
Hera baru saja menginjakkan kakinya di lantai slate teras rumah Afgar ketika pintu utama bangunan megah itu terbuka lebar. Seorang pemuda berperawakan tegap muncul dari dalam rumah dan menyapa Hera dengan senyum lebarnya. Hera membalas senyum pemuda itu sambil mengangsurkan tangannya untuk dijabat.
“Masuk dulu, Ra,” ujar pemuda itu sambil sedikit menyingkir dari ambang pintu demi memberikan ruang bagi gadis itu untuk masuk.
“Afgarnya ada, Bang Hagan?” tanya Hera pada putra sulung keluarga Linus itu saat dirinya sudah duduk pada sebuah one seater berwarna krem di ruang tamu.
Hagan sedikit mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Hera itu, tetapi tetap menjawab tanpa kehilangan senyum profesionalnya. “Afgar masih belum pulang dari Bristol.”
Giliran kening Hera yang berkerut. “Afgar ke Bristol sejak kapan, Bang?”
“Dari seminggu lalu. Kemungkinan lusa dia pulang ke Indonesia.”
“Kalau boleh tahu, Afgar ke Bristol dalam rangka apa ya, Bang? Sama Safira, kan?” tanya Hera lagi.
Sejak beberapa minggu terakhir ini, Afgar dan Safira sama-sama tidak bisa dihubungi. Lalu, saat Hera akhirnya punya waktu luang setelah kembali dari liburannya bersama Alvin di Ubud dan berniat mencari tahu apa yang terjadi di antara keduanya, kedua sosok tersebut malah sedang tidak berada di Indonesia. Ya, sebelum pergi ke rumah Afgar, Hera telah terlebih dahulu mencari Safira. Ibunda Safira yang menyambut kedatangan Hera berkata bahwa Safira pergi ke luar negeri kira-kira seminggu yang lalu. Karenanya setelah mendengar dari Hagan bahwa Afgar juga sedang pergi ke Bristol, Hera langsung menyimpulkan bahwa kedua sahabatnya itu pergi bersama.
Namun, perasaan Hera tetap tak enak, kalau Afgar dan Safira memang pergi bersama mengapa keduanya sangat sulit untuk dihubungi? Hera sudah akan menanyakan mengenai hal tersebut, ketika ia mendapati wajah Hagan yang terlihat sedang berpikir serius.
“Kamu belum dengar soal Afgar dan Safira, ya?” tanya pemuda itu pelan.
Jantung Hera seperti diremas saat mendengar hal tersebut. Ada sesuatu yang terjadi antara Afgar dan Safira, dan air muka Hagan saat menyebut nama dua orang tersebut menunjukkan bahwa apa pun yang terjadi jelas bukan merupakan kabar yang baik.
__ADS_1
“Ada masalah apa, Bang?” desak Hera buru-buru.
Hagan menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Hera. “Pertunangan Afgar dan Safira dibatalkan.”
Kali ini Hera benar-benar merasakan dingin di sekujur tubuhnya, seolah jantungnya direnggut dari tempatnya semula. Gadis itu menarik anak rambut yang jatuh di wajahnya dengan jemarinya yang bergetar hebat.
Hagan yang khawatir melihat respon Hera atas berita mengejutkan itu berjalan ke arah dapur dan menuangkan segelas air putih untuk gadis itu.
“Minum dulu, Ra,” kata Hagan sambil membimbing tangan gadis itu agar tidak menjatuhkan gelas yang digenggamnya itu ke lantai.
Hera mencoba untuk menghabiskan isi gelas itu dalam satu kali tegukan, tetapi ketergesa-gesaan membuatnya tersedak. Hagan menarik beberapa lembar tisu dari atas meja dan menyerahkannya ke arah Hera.
“Aku, papa, dan semua orang di keluarga ini nggak ada yang tahu alasan pastinya. Afgar hanya bilang kalau Safira yang menginginkan pertunangan mereka dibatalkan. Papa marah besar karena masalah ini. Itulah salah satu alasan Afgar pergi ke Bristol. Dia ingin mencoba merebut simpati papa lagi dengan menjalin kerja sama dengan salah satu klien yang nggak sempat papa temui karena harus segera kembali ke Indonesia,” jelas Hagan panjang lebar.
