
Safira menyenggol lengan Tian untuk yang kesekian kalinya. Tian mengernyit kesal sebelum akhirnya menyerah dan menuruti tuntutan Safira yang disuarakannya melalui isyarat sikutan bertubi-tubi di sisi kanan tubuhnya itu.
"Hai." Lirih suara Tian menyapa sosok pemuda yang duduk di hadapannya itu. Pemuda itu tengah asyik memperhatikan lalu lintas jalanan yang masih lengang karena waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi lebih sedikit.
Pemuda itu menganggukkan kepalanya sekilas untuk membalas sapa, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya seolah yang baru saja dilakukan Tian mengganggunya.
"Oke. Maaf sudah mengganggu kamu, tapi percaya deh, aku hanya mau kita kenalan sebentar. Minimal tahu nama kita masing-masing. Setelah itu, kamu bebas melanjutkan hidup kamu dan menganggap aku tidak ada. Deal?" cerocos Tian panjang lebar. Tian memang bukan sosok yang bisa dibilang sabar, jelas dia tidak akan diam saja melihat orang lain bersikap seenaknya padanya saat ia bahkan belum mengenal Tian dengan baik.
Safira menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya saking tak menyangkanya bahwa Tian akan langsung mengambil sikap seekstrem itu. Ia bersyukur Afgar tidak ada di mobil yang sama—karena Alpha Hybrid yang disewanya itu memang hanya mampu menampung tiga orang, sehingga Afgar harus membawa mobil beserta sopir pribadinya sendiri untuk menjemput Alvin dan Hera. Kalau Afgar melihat semua ini, bukan Tian yang akan berbicara seperti itu, melainkan tinju Afgar. Safira tahu benar betapa kekasihnya itu sangat overprotective kepada sahabat yang sudah ia anggap seperti adiknya itu.
"Fine! Namaku Meda. Aku sudah tahu namamu. Jadi, tidak perlu mengganggu waktuku lebih lama lagi. Percakapan kita selesai di sini." Pemuda itu benar-benar tidak memberi kesempatan pada Tian untuk membalas ucapannya karena pada detik berikutnya ia sudah meminta sopir untuk menghentikan mobilnya.
Jok kursi depan yang tadinya diarahkan ke kabin belakang kini diubahnya kembali ke posisi semula. Pemuda itu duduk di samping sopir yang hanya bisa melirik salah tingkah lewat spion tengahnya ke arah para gadis yang duduk di baris belakang. Suasana canggung itu baru mencair ketika rombongan itu sampai di bandara.
"Ini dia yang bikin aku telat jemput kalian." Afgar membuka pintu belakang mobil sewaan mereka sambil melirik Safira.
"Pasti dandan lagi." Hera yang membuka pintu penumpang ikut menatap Safira dengan pandangan menyalahkan.
"Maklumin dong, Ra. Aku enggak mau kalah fabulous dibandingkan sama kamu atau Tian." Safira membalas centil sambil mendahului Tian turun dari mobil.
"Aku?" Tian menunjuk dirinya dengan bingung. Hal itu baru baginya. Sebab di matanya, kedua sahabat perempuannya itu jelas memiliki penampilan yang jauh lebih memesona daripada dirinya.
"Cuma kamu yang enggak sadar kalau kamu itu sebenernya gifted banget." Hera ikut-ikutan menambah kerutan di dahi Tian.
"Di mananya?" Tian bergumam pelan.
Sekarang, ia sudah lupa sama sekali dengan insiden dalam perjalanan menuju bandara tadi.
"Semuanya sudah sarapan 'kan tadi?"
Hampir semua kepala yang berada dalam rombongan itu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Afgar itu, kecuali Meda dan Tian. Afgar mengerutkan dahi sebelum memeriksa waktu pada arloji di tangan kirinya.
"Lima menit lagi kita boarding. Nanti makan di pesawat aja," putus Afgar akhirnya.
"Vin, bisa, 'kan?" Afgar beralih menatap Alvin yang tengah sibuk merapikan scarf yang melingkar di leher Hera.
"Tenang. First class and all-reserved!" seru Alvin bangga.
