Les Láches

Les Láches
Disforia


__ADS_3

Tian melangkah keluar dari kamarnya sekitar pukul 5 pagi. Pada lantai dua bangunan hostel itu, terdapat dua ruang kamar yang masing-masing ditempati oleh Tian dan Meda. Di antara kedua ruang kamar tersebut, terdapat sebuah kamar mandi sekaligus toilet untuk tamu. Lalu, di depan ketiga ruangan itu terbentang sebuah ruangan terbuka yang cukup luas untuk ditempati oleh satu set sofa dan sebuah TV plasma berukuran 24 inci.


Setelah puas mengamati keheningan di muka kamarnya itu, Tian berniat turun menuju ruang makan di lantai satu. Namun, langkahnya tertahan ketika ia mendengar suara pintu terbuka di sampingnya. Yeni keluar dari kamar mandi lantai dua dengan ember dan sebuah sikat panjang.


"Hi!" Wanita yang lagi-lagi menata rambutnya dengan gaya cepol itu tersenyum lebar ke arah Tian. Keceriaan Yeni menular dengan cepat kepada Tian yang balik tersenyum dengan tak kalah lebarnya.


"You done with the bathroom thing?" tanyanya sambil berjalan ke arah tangga.


"Yes. Around 4.30," jawab Tian. Ia mengekor di belakang Yeni.


"You guys sure up too early. Pitó hasn't done with the cooking."


Pitó adalah suami Yeni. Keduanya telah menikah selama kurang lebih 13 tahun dan dikaruniai seorang putra bernama Juan. Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu tinggal bersama orang tua Yeni di Cayo Guillermo. Biasanya, setiap libur panjang Juan akan menghabiskan waktunya untuk tinggal di hostel bersama kedua orang tuanya.


Hostel tersebut sendiri hanya dioperasikan oleh Yeni dan Pitó saja tanpa ada staf tambahan. Pitó yang pernah berkuliah di jurusan perhotelan mengelola urusan dapur dan interior hostel, sedangkan Yeni yang dilahirkan dari keluarga pedagang meng-handle masalah keuangan dan kebersihan hostel.


"Did Meda wake up already?" Tian bertanya bingung.


Pemuda itu pernah mengatakan bahwa ia memiliki masalah untuk bangun terlalu pagi. Oleh karena itu, sejak tadi Tian berpikir bahwa Meda masih tertidur.


"He's on the dining hall. Not in a good condition if my eyes don't deceive me," jawab Yeni tepat ketika keduanya telah berada di dasar tangga yang berada tepat di sisi kanan meja resepsionis. "Said something about bad dream," tambahnya lagi sebelum melangkah ke bagian belakang hostel.


Tian berjalan menuju ruang makan yang berada di sisi lain meja resepsionis. Benar saja kata Yeni, Meda yang menurutnya sudah duduk di sana sejak kurang lebih satu jam lalu terlihat sedang memejamkan mata sambil memijat-mijat bagian belakang kepalanya. Bagian pertama dari novel seri yang dipinjamnya dari Tian terbuka lebar di atas meja, tetapi sama sekali tidak mendapat perhatian darinya.


"Hai." Tian menyapa lembut sembari menepuk pelan bahu pemuda itu.


Meda mengangkat kepalanya cepat. Sepertinya ia baru menyadari kehadiran Tian. Ia melempar senyum tipis, tetapi matanya terasa kosong. Pikirannya jelas tidak berada di tempat yang sama dengan tubuhnya.


"You okay? Yeni bilang kamu mimpi buruk. Jangan bilang kamu takut tidur sendirian kayak Hera?" Tian mencoba bercanda untuk membuat Meda sedikit tenang.


Meda tersenyum kecil dan binar kecerdasan kembali menghiasi matanya seperti biasa.


"Tidurmu nyenyak?" Meda mencoba mengalihkan topik pembicaraan yang dengan senang hati disambut oleh Tian.


"Aku bisa tidur di mana aja dengan gampang." Tian mengangkat bahunya dengan gaya seolah sedang menyombongkan sesuatu.


