Les Láches

Les Láches
52.


__ADS_3

“Saya harap kalian tidak memperkeruh situasi dengan memaksa untuk terus berada di dekat Adler. Sebab tak ada yang bisa kalian lakukan meskipun kalian berada di sini.” Seorang laki-laki yang masih terlihat tampan dan gagah di usianya yang sudah hampir kepala tujuh itu menatap dalam ke arah mata Tian. 


Tatapan matanya memang tidak senyalang Zaira, tetapi Tian bisa melihat dengan jelas kebencian yang membara di sana. Seperti yang diharapkan dari salah seorang jutawan paling berpengaruh di negerinya, Mathis Oberon, tatapan matanya saja sudah cukup untuk membuat lawan bicaranya tertekan. Namun, Tian tidak mau menyerah begitu saja. Karenanya meskipun merasa terintimidasi, Tian membalas tatapan tajam laki-laki itu.


“Tidak ada satu orang pun yang bisa melakukan sesuatu untuk membantu papa di situasi ini, Kek. Kita cuma bisa berharap papa segera sadar dari kondisi komanya,” ujar Tian.


Mathis memandang Tian dan Bella bergantian dengan pandangan jijik. “Sebagai orang yang menyebabkan semua kekacauan ini, kalian cukup tidak tahu malu.”


Tian sudah akan kembali menjawab ketika Bella menahan lengannya dan memberi dirinya pandangan menegur.


“Saya minta maaf, Pa. Saya tahu saya punya andil dalam situasi ini, tapi saat ini yang paling dibutuhkan oleh mas Adler adalah dukungan mental dari orang-orang terdekatnya,” kata Bella sambil meraih tubuh putri-putrinya yang lain untuk mendekat ke arahnya.


“Kalau yang kamu maksud dengan orang-orang terdekat adalah keluarga, saya harap kamu tidak memasukkan diri kamu sendiri dan anak-anak kamu ke dalam hitungan,” tukas Mathis.


“Kalau begitu di mata Kakek kami semua apa?” Joan yang sedari tadi diam saja melihat bagaimana perlakuan orang tua ayahnya kepada ibu dan saudara-saudaranya, akhirnya mengeluarkan isi hatinya.


“Kalian itu lintah, benalu. Sejak kalian datang ke rumah kami, semua kesialan datang. Adler hengkang dari rumah, menghapus nama belakangnya, menarik semua saham yang dimilikinya dari bisnis keluarga Oberon. Ia bahkan jarang mau menjenguk kedua orang tua yang telah membesarkannya ini. Sekarang gara-gara istri yang tidak becus menjaga suaminya, dia terbaring sekarat di sini. Apanya yang keluarga?!” maki Mathis membuat Joan kembali terisak.

__ADS_1


“Gimana papa mau menjenguk Kakek dan nenek kalau setiap papa datang yang kalian lakukan cuma merendahkan bisnis dan keluarga papa? Kakek pikir mudah bagi papa keluar dari rumah dan membangun bisnis sendiri alih-alih bekerja di firma yang sudah besar? Apa Kakek kira papa nggak pernah khawatir kalau tiba-tiba Kakek mengganggu bisnis papa dengan kekuasaan keluarga Oberon? Papa mengkhawatirkan semua itu, Kek. Bukan karena papa pengecut dan tidak bisa bertanggung jawab atas keputusannya, melainkan karena papa takut kalau mama dan anak-anaknya akan ikut menderita.”


“Tapi papa akhirnya berani merintis usahanya sendiri karena kami mendukung papa. Kami tidak takut hidup kekurangan uang asal bisa selalu bersama. Itu keluarga yang dicari papa, Kek!” Giliran Lidia yang berbicara.


Tian memandang adiknya itu dengan tatapan tak percaya. Ia tahu bahwa adiknya itu cerdas, tetapi tidak pernah menyangka bahwa Lidia juga mempunyai pola pikir yang dewasa. Bahkan Mathis sampai berkali-kali membuka tutup bibirnya. Pemandangan yang jarang ditemui dari sosoknya yang biasanya berwibawa dan selalu memimpin pembicaraan itu.


