Les Láches

Les Láches
50.


__ADS_3

Tian berjalan mondar-mandir di depan kaca besar di walk-in closet miliknya. Sudah lebih dari lima pakaian yang dicobanya sore itu sampai akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah dress dengan desain all over print berwarna khaki. Gaun bernuansa earthy tersebut adalah salah satu gaun favoritnya. Meskipun panjangnya sedikit di atas lutut, potongan gaun itu dirasanya mampu menutupi lekuk tubuhnya tanpa memberikan efek baggy yang berlebihan.


Bukan tanpa alasan Tian berdandan habis-habisan seperti itu. Hari ini, sehari sebelum keberangkatan Meda ke Prancis, merupakan hari di mana Tian memantapkan hati untuk menemui pemuda itu. Sebenarnya, Tian sudah merencanakan segala hal yang perlu disiapkannya sebelum menemui Meda sejak semalam; bingkisan yang beberapa kali tak sempat diberikannya kepada Meda, pakaian yang akan dikenakannya hari itu; hingga kalimat apa saja yang akan diucapkannya saat menemui pemuda itu nanti. 


Namun, semua hal yang sudah dipersiapkannya sedemikian rupa itu seolah menjadi terasa salah saat pagi menjelang. Bingkisan yang disiapkannya terlihat terlalu sederhana sehingga Tian harus membongkar kado yang sudah dibungkusnya semalaman dan mencoba menemukan ide baru untuk membuatnya sedikit lebih istimewa. Lalu pakaian yang sudah digantungnya di dekat pintu walk-in closet-nya tidak membuat penampilannya terlihat menarik sama sekali. Yang terakhir, semua kata-kata yang ingin ia ucapkan kepada Meda saat bertemu nanti menguap begitu saja dari kepalanya.


Tian berpikir bahwa semua itu terjadi akibat kegugupannya karena waktu pertemuan yang semakin dekat. Namun, entah mengapa semakin ia mencoba mengabaikan perasaan tersebut, firasatnya semakin memburuk. Puncaknya adalah saat ia tak sengaja menyenggol bekas gelas susu Lidia saat ia membereskan piring-piring di meja makan. Saat itulah, Tian merasa ada lebih dari sekadar perasaan gugup yang membuat hatinya tak tenang. Karenanya, ia mencoba untuk selalu dekat dengan ponselnya, satu-satunya benda yang bisa membuatnya mencapai sumber informasi tercepat.


Tian pun tak hanya diam saat kecemasan semakin menghantuinya. Ia berusaha melakukan banyak hal untuk mengusir kekalutan tak berdasar itu dari benaknya. Ia mencoba merapikan dan menata ulang urutan buku di perpustakaannya—usaha yang dengan segera dihentikannya karena ia sadar akan butuh waktu lebih lama daripada waktu yang tersisa sampai jam kepulangan Meda dari kantornya. Ia kemudian mencuci semua pakaiannya dan seragam sekolah adik-adiknya yang menumpuk di keranjang pakaian kotor masing-masing, lalu menjemurnya di halaman belakang rumah. Terakhir, saat ia tak menemukan pekerjaan lain yang bisa menyibukkan pikirannya, Tian berjalan-jalan di pekarangan depan rumahnya yang luas.


“Sore, Pak Diro,” sapa Tian saat melihat salah satu pegawai ayahnya itu tengah berdiri di salah satu sudut pekarangan, tepatnya di bawah sebuah pohon mangga alpukat yang ditanam di halaman rumah keluarga Adler.


“Wih, cakep banget! Mau ke mana, Mbak Tian?” Sebuah suara yang berasal dari puncak pohon mendahului niat Diro yang sudah siap menjawab. Tian sendiri hampir melompat dari tempatnya berdiri karena sebelumnya tidak melihat ke arah gerombolan dedaunan pohon yang menyembunyikan sosok Eko dengan baik dari pandangan.


“Panen ya, Pak?” tanya Tian balik, sengaja mengalihkan perhatian kedua pria paruh baya tersebut dari rencana yang membuatnya harus siap dengan penampilan sempurna di saat ia biasanya masih asyik bersantai dan bercengkerama dengan adik-adiknya itu.


“Belum, Mbak. Ini masih ngebungkusin buahnya biar nggak diserang codot,” jelas Diro.


“Sudah nggak sabar pengen makan hasil kebun sendiri ya, Mbak?” goda Eko sambil beranjak dari satu dahan ke dahan lainnya demi mencari buah lain yang belum dibungkusnya.

__ADS_1


Tian sedikit tersipu mendengar pertanyaan tersebut. Sejujurnya, ia tidak terlalu sering memikirkan kapan pohon tersebut akan berbuah. Namun, setiap ia menyadari keberadaan pohon yang ditanamnya sendiri di pekarangan rumah ayahnya tersebut, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berharap agar kegiatan iseng-isengnya itu segera menampakkan hasil.


