
Paseo del Prado, jalanan yang memisahkan Central Havana dan Havana Lama, dipadati pejalan kaki. Di antara kerumunan manusia yang berdesak-desakan itu, Meda menggenggam erat tangan Tian dan mengarahkan langkah keduanya ke tempat-tempat yang ingin ia tuju. Tian sendiri dengan patuh mengikuti ke mana saja kaki Meda melangkah. Sesekali, pemuda itu berhenti di sudut yang sepi untuk memeriksa kalau-kalau Tian terimpit oleh kerumunan tersebut.
Sebenarnya, Meda dan Tian berada di Havana Lama bersama dengan empat orang lainnya. Hanya saja, baru 10 menit rombongan itu menginjakkan kaki di wilayah yang merupakan inti asli kota Havana itu, Safira sudah menarik Afgar menjauh dari rombongan. Hera dan Alvin yang baru kembali pada malam sebelumnya pun tidak kalah bersemangat ketika meluncur ke sebuah toko pakaian dengan setengah berlari. Meda yang tertinggal di belakang bersama Tian, memutuskan untuk membawa gadis itu ke arah yang berlawanan dari kedua pasangan tersebut.
Saat keduanya memasuki sebuah bangunan berwarna putih yang kelihatannya cukup lengang bila dilihat dari luar, barulah Tian mengenali tempat yang dituju oleh pemuda itu. Jika dugaan Tian tepat, tempat tersebut adalah sebuah galeri. Tempat itu dipenuhi lukisan yang didominasi dengan aliran futurisme. Keseluruhan objek dalam lukisan yang terpajang di dinding menggambarkan semua aktivitas yang bisa ditemui di jalanan kota Havana. Dari situ, Tian bisa menebak karakter pelukis karya-karya tersebut. Sosok yang mengambil tema kesibukan di jalanan tentu orang yang berjiwa liar, penuh kespontanan, dan tidak menghamba pada pakem tertentu.
Dugaan Tian tidak meleset terlalu jauh. Seorang wanita yang keluar dari salah satu bilik di bangunan itu menghampiri beberapa pengunjung yang tengah menikmati karyanya sebelum akhirnya menyapa dirinya dan Meda. Wanita dengan rambut berpotongan pixie itu mengamati penampilan asing kedua tamunya sebelum membuka percakapan.
"Which one of you enjoy the arts?" tanyanya dengan bahasa Inggris yang sedikit kaku.
Tampaknya memang tidak banyak turis yang akan tinggal terlalu lama di tempat itu dan berbincang dengannya saat menyadari bahwa bangunan yang mereka masuki bukanlah toko cendera mata.
"That would be me," jawab Tian sembari mengangsurkan tangannya.
"Nice to meet you. Call me Lorena, or Lo, or Rena. Well, whatever suit your taste."
Tian memperkenalkan dirinya dan Meda sebelum Lo melepaskan tangannya.
Lo yang terlihat berusia hampir setengah abad itu memiliki bentuk wajah yang jauh dari kesan ramah. Namun, berlawanan dengan hal tersebut, wanita itu memiliki suara yang sangat merdu dan lembut. Tian bahkan tidak akan terkejut kalau perempuan ini berkata bahwa profesinya yang sebenarnya adalah seorang penyanyi dan ia hanya menjadikan melukis sebagai hobi untuk mengisi waktu luangnya.
"So, which painting enchant you the most?"
Rok lebar yang dikenakan Lo mengikuti pergerakan tubuhnya ketika wanita itu mengayunkan tangannya ke jajaran lukisan di dinding utara galeri. Kontras dengan rok yang terlihat feminin itu, atasan kemeja oversize yang dipakai Lo terlihat menenggelamkan tubuh kurusnya dan melenyapkan tanda-tanda fisik yang membuat orang lain bisa mengenali gendernya.
"Well, it's not the painting actually. It's how you paint it that catch my attention." Tian menjawab sambil melayangkan pandangannya ke arah lukisan yang sebelumnya ditunjuk oleh Lo.
"Hmm, interesting. Tell me what exactly 'catch your attention'?" tanya Lo, mengutip kalimat yang digunakan Tian.
