Les Láches

Les Láches
42.


__ADS_3

Afgar buru-buru bangkit dari posisi tidurannya saat asisten rumah tangganya mengetuk pintu kamarnya dan mengabarkan kedatangan Tian. Sebelum keluar, ia menyempatkan diri untuk menekan tombol konfirmasi atas pembelian tiket pesawat online menuju London.


Afgar menuruni tangga menuju ruang tamu rumahnya dan memandangi sosok Tian yang bangkit dari posisi duduknya saat melihat kemunculan Afgar. Seperti biasa, memandang gadis itu selalu berhasil membuat jantung Afgar berdebar lebih kencang daripada biasanya. Padahal, penampilan Tian dengan dress tanpa lengan bermotif kotak-kotaknya itu sudah sering dilihat oleh Afgar. Hanya saja, rambutnya yang terbiasa diikat ke belakang itu kini terurai bebas. Seolah tengah mencoba menutupi kemurungan di wajahnya yang kelihatan sembap itu.


“Ada yang salah?” tanya Afgar sambil menyentuh pipi Tian.


Ia memang bisa memperkirakan masalah yang membuat Tian terlihat tak bisa menyembunyikan kekalutannya itu. Namun, fakta yang tak diketahuinya mengenai seberapa banyak gadis itu menangis semalaman membuat Afgar benar-benar khawatir.


Sayangnya, gadis itu hanya merespon pertanyaannya dengan gelengan lemah sambil menghindar dari sentuhan Afgar.


“Kamu mau ke mana?” tanya Tian balik.


Afgar langsung paham bahwa pertanyaan gadis itu berhubungan dengan pesan yang dikirimnya semalam.


“Bristol,” jawab Afgar sembari memberi isyarat pada Tian untuk duduk.


“London?” Mata Tian membulat.


Afgar mengangguk.


Tian mendesah pelan. “Jauh banget. Apa kamu dan Safira bener-bener nggak bisa—”


“Aku lelah, Ti. Aku nggak mau lagi harus disalahsangkai soal hubungan kita. Aku muak hubungan kita dinilai ‘tidak patut’. Kita melakukan apa sih, Ti? Kita selingkuh? Kedekatan kita melewati batas? Kenapa hubungan kita selalu dipandang salah?” Afgar menangkupkan kedua tangan di wajahnya.


Pelan-pelan, jemari Tian menyentuh bahu Afgar dan mengusapnya lembut.

__ADS_1


“Ti, daripada kamu dan Meda berakhir kayak aku dan Safira, kamu sebaiknya menjauh juga dari aku.” Afgar berkata lagi dengan suara parau.


“Dan ninggalin kamu untuk melalui semua ini sendirian? Aku nggak bisa, Gar. Kamu orang yang selalu ada buat aku. Kali ini, aku yang harus ada buat kamu,” tukas Tian cepat.


“Jangan menganggap semua yang aku lakukan buat kamu itu semata-mata hanya karena aku ingin mendapat perlakuan yang serupa. Aku tulus sama kamu, Ti. Sahabat sudah semestinya melakukan semua itu,” jawab Afgar sambil menurunkan tangannya dan menatap Tian dengan matanya yang basah. “Kamu nggak perlu membalas apa pun kalau itu semua akan membuat hubungan kamu dengan orang yang kamu sayang rusak.”


“Kamu juga orang yang aku sayang, Gar.”


Hati Afgar terasa penuh mendengar ucapan Tian itu, meskipun ia tahu benar bahwa “sayang” yang dimaksud oleh gadis itu tentu berbeda makna dengan “sayang” yang diharapkannya. Sekalipun begitu, Afgar yakin kalau ia terus berusaha berjuang untuk merebut hati Tian, bukan tak mungkin rasa “sayang” itu akan berubah bentuknya.


“Tapi, gimana dengan hubungan kamu sama Meda?” tanya Afgar.


Ia sengaja membawa-bawa nama Meda untuk membuat Tian mau tak mau menjatuhkan pilihan. Di saat-saat seperti ini, jelas pilihan Tian akan jatuh kepada dirinya. Dengan terus-terusan menggiring simpati Tian ke arahnya, Meda akan semakin dinomorduakan dalam kehidupan Tian.


“Dia masih emosi. Jadi, biar saja dia lakukan dulu semaunya. Aku akan menunggu sampai dia bisa mengerti,” jawab Tian dengan wajah yang lebih murung daripada sebelumnya.


Pertanyaan Afgar itu membuat hati Tian seperti diremas. Tian seolah dipaksa kembali ke kejadian semalam saat ia mengancam bahwa hubungan antara dirinya dan Meda akan berakhir kalau pemuda itu masih tak mau merubah pandangannya atas hubungan Tian dan Afgar. Tak terasa air mata menetes dari sudut matanya.


