
Tian sedang asyik membaca sebuah chicklit yang berasal dari salah satu rak buku di perpustakaan ketika sebuah notifikasi dari ponselnya mengalihkan perhatiannya. Sambil berpikir bahwa memang sudah saatnya ia mengistirahatkan matanya, Tian meletakkan pembatas di halaman terakhir yang dibacanya dan melangkah ke lantai satu ruangan itu. Ponsel miliknya sengaja diletakkannya di atas meja sofa agar tidak mengganggu konsentrasinya saat membaca. Sembari menghempaskan tubuh ke permukaan sofa hitam keabuan yang terletak di tengah ruangan, Tian menggeser kunci layar ponselnya dan memeriksa beberapa pemberitahuan yang menumpuk sejak ia memasuki ruangan itu dua jam lalu.
Notifikasi pertama yang dilihatnya adalah ratusan pesan pada grup chat beranggotakan dirinya dan keempat sahabatnya. Semua orang kecuali dirinya sibuk merencanakan sesuatu untuk mengisi waktu liburan kuliah masih tersisa sebulan lagi. Tian sengaja membisukan notifikasi grup yang satu itu karena meskipun ia telah mengatur suara notifikasi dengan nada dering yang paling pelan, dentingan-dentingan akibat kiriman percakapan yang beruntun itu tetap saja terdengar mengganggu.
Notifikasi kedua merupakan pemberitahuan update dari aplikasi yang terpasang di ponselnya. Lalu, notifikasi terakhir adalah pemberitahuan dari akun instagram milik Tian. Tian otomatis tersenyum lebar saat melihat nama akun yang membuat notifikasi itu muncul. Ia buru-buru mengklik pemberitahuan itu dan melihat postingan sampul buku yang ia potret tadi pagi muncul di layar ponselnya. Di bawahnya, terdapat tanda bahwa ada 239 orang yang menyukai postingan tersebut. Namun, angka itu tidak memiliki banyak arti bagi Tian dibandingkan dengan nama salah satu akun yang mengklik tombol suka beberapa saat lalu itu.
AnMed_Harel.
Begitulah Meda menamai semua akun yang dimilikinya, kecuali akun e-mail resminya yang diberi nama sesuai dengan nama lengkap aslinya. Andromeda Harel.
Sudah satu minggu berlalu, sejak ia mengunjungi rumah Meda dan beberapa hari terakhir, Tian memperhatikan bahwa pemuda itu cukup aktif di media sosial dilihat dari seringnya ia memberi like pada postingan-postingan Tian. Juga, dari caranya men-tag akun Tian pada postingan-postingan yang relevan dengan jurusan perkuliahan Tian, postingan berisi konten motivasi, hingga topik-topik yang sedang populer.
Berkat Meda, Tian sedikit update mengenai hal-hal yang sedang tren di sekitarnya. Hal itu sempat membuat keempat sahabatnya terheran-heran, karena itu pertama kalinya mereka tidak perlu memberi "catatan kaki" bagi Tian saat sedang membahas konten-konten viral.
Ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk ketika Tian berniat meletakkannya kembali. Nama Safira muncul di layar ponselnya, membuat Tian berpikir bahwa ada hal penting yang harus dibacanya di grup chat.
"Iya, Fir?" Tian menekan tombol speaker setelah menjawab panggilan tersebut, lalu menggeser tampilan ke halaman utama untuk mengakses grup chat di aplikasi Whatsapp miliknya.
"Buka Whatsapp kamu sekarang!" perintah Safira segera setelah mendengar suara Safira.
"Iya. Ini aku baru mau baca obrolan grup," jawab Tian cepat.
Terdengar suara erangan di seberang telepon. "Bukan obrolan grup, Tian. Cek foto profil Meda!"
"Foto profil Meda?" gumam Tian pelan sebelum kembali ke tampilan awal aplikasi dan mencari kontak Meda.
Sebuah pekikan kecil meluncur dari bibir Tian saat matanya menangkap foto profil pada kontak Meda. Potret yang menghiasi foto profil kontak Meda adalah foto Tian saat berada di Cienfuegos. Dalam foto itu, Tian berdiri di jalanan menuju pelabuhan kota Cienfuegos. Posisi Tian tengah menghadap laut dan memunggungi kamera.
