Les Láches

Les Láches
The First Person He Called Angel


__ADS_3

Kurang lebih satu bulan telah berlalu sejak hari kunjungan Meda ke rumah Tian. Dalam kurun waktu tersebut, komunikasi keduanya terus berlanjut meskipun belum pernah bertemu lagi secara langsung.


Malam itu, setelah makan malam bersama orang tua dan adik-adiknya, Tian memeriksa ponselnya kalau-kalau Meda membalas pesannya. Namun, hanya ada pesan dari grup Whatsapp yang beranggotakan Safira, Hera, dan Tian sendiri. Safira mengirim pesan menanyakan tentang dress-code apa yang akan dikenakan Tian di acara makan malam keluarga Meda. Tian memang bercerita mengenai kedekatannya dengan Meda bersama kedua sahabatnya itu. Tentu berita mengenai acara makan malam yang rencananya akan diadakan besok tidak luput dari ruang dengar mereka.


Tian memikirkan jawaban untuk pertanyaan Safira itu dengan serius. Sebab, Safira hampir tidak pernah mengomentari gaya berpakaiannya kecuali Tian berencana pergi ke acara-acara yang menurutnya penting. Tian sendiri bukannya tidak menganggap acara makan malam itu penting, hanya saja fokusnya berada pada hal lain. Salah satunya adalah cara membawa diri di hadapan orang tua Meda.


Saking pentingnya acara itu di mata Tian, ia bahkan tidak mau mengandalkan tips-tips dari Google untuk menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Kedua sahabatnya sebenarnya bisa diharapkan kalau saja keduanya tidak terlalu sibuk menggoda Tian ketika ia mengungkit nama Meda di antara mereka. Akhirnya, pilihan yang tersisa hanya orang tua Tian.


Reaksi Bella tidak jauh berbeda dengan kedua sahabat Tian, hanya saja wanita itu jauh lebih dewasa untuk mengesampingkan kehebohannya dan lebih berfokus untuk memberikan wejangan kepada putrinya itu. Sebaliknya, Adler merasa sedikit terganggu ketika mendengar Tian dekat dengan pemuda yang baru dikenalnya saat pergi ke Kuba itu. Tidak berbeda jauh dengan Diro, ia juga tidak mendapatkan banyak kesan ketika pemuda itu mampir di rumahnya bersama rombongan teman-teman Tian sebelum berangkat ke Kuba.


Alhasil, ia menginterogasi Tian mengenai seluk beluk keluarga Meda dan apa saja yang pernah dilakukannya saat kunjungan ke rumah mereka. Tian menceritakan segalanya mengenai keluarga Meda, juga tentang kunjungannya ke rumah yang disaksikan oleh Diro, sopir keluarga mereka.


"Kalau Papa masih nggak yakin sama ceritaku, Papa bisa tanya sama Pak Diro."


Adler mengerutkan kening sejenak sebelum membiarkan Tian kembali ke kamarnya. Menurutnya, kalau Diro tidak melaporkan hal negatif selama kepergiannya ke Prancis berarti memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan olehnya. Bella tertawa kecil sebelum mengusap lembut kepala suaminya. Dalam hati, ia bersyukur dipertemukan dengan Adler yang begitu menyayangi dirinya dan kedua putrinya yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.


Di kamarnya, Tian membuka ponsel yang beberapa kali bergetar saat ia berada di depan ayahnya. Dua buah pesan muncul di layarnya. Satu pesan dari Safira yang menuntut jawaban darinya dan sebuah pesan dari Meda yang meminta Tian untuk meneleponnya jika gadis itu belum tidur. Hati Tian mencelos, pemuda itu sepertinya punya mata yang bisa membaca jiwanya dari jauh dilihat dari caranya mengetahui bahwa ada banyak hal yang ingin disampaikan Tian sebelum Tian mengungkapkannya.


Tian buru-buru membalas pesan Safira—dengan janji bahwa ia akan membuat panggilan grup setelah ini—sebelum mencari kontak Meda dan menekan tombol panggil. Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum akhirnya suara Meda menyapa di ujung telepon.


"Untung kamu belum tidur," kata Meda.


Tian bisa mendengar Meda tertawa pelan di seberang telepon.


