
Pesta ulang tahun Afgar berakhir tepat pukul dua belas malam. Pihak keamanan yang disewa untuk mengorganisir acara putra kedua keluarga Linus malam itu memang mendapat titah untuk menjaga keberlangsungan acara itu dengan ketat, termasuk dalam mengeksekusi jadwal pergantian dan selesainya acara. Dalam waktu beberapa menit setelah pesta dinyatakan berakhir, seluruh tamu undangan meninggalkan pekarangan depan rumah Afgar dan barisan mobil-mobil mewah keluar satu persatu dari lahan kosong yang berada di sisi kanan bangunan tersebut. Meda bersama dengan Tian berada dalam salah satu mobil yang beriring-iringan pergi itu.
Selama pesta berlangsung, keduanya menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk berbicara dengan Hera dan Alvin. Semua itu atas permintaan Hera. Gadis itu merasa bahwa percakapan dengan Meda membuat Alvin terlihat normal. Hera menduga Alvin bersikap seperti itu karena Meda sama sekali tidak menunjukkan keingintahuan mengenai problematika kehidupan ataupun konflik keluarga yang sedang dialami oleh Alvin. Alvin mungkin merasa nyaman berada di dekat orang yang bisa membuatnya berhenti mengingat tentang masalah-masalahnya seperti Meda.
Karena itulah, Hera berniat untuk membuat Alvin dan Meda bertemu secara rutin di luar pertemuan-pertemuan kelompok mereka. Namun, Tian tidak langsung mengiyakan permintaan Hera yang terakhir itu. Ia tidak berani mengambil keputusan tanpa persetujuan langsung dari Meda. Karenanya, ia berjanji akan membicarakan hal itu dengan Meda terlebih dahulu. Namun, saat Tian akhirnya mendapat kesempatan untuk membuka percakapan dengan Meda, pemuda itu mendahuluinya berbicara.
“Tian.” Begitu Meda memanggilnya. Nada suaranya serius.
“Ya?” jawab Tian sambil mengerutkan dahi.
Tian sudah cukup lama memandangi wajah kekasihnya itu sejak ia memutuskan untuk mengangkat topik mengenai Alvin. Karenanya, ia bisa melihat perubahan ekspresi yang menghiasi wajah pemuda itu dari datar menjadi serius. Saat memasang wajah serius, bibir Meda akan mengatup rapat dan matanya sedikit menyipit.
“Kamu bisa nggak, sedikit menjaga jarak dengan Afgar?” tanya Meda membuat kerutan di dahi Tian semakin dalam.
“Ada apa, Med? Ada masalah apa sama Afgar?”
“Aku nggak suka melihat dia pegang-pegang kamu sembarangan seperti tadi. Apalagi di depan aku.” Rahang Meda mengeras saat mengatakan hal itu.
“Pegang-pegang, Med?” Tian tertawa kecil sebelum mencondongkan tubuhnya ke arah Meda.
“Seperti ini?” tanya Tian sembari menyentuh ujung bibir Meda dengan ibu jarinya. Persis seperti yang dilakukan oleh Afgar kepadanya saat di pesta sebelumnya.
Mendapati perlakuan seperti itu, Meda mengarahkan kemudinya ke tepi jalan dengan tajam. Tentunya, setelah menyempatkan diri untuk memeriksa kalau-kalau ada kendaraan yang berada tepat di belakang mobilnya.
“Meda!” tegur Tian saat Meda memarkir mobilnya di tepi jalanan yang sepi.
__ADS_1
Gadis itu cukup terguncang karena Meda hampir membuat sisi tubuhnya terhempas pada bagian dalam pintu penumpang saat pemuda itu mengganti haluan secara tiba-tiba. Namun, belum sempat Tian melanjutkan tegurannya, bibir Meda yang mendarat di bibirnya membuat ia mengurungkan niat. Mata Tian melebar dan napasnya tercekat di tenggorokan mendapati perlakuan Meda tersebut. Selama beberapa detik, kepalanya terasa kosong. Bahkan saat Meda menjauh darinya, ia masih belum bisa mengatakan apa pun.
“Seharusnya cuma aku yang berhak melakukan itu sama kamu. Menyentuh kamu, mencium kamu. Itu semua hak aku. Aku selama ini masih menahan diri karena aku merasa masih terlalu dini bagi kita untuk melakukan semua itu. Namun, dia... dia dengan mudahnya menyentuh kamu saat aku bahkan belum pernah melakukan hal yang lebih dari sekadar memegang tangan kamu. Dia melakukan semua itu di depan aku, tapi coba lihat reaksi kamu. Semudah itu kamu menyepelekan peringatan dari aku?!” Amukan Meda memecah keheningan di antara keduanya.
Tian sendiri masih sibuk menenangkan debaran di jantungnya. Wajah gadis itu memerah. Namun, bukan karena ciuman Meda yang membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat daripada biasanya, melainkan karena ia merasa pikirannya seolah bekerja pada fokus yang salah. Saat Meda sedang membicarakan sesuatu yang serius, otaknya malah terus-terusan mengulang detik-detik momen ciuman tersebut di dalam kepalanya.
