
Afgar menatap gagang telepon yang sedang digenggamnya dengan tatapan seperti orang linglung. Berbagai macam perasaan berkecamuk di dadanya sebagai respon dari kejadian yang baru saja dialaminya itu. Mulai dari tak menyangka, bingung, dan lega.
Benar! Lega. Gila, bukan?
Ia bertanya-tanya apakah ini sesuatu yang wajar dirasakan oleh seorang laki-laki saat ditinggalkan oleh kekasihnya. Tentu saja, akal sehatnya menjawab tidak.
Seharusnya Afgar merasa sedih.
Well, Afgar memang merasa sedih. Namun, perasaan itu sedikit sekali. Bahkan kelegaan yang dirasakannya mendominasi suasana hatinya. Beban yang dirasakannya sejak beberapa waktu lalu itu seolah diangkat sepenuhnya dari benaknya.
Sayangnya, Afgar belum berhasil menemukan alasan di balik kelegaannya itu ketika ponselnya berbunyi nyaring menandakan panggilan masuk. Afgar hampir mengabaikannya karena berpikir bahwa paling-paling Hera lah yang menghubunginya lagi. Sepanjang minggu ini, gadis itu memang merecokinya dengan panggilan-panggilan telepon yang sengaja tak diangkat oleh Afgar. Sebab, Afgar sudah menebak apa yang ingin dibicarakan oleh gadis itu dengannya.
Namun, betapa terkejutnya Afgar saat mengintip layar ponselnya dan melihat ayahnya lah yang tengah menghubunginya. Dengan tergesa, ia menekan tombol jawab sambil meminta maaf kepada sosok di seberang telepon yang menjawab ucapannya dengan suara yang sangat dingin.
“Sudah berapa kali Papa peringatkan kamu untuk mengangkat telepon secepat mungkin. Calon pengusaha harus selalu bergerak lincah agar bisa bersaing di dunia bisnis yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang ingin sukses dengan profesi serupa. Termasuk dalam menjawab telepon. Kamu tidak bisa menebak apa saja yang ingin dibicarakan oleh orang yang menelepon kamu, ‘kan?”
Afgar memutar bola matanya. Hatinya ingin menjawab bahwa kalau yang meneleponnya adalah Hera, Afgar bahkan sudah bisa menebak apa kalimat pertama yang akan diucapkan gadis itu kepadanya karena sengaja tak menggubris teleponnya sejak beberapa hari lalu. Namun, tentu saja, ia belum cukup gila untuk mengatakan semua itu. Karenanya ia memutuskan untuk kembali berucap maaf.
“Papa menelepon kamu bukan untuk mendengar kata maaf. Papa ingin mengingatkan agar kamu mengajak Safira ke rumah besok,” jawab sang ayah.
“Safira, Pa?” tanya Afgar.
Bukan karena ia tidak mendengar dengan jelas nama yang baru saja keluar dari bibir ayahnya itu. Ia bahkan dengan segera sudah memikirkan nama itu ketika melihat ayahnya menghubunginya. Bagaimana tidak, jika ayahnya menelepon tepat setelah ia mengakhiri panggilan–juga hubungannya–dengan Safira. Padahal, ia berencana menyusun kata-kata yang tepat sebelum menyampaikan berita itu kepada ayahnya. Sayangnya, sepertinya seisi semesta sedang bekerja sama untuk mengujinya.
“Kamu dengar, Afgar? Bawa Safira ke rumah besok.” Suara ayah Afgar yang mengulang perintahnya dengan tegas membuat pemuda itu mengiyakan buru-buru.
Setelah hubungan telepon terputus, barulah tubuh Afgar merosot ke lantai. Lututnya terasa lemah. Namun, ia terlalu kalut untuk peduli. Yang ada di pikirannya saat ini adalah cara untuk meraih kepercayaan sang ayah dengan cara yang baru agar ayahnya tidak terlalu murka atas kegagalan pertunangannya dengan Safira.
__ADS_1
Ngomong-ngomong soal murka, Afgar tiba-tiba mengingat satu nama lain yang biasanya bisa ia jadikan tameng untuk menghadapi ayahnya itu. Segera setelah memikirkan nama itu, ia bergegas berlari ke luar rumah. Ia melangkah ke luar pagar tanpa membawa mobilnya karena rumah yang ditujunya hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya. Rumah Tian.
Di sisi lain, Tian baru saja memarkirkan mobilnya di garasi. Beberapa menit lalu, ia berkunjung ke rumah Meda untuk menyerahkan mantel yang pernah dibelikannya untuk menemani hari-hari Meda di Paris. Tentu saja, itu hanya alasan. Maksud sebenarnya dari kedatangan Tian adalah untuk mengajak Meda berbaikan secara langsung.
Sayangnya, pemuda itu rupanya belum tiba di rumah saat Tian berkunjung. Akhirnya, setelah beberapa menit menemani Verdita berbincang, Tian kembali pulang.
Gadis itu hendak melangkah memasuki rumahnya ketika ia mendengar sebuah suara memanggil namanya. Ia menengok ke arah sumber suara dan mendapati sosok Afgar yang tengah berdiri di bawah temaram lampu halaman. Tian berbalik menghampirinya karena pemuda itu hanya menatapnya tanpa mengambil langkah mendekat. Betapa terkejutnya dirinya saat melihat air mata menetes dari ujung mata Afgar.