Tian tersenyum sebelum menjelaskan bahwa ia merupakan penggemar karya-karya beraliran futurisme sekaligus konstruktivisme. Ia mengenali bahwa salah satu objek lukisan Lo menampilkan berbagai macam aktivitas musisi jalanan yang dipadukan menjadi satu dengan latar belakang warna merah, biru, dan putih, warna bendera kebangsaan Kuba. Jelas sudah bahwa di mata wanita tersebut, kesenian jalanan di Havana merupakan sesuatu yang menjadikan Kuba sebagai "Kuba".
"Are you a painter?" tanya Lo saat Tian menutup penjelasannya.
"No. I just learn to paint in my school days. But, never try to pursue it any further."
Lo menjentikkan jarinya. "That's why you comment about how I paint it, not about the painting itself."
Wanita itu kemudian mengalihkan perhatiannya pada Meda yang hanya menjadi pendengar setia sejak ketiganya bertukar sapa. Ia sedikit mendongak karena tinggi tubuhnya yang hanya berkisar 150 sentimeter jauh di bawah pemuda jangkung tersebut.
__ADS_1
"Hey, Mister Boyfriend. How about you? What's your 'thing'?" tanya Lo.
"He's not my boyfriend," koreksi Tian cepat membuat Meda mengerutkan keningnya.
"Yeah, I'm not. Yet," sahut Meda. Di bibirnya terpampang seringai tipis yang ditujukan kepada Tian. "And I'm managing some businesses at a corporation in Indonesia."
Sembari terkekeh, wanita setengah baya itu kembali menggiring kedua muda-mudi itu berkeliling galeri.
"Jadi, kamu masih belum yakin sama perasaanku ke kamu?" tanya Meda ketika keduanya kembali berada di jalan utama.
Sudah hari keempat sejak ia mengutarakan perasaannya pada Tian dan gadis itu masih belum memberikan tanggapan baru selain kata terima kasih dan jawaban samar bahwa ia juga menyimpan perasaan spesial pada Meda. Bukannya Meda tidak pernah meminta ketegasan dari Tian, tetapi gadis itu menjawab pertanyaan tersebut dengan ucapan yang tidak mungkin bisa dibantahnya.
"Aku yakin dengan perasaanku ke kamu hari ini, Meda. Begitu juga dengan hari esok, lusa, dan seterusnya. Tapi, gimana dengan kamu? Maaf kalau aku harus ngomong kayak gini, tapi kedrastisan perubahan sikap kamu adalah kepastian yang paling aku yakini lebih dari perasaan kamu ke aku. Aku nggak mau menghabiskan waktu seharian untuk mencintai kamu cuma untuk dibuat patah hati di hari berikutnya."
Setelah mendengar hal itu, Meda tidak punya keyakinan untuk mengucapkan sesuatu yang bisa membuat Tian mengubah pendirian. Bukan berarti ia meragukan perasaannya sendiri. Namun, ia menyadari bahwa yang dikatakan gadis itu benar. Perasaannya yang rawan berubah, sejauh ini, memang selalu berakhir melukai gadis itu di kemudian hari.
Karena itu, ia mencoba meyakinkan gadis itu dengan tindakan nyata sembari menekan pikiran-pikiran negatif dalam kepalanya saat memikirkan perbedaan status sosial antara dirinya dan Tian. Beruntung, waktu yang ia habiskan bersama Tian cukup untuk membuatnya yakin bahwa status dan kasta sosial adalah hal terakhir yang akan dipedulikan oleh gadis itu.
Tian memang tidak secara eksplisit menerima perasaannya, tetapi gadis itu perlahan mulai banyak bercerita tentang dirinya pada Meda. Kisah pertama yang keluar dari bibirnya adalah mengenai asal-usul ibunya. Bella, wanita yang melahirkannya 18 tahun lalu itu merupakan keturunan dari laki-laki Jepang yang menikahi seorang gadis berdarah Sunda. Menjadi yatim piatu saat ia masih seusia Tian, membuat wanita itu tumbuh menjadi sosok yang cerdas dan mandiri.
