
Afgar bangkit dari posisi tidurannya dengan mata setengah terbuka. Sinar matahari yang menerobos dari tirai kamar di apartemen mewahnya membuat matanya otomatis kembali terpejam. Ia bergerak ke arah jendela besar tersebut dan merapikan tirai tersebut untuk memblokir sepenuhnya akses cahaya matahari yang masuk. Dengan satu helaan napas berat, ia berjalan ke kamar mandi yang berada di luar kamarnya.
Di saat-saat seperti ini, ia merindukan kamar tidur di rumahnya sendiri yang dilengkapi kamar mandi dalam. Kemewahan fasilitas yang disediakan oleh orang tuanya itu membuat dirinya menghemat waktu serta tenaga untuk mengumpulkan niat dan berjalan ke kamar mandi begitu ia membuka matanya di pagi hari.
Tak hanya itu saja hal yang membuatnya sedikit menyesali niatnya untuk keluar dari rumah itu. Saat dirinya lapar di pagi hari seperti ini, ia harus terbiasa pergi ke luar apartemen untuk mencari makanan sendiri. Tentu bukan uang yang menjadi masalah di sini, melainkan keengganan yang menggunung untuk pergi mandi dan berusaha tampil cukup presentable hanya untuk mengisi perut. Hal yang biasanya bisa dilakukan Afgar dengan santai di rumahnya, dengan baju tidur yang melar di banyak sisi dan kotoran mata masih menempel di ujung matanya.
Namun, saat air dingin yang keluar dari shower kamar mandinya dan mengalir dari puncak kepalanya menuju ke segala sudut di tubuhnya, kesadarannya kembali. Ingatan tentang tujuannya pergi dari Surabaya ke Bandung untuk menemani Tian pun kembali jelas. Benar, dia merelakan segala kenyamanan dan kemudahan hidup tersebut berkat semua fasilitas yang ada di kediaman mewah keluarganya di Surabaya adalah demi membersamai perempuan yang dicintainya.
Ya, dirinya tak ragu lagi untuk mengakui perasaannya yang satu itu. Di matanya, Tian bukan lagi hanya sebatas sahabat atau teman masa kecil yang ingin dia lindungi selayaknya adiknya sendiri, melainkan seorang perempuan. Niat Afgar tak lagi hanya menjaganya, tetapi memiliki Tian untuk dirinya sendiri. Sudah tak ada lagi rasa bersalah yang menghantuinya kali ini, sebab Tian sendiri telah mengatakan niatnya untuk melupakan pemuda itu di malam keberangkatannya menuju Bandung. Sisanya, tergantung oleh usaha Afgar sendiri untuk menaklukkan hati gadis pujaannya itu.
Keluar dari kamar mandinya, Afgar berjalan kembali ke arah kamarnya. Sambil memakai kaos oblong berwarna putih polos yang diraihnya secara sembarangan dari lemarinya, ia memeriksa ponsel yang tadi ia hempaskan sembarangan ke atas tempat tidurnya yang berantakan.
__ADS_1
Satu lagi kekurangan dari tinggal sendirian tanpa asisten rumah tangga adalah ia harus membersihkan tempat tinggalnya sendiri. Afgar memang menyewa seorang pekerja dari layanan kebersihan yang dikenalkan padanya oleh agen yang menangani proses sewa apartemennya, tetapi Afgar melarang petugas tersebut untuk menyentuh kamarnya. Ia rela membersihkan kamarnya sendiri daripada membiarkan orang asing memasuki ruangan pribadinya.
Fokus Afgar kembali terarah ke ponselnya ketika sebuah pesan masuk membuat benda itu bergetar. Afgar buru-buru membuka layar kunci ponselnya dan membaca isi pesan balasan dari Tian itu. Gadis itu berkata bahwa ia sudah bersiap-siap akan berangkat ke kafe tempatnya bekerja sehingga harus menolak ajakan makan siang bersama dari Afgar.
Afgar menghela napas panjang sebagai tanda kecewa. Namun, ia tidak terlalu memikirkan penolakan Tian itu karena ia sendiri yang membuat dirinya kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan gadis itu saat memutuskan untuk menunda-nunda bangkit dari kasurnya.
