Les Láches

Les Láches
48.


__ADS_3

“Shh, shh, shh.” Hera mengusap lembut puncak kepala Tian. Ia begitu menyayangi sahabatnya yang satu itu sampai di titik di mana ia akan ikut terluka jika melihat gadis itu meneteskan air mata. “Maaf ya, udah bentak kamu tadi.”


Tian menggeleng pelan. “Kamu berhak marah karena tindakanku ini sama saja dengan menyembunyikan fakta itu dari kamu. Tapi aku punya alasan, Ra. Aku ingin mencoba mendamaikan Afgar dan Safira dulu sebelum memberikan kabar ke kamu. Tapi Afgar kayaknya udah menyerah dan Safira ngilang.”


“Iya. Aku udah ke rumah Safira dan tante Gita bilang Safira lagi nggak di Indonesia. Awalnya aku pikir dia pergi sama Afgar, tapi ternyata Afgar ke Bristol untuk urusan bisnis.” Hera tertawa sinis.


Kening Tian berkerut mendengar pernyataan Hera itu, terlebih saat menangkap raut wajahnya yang buruk saat menyebut nama Afgar. “Kamu denger dari siapa kalau Afgar ke Bristol untuk urusan bisnis?”


“Hagan yang bilang,” jawab Hera tanpa mau repot-repot memberi embel-embel “Bang” sebelum menyebut nama putra tertua keluarga Linus tersebut. Ia sudah kehilangan respek kepada kedua kakak-beradik itu, bahkan pada keluarga Linus secara keseluruhan.


Tian menghela napas. Ia tidak pernah meragukan perkataan Hera, tetapi ekspresi Afgar yang dilihatnya saat ia menceritakan kabar putusnya hubungan dirinya dengan Safira juga tidak mungkin dibuat-buat. Ekspresi itu bukan milik seseorang yang langsung bisa terbang ke luar negeri hanya untuk mengurus kepentingan bisnis, melainkan ekspresi seseorang yang benar-benar patah dan ingin sejenak melupakan kegagalan hubungannya. Karenanya, otaknya mencoba mencari penjelasan logis atas informasi bertentangan yang diterima oleh Hera itu.


“Kamu percaya sama omongannya Kak Hagan? Kamu tahu kan gimana hubungannya Kak Hagan sama Afgar?” tanya Tian lembut.


“Tahu banget, Ti. Tapi bohong soal masalah itu nggak ada untungnya buat Hagan, kan?” tanya Hera balik.


“Aku bukannya mau bilang Kak Hagan bohong, tetapi cara Hagan dan Afgar memandang masalah berakhirnya hubungan Afgar dan Safira jelas berbeda. Hagan dan semua orang di keluarganya mungkin menilai hubungan pertunangan Afgar dan Safira ini hanya sebatas jalinan kerja sama bisnis. Tapi Afgar tentu memandang semua ini dengan berbeda,” jelas Tian. Namun, Hera memberikan pandangan skeptis kepadanya.


“Oke. Mungkin kedengarannya kayak aku terlalu membela Afgar, tapi ekspresi Afgar habis putus dari Safira nunjukin kalau dia patah banget. Aku yakin itu bukan ekspresi orang yang hanya memikirkan koneksi di kepalanya,” tambah Tian lagi.


Hera mencoba merenungi ucapan Tian itu. Hatinya sebenarnya masih mencurigai Afgar, tetapi kalau Tian berani memihak Afgar, ada kemungkinan kalau dirinyalah yang memang terlalu mudah terbakar emosi tanpa mempertimbangkan perasaan Afgar.


“Jadi, kita harus gimana, Ti?” tanya Hera akhirnya.


Tian menarik napas panjang sebelum menggeleng kecil. “Afgar kayaknya udah nggak mau merjuangin hubungan mereka dan Safira sendiri sepertinya nggak mau ketemu sama siapa pun yang ada kaitannya dengan Afgar.”


Hera menutup wajah ayunya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


“Sebenernya apa sih yang terjadi sama mereka? Kenapa Safira sampai mengambil keputusan seekstrem ini?” tanya Hera pada dirinya sendiri, tetapi ekspresi Tian yang berubah getir membuat Hera lagi-lagi merasa mendapat pertanda buruk.


“Safira tiba-tiba minta Afgar milih antara dia atau aku,” ucap Tian lirih.


Kerutan di kening Hera semakin dalam. “Kenapa tiba-tiba gitu?”