Kecantikan wajah dan kepiawaiannya membawa diri membuat Damian, seorang putra bungsu dari keluarga konglomerat yang dikenalnya di kampus, mati-matian mencoba mendapatkan perhatiannya. Awalnya, Bella berpikir bahwa laki-laki itu akan menyerah pada akhirnya. Namun, kegigihan Damian itu membuat Bella luluh. Kesalahan besar pertama yang dilakukannya dalam hidupnya.
Tingkah lakunya semakin memburuk saat Bella mengandung Joan, putri ketiga mereka. Ia membuat Bella hampir keguguran karena melihat seorang tukang ledeng keluar dari gerbang rumahnya ketika dirinya pulang kerja. Damian menghajar Bella yang dituduhnya menggoda laki-laki lain di belakangnya.
Bella hampir sekarat andai saja Tian yang saat itu masih berusia delapan tahun tidak berlari ke jalan raya dan menghadang sebuah mobil milik seorang pengusaha dari Prancis yang kebetulan tengah melintas. Tian tidak cukup beruntung karena mobil yang coba dihentikannya itu tidak mengerem di saat yang tepat. Tubuh Tian terlempar ke tepi trotoar dan darah keluar dari kepalanya yang terbentur paving jalanan.
Salah satu penumpang dari mobil yang ditabraknya itu melompat keluar dan mencoba membawanya ke rumah sakit. Namun, ketika mata elangnya menangkap sesosok laki-laki bergegas menutup pagar rumahnya setelah melihat tubuh yang terkulai di pelukannya itu, instingnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres. Ia memindahkan gadis itu ke kursi belakang penumpang. Memotong protes dari pengusaha Prancis yang menjadi kliennya itu dengan perintah untuk menghubungi nomor darurat dan segera meluncur menuju pagar besi hollow bercat putih yang untungnya tidak dikunci itu.
Saat Ia memasuki pekarangan depan rumah tiga lantai itu, Damian baru saja keluar sembari membawa gembok pagar. Keduanya terlibat adu mulut, bahkan hampir adu jotos saat tangisan seorang gadis kecil yang berasal dari dalam bangunan rumah itu menyerbu pendengaran keduanya, juga orang-orang yang mencoba melerai perkelahian itu.
Orang asing itu bergerak cepat menghindari jangkauan Damian saat mencoba memasuki rumah. Namun, belum sempat kakinya menginjak beranda rumah tersebut, sesosok balita berusia kurang lebih 2 tahun muncul di hadapannya dengan tubuh dan baju penuh darah. Balita perempuan dengan pipi tembam itu masih menangis dengan sangat kencangnya saat laki-laki asing itu menyambar tubuhnya. Laki-laki yang biasanya penyabar itu melempar pandangan murka kepada Damian yang kini ditahan oleh massa yang berkumpul di halaman depan rumahnya.
"Mama! Mama!" ronta si balita perempuan saat laki-laki yang menggendongnya itu mencari-cari luka yang membuatnya berdarah.
Wajahnya semakin memucat saat ia tidak menemukan satu pun luka di tubuh balita itu. Otaknya menghubungkan fakta yang baru ditemukannya dengan kata-kata yang sedari tadi diucapkan oleh balita yang digendongnya itu. Mata laki-laki asing itu akhirnya melihat arah yang ditunjuk oleh balita itu. Diiringi raungan memekakkan dari Damian, kakinya melangkah memasuki rumah, mengikuti jejak kaki kemerahan di lantai marmer. Matanya melebar ketika ia mendapati sesosok wanita dengan tubuh berlumur darah terbaring di tengah ruang keluarga.
Saat mencoba memeriksa detak jantung sosok tersebut, ia menyadari bahwa wanita itu sedang mengandung dan darah di tubuhnya berasal dari bagian bawah tubuh wanita itu. Dengan panik, ia berlari ke luar rumah dan meminta bantuan untuk memindahkan tubuh wanita yang ditemukannya itu. Beruntung ambulans yang dihubungi oleh kliennya datang tepat waktu. Begitu pula dengan mobil patroli yang datang beberapa menit setelah tim medis bersiap memindahkan pasien ke rumah sakit.
__ADS_1
"Adler!" panggil si pengusaha Prancis pada sosok pahlawan yang menyelamatkan korban kekerasan di kediaman Damian itu. "Get over here right now and start talking about our business! Stop wasting my time!"