Namun, kebisuan itu tidak berlangsung lama saat pintu ruangan kembali terbuka. Beberapa perawat memasuki ruangan dan mulai berkutat dengan peralatan medis yang melekat di tubuh Adler dan mendorong ranjangnya menuju pintu. Zaira yang sudah menutup mulutnya sejak kedatangan sang suami mengikuti langkah para perawat itu.


Tian yang paling dulu sadar dari kebingungannya bergerak menghadang langkah para perawat tersebut. “Where are you going to take my father?” 


“His family wants to move him into another hospital?” jawab salah satu perawat dengan pelafalan bahasa inggris yang sempurna.


“There is no mistake here. Just move!” Mathis memerintahkan gerombolan perawat itu pergi dengan gerakan kepalanya.


Tian berniat untuk kembali mengejar perawat yang membawa ayahnya itu, mengabaikan nyeri yang terasa di bahu kanannya. Namun, segerombolan laki-laki berbadan kekar dan berpakaian serba hitam berdiri tepat di luar ruangan dan menutup jalan keluarnya. Tian menatap penuh kekesalan kepada tembok hidup yang mustahil untuk ditembusnya itu, tetapi tentu saja kemarahannya tidak akan membuat para orang suruhan kakeknya itu takut.


“Pulang ke Indonesia sekarang. Saya sudah mempersiapkan mobil dan pesawat yang akan mengantarkan kepergian kalian sekarang,” kata Mathis sekali lagi.

__ADS_1


“Kalau kami menolak?” tantang Tian.


“Jangan lupa dengan Marcela yang ada di ruangan lain,” ujar Mathis dengan senyum penuh kemenangan.


Tian tidak sempat bereaksi saat melihat ibunya menjatuhkan diri di depan Mathis dalam posisi berlutut.


“Tolong jangan libatkan Marcela di sini, Pa. Tolong.” Bella memegangi lengan laki-laki itu sembari berlinangan air mata.


“Pulang ke Indonesia, setelah itu kita akan berbicara lagi.” Mathis menepis tangan Bella dan berjalan melewati para pengawalnya.


Tian melemparkan pandangan kosong ke langit-langit ruangan. Air matanya sudah tak bisa lagi keluar. Yang tersisa dalam benaknya tinggal kemarahan. Ia marah pada segalanya. Kesemena-menaan keluarga besar Oberon, ketidakberdayaan keluarganya, juga pada orang-orang yang membuat dirinya merasa sendirian di keadaan seperti ini. 


Meda. Nama itu menjadi salah satu nama yang membuat kebenciannya pada kenyataan semakin berlipat ganda. Di saat-saat seperti ini, ia tidak berada di sisi Tian. Ia bahkan menolak menghubungi Tian terlebih dahulu sebelum keberangkatannya ke Prancis. Egonya yang terlalu tinggi untuk mengalah demi berdamai mulai terasa memuakkan bagi Tian. Sialnya, mengingat Meda membuat air mata Tian kembali menetes, tetapi kali ini air mata itu dengan cepat dihapusnya hingga kering. 


Tian berbalik menghampiri Bella dan menarik ibunya itu untuk bangkit dari posisi bersimpuhnya. “Ayo kita pulang sekarang, Ma.”


“Adik kamu gimana, Tian?” tanya Bella yang masih histeris.

__ADS_1


“Sementara kita pulang dulu ke Indonesia. Kita akan lihat sejauh apa kakek akan memanfaatkan ketiadaan papa ini. Kalau kakek sampai nggak menepati janjinya, aku akan minta bantuan Afgar untuk mengatasi masalah ini.” 


Tian menyampaikan rencananya dengan suara pelan agar orang-orang suruhan kakeknya yang berdiri di depan pintu ruangan itu tidak mendengar ucapannya, sambil bergantian mengusap pipi kedua adiknya yang basah oleh air mata. Tian membimbing semua anggota keluarganya itu untuk berjalan mengikuti penjaga yang mengarahkan langkah mereka ke sebuah limusin yang sudah menunggu di depan bangunan rumah sakit tempat Adler sebelumnya dirawat.


__ADS_2