"Ada apa, Med?" tanya Tian sambil mencoba menahan diri untuk tidak berjingkrak-jingkrak bahagia saat mendengar suara Meda kembali setelah lebih dari satu bulan mereka tidak bertemu.


"Aku mau dengar suara kamu aja," jawab Meda yang langsung disambut dengkusan pelan oleh Tian.


"Serius." Meda menambahkan dengan lembut mendengar respon tidak percaya dari gadis itu. "Begitu pulang dari Kuba, beban pekerjaanku bertambah. Tidak cuma dari kerjaan yang numpuk selama aku liburan, tapi juga dari porsi pekerjaan timku yang belum selesai sejak tahun lalu. Padahal, awal tahun seperti ini harusnya divisiku sudah mulai menyusun target dan program kerja baru setelah menyetor laporan akhir tahun."


"Dengan kata lain, kamu sibuk berat dan nggak sempat menikmati hidup apalagi ketemu sama aku di hari libur?" Tian mencoba merangkum keluhan pemuda itu dalam satu kalimat.


"Exactly. Dan jangan sebut soal hari libur di depanku yang bahkan harus lembur sampai malam di hari Minggu."


Tian mengerang prihatin, membuat Meda yang berada di seberang telepon berharap bahwa gadis itu tepat berada di depannya sehingga ia bisa leluasa melampiaskan kegemasannya.


"Jadi, besok ...."


Tian sedikit ragu untuk mengangkat topik tersebut karena kalau Meda memang sesibuk itu, ia pasti tidak akan sempat untuk merayakan ulang tahunnya dan makan malam bersama keluarganya. Tiba-tiba, Tian merasa kecewa. Pertemuan dengan keluarga Meda memang membuatnya gugup, tetapi mendengar acara makan malam bersama itu dibatalkan rupanya juga tidak memberikan efek melegakan bagi Tian.


"Tenang aja. Semua kerjaan sudah tuntas dan semua laporan akan disetor sama anggota timku. Jadi, besok aku bisa ngambil cuti." Jawaban Meda itu kontan membuat Tian mendesah lega. "Kenapa?"

__ADS_1


Tian menggeleng pelan. Namun, ketika menyadari bahwa Meda tidak bisa melihat responnya yang satu itu, ia buru-buru menjawab. "Nggak papa. Aku pikir kamu telepon karena mau ngasih tahu kalau acaranya batal."


Meda tertawa kecil mendengar ada sedikit nada merajuk dalam suara gadis itu.


"Sudah aku bilang kalau aku menelepon karena mau dengar suara kamu, 'kan? Rasanya aku kembali sehat setelah dengar suara kamu."


Meda melihat pantulan wajahnya yang sedang tersenyum-senyum sendiri itu dari kaca ruang kerjanya. Menyadari bahwa ia kelihatan seperti orang idiot saat menunjukkan wajah seperti itu membuatnya memberikan peringatan bagi diri sendiri untuk tidak melakukannya di hadapan orang lain.


"Are you okay?" tanya Tian khawatir saat mendengar kalimat terakhir Meda.


"I wasn't. Yang namanya lembur pasti bikin siapa pun exhausted baik secara fisik maupun mental," jawab Meda.


"Terus kamu gimana? Capek secara mental, fisik, atau dua-duanya."


"Dua-duanya. Tapi, serius ... kamu bikin aku merasa jauh lebih baik. Suara kamu itu bikin proses healing dan pelepasan stresku bekerja maksimal," kekeh Meda.


"Aku pasti sudah gila karena ngerasa senang dengar gombalan kamu itu." Tian ikut terkekeh.


"Itu berarti hati kamu tahu kalau yang aku bilang ini bukan omong kosong seperti gombalan-gombalan yang mungkin sudah pernah kamu dengar sebelum ini." Meda menghela napas panjang. "Intinya kamu bikin aku merasa kesibukan sebulan ini worth my time."


"Oke deh. Skip soal itu. Sekarang aku mau denger cerita kamu soal ayah dan ibu kamu." Tian akhirnya mengangkat topik itu.


"Kenapa ayah dan ibuku?" tanya Meda bingung.


"Ya, aku cuma mau tahu aja bagaimana cara terbaik untuk bersikap di depan orang tua kamu."