"Aku tahu itu kamu." Suara Safira muncul kembali dan dari nada suaranya, ia tengah mencoba menekankan bahwa tidak ada ruang bagi Tian untuk berkelit.
"Iya. Ini memang aku, tapi aku nggak sadar dia ngambil foto ini waktu di Cienfuegos." Tian menjawab terbata-bata.
Kebingungan masih melingkupinya saat ia mencoba mengingat-ingat keberadaan foto ini di galeri ponselnya yang menjadi alat untuk menjepret hampir semua gambar saat ia dan Meda berada di Cienfuegos. Benar, hampir. Beberapa menit berikutnya, Tian teringat bahwa Meda memang sempat mengeluarkan ponselnya sesekali selama perjalanan itu. Saat Tian meminta Meda untuk sekalian menggunakan ponselnya jika ia ingin memotret sesuatu yang menarik perhatiannya, Meda hanya melempar senyum tipis dan memasukkan ponselnya kembali. Bisa jadi, itulah alasan Tian tidak mengetahui eksistensi foto tersebut.
"Jujur deh, Ti. Kamu nggak diem-diem pacaran sama Meda di Kuba, 'kan?" tuduh Safira.
Tian tertawa kecil. Sebenarnya, ide itu tidak terdengar buruk baginya. Hanya saja, sampai saat ini, ia masih belum bisa mengamini harapan tersebut. Ia masih ingin menikmati masa-masa pendekatan dengan Meda. Jika ia sudah memastikan bahwa pemuda itu tidak akan lagi merubah sikap seperti yang dilakukannya di masa awal perjumpaan mereka, barulah saat itu Tian akan meresmikan hubungannya dengan Meda.
"Belum, Fir. Kamu 'kan tahu kalau semisal ada perkembangan antara aku dan Meda, kamu dan Hera duluan yang akan aku kasih kabar," kata Tian setelah puas tertawa.
"Oke." Safira langsung mempercayai ucapan Tian karena gadis itu memang tidak pernah melanggar janjinya.
Ia kemudian mengundang Hera untuk melakukan panggilan kelompok. Ketiganya melanjutkan pembicaraan mengenai topik di chat grup yang belum dibaca Tian. Rupanya, pembicaraan di grup tak kunjung menemukan tujuan pasti sekalipun telah menghabiskan waktu berhari-hari.
"Ada ide?" tanya Hera frustasi.
"Emang udah ada usulan ke mana aja?" tanya Tian balik.
"Aku sama Safira pengen ke Singapore. Alvin mau diving ke Gili Trawangan. Afgar mau ke Jogja karena katanya banyak event bagus pas awal tahun." Hera menutup penjelasannya dengan dengusan kesal.
"Kok semuanya di luar kota? Kita nggak bisa main di sini-sini aja?" Tian mengernyit tak suka.
__ADS_1
Ia memang sedikit takut untuk bepergian jauh dalam waktu dekat mengingat kepergiannya terakhir kali membuat ia tidak bisa berada di samping keluarganya saat sedang terjadi masalah besar. Safira dan Hera yang tanggap langsung menyadari hal itu. Mereka berencana "memaksa" pasangan masing-masing untuk menyesuaikan arah percakapan sesuai dengan preferensi tujuan yang diinginkan Tian saat topik tersebut diangkat kembali di forum chat grup.
"Gimana kalau kita jalan-jalan ke tempat-tempat yang biasa dibuat outbond?" usul Hera.
"Resort?" tanya Safira, menyebutkan lokasi yang menjadi tempat pilihan dari tim penyelenggara outbond di kampus mereka.
Tentu saja gadis seperti Safira sekalipun cukup cerdas untuk mengetahui bahwa ada lebih banyak destinasi yang bisa dijadikan lokasi outbond selain resort. Hanya saja, Safira sengaja menyebutkan kata "resort" untuk menunjukkan bahwa dirinya hanya akan ikut kalau ke sanalah lokasi yang dituju untuk melakukan kegiatan outbond.
Safira memang sama sekali tidak berminat dengan kegiatan yang melibatkan terlalu banyak gerak fisik. Tentu saja, gym adalah pengecualian. Ketakutannya untuk terlihat outshaped sedikit mengalahkan kemalasannya untuk bergerak. Ia memang tidak dianugerahi tubuh seperti Tian yang sudah curvy dari sananya meskipun tanpa usaha ekstra, atau tubuh Hera yang selalu kurus tak peduli sebanyak apa pun makanan yang dijejalkan ke dalam perutnya.
