Les Láches

Les Láches
The Girlfriends


__ADS_3

Hera menyembunyikan ponselnya kembali ke bawah meja saat Lusi, dosen mata kuliah Teori Komunikasi Massa-nya melempar pandang ke barisan kursi tempatnya duduk. Wanita gemuk pendek itu memandangi beberapa mahasiswanya yang tengah sibuk menyalin isi whiteboard ke dalam buku catatan masing-masing. Sebagian lainnya tentunya hanya pura-pura serius menorehkan goresan apa pun di atas kertasnya, membolak-balik catatannya seolah tengah mencoba mengulang materi-materi lalu, dan banyak ulah lainnya. Hera pun tak mau kalah dalam berakting.


Gadis berambut panjang itu menyipitkan mata, mengerutkan kening sampai kedua alisnya bertaut, memajukan bibirnya sedikit, dan mengangkat binder besarnya tinggi-tinggi hingga menutupi setengah bagian bawah wajahnya. Sekeras mungkin berusaha terlihat sedang mencoba menjejalkan barisan kata-kata imajiner dari buku itu ke dalam kepalanya. Semua orang yang melihat mimik wajahnya itu pasti akan mengira bahwa akting Hera itu sungguhan. Well, semua orang kecuali Lusi yang tahu benar bahwa mahasiswinya yang satu itu sama sekali tidak berminat mengikuti mata kuliah apa pun yang didahului dengan kata “teori” ataupun “pengantar”.


Hera memang membenci pelajaran di dalam kelas. Ia lebih menyukai praktik langsung di laboratorium maupun di luar kelas. Lusi cukup mengenal gadis itu karena ia juga pernah mengajarnya di kelas Fotografi saat semester 2. Gadis itu dengan cepat tampil menonjol dibandingkan dengan tiga puluhan teman sekelasnya, termasuk Alvin, kekasihnya yang lebih dulu mengundang perhatian dari sebagian besar mahasiswi karena ketampanan dan popularitas sang ibu yang bekerja sebagai fotografer di majalah berskala internasional. Hera memang memiliki latar belakang keluarga yang tak kalah mentereng, tetapi bukan itu yang membuatnya mencuri spotlight dari Alvin.


Hera tak hanya memiliki kecantikan yang membuatnya diperhitungkan di depan kamera, tetapi juga menguasai keterampilan di belakang kamera. Gadis itu memang memiliki karakter asli yang manja dan sedikit kekanak-kanakan, tetapi ia akan serta merta menjelma menjadi sosok yang berbeda ketika sedang memegang peralatan di laboratorium.


Hera memanfaatkan sumber daya yang diberikan oleh keluarganya dengan baik. Ia memiliki cita-cita yang sangat jelas dan secara aktif merintis karirnya sendiri. Hera memiliki bakat alami sekaligus terasah di bidang yang digelutinya. Pendeknya, ia jenius di bidangnya. Oleh karena itu, Lusi tak berniat untuk menegur apa pun tingkah gadis itu di dalam kelas selama ia tidak mengganggu mahasiswa lainnya.


Tepat setelah Lusi kembali duduk di mejanya dan menyibukkan diri dengan laptopnya, Hera kembali meletakkan bukunya dan meraih ponselnya sambil bersembunyi di balik punggung mahasiswa yang duduk di depan kursinya.


“Kenapa kamu nggak masuk kelas!!!!!!!!!”


Hera mengirimkan pesan itu untuk membalas pesan Alvin sebelumnya yang memberi tahunya bahwa dirinya sedang berada di basecamp. Ia sengaja memberi tanda seru sebanyak mungkin di akhir kalimat untuk menunjukkan pada Alvin betapa kesal dirinya karena pemuda itu membiarkannya ikut di kelas yang membosankan itu sendirian. Basecamp yang dimaksud oleh Alvin sendiri sebenarnya adalah sebuah ruangan kosong yang dulu pernah ditempati oleh pengurus BEM Fakultas sebelum organisasi itu mendapatkan markas yang lebih luas di gedung lain. Ruangan itu dibiarkan tidak berpenghuni selama berbulan-bulan sampai Afgar, atas paksaan sahabat-sahabatnya, mengajukan proposal pengadaan ruangan rekreasi mahasiswa kepada pihak yayasan yang menaungi universitas mereka.


