Les Láches

Les Láches
Couple


__ADS_3

Cahaya keemasan mulai menerobos melalui celah gorden yang menutupi jendela di sisi kiri ruang kamar Tian. Tian bergerak-gerak gelisah di atas ranjang queen size-nya. Namun, bukan karena terusik oleh sinar yang jatuh di wajahnya, melainkan karena tak sedetik pun matanya bisa tertutup selama ia bermalam di salah satu ruangan di vila milik Safira itu. Otaknya terus-terusan memutar kembali pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu kepadanya semalam.


Apa ada yang terjadi di taman bermain?


ADA.


Namun, batin Tian tak kuasa menanggung akibat yang akan ditimbulkannya jika jawaban semacam itu meluncur dari bibirnya. 


Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa penyebab pertengkaran Safira dengan Afgar MUNGKIN bukan karena pernyataan yang disampaikan oleh Elmira, teman dekatnya saat SMA itu. Namun, perasaan bersalah yang bersarang di dadanya karena memutuskan untuk tak membagi cerita tersebut dengan Safira menunjukkan dengan jelas bahwa sebenarnya itulah jawaban yang dicari oleh sahabatnya itu.


Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Tian atas permasalahan itu. Jawaban yang telah diberikannya semalam kepada Safira sudah tak mungkin ditariknya kembali. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya saat ini adalah terus berpura-pura bahwa yang dikatakannya semalam adalah fakta yang ia sendiri percayai.


Tian tak tahan lagi terus-terusan diam di kamarnya. Tak melakukan apa-apa membuatnya sulit mengusir pikiran-pikiran itu di kepalanya. Akhirnya, ia memutuskan keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah dapur. Ia berniat menyibukkan dirinya dengan kegiatan menyiapkan sarapan untuk menjernihkan pikirannya.


Saat memasuki ruangan besar di sisi utara bangunan vila Safira itu, Tian sedikit terkejut saat melihat sosok Alvin yang sedang tertidur di salah satu kursi meja makan. Wajah pemuda itu tertelungkup di atas meja makan dengan kedua lengannya yang saling bertumpuk sebagai tumpuan untuk meletakkan keningnya. Tian hampir mencoba membangunkan pemuda itu kalau ia tidak mengingat betapa susahnya Alvin terlelap. Pemuda itu menderita insomnia yang cukup akut sehingga membuatnya sulit tidur di malam hari dan mengantuk saat semua orang di sekitarnya sibuk beraktivitas.


Mengingat kata insomnia membuat otak Tian otomatis mengasosiasikan Alvin dengan Meda yang juga mengidap gangguan tidur. Tian menghela napas panjang saat mengingat pemuda itu tidak menjawab pesannya kemarin. Tian mencoba berpikir bahwa pemuda itu mungkin tertidur saat menunggu telepon darinya dan mulai memeriksa isi lemari es di dapur. Hal yang pertama dilakukannya setelah memindahkan semua bahan yang dibutuhkannya ke atas counter, yang dilakukannya dengan susah payah karena satu tangannya yang patah, adalah memasak air untuk menyeduh kopi, lalu memanggang beberapa potong roti tawar di atas teflon.


Tian mencoba bergerak dengan suara seminim mungkin agar tidak membangunkan Alvin yang berada tak lebih dari lima meter dari tempatnya berdiri. Namun, sepertinya usahanya itu gagal, kalau bukan karena tubuh Alvin sendiri yang protes karena posisi tidurnya yang jauh dari kata nyaman. Pemuda itu mengangkat kepalanya dengan gerakan cepat dan menatap tajam ke arah Tian berdiri. Segera setelah mengenali sosok yang dipelototinya itu, pemuda itu kembali meletakkan kepalanya di atas meja. Tian sendiri kembali menghembuskan napas yang tak sengaja ditahannya.


“Kopi, Vin?” tawar Tian pada Alvin yang diyakininya tidak akan kembali tidur dalam waktu dekat setelah terbangun.


“Air putih aja, please!” sahut Alvin tanpa mengangkat kepalanya.


Tian menghampirinya dengan segelas penuh air putih setelah mengangkat potongan terakhir rotinya dari teflon. Saat tangannya sibuk memilih beberapa siung bawang merah dan putih –yang untungnya sudah terpisah dari kulitnya– untuk membuat bumbu nasi goreng, Alvin bangkit dari kursinya dan mencomot dua potong roti bakar dari piring di counter. Tian tidak mengatakan apa pun saat pemuda itu melempar cengiran lebar ke arahnya dan kembali duduk. Kali ini di salah satu kursi tinggi di dekat counter.


