisi Tian dari raut wajahnya, tetapi gadis itu kembali menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Afgar sempat mengira bahwa Tian akan kembali menangis. Karenanya, ia menarik paksa kedua lengan gadis itu dan membuatnya menunjukkan wajahnya. Namun, yang dilihatnya bukanlah air mata, melainkan wajah Tian yang memerah.


“Kenapa—?” Afgar tak mampu menyelesaikan pertanyaannya karena Tian memberinya pandangan yang kurang lebih artinya “jangan bertanya soal yang satu itu”.


Afgar berdeham pelan dan mulai menyusun pertanyaan yang lebih penting. “Aku dapat kabar dari papa kalau om Adler kecelakaan di Swedia dan kondisinya kritis. Apa beliau masih di sana sekarang?”


“Aku nggak tahu, Gar,” kata Tian dengan suara hampir berbisik.


Afgar mengerutkan dahinya. “Nggak tahu gimana maksud kamu? Kamu udah ke sana, kan? Atau kamu juga cuma dengar perkembangan kondisi om Adler dari tante Bella?” tanya pemuda itu bertubi-tubi.


Tian lalu mulai menyampaikan kejadian yang dialami oleh dirinya, ibu, dan adik-adiknya di Swedia. Mengenai kronologi kecelakaan Adler, lalu informasi mendetail tentang kondisi Adler yang terakhir kali dilihatnya, tindakan keluarga besar Oberon untuk menjauhkan ayahnya dari ibunya dan adik-adiknya, juga mengenai Marcela yang dijadikan “sandera” untuk membuat Bella menuruti perintah Mathis Oberon.


Tangan Afgar terkepal semakin erat seiring dengan semakin panjangnya untaian kalimat yang keluar dari bibir Tian. Namun, bukan hanya kemarahan saja yang memenuhi otaknya. Ia juga mencoba memikirkan langkah terbaik untuk membantu Tian. Sayangnya, semua jalan terasa buntu baginya. 


Ayahnya tak mungkin bersedia membantu, karena ikut campur dalam masalah ini tentu akan membuat perusahaannya berhadapan langsung dengan perusahaan keluarga besar Oberon, belum lagi ia belum berhasil memperoleh kepercayaan ayahnya sepenuhnya setelah membuat kekacauan dengan memutuskan pertunangannya dengan Safira.

__ADS_1


Afgar juga tidak mungkin meminta bantuan dari Alvin dan Hera. Keluarga Hera tidak punya cukup kekuatan untuk berhadapan dengan keluarga Oberon, sedangkan Alvin jelas tidak akan sudi meminta bantuan dari keluarganya yang meskipun memiliki kekuasaan yang sama besarnya dengan keluarga Oberon, tetapi jelas akan membuat pemuda itu melakukan hal yang lebih memusingkan untuk membalas bantuan mereka tersebut.


Kepala Afgar mulai terasa pening. Stres setelah melalui beberapa kali pertemuan bisnis dengan klien ayahnya di Bristol; kelelahan yang menumpuk akibat perjalanan panjang dari Bristol menuju Indonesia; lalu masalah keluarga Tian, semuanya terakumulasi menjadi sebuah beban pikiran yang besar yang menggelayuti kepalanya. Tanpa sadar tangannya bergerak memijat keningnya.


“Maaf udah bikin kamu stres karena masalah aku ya, Gar.” Tian menepuk lembut lengan Afgar sambil bangkit dari posisi duduknya. “Aku buatkan cokelat panas, ya. Kamu istirahat di kamarku aja.”


Tian berlalu ke arah dapur tanpa menunggu jawaban dari Afgar. Afgar memutuskan untuk mengikuti langkah Tian dan duduk di dekat salah satu counter dapur.


“Muka kamu kusut banget tuh. Di pesawat nggak bisa tidur?” tanya Tian sambil meletakkan secangkir cairan berwarna cokelat yang masih menguarkan uap panas.


“Ti, aku akan pikirin cara buat bantu masalah kamu. Pasti. Percaya sama aku.” Afgar mengabaikan usaha Tian untuk mengganti topik pembicaraan dari masalahnya.


Tian tersenyum lemah. “Makasih banyak, Gar. Tapi kamu nggak perlu memaksakan diri. Aku udah cukup seneng karena kamu ada di saat aku butuh ditenangin.”


Afgar meraih kedua tangan Tian dan berniat mengulang janjinya demi menghapus kesedihan di wajah gadis itu. Namun, suara bel pintu yang berdering beberapa kali menghentikan niat keduanya.


Tian berjalan lebih dulu ke arah pintu depan yang sudah terbuka lebar, tetapi menghentikan langkahnya di tengah jalan ketika melihat sosok Zaira Oberon yang berdiri di sana sambil melipat tangannya di depan dada.

__ADS_1


“Mana mama kamu?” tanya perempuan tua itu dengan gaya pongahnya.


__ADS_2