Dengan sigap, Afgar meraih tubuh Tian ke dalam pelukannya. Refleks, Tian mencoba menepis pelukan Afgar. Alam bawah sadarnya menyakini bahwa salah satu penyebab memanasnya pertengkarannya dengan Meda adalah karena ia membiarkan Afgar memeluknya semalam. 


Namun, saat Afgar malah mempererat pelukannya, Tian akhirnya berhenti berontak. Ia mencoba membujuk perasaannya agar berhenti menghindar, karena itu sama saja dengan mengakui pendapat Meda bahwa kedekatannya dengan Afgar memiliki arti lebih. Karenanya, ia mencoba menghapuskan bias pendapat Meda itu dari kepalanya dan membiarkan Afgar menenangkan dirinya dengan tindakannya itu.


Saat Afgar akhirnya melepaskan pelukannya, Tian sudah lama berhenti menangis. Baginya, air matanya itu tidak akan mengubah apa pun. Yang harus berubah adalah orang-orang yang membuat masalah hubungan ini menjadi rumit, yakni Meda dan Tian. Tian sendiri merasa sudah berusaha sekeras mungkin untuk membuktikan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai hubungannya dengan Afgar. Jadi, yang tersisa hanyalah keputusan Meda untuk percaya atau tetap meragukan dirinya.


“Kenapa kamu mau ke Bristol?” tanya Tian untuk memecah keheningan yang cukup lama melingkupi suasana di ruang tamu rumah Afgar itu.

__ADS_1


“Sudah aku bilang. Aku mau menenangkan diri,” jawab Afgar.


“Menenangkan diri nggak perlu sampai sejauh itu. Kalau sampai pergi ke Bristol kesannya malah kamu kayak orang mau mengasingkan diri.”


“Mauku memang gitu. Aku mau rehat sejenak dari orang-orang yang mendekat hanya untuk ngatur-ngatur hidupku dan maksain sudut pandang mereka ke aku.” Afgar tersenyum kecut.


Tian tahu Afgar sedang membicarakan tentang Safira, tetapi penggambaran yang diucapkan oleh Afgar itu membuatnya mengingat Meda. Tepat seperti itulah pemuda itu, mendekat hanya untuk mengatur dan memaksakan sudut pandangnya kepada Tian.


Namun, berbeda dengan Afgar, hal itu tak membuat Tian serta merta ingin menjauh dari Meda. Ia malah semakin terpacu untuk membuktikan bahwa kekhawatiran Meda itu tidak akan pernah terbukti, sekalipun Tian tetap dekat dengan Afgar. 


Tian mengenal perasaannya sendiri. Ia tahu bahwa Meda lah pemilik hatinya. Hanya satu situasi yang akan membuatnya berhenti mencintai pemuda itu. Pengkhianatan. Dan, Tian yakin bahwa hal itu tak akan pernah dilakukan oleh Meda.


Hanya saja untuk saat ini Tian memutuskan untuk tidak mengejar-ngejar Meda. Tian sengaja mendiamkan Meda demi memberi waktu baginya untuk meredam emosinya dan mulai berpikir jernih. Lebih bagus lagi kalau kediamannya kali ini membuat Meda yang pertama mengambil sikap untuk mengajak berbaikan lebih dahulu.


“Kamu mau ikut aku ke Bristol?” Pertanyaan Afgar yang tak disangka-sangka itu membuat Tian tersentak dari lamunannya.


“Aku bukannya nggak mau, tapi di rumah cuma ada Lidia sama Joan. Aku harus nemenin mereka berdua,” jawab Tian sungguh-sungguh.


Afgar mengangguk mengerti.


Tian buru-buru menambahkan saat Afgar tak mengatakan apa pun lagi. “Aku bantu nyiapin keperluan buat ke sana aja, ya? Aku bisa temenin kamu belanja. Ah, atau kamu perlu aku bantu nyusun daftar destinasi yang bisa dikunjungi di Bristol.” 


Afgar tertawa kecil. “Kalau yang begitu aja sih, aku bisa browsing, Ti.”


“Jadi nggak mau nih?” Tian bertanya dengan sebelah alis terangkat.

__ADS_1


“Ya udah. Mohon bantuannya, Kakak,” ujar Afgar sambil menundukkan kepalanya sedikit ke arah Tian.


Gadis itu mengangguk puas. Sekali lagi, ia punya kegiatan yang membuat pikirannya tidak hanya dipenuhi oleh Meda.


__ADS_2