Les Láches

Les Láches
54.


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan pertama Afgar dengan Zaira Oberon di rumah Adler. Afgar tidak sempat mengetahui apa tujuan pasti dari kedatangan perempuan itu ke kediaman Adler karena Bella telah terlebih dahulu muncul dan meminta dirinya pulang. Ia telah mencoba menanyakan perkembangan pembicaraan kedua perempuan tersebut dari Tian, tetapi ternyata gadis itu juga diminta kembali ke kamarnya sementara ibu dan neneknya berbincang di ruang kerja ayahnya.


Afgar sendiri tidak langsung menemui Tian karena selama beberapa hari terakhir ia berusaha menepati janjinya sebelum berpisah dengan Tian kemarin. Ia menghubungi semua kenalannya untuk mengetahui apa saja yang dilakukan oleh Mathis Oberon setelah kecelakaan yang menimpa putranya itu.


Tak mudah memperoleh informasi penting yang berkaitan dengan salah satu keluarga terkuat di negeri ini, tetapi tak ada yang tak mungkin dilakukan oleh Afgar dengan koneksi yang dimiliki oleh ayahnya dan koneksi yang dibangunnya sendiri sejak usianya masih belia. Dari sekian banyak orang yang berkaitan dengannya, ada beberapa orang yang mengenal keluarga Oberon dan memiliki informasi mengenai tindak-tanduk pemimpin bisnis keluarga konglomerat tersebut beberapa saat terakhir. Namun, dari beberapa informasi yang diterimanya tersebut, terdapat satu informasi yang membuat Afgar merasa kelabakan. Ia terkejut saat berita itu sampai kepadanya lewat sebuah surat elektronik yang menyertakan sebuah lampiran lengkap untuk mendukung kebenaran data yang diterimanya itu.


Berkat surel yang diterimanya itu, Afgar berlari dari rumahnya menuju ke kediaman Tian. Namun, betapa terkejutnya dirinya saat melihat sosok yang dicarinya itu tengah berdiri di depan pekarangan rumahnya sambil memandangi sebuah pohon mangga yang mulai berbuah.


“Tian!” panggil Afgar sambil mendekati Tian yang terlihat anggun dalam balutan midi dress berwarna putihnya.


“Hai, Gar.” Gadis itu menjawab panggilan Afgar dengan senyuman lembutnya, tetapi Afgar bisa melihat bahwa mata gadis itu penuh kesedihan.


“Aku denger kabar kalau Mathis Oberon menemui seorang pengacara untuk mengurus perceraian om Adler dan tante Bella. Kita harus sampaikan ini ke mama kamu sekarang, Ti!” ujar Afgar sambil menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.


Namun, gadis itu bergeming di posisinya semula. Ia bahkan tak menunjukkan raut keterkejutan sedikit pun di wajahnya.


“Kamu sudah dengar?” tanya Afgar akhirnya.


Tian tidak menjawab dan mengalihkan perhatiannya kembali ke pohon mangga alpukat yang ditanam di pekarangan rumahnya itu.

__ADS_1


“Pohon ini aku tanam waktu masuk kuliah tahun kemarin. Kamu tahu kan aku paling males ngurusin pekarangan dari dulu. Karena itu, papa beliin aku satu bibit tanaman buah kesukaan aku, mangga. Pak Eko bilang, kemungkinan bulan depan buahnya udah bisa dipanen, tapi kayaknya waktu itu aku udah nggak ada di sini deh, Gar. Kamu bisa bantu aku bawain buah ini ke Bandung kalau udah berbuah? Aku tadi juga udah titip pesen sama Pak Eko.” Tian berbalik memandang Afgar dengan air mata yang jatuh dari sudut mata kirinya. “Please. Mungkin cuma ini satu-satunya kenang-kenangan tentang papa yang bisa aku bawa dari rumah ini.”


“Bandung? Kenapa ke Bandung?” tanya Afgar tak mengerti. Kepalanya terlalu penuh untuk menyusun kesimpulan sendiri dari fakta-fakta yang telah disodorkan kepadanya itu.