"Ke bioskop deh. Ambil yang Velvet Class, terus beli semua tiket film yang tayang hari itu." Hera mulai melempar ide asal.
"Nice!" celetuk Safira.
"Apanya yang nice? Itu absurd. Kalau kalian berdua cuma mau pindah tempat buat cuddling, mending diem aja di kamar masing-masing. Nggak usah ke mana-mana." Tian menyahut emosi yang langsung disambut tawa dari kedua sahabatnya.
"Kamu ngamuk karena idenya jelek atau karena nggak ada date?" goda Safira.
"Kan ada Meda?" sahut Hera.
"Yap. Ajak aja." Safira makin mengompori.
"Bye!" Tian menutup perdebatan itu dengan memutuskan sambungan telepon.
Sialnya, isi percakapan di telepon itu melekat di kepala Tian bahkan setelah teleponnya ditutup. Mengingat isi percakapan di telepon barusan, membuat Tian membayangkan seandainya dirinya cukup gila untuk menuruti saran kedua sahabatnya itu agar mengajak Meda ikut serta dalam rencana movie marathon di kelas Velvet. Entah akan jadi seperti apa pandangan yang diberikan pemuda itu kepadanya kalau Tian sampai mengutarakan ide absurd itu. Sekalipun Tian menjelaskan bahwa bukan dirinyalah yang mengusulkan ide itu, tetap saja dirinyalah yang akan dianggap aneh karena menurut saja pada skenario tersebut.
Tepat saat Tian berniat mengakhiri lamunannya, ponselnya berdering lagi. Kali ini nama Meda yang terpampang di sana. Tian buru-buru menekan tombol jawab.
"Aku lagi tiduran," jawab Tian.
"Tidur siang?" tanya Meda lagi
Tian menggeleng. "Nggak. Cuma tiduran. Kamu?"
"Aku baru selesai meeting. Sudah makan siang?"
"Ugh! Jangan basa-basi kayak gitu deh. Untungnya tahu aku sudah makan apa belum buat kamu apa? Emang kalau belum, kamu mau ngajak aku makan." cibir Tian.
"Iya." Meda menyahut cepat.
Tian menghitung sampai angka tiga, menunggu pemuda itu tertawa. Sebab, ia merasa pemuda itu tidak mungkin serius mengajak Tian makan siang pada hari kerjanya yang biasanya sibuk itu.
"Kamu nggak lagi ngerjain aku, 'kan?" Tian bertanya ragu.
"Aku serius. Ini aku lagi jalan ke parkiran." Suara alas sepatu beradu dengan lantai yang bergema di seberang telepon menunjukkan bahwa pemuda itu memang tak sedang berbohong.
"Kenapa?!" Tian memekik panik. "Maksudku kamu nggak tiba-tiba mutusin buat makan siang bareng karena omongan aku tadi, 'kan?"
Terdengar suara tawa Meda di ujung telepon, disusul dengan suara alarm mobil dinonaktifkan. "Kalau aku tidak harus berangkat kerja setiap pagi, aku juga pasti akan berusaha ketemu kamu setiap hari."
Wajah Tian menghangat mendengar penuturan Meda yang tak disangka-sangkanya itu. Saat pertama kali bertemu dengan Meda, tak pernah sedetik pun terlintas di kepala Tian bahwa pemuda itu bisa mengeluarkan kalimat-kalimat gombalan seperti itu. Well, meskipun tentu saja Meda tidak sedang membual dan hal itu membuat Tian teringat bahwa ia harus segera berbenah.
__ADS_1
"Mau makan apa?" Itulah hal pertama yang ditanyakan Meda saat Tian masuk ke dalam Ford Mustangnya.
"Terserah kamu aja," jawab Tian cepat.
"Aku pikir kamu tidak suka basa-basi. Tapi jawaban kamu malah akan bikin kita terlibat dalam percakapan panjang yang basi banget," balas Meda sambil menunjukkan seringai lebar ke arah Tian.
"Percaya deh. Aku sama sekali nggak ada niatan untuk bikin percakapan kita jadi klise dan bertele-tele. Kita nggak punya banyak waktu untuk dihabiskan dengan berdebat karena kamu harus segera balik ke kantor, 'kan?" Tian menunjuk setelan kerja lengkap yang masih melekat di tubuh jangkung Meda. "Aku cuma nggak yakin kamu bisa makan makanan yang mau aku makan ini."