Akhirnya, beberapa detik kemudian setelah ia berhasil mengontrol pikirannya kembali, barulah gadis itu bersuara.
“Aku nggak ngerti kenapa kamu menggunakan istilah ‘pegang-pegang’ untuk menyebut tindakan yang dilakukan Afgar ke aku. Kata-kata itu seolah menempatkan Afgar dalam posisi laki-laki yang suka mencuri kesempatan untuk melakukan kontak fisik ke aku."
“Memang kenyataannya seperti itu,” tandas Meda membuat Tian menatapnya tak percaya.
“Afgar itu sahabat aku, Meda.”
“Ya dan nggak. Ya, karena Afgar dan aku cukup dekat untuk sesekali bisa melakukan kontak fisik. Nggak, kalau yang kamu maksud ‘menyentuh’ itu di luar batas kewajaran. Tapi dari cara kamu marah-marah ini, sepertinya kamu menilai apa yang dilakukan Afgar ke aku di luar batas kewajaran antar sahabat. Sebenarnya, apa lagi sih yang membuat kamu lagi-lagi membuat Afgar seolah menjadi batu penghalang dalam hubungan kita?” tanya Tian tegas.
“Dia terang-terangan mengisyaratkan semua itu.”
“Mengisyaratkan?” Tian semakin bingung.
Meda akhirnya menceritakan isi percakapannya dengan Afgar saat Tian meninggalkan keduanya di pesta tadi. Suasana di dalam mobil kembali sunyi saat Meda selesai mengulang pembicaraannya dengan Afgar. Setelah beberapa saat, Tian akhirnya menghela napas panjang.
“Meda. Aku yakin Afgar nggak ada maksud apa-apa saat ngomong begitu. Dia cuma mau melindungi aku.”
Mata Meda kembali menyipit. “Melindungi kamu dari apa? Apa aku kelihatan berbahaya di mata kamu?”
__ADS_1
“Bukan gitu–”
“Jelaskan sama aku kenapa kamu pikir tindakan Afgar untuk melindungi kamu dari aku itu tidak salah?” potong Meda cepat.
Tian membuka tutup mulutnya. Sesungguhnya banyak hal yang ingin dikatakannya, tetapi ia tidak bisa memutuskan cara penyampaian terbaik yang sekiranya bisa meluruskan kesalahpahaman di antara kedua orang terdekatnya itu tanpa memberi kesan memihak.
“Oke, Meda. Aku tahu semua ini terjadi karena kamu baru mengenal Afgar. Makanya, kamu salah paham–”
“Salah paham?” Lagi-lagi Meda memotong ucapan Tian. “Satu-satunya yang salah paham di sini itu kamu, Tian. Kamu nggak melihat apa yang aku lihat. Ah, atau mungkin kamu hanya pura-pura nggak tahu karena kamu pikir dengan bersikap seolah tidak ada apa-apa maka semuanya akan benar-benar baik-baik saja?”
“Apa yang kamu lihat, tapi aku tidak lihat?” Tian mulai kehilangan kesabaran menghadapi Meda yang terus-terusan memojokkannya.
“Aku melihat tatapan seorang laki-laki kepada seorang perempuan di mata Afgar saat dia memandang kamu. Biar aku perjelas sekali lagi agar tidak ada makna lain yang coba kamu tangkap dari ucapan aku." Tinju Meda terkepal sebelum melanjutkan ucapannya. “Dia ingin memiliki kamu.”
“Afgar suka sama aku? Itu yang mau kamu bilang?” tanya Tian.
Meda hanya menatap ke dalam mata Tian sebagai respon dari pertanyaan tersebut, seolah mencoba menebak apa yang akan dikatakan gadis itu berikutnya.
“Mungkin yang kamu maksud tadi adalah membayangkan. Bukannya melihat. Karena saat ini, kamu jelas-jelas sedang berimajinasi tentang sesuatu yang bahkan nggak pernah aku bayangkan,” ucap Tian lagi.
“Kamu nggak akan ngerti karena kamu nggak benar-benar melihat cara dia menatap kamu, Tian.”
Kali ini, nada suara Meda melemah. Pertengkaran kecil dengan topik yang sama berulang-ulang kali membuat Meda merasa hubungannya dengan Tian seolah berjalan di tempat. Dan yang lebih membuat frustasi adalah ia tidak bisa membuat Tian melihat bahwa arti di balik semua tindakannya ini hanya bertujuan untuk menyelamatkan hubungan keduanya. Gadis itu masih saja menyangsikan semua pernyataan Meda mengenai perasaan Afgar kepadanya.
Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Meda saat pikiran terakhir itu melintas di kepalanya. Karenanya, ia menyudahi perdebatan tanpa ujung itu dan melajukan mobilnya kembali. Mengabaikan Tian yang beberapa kali memintanya melanjutkan pembicaraan mereka itu sampai tuntas.
__ADS_1