"Nice to hear that." Meda mendadak kembali memasang senyum murung.


Tian menghela napas dan memutuskan untuk mengulang pertanyaannya. "Kamu enggak apa-apa?"


Meda mengangguk kecil. "Cuma mimpi buruk. Tidak letal."


"Kalau seseorang sampai kelihatan secapek itu cuma gara-gara mimpi buruk biasa, aku enggak bisa bilang itu enggak letal. Kamu kayak orang depresi loh," desak Tian.


"Mungkin efek gangguan tidurku aja."

__ADS_1


"Insomnia?" tebak Tian.


Meda menggeleng. Hampir semua orang yang mendengar kata gangguan tidur hanya mengaitkannya dengan satu macam penyakit itu saja. Padahal banyak penyakit yang berada dalam cakupan gangguan tidur. Sebut saja sleepwalking, sleep paralysis, atau seperti yang terjadi dengan dirinya, narkolepsi.


"Narkolepsi?" Tian mengulang kata yang disebutkan Meda itu dengan bingung. Istilah itu baru pertama kali di dengarnya.


"Aku punya kesulitan mengontrol rasa kantuk. Normalnya, orang merasa mengantuk karena alasan tertentu. Misalnya, habis begadang semalaman atau karena kecapekan seharian kerja keras. Tapi, pasien narkolepsi seperti aku bisa terserang kantuk kapan pun, terutama waktu siang hari ketika orang lain sedang aktif-aktifnya," jelas Meda.


Tian menatapnya prihatin, seolah yang baru saja disebutkan Meda adalah penyakit sekronis tumor atau sirosis. Meski begitu, Meda bisa melihat dari ekspresinya bahwa gadis itu bukan sekedar mengasihaninya, melainkan juga mencoba berempati dengan kondisinya.


"Ada obatnya?" tanya Tian masih dengan mimik sedih.


"Ada. Aku minum obatnya teratur kok. Cuma mungkin karena masih jet lag sama perbedaan siang malam antara Indonesia sama Kuba, makanya kambuh."


Tian yang kebingungan karena sama sekali asing dengan penyakit yang baru kali ini didengarnya itu hanya bisa melempar pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya bisa lebih memahami kondisi tubuh rekan seperjalanannya itu. Bagaimana pun, ialah yang membuat pemuda itu tidak bisa benar-benar menikmati waktu liburannya di Kuba. Ia bahkan tidak punya waktu untuk merawat tubuhnya yang mengidap penyakit.


"Kamu enggak akan tiba-tiba tidur waktu kamu lagi jalan ke suatu tempat, 'kan?" Tian bertanya lagi. Mencoba menghindari kemungkinan terburuk dengan menguji beberapa skenario yang berjejalan di kepalanya itu.


"Aku belum pernah dengar atau mengalami kejadian seekstrem itu sih. Cuma dari deskripsi dokterku, pasien narkolepsi bisa terjaga saat tidur dan tidur saat terjaga. Intinya, dalam kasus terparah, mereka tidak bisa membedakan mana tidur, mana bangun. Jadi, meskipun aku ragu kalau hal itu bisa benar-benar terjadi juga sama aku, aku sama sekali tidak bisa bilang kalau skenario itu mustahil," jelas Meda yang semakin membuat Tian ketakutan.


"Kalau gitu kita batalin rencana ke El-Nicho. Kita jalan-jalan aja di sini atau balik ke Havana." Kedua tangan gadis itu mengepal tanpa ia sadari. "Aku enggak nyangka kamu enggak cerita sama sekali soal masalah ini ke aku."


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ti. Ini bukan gejala yang muncul satu dua kali. Aku sudah terbiasa dan seperti yang aku bilang, ini tidak letal."


"Enggak letal? Kamu tahu kenapa aku nanya soal kemungkinan kamu ketiduran saat lagi jalan?" Tian memukul pelan permukaan meja makan di hadapannya. "Kita harus jalan sebentar sebelum sampai ke El-Nicho. Aku yakin kamu cukup terdidik untuk tahu gimana bahayanya menempuh medan seperti itu dalam kondisi yang mungkin bisa dibilang setengah sadar."