Lelaki Prancis itu kesal karena orang yang seharusnya menangani proyek pembangunan taman terbuka bagi perusahaannya itu sama sekali tidak menaruh perhatian padanya selama 1 jam terakhir. Pikirnya, sang arsitek muda itu akan menurut melihat amukannya. Namun, kata-kata yang meluncur dari bibir Adler, baginya, lebih mengejutkan daripada petir di siang bolong.
"Open your damned eyes, Dude. There's two bodies dying right here!" maki Adler sembari ikut berlari memasuki bagian belakang ambulans.
"Kata Papa," ucap Tian saat menutup cerita itu, "bekas luka ini adalah piala. Sebuah penghargaan karena aku sudah membuat Mama selamat dari neraka yang dibuat oleh ayah kandungku."
Tian menunjukkan bekas luka di balik telinga kanannya. Sebuah bekas jahitan sepanjang kurang lebih 3 sentimeter menghiasi bagian yang cukup tersembunyi itu. Bahkan, menurut Tian, Afgar, teman masa kecilnya itu bahkan tidak menyadari kalau Tian punya bekas luka tersebut. Ada setitik perasaan superior tidak penting yang dirasakan Meda saat mengetahui fakta yang terakhir. Namun, di luar semua itu, hatinya teriris saat mendengarkan cerita masa kecil Tian.
Kini, setiap mengulang cerita tersebut dalam kepalanya, Meda merasa menjadi orang paling brengsek sedunia. Ia menjustifikasi kebencian yang ia pendam dengan trauma masa lalunya. Padahal, Tian melalui neraka yang mungkin lebih menyiksa daripada dirinya dan tidak mencoba menyalahkan siapa pun. Bahkan tidak pula ayah kandungnya.
Tian adalah contoh sosok yang tumbuh dengan baik berkat masa lalu kelamnya, sedangkan Meda di sisi lain adalah sosok yang tumbuh dengan membawa dendam besar, menunggu waktu yang tepat untuk membalas semua perlakuan buruk yang pernah ia dan orang tuanya terima.
"Capek nih. Istirahat bentar, ya?" pinta Tian sembari duduk pada sebuah bangku kosong di tepi trotoar.
"Apa cita-cita kamu?" Meda melemparkan pertanyaan acak saat keduanya tenggelam dalam kediaman yang cukup lama.
Meskipun heran, Tian tidak menemukan alasan untuk tidak menjawab pertanyaan pemuda itu.
"Kurator," jawab Tian.
"Kenapa?"
"Karena Papa." Sebuah senyum perlahan mengembang di bibir ranumnya. "Dulu waktu liat sketsa lanskap punya Papa, aku kagum banget. Tapi, aku selalu merasa ada yang kurang. Jadi, pernah pada suatu kesempatan, aku ngambil sketsa Papa dan aku warnain. Mama marah besar, tapi Papa bilang aku ada bakat ke arah seni gitu. Awalnya aku kira bakatku di melukis, tapi ternyata sampai SMA bakatku nggak berkembang."
"Waktu itu, lagi-lagi Papa jadi oase dan nunjukin ke aku kalau selain diciptakan, seni juga bisa dinilai. Dan di sinilah aku, bermimpi menjadi seorang kurator." Tian mengakhiri penjelasannya sambil terkekeh.
"Aku tidak pernah punya cita-cita." Giliran Meda yang bercerita. "Yang aku tahu, aku cuma harus sukses. Dan di sinilah aku, bekerja sebagai General Manager di sebuah perusahaan multinasional yang bisa dibilang bonafit."
"Dan cita-cita kamu?" Tian mengejar jawaban yang seolah tengah ditutup-tutupi oleh pemuda itu.
"It doesn't matter. Buatku cita-cita itu cuma bagian dari masa kecilku."
Tian sudah hampir menyuarakan pendapatnya, ketika Meda melemparkan pertanyaan berikutnya. Pertanyaan yang lebih random daripada sebelumnya.
"Bulan depan kamu main ke rumahku, ya? Ada acara makan malam keluarga setiap ada yang ulang tahun."
__ADS_1
"Siapa yang ulang tahun?" Tian mencoba menutupi keterkejutannya atas ajakan Meda itu.
"Aku."