Tepat setelah keenam muda-mudi itu menginjakkan kaki di kabin pesawat, Safira menahan pergelangan tangan Tian dan menariknya sedikit menjauh dari rombongan. Afgar melirik curiga, tetapi segera melanjutkan langkahnya ketika Safira memberi isyarat bahwa semua baik-baik saja. Namun, segera setelah Afgar hilang dibalik kerumunan penumpang yang masih bergerombol di kabin, Safira menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya.
"Maaf, Ti. Aku enggak nyangka kalau Meda akan bersikap seperti itu ke kamu. Dia memang enggak suka banyak omong, tapi dia biasanya nggak se-cranky itu."
"Sudahlah. Enggak perlu merasa enggak enak sama aku. Cara dia bersikap itu adalah pilihan dia sendiri. Kamu enggak punya andil apa-apa atas semua itu." Tian tersenyum mengerti.
"Aku jelas punya andil, Ti. Aku yang ngajak dia buat ikut rombongan kita," sahut Safira.
"Iya, but that's it."
"Dan ... aku juga yang bikin kamu harus duduk di sebelah Meda selama penerbangan ini."
Safira menggigit bibirnya sambil menunjuk boarding pass di tangan Tian. Ia melihat ekspresi di wajah Tian yang seolah sudah menduga bahwa akan ada yang lebih buruk daripada pertengkaran di mobil tadi.
"Kayaknya aku yang harus minta maaf sama kamu deh, Fir." Tian berujar malas.
Safira mengangkat alisnya.
"Soalnya aku enggak akan menahan diri kalau dia bersikap seperti di mobil tadi," lanjut Tian geram.
"Mau kamu apain dia, Ti?"
__ADS_1
"Kamu lihat aja sendiri," jawab Tian sembari mulai berjalan menuju kursinya.
Afgar yang pertama kali menyambut keduanya begitu mereka memasuki kabin untuk first class. Segera setelah Safira duduk di kursinya, ia berjalan ke arah Tian. Gadis itu tengah mematikan ponselnya dan mulai mengatur kemiringan kursinya. Bersiap tidur.
"Makan dulu, Ti. Aku sudah pesan makanan buat kamu dan Meda tadi." Afgar melirik Meda yang sama sekali tidak peduli atau repot-repot menunjukkan rasa terima kasih atas tindakan Afgar itu.
Afgar sendiri sepertinya sudah kebal dengan segala ketidaksopanan dan keantikan manusia satu itu.
"Kamu pesan apa, Gar?" tanya Tian.
"Dim sum. Mau, 'kan?"
Tian menggeleng. "Kalau diganti roti masih bisa enggak, ya?"
Afgar mengetuk kabin penumpang Alvin yang berada tepat di depan Meda. "Vin, ganti makanan lain."
"Beres, Ti. Bilang aja kamu mau apa. Abang Alvin siap mengabulkan segalanya," canda Alvin sambil melongok dari kabinnya.
"Roti, Vin. Roti." Afgar melempar bantal milik Tian ke muka Alvin.
Alvin bangkit dari kursinya dan melempar balik bantal itu ke arah Afgar sebelum berjalan mendekati salah satu pramugari yang berada di dekat kami.
"Dim sumnya udah jadi dua-duanya. Jadi," Alvin mengalihkan pandangannya ke arah Meda, "jatah Tian buat kamu sekalian, ya?"
Meda mengangkat tangan kanannya sebagai tanda setuju.
Beberapa menit setelah Tian menghabiskan makanannya, ia mulai mengantuk. Saat gadis itu meletakkan novel yang tadi di bacanya dan bersiap untuk tidur, matanya menangkap pergerakan dari kursi Meda. Pemuda itu ternyata sedang menatap ke arahnya sambil bertopang dagu.
"Ada masalah?" Tian bertanya dengan nada yang diusahakan sedatar mungkin, meskipun gagal.
"Suka novelnya Agatha Christie?" Pertanyaan yang tidak pernah ia sangka akan meluncur dari bibir pemuda itu membuat Tian tidak bisa segera menjawab.
Meda terkekeh pelan, membuat Tian kembali menahan napas. Tidak pernah terlintas di kepalanya bahwa pemuda di hadapannya ternyata bisa mengeluarkan tawa seperti itu. Sebelumnya, ia hanya bisa membayangkan ekspresi cemberut atau mengejek yang akan menghiasi wajah tampannya itu selama beberapa hari ke depan. Yap, tampan. Fakta yang sayangnya harus diakui oleh Tian.