"Aku enggak tahu apa yang terjadi di dalam tubuh kamu. Apa yang kamu rasakan? Sesakit apa itu? Aku enggak akan paham. Tapi, satu hal yang aku lihat dari raut muka kamu, kamu enggak dalam kondisi yang baik-baik aja."


Meda menggeleng. "Aku masih tidak bisa menerima kalau perjalanan kita ke sini harus terbuang sia-sia hanya karena keparanoidan kamu yang berlebihan."


"Aku lebih baik dinilai paranoid daripada harus menyesal seumur hidup kalau sampai sesuatu terjadi sama kamu gara-gara aku."


Meda tersenyum sinis. "Jadi, kamu cuma tidak mau tangan kamu kotor karena resiko yang mungkin terjadi kalau kondisiku bener-bener memburuk?"


"Seriously, Meda? Aku pikir kamu cerdas, tapi kamu bahkan enggak bisa memperhitungkan mana yang lebih menguntungkan antara stay safe atau mencoba mempertahankan keputusan keras kepala kamu." Tian menjambak satu sisi rambut di kepalanya dengan kasar. "Kalau kamu maksa naik ke El Nicho dan enggak terjadi apa-apa, oke ... itu good news. Tapi, kalau kamu ke sana dan celaka di tempat itu? Gimana kabar masa depanmu? Gimana perasaan orang-orang yang peduli sama kamu? Bandingkan dengan kalau kita mengganti destinasi kita ke tempat yang lebih aman, yang enggak akan memberi dampak LETAL sekalipun penyakitmu kambuh. Kita akan masih tetap punya good news buat diceritain sama orang-orang yang kita sayang."


Otak Meda mulai membenarkan semua ucapan yang keluar dari bibir Tian, tetapi hatinya masih bersikeras dengan pilihannya sendiri. Hal itu jelas terpancar di wajahnya. Karena itu, Tian memberanikan diri untuk memberi satu dorongan terakhir pada pemuda itu.


"Please, Meda. Dengerin aku, ya." Dengan mata basah, Tian menggenggam erat tangan Meda.


Meda yang melihat genangan cairan di pelupuk mata gadis itu langsung mengalami pergolakan batin yang luar biasa. Ia yang memang sudah berada di ambang kata menyerah, akhirnya mengangguk setuju. Tian menatapnya penuh syukur sebelum bangkit kembali dari kursinya.


"Aku ambil tas dulu, ya. Sebelum pulang, kita jalan-jalan dulu di Cienfuegos."


Ekor mata Meda yang mengikuti pergerakan Tian berhenti di pakaian yang dikenakan gadis itu. Sebuah sweater rajut berpotongan rendah dan ripped minipants berwarna biru gelap membalut tubuh Tian yang cukup semampai untuk ukuran gadis Asia itu.

__ADS_1


"Tumben tidak pakai gamis?" goda Meda.


Pemuda itu menyebut variasi pakaian Tian yang meliputi dress kebesaran atau yang panjangnya jauh di bawah lutut itu sebagai gamis.


"Ini kan dress code buat misi penjelajahan di El-Nicho. Lagipula aku enggak bawa baju ganti lagi selain ini." Tian mengangkat bahu.


Menurutnya, pakaian yang dikenakannya kali ini memang sedikit terbuka. Namun, dibandingkan dengan apa yang dilihat Meda di kamar Safira pagi sebelumnya, ini masih jauh lebih baik.


"Yakin tidak ke El-Nicho?" Meda yang mendengar nama itu kembali diungkit, merasa perlu untuk memastikan bahwa Tian tidak akan menyesali pilihannya.


"Ayolah, Med. Kamu enggak akan membuktikan apa pun dengan pergi ke sana. Itu El-Nicho, bukan puncak Everest," tandas Tian sembari melenggang keluar dari ruang makan.


"Yang awalnya mau ke sana 'kan kamu." Meda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Tian menatap bangunan di hadapannya dengan ragu. Meda menarik tangannya sekali lagi membuat gadis itu mengekor di belakangnya.


