Les Láches

Les Láches
44.


__ADS_3

Tian berjalan menuju ke meja riasnya dengan langkah lemah. Ponsel yang ia letakkan di atas kotak tisu, berdering sejak beberapa menit yang lalu. Namun, ia tak kunjung menjawab panggilan tersebut karena matanya yang masih setengah terbuka membuatnya sedikit lambat membaca nama yang tertera di layar.


“Halo,” sapa Tian tanpa berhasil menahan kuap di ujung kalimat.


“Masih tidur?” tanya suara di seberang telepon dengan nada tak percaya.


Tian melirik kesal pada jam dinding yang menunjukkan waktu pukul 13.06. “Aku baru tidur, Gar. In case kamu lupa. Indonesia lebih cepet tujuh jam daripada Inggris. Jadi, kalau kamu baru aja beraktivitas di sana, para manusia di sini udah ada di jam-jam tidak produktif dan perlu istirahat. Termasuk aku.”


“Tumben kamu tidur siang?” tanya Afgar tanpa mengindahkan protes dari Tian.


“Ada apa sih, Gar?” tanya Tian balas mengabaikan pertanyaan Afgar.


“Aku vidcall, ya,” ujar Afgar. Ia tidak menunggu Tian mengiyakan saat ia memutuskan sambungan teleponnya.


Tian melirik bayangannya di cermin tanpa berniat merapikan penampilannya sedikit pun. Meskipun memang tak ada yang perlu dibenahi selain kaos bertuliskan “Pajamas all day” yang mungkin membuat penampilannya tidak cukup presentable di hadapan Afgar.  Namun, masa-masa di mana Tian merasa perlu menunjukkan kesan menarik di depan laki-laki itu sudah lama berlalu. Di mata Tian, Afgar bukan lagi laki-laki yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat daripada normal.


Ponsel Tian berdering kembali. Kali ini panggilan video dengan foto profil Afgar muncul dan memenuhi tampilan layar ponselnya. Tian menggeser tombol jawab. Lalu menyandarkan ponselnya di pinggiran kotak tisu karena ia tidak mau tangannya pegal jika harus menstabilkan posisi ponselnya selama panggilan video itu berlangsung.


“Lihat nggak ini di mana?” Segera setelah wajah Tian muncul di layar ponselnya, Afgar mengganti sudut panggilan videonya ke kamera belakang dan menunjukkan pemandangan lahan hijau yang luas. Di sebagian area pada lahan itu terhampar semak yang dipangkas rapi dan pepohonan yang meranggas karena sedang musim kemarau.


Namun, kekaguman Tian pada hamparan keindahan itu segera teralihkan ketika matanya menangkap sebuah bangunan menara yang berdiri tinggi menjulang di kejauhan.


“Gar. Yang di depan kamu Cabot Tower, bukan?” tanya Tian pelan.


“Seratus!” seru Afgar nyaring. 


Beberapa pengunjung yang juga berada di halaman bangunan menara tersebut memandanginya dengan tatapan terganggu. Namun, Afgar memilih tak peduli dan mengembalikan sudut panggilan video ke kamera depannya. “Aku jalan ke menaranya sekarang, ya?”

__ADS_1


Tian mengangguk-angguk dengan penuh semangat, membuat Afgar berharap bisa memeluk makhluk menggemaskan tersebut saat itu juga. 


Tian sendiri sudah sepenuhnya terjaga melihat pemandangan Brandon Hill yang ditunjukkan oleh Afgar sepanjang perjalanan menuju menara.


“Hati-hati,” kata Tian mengingatkan saat tak sengaja melihat anak tangga yang sempit dan curam saat Afgar lagi-lagi memberikan akses pemandangan ke bagian dalam menara lewat kamera belakangnya.


Afgar memanjat anak tangga satu persatu sambil membayangkan pemandangan yang akan dilihatnya dari puncak menara itu. Dari sekian banyak ulasan yang dibacanya mengenai tempat itu, hampir semua pengunjung memuji keindahan panorama kota yang bisa dinikmati dari ketinggian 105 kaki atau sekitar 32 meter itu. Selain itu, ia juga bisa menikmati lanskap utuh dari salah satu taman kota tertua di Bristol, Brandon Hill.


Afgar juga memikirkan Tian di seberang telepon yang dengan sabar menunggu dirinya menyelesaikan perjalanannya menuju puncak. Ia berandai-andai jika gadis itu ada di sini, ia pasti butuh waktu lebih lama untuk tiba di puncak menara. Deretan anak tangga yang panjang tanpa tempat untuk beristirahat itu tentu akan membuat gadis itu pingsan karena kelelahan. 