“Afgar. What’s wrong?” tanya Tian sambil mengusap pipi sahabatnya yang basah itu.
“Aku pisah sama Safira, Ti,” jawab Afgar tanpa diminta dua kali.
Mata Tian melebar mendengar itu.
“Pisah? Kenapa? Kapan?” Tian meremas bahu Afgar sambil berusaha menenangkan diri sebelum kembali bersuara. “Afgar, kamu ceritain dengan jelas apa yang terjadi sampai semuanya jadi seperti ini. Karena Safira–dia nggak mungkin–”
“Kenyataannya dia yang mengakhiri pertunangan kami.”
“Tapi, pasti ada alasannya,” tukas Tian.
“Ada. Dan aku bisa bilang alasannya ke kamu sekarang,” balas Afgar sambil mengusap wajahnya. “Dia minta aku memilih antara kamu dan dia.”
“Apa maksudnya itu?” Hati Tian kembali mencelos mendengar namanya ikut dilibatkan dalam permasalahan keduanya. Lagi-lagi.
“Aku juga berpikir pilihan yang diajukan Safira itu sama sekali nggak masuk akal. Karenanya aku sudah menjelaskan posisi kamu sebagai sahabatku dan dia sebagai tunanganku sama dia. Aku tidak bisa memilih,” jawab Afgar.
“Jadi, kamu bilang kamu nggak bisa milih antara aku atau Safira?” Tian menatap Afgar dengan tatapan menyalahkan.
__ADS_1
“Tian. Kamu nggak dengar aku bilang kalau aku sudah menjelaskan posisi kalian berdua di hidupku?”
“Tetap aja, Gar. Kamu harusnya jawab kalau kamu lebih milih Safira. Apa kamu nggak bisa lihat kalau dia cuma mau tahu siapa yang paling kamu prioritaskan?” tanya Tian kesal.
“Diprioritaskan dalam hal apa? Please jangan kasih aku perandaian kalau misalnya aku harus memilih siapa yang akan aku selamatkan kalau kalian berdua sama-sama berada di dalam posisi hidup dan mati. Karena, satu, aku yakin Tuhan tidak akan dengan tiba-tiba melempar kita bertiga dalam skenario semengerikan itu dan kalaupun itu terjadi, aku akan pastikan kalian berdua keluar dengan selamat. Dua, aku butuh alasan yang lebih realistis tentang maksud pertanyaan Safira. Dia mencoba menempatkan kita bertiga dalam posisi seperti apa sehingga meminta aku untuk memilih?”
“Nyatanya dia tidak memberi aku jawaban apa pun sepanjang minggu ini. Lalu, hari ini, ketika aku berniat mengajak dia berbaikan, dia malah meminta untuk mengakhiri pertunangan kami.” Afgar menggeleng kecil setelah mengakhiri penjelasannya.
“Dan kamu mengiyakan saja keputusan Safira itu? Kamu nggak membujuk dia sama sekali?” tanya Tian dengan nada yang seolah menunjukkan bahwa ia sudah yakin dengan pemikirannya sendiri tanpa perlu mendengar jawaban dari Afgar.
“Entahlah, Tian. Aku lelah. Pertama Meda, lalu Safira. Aku muak dengan semua orang yang seolah mencari arti lebih dari hubungan persahabatan kita.” Afgar lalu berniat berjalan pergi.
“Kamu mau ke mana?” tanya Tian sambil menahan lengan Afgar.
“Pulang. Aku lupa kalau aku seharusnya nggak ke sini. Otakku terlalu penuh sampai aku tidak bisa mengingat kalau aku sudah berjanji tidak akan menemui kamu terlebih dahulu kalau hanya akan menimbulkan kesalahpahaman antara kamu dengan Meda,” jawab Afgar sambil menepis pegangan Tian.
“Gar, tunggu. Kita bicara di dalam, ya. Kita pikirin berdua gimana caranya untuk memperbaiki hubungan kamu dengan Safira.” Tian kini berjalan mengitari tubuh Afgar dan berdiri di hadapannya untuk menghadang langkahnya.
“Nggak ada yang perlu diperbaiki, Ti. Aku menyerah. Sekarang biarin aku pergi. Aku nggak mau ada hubungan lain yang rusak gara-gara masalah ini.” Air mata di mata Afgar kembali menetes.
Mata Tian ikut basah melihat ketidak berdayaan sahabatnya itu. Tangannya bergerak otomatis menyentuh puncak kepala Afgar dan mengusapnya lembut. Afgar membalas perlakuan Tian dengan meraih tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya dan menangis di pundaknya. Tian membiarkan Afgar mendekapnya karena kini dirinya juga ikut berlinang air mata.
“Tian?”
Sebuah suara yang sangat familiar menyapa pendengaran Tian membuat gadis itu refleks melepaskan diri dari pelukan Afgar. Ia menoleh cepat ke arah sumber suara dan melihat sosok yang dicarinya beberapa jam lalu itu kini muncul di hadapannya.
“Meda?”
__ADS_1