Tian sebenarnya cukup terpukau dengan wajah pemuda itu saat kali pertama melihatnya di ruang tamu rumahnya. Hanya saja semua itu seolah tertutupi dengan sikap tidak menyenangkan yang ia tunjukkan kepada Tian selama perjalanan menuju bandara tadi. Mengingat hal itu, Tian memberanikan diri untuk mengungkitnya sambil berharap ia tidak membuat pemuda itu kembali merasa terganggu.
"Kita punya masalah apa sebelum ini? Di mobil tadi ...." Tian sedikit ragu melanjutkan kalimatnya.
"Kita punya masalah apa sebelum ini? Di mobil tadi ...." Tian sedikit ragu melanjutkan kalimatnya.
Meda tersenyum tipis. "Aku punya sedikit masalah untuk bangun terlalu pagi. Jadi, ketika Safira telepon tengah malam untuk meminta aku berangkat satu jam lebih awal karena harus bantuin kamu packing. Aku sedikit men-judge bahwa kamu tidak lebih dari sekedar anak manja yang cuma bisa bikin orang lain susah. Namun," Meda sedikit mengubah posisi duduknya, "aku sadar bahwa aku juga melakukan kesalahan di mobil tadi yang tanpa sadar membuat diriku di-judge oleh kamu. Dan itu tidak bisa dibilang menyenangkan. Karena itu, aku mau mencoba sedikit menolerir dan memberi kamu kesempatan untuk bersikap normal di depanku tanpa terpengaruh pertengkaran kita sebelumnya."
Tian mendengus pelan. "Oke. Aku juga akan memberi kamu KESEMPATAN tanpa mengingat pertengkaran di mobil tadi."
Meda mengangkat kedua tangannya. "Oke. Adil."
"Ngomong-ngomong soal J. K. Rowling ... kamu menyebut pengarang novel fantasi, tapi kenapa baca novel dari pengarang spesialis novel misteri? Kebetulan?"
"Kamu tahu Mary Westmacott?" Tian menjawab dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Mata Meda sedikit melebar, begitu pula senyuman di bibirnya. "Kamu tahu nama samarannya Agatha? Wow!"
"Dan J. K. Rowling juga punya nama samaran ... Robert Galbraith. Seperti halnya Agatha yang menulis romance pakai nama Mary Westmacott, J. K. Rowling juga menulis fiksi kriminal pake nama samarannya."
"Seumur hidup aku cuma baca fiksi kriminal tulisannya Agatha. Aku nggak nyangka, penulis fantasi best-seller seperti J. K. Rowling ternyata juga bisa nulis crime-fiction." Meda masih berdecak kagum.
Tian membiarkan pemuda itu tenggelam dalam dunianya sendiri sampai akhirnya pemuda itu kembali membuka suara.
"Menurut kamu, bagus mana Agatha sama J. K. Rowling?"
__ADS_1
"Menurut kamu membandingkan penulis yang beda zaman dan beda gaya kepenulisan itu adil? Lebih tepat kalau kamu menanyakan tulisan siapa yang lebih sesuai selera aku," jawab Tian diplomatis.
"Benar juga." Meda mengangguk pelan tanpa berusaha menyembunyikan ekspresi kekagumannya.
"Oke. Kalau begitu anggap aja aku udah mengganti pertanyaannya. Kamu lebih suka siapa?" tanya Meda yang masih penasaran dengan kejutan apa lagi yang bisa ia temukan dari gadis itu.
"Jawabanku masih J. K. Rowling. No offense buat semua penggemar Agatha ya, tapi aku berpendapat seperti ini karena aku belum baca keseluruhan karya Agatha. Jadi, aku merasa belum berhak membandingkan karyanya dengan karya penulis favoritku."
Meda mengangguk paham.
"Kamu bawa banyak buku bacaan?" tanyanya kemudian.
Tian mengangguk cepat dan buru-buru meraih ranselnya. Meda memperhatikan wajah gadis itu saat ia tengah sibuk membongkar bawaannya. Tanpa sadar ia tersenyum dan menamai image gadis itu dengan satu kata. Manis.
"Karena kayaknya tadi kamu penasaran sama tulisannya J. K. Rowling, kamu bisa baca ini." Tian menyodorkan 4 eksemplar buku ke arahnya. "Itu serinya Cormoran Strike."