Meda tertawa pelan. "Kamu cukup bersikap seperti kamu yang biasanya dan aku yakin orang tuaku akan merasakan perasaan seperti yang aku rasakan setiap melihat kamu."


"Uh! Kamu nggak memberi petunjuk apa-apa dengan saran yang seperti itu, Meda. Give me the real answer!" tuntut Tian.


"Kalau begitu pertanyaannya yang lebih spesifik, Sayang." Saking gemasnya, Meda kelepasan menggunakan panggilan yang hanya berani digunakannya untuk menamai kontak Tian.


"Pertanyaan yang lebih spesifik seperti misalnya apa makanan kesukaan ayahku? Atau siapa artis favorit ibuku?" Meda menambahkan cepat-cepat untuk mengatasi kecanggungannya.


Tian juga berdeham kecil, untuk menutupi tawa bahagianya berkat panggilan yang diberikan oleh Meda tersebut, sebelum menjawab. "Ada dress-code tertentu yang orang tua kamu nggak suka?"


Meda berpikir sejenak. "Ibu suka sama perempuan-perempuan yang kakinya jenjang dan ramping. Aku harap kamu bisa dapat petunjuk dari situ karena aku sendiri tidak paham soal pakaian perempuan."


Namun, Meda segera menyesal setelah mengatakannya. Ia khawatir kalau-kalau besok gadis itu muncul di depan pintu rumahnya dengan rok atau celana mini untuk memperlihatkan kejenjangan kakinya. Pemandangan itu tentu saja akan sangat dinikmati oleh laki-laki sehat mana pun, termasuk dirinya. Namun, ayahnya selalu berpetuah padanya bahwa jika suatu saat ia ingin mengencani seorang gadis, ia harus menempatkan dirinya di posisi ayah gadis itu yang tidak akan pernah rela jika anak gadisnya disentuh atau bahkan dipelototi sembarangan oleh laki-laki yang belum resmi mempersuntingnya. Karenanya, ia selalu berusaha mengingatkan dirinya agar tidak kehilangan kontrol saat berada di sisi Tian. Hal yang tidak mampu Meda jamin kalau Tian muncul di hadapannya dengan penampilan seperti yang sebelumnya ia bayangkan.


"Besok aku jemput, ya?" Meda mencoba meng-counter attack jawaban yang sebelumnya ia lontarkan tanpa pikir panjang. Meminta gadis itu untuk tidak tampil sesuai dengan apa yang dibayangkannya bahkan saat gadis itu belum tentu benar-benar melakukannya akan terasa sangat aneh dan canggung. Karena itu, Meda berniat untuk melihat sendiri bagaimana penampilan gadis itu sebelum memutuskan langkah berikutnya yang harus ia lakukan.

__ADS_1


***


Tepat satu jam sebelum acara makan malam keluarganya dimulai, Meda memarkir motornya di depan beranda rumah Tian. Adler yang mengetahui kedatangan Meda melalui intercom, menunggu kedatangannya tepat di depan pintu masuk. Meda turun dari motornya dan mencium tangan Adler setelah mencopot helm dan jaketnya.


"Malam, Om." Meda menyapa Adler dengan senyum cerah.


Adler sedikit terkejut melihat sama sekali tidak terlihat keraguan dan perasaan tidak nyaman dari Meda saat melihatnya menunggu di depan pintu. Seolah apa yang dilakukannya tidak akan membuat pemuda itu merasa diawasi dan tidak leluasa bermesraan dengan putrinya. Yang tidak diketahui oleh Adler adalah Meda sebenarnya memang sedikit canggung melihat keberadaannya di depan pintu, tetapi alasan kekhawatirannya berbeda jauh dengan yang dipikirkan Adler. Meda tengah memutar otak mengenai bagaimana cara memperingatkan Tian andai gadis itu benar-benar muncul dengan pakaian yang dikhawatirkannya. Andai saja Adler mengetahui bagaimana otak Meda bekerja, tentu ia tidak akan pernah membuang waktunya untuk mencemaskan putrinya.


Tian keluar dari kamarnya tepat setelah Meda selesai menjawab pertanyaan Adler mengenai pekerjaannya. Kedua laki-laki yang duduk di ruang tamu itu kompak melempar pandang saat mendengar suara langkah Tian yang menuruni anak tangga.