Afgar keluar dari apartemennya yang berada di lantai sembilan belas pada tower A bangunan mewah tersebut. Dari sekian banyak apartemen yang ditawarkan oleh kolega ayahnya, suasana hunian apartemen inilah yang dirasanya paling bagus. Meskipun, bukan yang paling mahal dan mewah, tetap saja Afgar harus menggelontorkan dana yang jumlahnya ratusan juta rupiah untuk sewa setahun. Beruntung ayahnya bersedia menanggung uang sewa gedung tersebut selama tiga tahun berkat negosiasi yang dimenangkannya di Bristol beberapa waktu lalu. Penawaran tersebut tentu sangat tidak merugikan bagi Afgar karena tahun depan adalah tahun terakhir perkuliahannya. Dua tahun yang tersisa sebelum ia harus membayar uang sewanya sendiri adalah waktu yang cukup baginya untuk mengumpulkan kekayaannya sendiri dengan memanfaatkan koneksi dan titel sarjananya di ranah bisnis profesional.
Lift berhenti di lantai ground tempat Afgar memarkirkan Jaguar F biru metaliknya. Ia melajukan kendaraannya selama hampir lima belas menit dan berhenti di depan sebuah restoran dua lantai yang menampilkan kesan back to nature yang kental. Bangunan itu didominasi oleh dinding dari batu templek dan pintu, jendela, serta lantai dari kayu. Pepohonan yang dibiarkan tumbuh di dalam ruangan menambahkan kesan alami yang kuat pada ide bangunan tersebut.
Semua hal yang dilihat oleh Afgar itu membuatnya menghabiskan waktu lebih dari 10 menit hanya untuk mengagumi seni bangunan tersebut. Bahkan meskipun ayahnya sendiri adalah seorang arsitek, hal itu tidak membuat Afgar kenyang menikmati bangunan-bangunan unik yang tak hanya sekadar didirikan sebagai tempat untuk melakukan aktivitas indoor, melainkan juga untuk memunculkan kreativitas dan keunikan dari sosok pemilik gedung. Dalam kekagumannya tersebut, ia menyempatkan diri untuk mengambil potret dari bangunan itu dengan kameranya. Ia berencana untuk mengirim satu gambar cetaknya kepada ayahnya dan satu gambar digital kepada Tian. Ia sudah membayangkan bagaimana raut wajah gadis itu saat melihat potret yang tak kalah berseni daripada lukisan-lukisan yang dicintainya itu.
__ADS_1
Afgar duduk di salah satu meja yang berada di tengah ruangan. Ruangan itu sendiri menghadap ke lahan terbuka hijau yang sangat luas. Bahkan lebih luas daripada tanah yang dijadikan tempat untuk mendirikan bangunan restoran tersebut. Seorang pelayan dengan cekatan menghampiri mejanya dan menanyakan pesanannya. Meskipun sedikit terganggu dengan mata pelayan yang berkali-kali mencuri pandang ke arah wajahnya itu, Afgar tetap berniat memberikan tips atas pelayanan cepat yang diberikan oleh restoran itu kepadanya.
Iseng-iseng, Afgar mengirimkan gambar dari makanan yang dipesannya ke nomor Whatsapp Tian dan bersiap menyantap grilled chicken and caesar salad-nya ketika ia melihat muncul tulisan “mengetik ...” pada kontak gadis itu. Afgar meletakkan pisau dan garpunya kembali dan menanti pesan yang diketik oleh gadis itu muncul di layar ponselnya.
“Mahal?”
Pesan dari gadis itu membuat Afgar menyeringai lebar tanpa sadar.
“Murah. Nggak bakalan ngabisin jatah bulan—” Afgar berhenti mengetik di tengah jalan saat mengingat bahwa kondisi gadis itu sudah berbeda sekarang. Ia menghela napas berat sebelum menghapus kembali pesan yang telah diketiknya itu dan hanya menyisakan tulisan “murah”.
Ia lalu melambaikan tangannya kepada gadis pelayan yang tadi mencatat pesanannya.
__ADS_1
“Mbak, saya pesan take out lima porsi dengan menu yang sama, ya.”