Tian kembali menarik napas sebelum menceritakan kembali seluruh hal yang disampaikan Afgar kepadanya. Suasana kembali sunyi saat dirinya akhirnya menyelesaikan ucapannya.


“Kenapa nama Meda tiba-tiba muncul di cerita Afgar tadi, Ti?” tanya Hera setelah menyusun timbunan informasi yang baru saja masuk ke kepalanya itu dengan urutan yang tepat.


“Kamu ingat waktu pesta ulang tahun Afgar?” tanya Tian balik. Hera mengangguk cepat.


“Sepulang dari sana, Meda tiba-tiba bilang agar aku menjaga jarak dari Afgar,” kata Tian lagi.


“Alasannya?”


Mata Hera membulat. “Pegang-pegang gimana?” tanyanya heboh.


“Waktu di pesta kan aku makannya sempat berantakan. Dan kamu tahu Afgar lah, dia itu kayak penjaga merangkap pengasuh gitu kan kalau sama aku?” Tian menatap Hera untuk melihat apakah gadis itu bisa menangkap maksud ucapannya. 


Saat Hera mengangguk-anggukkan kepalanya, Tian kembali melanjutkan ucapannya. “Afgar tuh giniin aku.” Tian kemudian mempraktikkan apa yang dilakukan oleh Afgar saat membersihkan remahan roti di bibir Tian.


Hera mengernyitkan hidungnya. “Ini yang dimaksud pegang-pegang?”


Tian mengangguk pelan. 


Hera mengangkat lengannya untuk mengusap-usap bagian belakang kepalanya, kebiasaannya saat sedang berpikir. “Alvin juga cemburuan sih, tapi itu cuma sebatas sama orang-orang yang nggak dikenal aja. Kalau sama Afgar atau temen-temen cowok di kelas yang udah deket dia nggak pernah curiga.”

__ADS_1


“Kamu mau bilang kalau Alvin yang se-overprotektif itu saja bisa bertoleransi, kan?” tanya Tian cepat. Giliran Hera yang mengangguk.


“Aku pikir pun begitu. Aku pikir mungkin Meda butuh lebih banyak waktu untuk mengenal Afgar dengan lebih baik dan melihat sendiri bahwa kedekatan aku dan Afgar itu nggak seperti yang dia takutin,” ujar Tian lemah.


“Atau mungkin kamu yang harus lebih memahami Meda. Dia mungkin nggak pernah menjalin hubungan yang bertahan selama bertahun-tahun sama seseorang, seperti kamu sama Afgar. Jadi, dia nggak bisa relate sama kedekatan kamu dan Afgar itu,” saran Hera lembut.


Tian menggigit bagian dalam bibir bawahnya sebelum perlahan menganggukkan kepalanya.


“Kamu bener. Aku nggak boleh hanya memaksakan sudut pandangku ke Meda.”


Hera menghela napas lega. Setidaknya ia bisa memberikan sedikit bantuan untuk salah satu sahabatnya yang sedang dirundung kekalutan itu.


Sebenarnya, Hera sangat merasa bersalah karena lagi-lagi sesuatu terjadi saat dirinya menghabiskan waktu berdua saja dengan Alvin. Hal itu membuatnya merasa egois karena bisa menikmati liburannya dengan bersenang-senang sementara sahabat-sahabatnya yang lain menghadapi permasalahan rumit. Sekalipun begitu, ia tidak menyalahkan Alvin yang memberikan inisiatif untuk berlibur berdua saja itu sebab dirinya sendiri menyanggupi usulan Alvin tersebut tanpa pikir panjang. Saat itu yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana cara untuk menjaga agar mood kekasihnya itu tidak memburuk. Siapa yang bisa memprediksi kalau akan terjadi insiden besar seperti ini dalam kurun waktu seminggu ini?


“Jadi, kamu bakalan ngajak Meda baikan, kan?” tanya Hera lagi sambil menatap wajah Tian yang mulai sumringah.


Tian mengangguk penuh semangat. “Aku sebenarnya udah berniat mau baikan sama dia sih.”


Hera mengangkat sebelah alisnya. “Oh ya, kapan?”


“Nanti. Sehari sebelum Meda berangkat ke Paris.”


“Kapan itu?”


“Besok,” kata Tian sambil menyeringai lebar.


Hera berniat menggoda Tian lebih jauh, tetapi dering ponsel yang ia letakkan dalam tasnya membuat Hera menelan kembali kata-katanya.

__ADS_1


“Iya, Alvin?” Hera menjawab teleponnya sambil memberi isyarat pada Tian bahwa ia harus segera pergi.


__ADS_2