Hera memandang Hagan dengan ekspresi seolah pemuda itu mengucapkan hal yang lebih mengejutkan daripada berakhirnya pertunangan Afgar dan Safira.
“Jadi, menurut Afgar dan semua orang dalam keluarga Linus, batalnya pertunangan Safira dan Afgar ini hanya soal rencana bisnis yang gagal, sehingga dengan mudahnya Afgar mencari alternatif lain yang bisa menghasilkan keuntungan bisnis baru bagi keluarga ini?” tanya Hera berang.
Hagan terkekeh pelan. “Kehilangan koneksi dengan keluarga Wilis nggak bisa dibandingkan dengan koneksi baru yang sedang diusahakan oleh anak ini, Ra.”
“F*ck it, Hagan. Aku nggak peduli dengan koneksi yang didewa-dewakan oleh keluargamu ini. Aku cuma mau tahu di mana perasaan Safira kalian tempatkan? Tapi menilai dari jawaban kamu sejauh ini, sepertinya perasaan siapa pun tak lagi penting di sini. Well, I am so glad that everything ends here!” teriak Hera marah. Sirna sudah sopan santun yang coba ia pertahankan di depan pemuda itu.
__ADS_1
Ia salah karena berpikir bahwa Hagan mungkin sudah banyak berubah sejak terakhir kalinya mereka bertemu. Nyatanya, ia hanya kloning dari Zack—sang ayah yang sekaligus kepala keluarga Linus—yang isi otaknya hanya dipenuhi oleh masalah bisnis, uang, dan kekuasaan.
Hera berjalan keluar dari ruang tamu yang bertabur kemewahan itu dan memasuki mobilnya yang terparkir di sudut pekarangan rumah Afgar.
“Ke rumah Tian, Pak,” pinta Hera kepada Rohan, sopir pribadinya.
***
“Hai!” seru Tian sumringah saat melihat sosok Hera yang berdiri di ambang pintu kamarnya itu.
Hera mencoba membalas senyum Tian, tetapi gagal saat mengingat kejadian di rumah Afgar beberapa saat lalu. Ia membuka lengannya lebar-lebar ke arah Tian tanpa bisa menahan air matanya. Melihat hal itu, Tian langsung menghambur ke pelukan sahabatnya itu sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
Hera menangis tersedu-sedu. Ada banyak hal yang ia curahkan melalui cairan bening yang mengalir deras dari kedua ujung matanya itu. Rasa terkejut akibat kegagalan hubungan kedua sahabatnya yang tak disangka-sangkanya itu; rasa iba kepada Safira yang dilihatnya sebagai korban dalam hubungan ini; juga kekhawatiran atas masa depan hubungannya sendiri dengan Alvin yang tiba-tiba terasa rapuh itu. Safira yang begitu mencintai Afgar saja bisa memutuskan untuk menyerah. Bukan hal mustahil apabila Alvin pun mengambil pilihan yang sama suatu saat nanti.
“Tian, kamu sudah dengar soal Safira dan Afgar?” tembak Hera segera setelah tangisnya sedikit mereda.
Tian tidak terkejut saat mengetahui Hera telah mendengar kabar tentang batalnya pertunangan Afgar dan Safira itu. Ia sudah menebak bahwa saat ini hanya ada dua masalah yang bisa membuat Hera terlihat sesedih itu. Kabar gagalnya hubungan Afgar dan Safira atau meruncingnya permasalahan hubungannya dengan Alvin. Dan Tian sudah mengeliminasi kemungkinan yang terakhir karena ia tahu bahwa Hera dan Alvin baru saja menghabiskan waktu liburan bersama di Ubud.
“Kenapa kamu nggak bilang sama aku, Tian?!” tanya Hera sedikit histeris saat melihat ekspresi datar dari Tian yang menandakan bahwa dirinya sudah mengetahui kabar itu lebih dahulu.
“Karena aku nggak tahu harus menyampaikan kabar itu ke kamu dengan kalimat yang seperti apa.” Air mata ikut menggenang di pelupuk mata Tian saat mengucapkan hal itu.
__ADS_1