"Aku memang mau jalan-jalan di Cienfuegos, tapi enggak harus lihat lumba-lumba juga 'kan, Med." Tian kembali menahan langkahnya.


Keduanya kini memang tengah berada di wahana untuk menonton pertunjukan lumba-lumba di Cienfuegos.


"Tadi kamu yang nunjukin tempat ini ke aku." Meda mengeluarkan beberapa lembar uang kertas untuk membayar dua tiket masuk wahana.


"Aku cuma pernah bilang kalau dulu aku juga sering ke wahana kayak gini sama Af—" Bibir Tian mengatup kembali.


Sekarang dia sadar bahwa lidahnyalah yang membawa malapetaka pada dirinya sendiri. Ini kedua kalinya Tian bertanya-tanya bagaimana tepatnya mekanisme otak Meda bekerja setiap kali ia mendengar nama Afgar disebut. Yang jelas, Meda akan langsung bertingkah impulsif ketika Tian menghadirkan sosok sahabatnya itu saat mereka tengah menghabiskan waktu berdua.


Meda sendiri tidak kalah bingung dengan sikapnya tersebut. Yang pasti, ia merasa perlu "memperingatkan" Tian bahwa kebersamaan mereka tidak perlu diganggu oleh eksistensi seorang Afgar.


Sebenarnya, memang ada sedikit alasan yang bisa menjadi dasar dari sikapnya itu. Pada malam saat ia kembali ke kamar hotel setelah seharian menghabiskan waktu bersama Tian di Viñales, Afgar menanyakan apa yang dilakukannya bersama Tian seharian.


Awalnya, Meda dengan santainya menceritakan semua kejadian-kejadian penting yang dilaluinya bersama Tian di lembah itu. Namun, ketika Afgar menanggapi ceritanya dengan cerita-cerita kecil lain mengenai bagaimana sosok Tian yang sudah dikenalnya sejak usia 3 tahun, warna apa yang disukainya, makanan favoritnya, kebiasaan uniknya, hingga kedekatannya dengan keluarga inti sekaligus keluarga besar Tian, entah mengapa telinga Meda terasa gatal. Kalau ia tidak mengetahui fakta bahwa pemuda itu sudah bertunangan dengan cucu atasan ibunya, Meda pasti sudah berpikir bahwa Afgar tengah mencoba bersaing tentang siapa yang lebih pantas mendampingi Tian pada hari itu.


Afgar bahkan berterima kasih pada Meda karena telah menemani Tian saat ia tak ada. Seolah segala hal yang dilakukan Meda seharian itu bukan murni atas kemauannya, melainkan bentuk kewajiban karena Afgar menitipkan penjagaannya kepada Meda. Dengan alasan itu, rasanya tepat kalau Meda menyimpan sedikit "dendam" pada pemuda itu.


"Copot dulu mantelnya," perintah Meda pada Tian yang sudah bersiap duduk di baris terakhir kursi penonton.


"Kenapa?" tanya Tian bingung.


"Sebentar lagi atraksinya mulai dan baris belakang juga bisa kena cipratan air. Minimal kita amankan mantel sama jaket kita buat jaga-jaga," jelas Meda. Tangannya kembali memberi isyarat agar gadis itu melepas mantelnya.


Tian yang mendengar hal itu bergegas bangkit. Namun, untuk alasan yang berbeda.


"Kalau tahu bakalan basah kenapa kita ke sini? Aku 'kan sudah bilang ke kamu kalau ini satu-satunya ...."

__ADS_1


Tian tidak melanjutkan ucapannya ketika sebuah cipratan air yang ditimbulkan oleh seekor lumba-lumba berukuran masif terlontar ke udara dan membasahi sebagian besar bangku penonton. Meda yang tidak menduga bahwa atraksi akan dimulai segera setelah mereka duduk hanya bisa bereaksi di detik terakhir ketika sebagian besar cipratan itu sudah mendarat di tubuh Tian yang masih terbalut mantel.


Meda hanya bisa menghela napas panjang ketika Tian melempar tatapan menyalahkan ke arahnya.


__ADS_2