“Masak apa hari ini, Ti?” tanya Alvin seolah dirinya sedang duduk di sebuah warteg dengan menu makanan yang berbeda-beda setiap harinya.


“Nasi goreng sama telor ceplok.” Tian menjawab singkat.


“Dengan satu tangan gitu?" Alvin berkata takjub.


Alih-alih menjawab, Tian menunjuk ke arah roti bakar dan kopi yang tersaji dalam teko kaca di atas counter. Alvin memandang Tian seolah gadis itu baru saja mengeluarkan seekor merpati dari tangan kanannya yang digips.


"Boleh request, nggak?” tanya pemuda itu setelah mengatasi keterkejutannya.


Tian mengangkat sebelah alisnya. “Tergantung. Memang kamu mau request apa?”


Alvin mulai mengabsen daftar makanan yang terlintas di kepalanya. “Lobster panggang, pancake tuna, steak sapi ...”


“Sekalian aja kamu telepon chef dari rumah kamu ke sini,” sergah Tian sebelum mulai memanaskan wajan.


Tian lalu mengomel bahwa Alvin harus puas dengan makanan apa pun yang tersaji di meja hari ini. Sambil sedikit menyombong tentang kemampuan masaknya yang mungkin tak kalah jauh dengan koki-koki di “istana” Alvin, gadis itu menyelesaikan masakannya dengan cepat. Alvin menanggapi semua celotehan Tian dengan sebuah tawa kecil, tetapi matanya memancarkan kesedihan. Tian yang melihat semua itu langsung menggigit lidahnya. Ia baru ingat bahwa pemuda itu tidak suka dengan fakta bahwa dirinya terlahir di sebuah keluarga yang kaya tujuh turunan. 


Kekayaan keluarga besar Alvin, yang menyandang nama keluarga Petra di belakang namanya itu, sebanding dengan kekayaan keluarga Adler, ayah Tian, kalau ia tak melepaskan nama keluarga beserta hak warisnya demi istri dan putri-putrinya. Jadi, untuk saat ini, bisa dibilang dari kelima sekawan itu, Alvin lah yang sebenarnya paling pantas menyandang gelar anak sultan.


Sekalipun begitu, tak banyak yang bisa menduga bahwa meskipun Alvin terlahir dengan segala kemewahan dan kebutuhan yang selalu terpenuhi, ia memiliki keluarga yang tak harmonis. Keluarga Alvin adalah versi nyata dari potret keluarga-keluarga kaya dalam drama yang terlihat glamor dan bahagia di depan publik, tapi dingin dan penuh keegoisan di belakang layar. 


Itulah mengapa Alvin membenci semua cerita mengenai latar belakang yang dipertontonkan keluarganya pada publik itu. Ia membenci orang-orang yang menilainya beruntung hanya karena sebagian kecil fakta itu saja. Dan Tian sebagai sahabat, yang mengetahui lebih banyak daripada para korban pencucian otak itu, seharusnya tidak menggunakan fakta itu sekalipun hanya dengan niat bercanda.


“Ada sosis sama keju di kulkas. Mau aku buatin pizza?”


Tian menelan ludah canggung sebelum mengatakan satu-satunya kalimat yang dirasanya pantas untuk menjadi permohonan maaf atas sikapnya. Alvin memonyongkan bibirnya sebelum mengangguk lemah. 


“Jangan pedes-pedes.” Alvin berbicara dengan tampang yang masih memelas.

__ADS_1


Tian mengiyakan.


“Kejunya yang banyak.”


Kali ini, Tian mengangkat kepalanya. Raut wajah Alvin kembali memancarkan aura kejenakaan seperti biasa. Membuat Tian sedikit bertanya-tanya apakah tadi Alvin memang sungguh-sungguh sedih atau hanya menjahilinya.


"Oke, tapi kamu yang ngulen," ucap Tian akhirnya.


“Morning.” Safira memasuki dapur setelah semua hidangan untuk sarapan tersaji di atas meja makan.


Wajah gadis itu terlihat segar dan bercahaya berkat pelembab yang dioleskannya segera setelah keluar dari kamar mandi serta lipstik berwarna burgundy yang menghiasi bibir penuhnya.


Hera menyusul di belakangnya beberapa menit kemudian. Bedanya, gadis itu terlihat berantakan dengan rambut kuncir kuda yang diikat sembarangan sehingga beberapa anak rambut terlepas dari jalinannya. Alvin tersenyum lebar melihat wajah kekasihnya itu. Lebih lebar daripada senyuman yang ditunjukkannya setelah berhasil mengerjai Tian dengan akting pura-pura sedihnya beberapa saat lalu.