"Mama mana, Pa?" tanya Tian sambil mengedarkan pandang mencari-cari sosok ibunya.


Adler dan Meda sama-sama memperhatikan penampilan Tian dari puncak kepala hingga ujung kaki. Gadis itu mengenakan sebuah blouse putih berlengan balon dengan ujung bawah dimasukkan ke dalam high-waisted jeans kebiruan. Ia mengeriting ujung rambutnya yang biasanya lurus dan memakai riasan mata yang membuat mata lebarnya semakin terlihat tajam.


"Di kamar."


Adler menjawab setelah memberikan nilai pass pada penampilan anak gadisnya itu. Ia melempar pandang ke arah Meda untuk melihat bagaimana ekspresi pemuda itu saat melihat Tian berpenampilan aman seperti itu dan lagi-lagi ia dikejutkan dengan senyuman lega yang terpampang di wajah pemuda itu. Pada akhirnya, Adler menyerah untuk mencari-cari kesalahan pada diri Meda dan memberinya poin plus karena berhasil mendapatkan kepercayaannya.


"Jaga Tian baik-baik, ya," pinta Adler saat Tian menghilang untuk mencari ibunya.


Meda mengangguk mantap. "Pasti, Om."


Beberapa menit kemudian, Tian kembali keluar bersama Bella yang menggendong seorang balita lucu yang mewarisi mata biru Adler. Dari sana, ia bisa menebak bahwa ia adalah Marcela, satu-satunya putri kandung Adler, buah pernikahannya dengan Bella. Meda bergerak tanpa sadar mendekati gadis kecil itu dan menggodanya dengan ekspresi aneh dan suara-suara cadel. Kesukaan Meda pada anak kecil tidak mengejutkan Tian, tetapi hal itu merupakan hal baru bagi kedua orang tuanya. Apalagi ketika Marcela yang biasanya tidak mudah didekati mengeluarkan gelak tawa menanggapi tingkah Meda.


Semua yang berada dalam ruangan itu ikut tertular tawa Marcela. Bella mengerling ke arah Adler seolah meyakinkan untuk memberi restu pada hubungan putrinya dengan pemuda itu. Adler hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya mengangguk lemah.


"Hati-hati." Bella berpesan saat motor yang dikendarai Meda meluncur menembus keremangan malam.


***


Meda menghentikan motornya di depan garasi rumahnya lalu menggandeng tangan Tian untuk membimbingnya memasuki rumah.


"Bu!" panggil Meda sembari melangkah menaiki tangga.


Seorang wanita yang mengenakan sebuah button-up wrap dress bercorak belang cokelat hitam muncul dari balik ruangan terbuka yang memperlihatkan sebagian kecil pemandangan meja makan yang dipenuhi dengan berbagai jenis masakan. Meda pernah berkata bahwa ibunya merupakan orang tercantik di dunia yang pernah ditemuinya dan Tian pernah menertawainya karena berpikir bahwa semua itu adalah cara Meda menunjukkan betapa dirinya sangat menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu.


Kini, saat Tian melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa kata cantik terlalu sederhana untuk menjelaskan tentang gambaran sosok di hadapannya itu, ia hampir memarahi Meda karena tidak berusaha lebih keras untuk meyakinkannya. Wanita yang dipanggil Meda dengan sebutan ibu itu memiliki kecantikan ala wanita aristokrat yang lembut sekaligus tegas. Rambut cokelat gelap belah tengahnya itu membingkai seluruh kesempurnaan di wajahnya. Mata berbentuk almon yang teduh, hidung yang mancung, tulang pipi yang tinggi, bibir yang penuh, serta dagu perseginya yang membuat mengingatkan Tian pada sosok Angelina Jolie.


"Tian, 'kan?" Suara berat wanita itu sedikit kontras dengan pembawaannya yang lembut, tetapi menurut Tian justru aspek itulah yang semakin mempertegas pesona dari wanita yang memperkenalkan dirinya dengan nama Verdita itu.


"Iya, Bu." Tian membalas senyum wanita yang kini meraihnya ke dalam pelukan erat itu.

__ADS_1


__ADS_2