Meda mengernyitkan keningnya. "Memangnya kamu mau makan apa?"
"Soto ayam." Tian menyahut pelan.
"Terus masalahnya di mana?" Meda semakin bingung. Ia mencoba mengingat apakah dirinya pernah berkata bahwa dirinya alergi dengan makanan yang satu itu.
"Tempatnya di pinggir jalan," jawab Tian lagi.
Meda memberinya tatapan datar, meminta Tian untuk melanjutkan penjelasannya sampai tuntas.
"Makannya sambil duduk di kursi plastik. Nggak ada mejanya."
"Dan kamu pikir aku nggak bisa makan di sana karena?" Meda masih belum paham.
"Outfit kamu dan tempat makan kita nggak cocok." Tian menatap Meda seolah yang dikatakannya itu adalah hal paling jelas di dunia.
"Apa kamu punya outfit 'spesial' untuk makan di kaki lima?" tanya Meda lagi.
Tian menggeleng ragu. Bingung dengan maksud pertanyaan Meda.
"Well. Aku juga tidak. Jadi, kita masih boleh makan soto ayam di kaki lima dengan pakaian seperti ini, 'kan?"
Meda kembali bertanya. Kali ini dengan nada menggoda yang sangat kentara dalam suaranya. Tian hanya bisa tertawa kecut sebelum memberi isyarat agar Meda melajukan mobilnya.
"Itu sambalnya tumpah?" Mata Tian melebar melihat cairan kental berwarna merah keoranyean yang memenuhi mangkok milik Meda.
Saat itu, keduanya telah berada di samping gerobak soto ayam langganan Tian. Meda yang mendapatkan pesanannya terlebih dahulu menuangkan sambal sebanyak mungkin ke dalam mangkoknya karena ia sangat menyukai makanan pedas. Tian yang kembali sambil membawa pesanannya sampai menelan ludahnya sendiri. Seolah membayangkan dirinyalah yang harus menghabiskan isi mangkok itu. Meda hanya menyeringai lebar melihat ekspresi gadis itu.
"Kamu ada saran film bagus di bioskop?"
Meda tiba-tiba bertanya di sela suapan mangkok soto keduanya. Hal baru berikutnya yang ia ketahui mengenai Meda adalah tubuh kurusnya tidak berbanding lurus dengan porsi makanan yang mampu dihabiskannya. Tian jadi teringat pada momen saat mereka berada di Viñales dan ketika Meda memesan satu potong ayam bakar utuh untuk dirinya sendiri. Sisa ayam bakar yang tak mampu mereka habiskan saat itu memang dibungkus oleh Meda untuk dibawa kembali ke hotel. Namun, Tian curiga bahwa Meda lah yang menghabiskan semua itu seorang diri alih-alih membaginya dengan Afgar.
Tian sendiri hampir tersedak nasi yang sedang dikunyahnya ketika ia mendengar Meda menyebut kata "bioskop". Mendadak ingatannya kembali pada percakapan antara dirinya dan kedua sahabat perempuannya di telepon.
"Kenapa?" tanya Tian balik setelah memastikan bahwa ia bisa bersuara tanpa menunjukkan ekspresi seolah ia terpergok melakukan kesalahan.
"Aku mau ngajak kamu nonton besok," jawab Meda setelah ia menelan makanan yang dikunyahnya.
"Kenapa tiba-tiba pengen nonton?" Tian masih bertanya penuh kewaspadaan. Mencoba menganalisa kemungkinan bahwa Safira bermain peran untuk menanamkan ide tentang "bioskop" itu di kepala Meda.
"Kamu mau ke tempat lain?" tanya Meda balik. "Aku tidak masalah mau ke mana aja. Asal kita ketemu besok."
"Meda. Kamu nggak malu ngomong sesuatu yang kedengaran persis kayak dialog di script-script sinetron itu?" Tian mencoba mengalihkan perhatian Meda dari wajah tersipunya dengan mengganti topik.
__ADS_1
"Aku cuma tidak mau jaga image dengan tidak mengatakan apa yang harus aku katakan sama kamu." Meda mengangkat bahunya. "Jadi, kamu setuju kalau kita nonton besok, 'kan?"