Awalnya, rektor universitas sekaligus putra pemilik yayasan mereka menolak usulan Afgar karena ketiadaan dana untuk memfasilitasi kebutuhan yang tidak mendesak itu. Namun, dengan kesempurnaan proposal yang diajukan Afgar dipadukan dengan teknik tawar-menawarnya yang kelas tinggi, “mahasiswa” yang menempati gedung tersebut akhirnya memiliki ruang rekreasi mereka sendiri. Dana pengadaan sarana dan prasarana ruang rekreasi diambil dari hasil swadaya mahasiswa sendiri, begitu isi proposal. Namun, nyatanya, semua pengeluaran untuk merombak ruangan yang dulunya hanya diisi perabotan dasar ruang organisasi kemahasiswaan itu menjadi ruangan setingkat kamar hotel bintang lima –minus king size bed– ditanggung oleh kelima sekawan itu, dengan Alvin sebagai donatur utamanya. 


Tak hanya mahasiswa dari gedung tempat ruangan itu berada yang sering memanfaatkan ruang rekreasi itu. Mahasiswa dari fakultas lain di gedung sebelah pun ikut menikmati kemewahan itu secara bergantian. Mulai dari sekedar membuat kopi instan yang dipasok secara teratur oleh Alvin dan kawan-kawan, menumpang tidur, mencari suaka untuk mengerjakan tugas, hingga salat dan tidur pun biasa mereka lakukan di ruangan yang dilengkapi AC itu.


Seusai kelas, Hera melangkah menuju ke ruangan tersebut. Segera saja ia meneriakkan nama Alvin dengan gemas saat melihat pemuda itu tengah asyik terlentang di atas karpet ruangan yang bermotif chevron dengan bantal sofa yang ia gunakan sebagai alas kepala untuk melengkapi kenyamanan membolosnya. Di sekeliling pemuda itu juga terlihat beberapa mahasiswa lain, bahkan mahasiswi, yang juga sedang “sibuk” dengan aktivitas masing-masing. Hera hampir melangkah menghampiri Alvin ketika pemuda itu bangkit dari posisi tidurnya dan menarik gadis itu keluar dari ruangan. Lagi-lagi, sebelum Hera sempat mengomel, pemuda itu mendahuluinya.


“Kamu ngapain sih pakai baju kayak begini?” Alvin yang hampir tidak pernah marah-marah itu kini sedang meninggikan suaranya pada Hera.


“Baju aku kenapa?” tanya Hera yang langsung mengalihkan perhatian pada blouse cokelat dengan lengan terompet yang dikenakannya.


“Ini nih? Nggak kurang pendek?” Alvin menarik sedikit kain dari midi skirt yang berwarna senada dengan atasan Hera itu.


Sambil sedikit membungkuk, Hera mengukur jarak antara bagian bawah roknya dengan lututnya menggunakan ujung ibu jari dan jari kelingkingnya sebelum mengarahkan ukuran yang diperolehnya itu tepat di depan wajah Alvin.


“Nih, cuma sejengkal di atas lutut aja kayak lihat orang nggak pakai bawahan sama sekali!” semprot Hera keki.


“Satu jengkal itu nggak ‘cuma’. Lagian banyak yang bakalan ngelihatin kalau kamu pamer kayak gitu.” Alvin masih tak bisa menerima.


“Kalau kamu nggak mau aku dilihat orang, masukin aja aku ke lemari koleksi boneka gundam kamu. Udah. Aman, tuh. Kelar masalah!”


“Gundam itu robot, Ra, bukan boneka,” tukas Alvin sekalipun ia tahu kekasihnya itu tak akan mendengarkan. “Pakai pakaian itu yang kayak Tian, kek.”


Hera langsung melotot ketika penampilannya dibandingkan dengan Tian.


“Tian mah bebas, Vin. Dia pakai baju apa pun nggak ada bedanya. Dari sananya bodinya udah kayak Kate Upton. Nah aku? Pakai rok panjang dikatain tiang bendera berjalan. Pakai celana panjang disuruh ikut program penggemukan. Ini sekalinya pakai di atas lutut, masih ada aja yang ngomelin. Udah kayak artis top aja, banyak yang ngejulidin.”


“Aduh, malah jadi panjang. Udahlah kamu pakai aja jaketku buat nutupin itu.” 