"Boleh pinjam yang punyanya Agatha sekalian? Aku mau nostalgia juga. Boleh 'kan aku kembalikan semuanya waktu kita pulang ke Indonesia?" tanya Meda.
"Boleh, tapi" Tian kembali "menggali" isi ranselnya, "aku cuma bawa Nemesis sama Hotel Bertram aja."
"Cuma?" Meda mengangkat sebelah alisnya. "Kamu punya koleksi lain di rumah?"
"Aku bisa bilang koleksi novel tulisannya Agatha yang ada di rumahku lengkap." Tian menjawab mantap.
"Buku cetak, 'kan?" Meda memastikan lagi.
Tian mengangguk yakin.
"Nonsense!" tukas Meda cepat.
"Excuse me?"
"Agatha menulis buku dari tahun 1920-an. Tahun segitu bahkan orang tua kita belum lahir. Jadi, gimana ceritanya kamu bisa punya semua koleksi novel cetaknya Agatha?" Meda bertanya skeptis.
"Koneksi. Aku cari orang yang bisa ngumpulin informasi soal siapa aja yang pernah beli bukunya Agatha. Terus, aku akan beli buku itu melalui orang itu."
"Ya ampun! Benar juga. Aku hampir lupa kamu anak konglomerat," tandas Meda.
Tian menelan ludah pahit. Ia mencoba menanggapi dengan sabar meskipun ekspresinya sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya atas komentar Meda.
"Meda, kita sedang membahas kelengkapan koleksi novel Agatha-ku karena kamu bertanya dan aku tidak merasa harus menyembunyikan fakta itu dari kamu. Enggak ada hubungannya sama anak konglomerat atau bukan. Kalau kamu ingin membuktikan ucapan aku, kamu boleh datang ke perpustakaan di rumahku dan cek sendiri satu-satu bukunya."
"Bukan di situ permasalahannya." Meda menggeleng kecil.
"Terus?"
"Kamu menggunakan uang untuk mendapatkan apa pun yang kamu inginkan. Siapa yang bisa jamin kalau penghubung kamu itu enggak 'maksa' orang-orang yang punya buku itu buat jual bukunya?"
"Spekulasi kamu kejauhan, Meda. Aku bayar seorang intelek, bukan preman pasar atau yakuza. Dia enggak ngerebut buku itu dari pemilik yang masih nganggap buku-bukunya itu harta karun yang enggak akan bisa ditebus pakai mata uang apa pun. Aku beli buku yang sudah enggak diinginkan oleh pemiliknya. Prosesnya enggak sebentar, Med. Hampir 4 tahun aku nunggu koleksi itu lengkap." Tian berhenti sejenak, mencoba mengatur napas sembari menelan kembali emosi yang menekan dadanya. "Mungkin menurut kamu ini semua soal uang, tapi menurut aku ini soal usaha terbaikku demi ngedapetin sesuatu yang aku mau. One thing I know, I won't kill for something like this. Jadi, bisa berhenti ngejustifikasi tindakanku dengan standar kamu yang bahkan enggak jelas apa dasarnya?"
"Right. Sorry." Meda menundukkan kepalanya, tidak lagi punya nyali untuk melihat ke dalam mata gadis di depannya itu.
Di sisi lain, Hera dan Alvin saling berpandangan setelah mendengar percakapan di antara kedua orang itu, sedangkan Safira tengah mati-matian menahan Afgar untuk tetap berada di kursinya. Benar dugaannya, Afgar tidak akan tinggal diam melihat Tian diperlakukan seperti itu.
"Trust me, Tian malah akan makin tertekan kalau kamu ribut sama Meda gara-gara dia." Safira membisikkan rayuannya sambil berjongkok di samping tempat duduk Afgar.
"Tapi itu sudah keterlaluan, Fir." Afgar menggeram pelan.
"Aku tahu. Aku juga kesel, Gar. Tian sahabat aku juga, tapi mereka sedang dalam proses saling mengenal. Mereka sempat akur dan nyambung 'kan tadi? Kamu enggak pernah lihat Tian bisa segampang itu akrab sama orang lain selain kita berempat, 'kan?" bujuk Safira. "Kasih mereka kesempatan, Baby."
__ADS_1