
Hera melemparkan ponselnya ke sudut sofa ruang keluarga sebelum meraih remote televisi dan mengganti program televisi yang sedang asyik ditonton oleh Marita, adiknya yang hanya satu tahun lebih muda dari Hera. Kontan saja perbuatannya itu membuat Marita mengomel panjang pendek sebelum mengadu kepada Leksi, kakak sulungnya. Usia Leksi dua kali lipat usia Hera. Jarak yang terpaut di antara mereka itu terjadi karena selama lebih dari sepuluh tahun ibu Hera menyibukkan diri meniti karirnya sebagai salah satu atlet pembalap mobil formula nasional yang sedang menanjak.
Tina Ossian adalah nama gadis ibu Hera yang digunakannya selama aktif di sirkuit. Ia menikah muda di usia tujuh belas tahun karena paksaan kedua orang tuanya. Di sisi lain, Freddy Cho, ayah Hera, begitu mencintai Tina meskipun menikah melalui perjodohan dan istrinya menolak tinggal serumah setelah melahirkan putri pertama mereka. Cinta itulah yang membuat laki-laki itu setia menunggu Tina bersedia pulang ke rumahnya selama lebih dari satu dekade. Padahal tak sedikit perempuan yang mendekatinya melihat status pernikahannya yang tak jelas itu.
Tina baru bersedia membawa Leksi tinggal serumah dengan suaminya setelah ia berhenti dari sirkuit. Namun, hubungan keduanya tak serta merta membaik. Masih butuh waktu lebih dari tiga tahun lagi bagi Tina untuk belajar mencintai sang suami. Sebenarnya tak sulit mencintai sosok seperti Freddy yang tampan dan gagah, hanya saja harga diri Tina yang seorang feminis garis keras memaksanya untuk menolak tunduk pada jerat pernikahan yang umumnya sangat kental dengan budaya patriarki.
Freddy sangat memahami isi hati perempuan yang telah menjadi istrinya itu karena ia selalu mengamati dalam diamnya. Bukan tanpa sebab bisnisnya di dunia resort dan perhotelan berkembang pesat. Ia bisa dengan mudah “membaca” seseorang. Alasan dirinya tidak berhasil merebut hati istrinya itu sendiri pun bukan merupakan salah satu bukti dari ketidakmampuannya. Tina sendirilah yang menetapkan jarak sekalipun sebenarnya ia mengakui bahwa suaminya adalah lelaki terbaik yang pernah ditemuinya.
Selama keduanya terikat dalam hubungan pernikahan, tak sekali pun Freddy memaksa atau pun meminta Tina untuk melakukan sesuatu. Padahal kalau dirinya ingin, ia bisa saja mengadukan pemberontakan Tina itu kepada kedua orang tuanya. Sebab, seliar apa pun Tina, wanita itu sangat menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya. Hal itulah salah satu alasan yang membuat Freddy jatuh cinta padanya dan menolak untuk menyerah.
Perjuangan Freddy selama bertahun-tahun itu akhirnya memang membuahkan hasil, meskipun ironisnya semua itu terjadi berkat pertengkaran pertamanya dengan Tina.
Waktu itu, Leksi yang baru duduk di kelas sepuluh ketahuan merokok oleh ibunya. Leksi yang sangat menjunjung tinggi norma-norma kepatuhan konservatif marah besar dan hampir menghajar putri sulungnya itu karena Leksi membangkang saat diperingatkan. Saat itulah, Freddy turun tangan. Sebuah pertengkaran hebat meledak di antara keduanya.
Tina hampir meninggalkan rumah akibat pertengkaran itu. Namun, Freddy menahan dirinya dengan menanyakan sebuah pertanyaan yang meluluhkan hati Tina.
“Kalau yang marah sama Leksi adalah aku, kamu tentu akan membela dia, ‘kan?”
Tina yang tak memahami maksud pertanyaan suaminya itu memilih bungkam. Melihat semua itu, Freddy melanjutkan dengan suara yang sama lembutnya.
“Semua orang tua pun begitu. Meskipun mengetahui bahwa anaknya bersalah, mereka memiliki insting untuk tetap melindungi. Aku membela Leksi bukan karena aku mendukung tindakannya. Aku hanya tidak mau kamu menyesal karena gelap mata. Dia putrimu, darah daging kita. Kesalahannya adalah kesalahan kita juga. Karena itu, tugas kita adalah membimbingnya kembali ke arah yang benar. Kamu mengerti, ‘kan?”