__ADS_1


Alvin mendesah lelah sebelum kembali bergerak memasuki ruangan lagi. Kali ini, Hera dengan sigap menarik kerah kaos polo Alvin dan memaksa pemuda itu untuk kembali menatap dirinya.


“Kenapa kamu nggak masuk kelasnya Emak?” tanya Hera sambil berkacak pinggang.


Emak, adalah nama julukan yang ia, dan mahasiswa-mahasiswi di program studi Televisi dan Film, berikan kepada Lusi. Sebutan itu disematkan padanya karena selain wanita itu menjabat sebagai ketua program studi, ia juga dikenal sebagai dosen yang all-rounder. Wanita itu pernah mengajar berbagai macam mata kuliah dan hampir selalu ditemui di setiap tahun perkuliahan. Tak berlebihan jika akhirnya banyak yang memanggilnya “Emak” karena kefamiliaran yang dirasakan oleh mahasiswa-mahasiswanya itu saat melihat sosoknya.


“Karena aku nggak suka teori,” jawab Alvin.


“Yang nggak suka teori itu aku, Vin, bukan kamu. Kamu itu nggak suka kuliah.”


Alvin menjentikkan jarinya. “Nah itu, kamu tahu!”


“Tapi selama ini kamu nggak pernah bolos. Kenapa baru sekarang?” Hera terus mencecarnya.


“Ya, karena aku males. That’s it!”


“Vin, please! Jawab jujur,” desak Hera lagi.


Alvin hanya menanggapinya dengan tertawa, seolah ia menganggap kecemasan gadis itu konyol.


“Udahlah. Ayo kita ke kantin aja. Kayaknya kamu laper tuh,” kata pemuda itu akhirnya.


“Kok jadi ke laper?” Hera mengernyitkan dahinya. Tak menyangka akan mendengar respon yang seperti itu dari Alvin.


Hera hanya bisa cemberut sepanjang perjalanan menuju kantin. Selama di kantin, Alvin mulai bercerita tentang beberapa mahasiswa yang baru dikenalnya hari itu berkat keberadaan ruang rekreasi. Hera tidak mengacuhkan usaha Alvin untuk membuka percakapan karena ia tahu bahwa semua itu dilakukan demi mengalihkan perhatian Hera dari masalah yang sebenarnya. Masalah yang sedang disembunyikan oleh Alvin dari dirinya.


Malamnya, Hera berkunjung ke rumah Safira bersama dengan Tian. Ia berniat menghabiskan malam itu untuk bercerita banyak hal mengenai Alvin kepada kedua sahabatnya itu. Yang membuatnya cukup heran adalah Tian, yang biasanya perlu dipaksa dan dirayu sedemikian rupa agar mau menginap, justru dengan suka rela menyetujui ajakannya. Nampaknya, gadis itu juga punya sesuatu untuk diceritakan. Akhirnya, malam itu, ketiga gadis itu mengadakan sesi curhat besar-besaran yang berlangsung selama berjam-jam sambil ditemani setumpuk makanan siap saji dari restoran pizza dan burger langganan mereka.


Malam itu, ketiganya meluapkan semua beban masalah di benak mereka sekaligus melampiaskan nafsu makan mereka yang dikendalikan oleh program diet selama berminggu-minggu sebelumnya. Yang terakhir adalah misi terselubung dari Safira seorang. Kedua sahabatnya yang lain tidak pernah merasakan bagaimana rasanya “dianugerahi” dengan tubuh yang mudah gemuk sepertinya.


“Pokoknya dia aneh banget deh.” Hera mendeklarasikan premis curahan hatinya untuk yang kesekian kali. “Nggak mau masuk kelas, terus tiba-tiba jadi maniak game, bales chat dari aku kalau pas game-nya bisa di auto-in, main ke kota sebelah buat mabar.”


“Yang kamu sebutin semuanya nggak aneh-aneh banget kok, Ra. Itu memang sudah habit-nya gamer,” ujar Safira berpendapat. 


Sedikit banyak ia bisa membayangkan semua kebiasaan yang sudah disebutkan oleh Hera itu di kehidupan nyata karena Anan, adik laki-lakinya yang duduk di bangku kelas delapan SMP itu, juga merupakan seorang gamer.


“Atau Alvin memang bener-bener lagi menyembunyikan sesuatu dan dia menjadikan game itu sebagai kamuflase atau bahkan pelarian untuk sembunyi dari masalahnya.” Tian melempar pendapat lain.