Sejak kecil, Tian memang tidak punya stamina yang bagus sehingga selama sekolah pun dia selalu tertinggal di pelajaran pendidikan jasmani. Sekali waktu, Afgar pernah mengajaknya mengikuti pendakian di Gunung Prau dan ia beberapa kali harus menggendong Tian yang kelelahan padahal sedang melalui trek yang landai. Afgar sendiri tidak merasa terbebani karena membawa Tian di punggungnya tidak jauh berbeda dengan membawa carrier-nya.


Setelah kurang lebih lima belas menit, Afgar akhirnya menginjakkan kakinya di lantai atap menara Cabot. Hal yang pertama dilakukannya adalah menatap wajah Tian yang baginya tetap terlihat mendebarkan meskipun hanya tampil dengan balutan kaos longgar dan celana kain dengan panjang selutut. Senyum yang mekar di wajah gadis itu bagaikan penghargaan atas usahanya mencapai puncak menara yang cukup membuat tubuhnya berkeringat.


“Siap ngelihat pemandangan kota Bristol dari ketinggian seratus lima kaki?” tanya Afgar setelah napasnya kembali normal.


Afgar buru-buru mengalihkan sudut pandang kamera saat merasakan wajahnya memerah. Ia mengarahkan kamera belakang ponselnya ke arah bawah menara tersebut.


Afgar mencoba menajamkan pendengarannya untuk menangkap respon yang diberikan oleh Tian atas pemandangan yang ia tunjukkan. Namun, usahanya terganggu oleh suara berisik dari pengunjung di sekitarnya yang kebanyakan didominasi oleh remaja yang tiga kali lipat lebih bersemangat daripada dirinya karena berhasil menaklukkan ratusan anak tangga di menara Cabot. 


Akhirnya, ia mengeluarkan handsfree bluetooth dari ranselnya dan menyumbat kedua telinganya.


“−ya, Gar?”


Afgar mengerutkan keningnya karena hanya berhasil menangkap sedikit kalimat yang diucapkan oleh Tian. “Kamu ngomong apa, Ti? Sorry, di sini berisik banget.”


“Iya. Aku tadi juga bilang hal yang sama. Di sana berisik banget.”

__ADS_1


Afgar mengangkat sebelah alisnya. “Nggak ada komentar soal pemandangan yang aku tunjukin barusan? Aku udah capek-capek naikin tangga yang curam sepanjang 32 meter cuma buat ngasih lihat pemandangan ini ke kamu lho, Ti.”


“Bullshit. Kamu naik karena kamu nyari objek foto pemandangan yang bagus,” cibir Tian.


“Iya. Tapi fotonya kan pesenan kamu. Aku sama sekali nggak minat sama objek potret panorama. Aku lebih suka moto orang,” balas Afgar.


“Iya, iya, makasih. Tapi tadi aku udah bilang pemandangannya ‘GILA BANGET!’ lho. Kamu aja yang lagi nggak denger.”


Afgar hanya terkekeh mendengar perkataan Tian. Keduanya lalu melanjutkan perbincangan tentang sejarah menara Cabot dan taman Brandon Hill tempat bangunan itu berlokasi.


“Seneng di sana, Gar?” tanya Tian saat keduanya mulai kehabisan topik.


Afgar mengangguk ke arah ponselnya. Tian tersenyum lega.


“Kamu sendiri gimana? Udah denger kabar dari Meda?” tanya Afgar yang sudah menyiapkan kalimat-kalimat penghibur jika pertanyaannya itu membuat Tian kembali murung.


Namun, Tian tidak menunjukkan ekspresi kesedihan sama sekali. Ia malah terlihat lelah. Hal itu membuktikan bahwa gadis itu sudah berulang kali menekan perasaan dengan logikanya agar tak terus-terusan memikirkan Meda.


Melihat semua itu, Afgar merasa sedikit geram. Hasratnya untuk memisahkan kedua sejoli itu semakin kuat. Namun, ia cukup cerdas untuk tak melakukannya secara terang-terangan. Ia sangat mengenal Tian dan tahu benar bagaimana mekanisme pikiran dan tindakan gadis itu bekerja. Tian sebenarnya sosok yang bijak, hanya saja sedikit subjektif. Ia hanya melihat kebenaran dari sudut pandangnya sendiri. Karenanya, Afgar menilai bahwa tindakannya untuk berpura-pura mendukung Tian berbaikan dengan Meda sambil terus-terusan mencari cara untuk memancing kecemburuan Meda atas hubungannya dengan Tian adalah cara yang menurutnya paling efektif untuk meraih tujuannya.


“Ti, apa perlu aku yang ngomong sama Meda?” Afgar kembali mendesak Tian.


Tian menggeleng mantap. “Kamu mau rehat kan di sana?”


Afgar mengangguk ragu.


“Ya udah. Kamu pikirin aja cara untuk seneng-seneng di sana. Jangan ngomongin Meda lagi,” tandas Tian tajam.

__ADS_1


Afgar kembali mengangguk dengan ekspresi pasrah, tetapi kelegaan tumpah ruah dalam hatinya.


__ADS_2