__ADS_1
Mendengar itu, bukan hanya Leksi yang terisak, Tina juga meneteskan air mata pertamanya di hadapan suaminya itu. Ya, sejak detik itu, wanita itu mengakui Freddy sebagai suaminya. Semua keraguannya pada Freddy runtuh seketika. Baginya, lelaki lembut seperti itu bukanlah sosok yang perlu dimusuhinya. Hati yang penuh kasih sayang seperti milik lelaki itu tak mungkin terpikir untuk mencederai perasaan wanita mana pun seperti yang menjadi ketakutan terdalamnya.
Hera lahir tepat dua tahun setelah insiden itu dan Marita menyusul di tahun berikutnya.
“Udah dong, Ta, Ra. Nggak usah berantem rebutan TV macem orang susah. Kan bisa nonton di kamar kalian masing-masing.” Begitu tanggapan Leksi ketika Marita menyelesaikan aduannya.
“Masalahnya si Hera ini sengaja begini ini, Kak.” Marita masih tak terima. “Dia lagi berantem sama Alvin makanya cari gara-gara sama orang lain.”
“Berantem?” Alis Leksi bertaut. “Kok tumben?”
“Tuh, ‘kan. Sengaja cari perhatian biar ditanya-tanya.” Marita menyahut saat Hera hendak menjawab, membuat sebuah bantal mendarat sukses di wajahnya.
Keduanya hampir saling cakar kalau Leksi tidak mengancam akan menghajar keduanya jika sampai keributan yang mereka buat membangunkan Norma, bayi perempuannya yang tidur di kamar dekat ruang keluarga.
“Latih tanding, Stupid!” celetuk Marita.
“Boleh nggak kutinju muka dia sekali, Kak?” izin Hera kepada Leksi.
Leksi memutuskan untuk mengalihkan perhatian Hera agar kembali fokus pada ceritanya. “Kenapa dia tiba-tiba kayak gitu?”
“Andai aku tahu, Kak. Alvin itu nggak pernah cerita apa-apa sama aku. Afgar yang katanya akhir-akhir ini nemenin Alvin nongkrong juga katanya nggak bisa mancing cerita apa-apa dari mulut dia. Dan barusan... dia bentak aku. Itu pertama kalinya sejak kami pacaran dua tahun lalu.”
__ADS_1
Mata Hera mulai berkaca-kaca. Marita buru-buru melemparkan sekotak tisu dari atas meja ke pangkuan kakaknya itu. Sekesal-kesalnya dirinya pada Hera, ia paling tidak tahan melihat kakaknya itu menangis.
“Ada masalah di keluarganya, mungkin?” Marita memutuskan ikut menimpali.
“Kapan sih, keluarga Alvin nggak ada masalah?” Hera bertanya balik.
“Ya, kamu nggak boleh bilang gitu, dong. Jangan karena menurut kamu masalah keluarganya itu udah terlalu biasa sampai bisa dimaklumi, terus kamu menyepelekan semua itu,” sahut Marita panjang lebar.
Leksi mengangguk-angguk sepakat. Terkadang ia lupa siapa di antara Hera dan Marita yang sebenarnya anak bungsu.
“Terus aku harus gimana kalau Alvinnya sendiri nggak mau jawab pas ditanya.” Hera kembali merengek.
“Ya gantian dong kamu yang ngikutin dia ke mana-mana. Pepet terus sampai dia cerita. Jangan maunya dikejar-kejar terus.” Marita akhirnya menggantikan posisi Leksi untuk memberi nasihat.
“Orang dia di telepon aja marah-marah. Gimana aku bisa tanya posisi?”
“Kadang aku bingung kamu ini cuma males mikir atau emang bego akut,” celetuk Marita yang hampir dilempar kotak tisu kalau tidak buru-buru sembunyi di balik tubuh Leksi.
“Telepon Afgar dong, Ra.” Leksi kembali turun tangan menarik “senjata” itu dari tangan Hera.
“Aku beneran harus ngikutin dia nih?” tanya Hera segera setelah mendengar lokasi yang biasa dituju Alvin untuk gaming dari Afgar.
__ADS_1
“Nah kamu pengen baikan apa ganti pacar lagi kayak yang udah-udah?” Leksi bertanya balik. Marita mengangguk penuh dukungan.