Hera mengangguk-angguk cepat. Ia kembali bersemangat karena Tian juga merasakan kekhawatirannya. Itu berarti bukan karena dirinya yang paranoid, melainkan karena ada kemungkinan bahwa Alvin memang tengah menyembunyikan sesuatu.


“Bisa nggak kamu tanyain ke Afgar soal Alvin, Fir?  Barangkali dia curhat ke Afgar soal masalahnya,” pinta Hera pada Safira.


“Bukannya aku nggak mau, Ra, tapi selama ini yang aku tahu, Afgar yang selalu cerita sama Alvin dan nggak pernah sebaliknya. Tahu sendiri Alvin gimana, ‘kan? Ketawa terus kayak hidupnya nggak pernah kena masalah. Mau nanya ‘Kamu lagi ada masalah apa?’ sama orang yang jelas-jelas nunjukin kalau dia lagi happy ‘kan awkward banget. Salah-salah, nanya gitu dianggap ngehina. Coba, masalah apa lagi yang bisa dialamin sama orang yang hobinya ketawa kalau bukan masalah kejiwaan?” seloroh Safira. Namun, saat melihat Hera tak menertawakan leluconnya itu, ia buru-buru menambahkan. “Tapi nanti aku bakalan coba tanya sama Afgar. Semoga aja dia tahu sesuatu.”

__ADS_1


“Thanks, Sayang.” Dengan itu, Hera tersenyum kembali. 


Berikutnya, perhatian teralih kepada Safira.


“Weekend ini, Afgar ngajak ke planetorium.”


“Planetarium, Fir. Ta, ta, bukan to.” Baru saja Safira membuka ceritanya, Hera sudah memotong.


Safira mengoreksi penyebutannya yang salah itu sambil mencebik. Tian hanya bisa menanggapi pertengkaran kecil keduanya dengan tawa kecil.


“Tumben-tumbennya kamu mau diajak jalan selain ke mall sama kafe?” tanya Hera yang langsung diamini oleh anggukan kepala Tian.


Safira memutar bola matanya. “Kan aku udah bilang kalau aku mau berubah biar aku sama Afgar bisa lebih deket.”


Hera hanya menanggapi dengan kedua tangan terangkat tanda menyerah sekaligus isyarat bagi Safira untuk meneruskan ceritanya. Berikutnya, Safira bercerita bahwa keduanya akan mengikuti sebuah kursus memasak untuk pasangan dan lagi-lagi Hera tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar.


“Kamu dapat inspirasi dari drama Korea apa, sih?”


“The Return of Superman.” Safira menjawab tak sabar, kesal karena ceritanya berulang kali dipotong.


“Ya ampun, Ti! Dia nonton drama Korea beneran. Ceritain ke Joan, Ti. Biar mereka bisa fangirling berdua,” ujar Hera sambil tertawa terbahak-bahak.


Safira memutuskan untuk kembali melanjutkan ceritanya. Kali ini, sambil menatap Tian yang tak tertular oleh tawa Hera.


“Terus next week, aku sama Afgar mau mancing...”


“Mancing masalah?” sahut Hera rusuh.


“sama pendakian.” Safira melanjutkan tanpa mengacuhkan Hera.


Giliran Tian yang terperangah. “Pendakian di mana? Bukit atau gunung?”


“I don’t know. Itu ide Afgar, kok,” jawab Safira sembari mengangkat bahunya.


“Tanya yang bener, dong. Memangnya kamu pernah ikut pendakian? Capek banget lho, Fir! Dan nggak semua medan bisa dijadikan tempat istirahat.” 


Tian yang sudah pernah merasakan ikut rombongan Afgar saat melakukan trekking ke Gunung Prau langsung panik. Ia hanya pernah sekali mengikuti pendakian dan langsung kapok karena kelelahan. Padahal Afgar bercerita bahwa gunung yang menjadi tujuan mereka merupakan gunung yang biasa dituju oleh pendaki pemula.


“Nggak usah heboh, Tian sayang. Paling-paling mereka offroad. Land Rover punya abangnya Afgar ‘kan ada,” celetuk Hera.


“Kamu sendiri sama Meda gimana?” Safira melempar pertanyaan kepada Tian. Lelah karena terus-terusan menjadi objek komentar Hera.


Tian menghela napas panjang sebelum menjawab. “Meda mau ke Paris.”

__ADS_1


__ADS_2