“Pokoknya kalau berbuah, pasti Mbak Tian saya kasih tahu lebih dulu,” ujar Diro menenangkan.


Tian tersenyum manis sebagai tanda terima kasihnya.


“Mau ke mana toh Mbak Tian ini?” Eko yang akhirnya turun dari atas pohon kembali menyatakan keingintahuannya itu.


“Wes toh, Ko! Kok kamu kepo terus sama urusannya Mbak Tian,” tegur Diro yang mulai gatal dengan keceriwisan rekannya itu.


“Ya kita ini tugasnya buat ngawasin Mbak Tian dan adik-adiknya Mbak Tian toh, Ro?” balas Eko tak terima.


“Njagain ya njagain, bukan menginterogasi. Ganggu privasi orang kamu itu. Kebiasaan!” cibir Diro.


Namun, belum sempat Tian menjawab, ponsel di genggamannya berdering nyaring. Tian melirik layar ponselnya, nomor ponsel ibunya muncul di sana. Gadis itu menjawab teleponnya dengan segera.


“Halo. Assalamu’alaikum, Ma.” Tian memberi salam dengan wajah sumringah. Hatinya yang sempat gundah sedikit tenang saat menduga-duga alasan ibunya menelepon. Biasanya, sang ibu hanya akan menelepon di perjalanan bisnisnya dengan dua alasan. Satu, karena ibu dan ayahnya berhasil menandatangani kontrak dengan klien atau jika sang ibu berencana membelikannya oleh-oleh—yang menandakan bahwa kedua orang tuanya tersebut akan segera kembali ke rumah.


Namun, suara sesenggukan yang terdengar di ujung telepon meruntuhkan segala ekspektasi positifnya dan membuat Tian kembali mengingat firasat buruk yang menghantuinya sejak tadi pagi.

__ADS_1


“Ma. Ada masalah apa?” tanya Tian lambat-lambat.


Diro dan Eko yang memandangi perubahan air muka Tian yang perlahan memucat itu segera menyadari ada kabar buruk yang diterima putri majikannya itu dari belahan dunia lain. Keduanya langsung siaga dan menyiapkan mental untuk mendengar kabar itu, terlebih saat Tian mengakhiri panggilan teleponnya.


Dengan air mata meluncur perlahan dari sudut matanya yang tadi berkaca-kaca, gadis itu menatap Diro dan berkata, “Pak, tolong antar saya ke bandara sekarang, ya?”


***


Meda memandangi monitor besar berlatar belakang biru yang menunjukkan deretan angka dan huruf di atasnya dengan tatapan kosong. Seorang pelancong yang sedang meleng hampir membuatnya jatuh terjengkang saat menabrak tubuhnya yang berdiri di tengah kerumunan manusia yang seharusnya bergerak setelah menyelesaikan urusannya di titik itu. Namun, meskipun hal itu sempat membuatnya menerima tatapan terganggu dari calon penumpang lainnya, nyatanya Meda masih enggan bergerak sesentipun dari tempatnya berdiri.


Alasannya? Karena titik itulah yang akan pertama kali dituju oleh seseorang yang kemungkinan akan menganggap hari ini sebagai hari terakhir untuk menemuinya sebelum kepergiannya ke Prancis. Ya, Meda tengah menanti kedatangan Tian di sana. 


Di detik-detik terakhir menjelang kepergiannya, ia sangat ingin menemui Tian dan memintanya untuk memperbaiki hubungan mereka yang sempat kacau. Namun, tak banyak yang bisa ia perbuat karena waktu keberangkatannya semakin dekat. Ia mencoba menghubungi ponsel Tian hanya untuk mendengar operator memberikan pemberitahuan bahwa nomor telepon yang ditujunya sedang sibuk. 


Hal itu membuat hati Meda dihantui kecurigaan bahwa gadis itu sedang disibukkan oleh Afgar. Meda menepis keparanoidannya itu beberapa kali sekuat tenaga dan mencoba memikirkan kemungkinan bahwa mungkin saja Tian juga berubah pikiran di detik-detik terakhir keberangkatannya dan tengah berada dalam perjalanan menemuinya. Karenanya, Meda teguh berdiri di tempatnya sambil berpegangan pada harapan dan doa-doa terakhirnya bahwa gadis itu akan segera tiba.


Hanya saja realita mengkhianatinya. Sampai gate penerbangannya terbuka dan Meda menjadi orang terakhir yang naik ke pesawat, gadis itu tak pernah muncul. Air mata kekecewaan meluncur tanpa bisa dicegahnya ketika akhirnya pesawat yang ditumpanginya lepas landas.


Catatan Penulis:

__ADS_1


Wes toh \= Sudahlah


Kowe wae sing sentimen \= Kamu aja yang sentimen


__ADS_2