“Surat perceraian yang dibuat oleh pak Mathis sudah sampai dari kemarin lusa dan mama sudah tanda tangan. Jadi, nggak ada lagi alasan buat kami berada di rumah ini lagi,” jelas Tian pasrah.


Afgar mengusap wajahnya. “Kenapa tante Bella tanda tangan surat cerai itu? Apa karena mereka bilang, mereka akan mengizinkan kalian ketemu om Adler kalau kalian menuruti semua permintaan mereka? Apa kalian nggak tahu kalau dengan menandatangani surat cerai itu, kalian akan semakin kehilangan hak untuk menemui om Adler?”


“Aku tahu, Gar. Mama juga bukan orang bodoh. Tapi perceraian mama dan papa adalah satu-satunya cara mama mendapatkan hak asuh Marcela. Tanpa itu, mereka akan terus menahan Marcela dan menjadikan adik aku alat untuk memonopoli mama, Gar,” kata Tian sambil menyeka air mata dengan bagian dalam pergelangan tangannya.


Afgar tak bisa melakukan apa pun selain menarik gadis yang terlihat tak berdaya itu ke dalam pelukannya. Keduanya berpelukan dalam waktu yang cukup lama sampai akhirnya Tian menjauhkan tubuhnya ketika tangisannya mulai mereda.


“Transfer. Aku udah ngurus surat pindah di kampus dan sisanya akan diurus sama kenalan mama. Jadi, yes, semuanya udah siap dan aku bener-bener harus pindah dari rumah ini.”


“Kalau soal rumah, aku bisa bantu kamu untuk mencari tempat tinggal baru,” ujar Afgar bersemangat.


Namun, Tian merespon penawaran Afgar itu dengan gelengan lemah.


“Kamu tahu kalau alasanku bukan cuma soal itu kan, Gar? Aku harus nemenin mama melewati semua ini. Selain itu, ada adik-adikku juga yang nggak mungkin diurus sendirian sama mama. Jadi, aku HARUS ikut mama bagaimana pun caranya.” Tian berucap lembut kepada Afgar, tetapi sorot matanya penuh tekad. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Afgar saat Tian sudah berbicara seperti itu kepadanya.

__ADS_1


Dan itu menjadi kata-kata terakhir yang diingat oleh Afgar dalam percakapan sore itu. Segera setelah Tian menyelesaikan perkataannya, Afgar langsung berbalik pulang dan menemui ayahnya. Seperti Tian yang akan mengikuti Bella, Afgar pun bertekad akan pergi ke mana pun tempat Tian berada.


***


Tian memandangi sosok kurus tinggi yang tengah berdiri di depan pintu rumah kontrakannya itu dengan wajah penuh senyum.


“Kamu ngapain di sini, Gar? Bukannya terlalu cepet buat menjenguk? Aku bahkan belum seminggu di sini,” kata Tian dengan tatapan tak percaya.


“Aku udah bilang, kan, kalau aku akan pergi ke mana pun kamu pergi. So, here I am!” ujar Afgar sambil membentangkan kedua tangannya di samping tubuhnya.


Tian hampir menangis melihat betapa sahabatnya yang satu itu benar-benar bersungguh-sungguh dalam menepati janjinya, tetapi tetap saja hal itu tidak membuat dirinya serta merta merasa lega.


“Kamu nggak harus kayak gini, Gar. Kamu masih bisa membersamai aku walaupun kamu tetep di Surabaya,” kata Tian yang mulai merasa dirinya menjadi beban bagi Afgar.


“Aku ragu aku bisa jadi orang pertama yang membantu kamu kalau aku masih di sana. Menurutku lebih baik begini. Aku nggak mau ada jarak yang terlalu jauh di antara kita lagi, Ti.”


Tian akhirnya melangkah mendekat ke arah Afgar dan menerima pelukan yang ditawarkan oleh sahabatnya itu.


“Welcome to Bandung,” bisik Tian sambil menahan agar keharuan tak terdengar dari suaranya itu. 

__ADS_1


Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia bersyukur memilih untuk tidak mendengarkan Meda dan menjauhi Afgar. Berkat kehadirannya, Tian merasa bisa menjalani babak kehidupannya yang baru di kota ini.


__ADS_2