Tian tidak bisa menyalahkan Alvin. Dengan penampilan seperti itu pun, kecantikan Hera masih tak tertandingi oleh kedua gadis lain di ruangan itu.


Keempat muda-mudi itu makan dalam diam sampai akhirnya Alvin memutuskan untuk memutar musik keras-keras dari ponselnya. Seiring dengan keheningan yang semakin mencair di antara mereka, percakapan akhirnya dimulai.


“Kita pulang nanti sore, ya?” Safira membuka obrolan.


“Kamu sudah baikan sama Afgar?” Tian yang pertama kali menyahut.


Safira menggeleng, tetapi raut wajahnya terlihat bersemangat membuat Tian menerka-nerka kabar baik lain apa yang kiranya lebih membahagiakan bagi Safira dibandingan berbaikan dengan Afgar.


“Aku cuma jadi lebih tercerahkan aja setelah merenungkan semua pertengkaran antara aku sama Afgar semalaman. Aku berpikir mungkin masalah itu asalnya dari kebiasaan aku dan Afgar yang jarang Q-time berdua. Bukannya aku menyalahkan kalian, ya, tapi memang selama ini kita terlalu sering menghabiskan waktu untuk main bareng berlima.” Safira menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya sebelum melanjutkan.


“Jadi, aku punya beberapa rencana untuk memperbaiki kualitas hubungan aku sama Afgar. First of all,” Safira meraih ponselnya, “aku udah telepon dia buat minta maaf.”


Gadis itu kemudian menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan ID kontak Afgar beserta catatan lama panggilan yang mencapai waktu hampir satu jam itu.


“Minta maaf untuk apa?” tanya Alvin sembari mengecilkan volume musik di ponselnya.


Tian yang menyadari arti lirikan mata Safira itu langsung memahami bahwa namanya ikut terseret dalam pertengkaran antara gadis itu dan Afgar. Namun, alih-alih merasa marah, Tian malah merasa bersalah. Entah mengapa, ia merasa bahwa dirinya memang punya andil sebagai penyebab timbulnya masalah di antara kedua sahabatnya itu.


Setelah percakapan itu berakhir, suasana pagi di meja makan itu kembali tenang.


***


Waktu menunjukkan pukul 22.41 saat Tian sampai di rumahnya. Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam sling bag-nya untuk memeriksa pesan dari Meda yang masuk selama ponselnya berada pada mode pesawat. Pemuda itu memang sudah mulai membalas pesan Tian ketika gadis itu memberi tahunya bahwa dirinya akan segera pulang.


Tian baru saja selesai membersihkan tubuhnya saat ia mendengar ponselnya berdering. Hanya saja, dering itu segera terhenti ketika Tian melangkah mendekat. Di layar ponselnya, Tian melihat dua notifikasi panggilan tak terjawab dari Meda. Dengan tergesa-gesa, gadis itu mengganti handuk yang dipakainya dengan satu set piyama bermotif garis-garis putih biru sebelum menekan tombol panggil pada kontak Meda.


“Aku pikir kamu sudah tidur,” ujar Meda setelah membalas salam dari Tian.


“Aku baru selesai bersih-bersih,” balas Tian. “Kenapa belum tidur?”


“Lagi nonton bola sama Ayah.”


“Udah jam 11 lho.” Tian mengingatkan sembari melirik jam di dindingnya yang malah menunjukkan waktu pukul 11 lebih 15 menit.


Terdengar suara gemerisik di ujung telepon yang melatarbelakangi sebuah percakapan singkat di antara Meda dan sosok lain di sebelahnya. Setelah beberapa menit, terdengar suara pintu tertutup.


“Thanks for the warning. Gara-gara ayah nih,” dumel Meda.


Tian tertawa kecil.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Meda bingung.


“Baru kali ini aku dengar kamu ngeluh.”


“Serius?” tanya Meda tak percaya.


Ia memang bukan orang yang suka mengomel, tetapi bukan berarti ia tidak melakukannya sesekali. Di sisi lain, Tian berpikir sejenak sebelum menegaskan penilaiannya bahwa Meda memang belum pernah mengeluh di depan Tian.


“Ya udah. Tidur gih,” suruh Tian saat lagi-lagi matanya melirik jam dinding tanpa sadar.


Terdengar suara Meda yang mengiyakan sambil menguap di seberang telepon.


“Lusa udah mulai masuk kuliah, ya?” tanya Meda lagi saat Tian berencana mengucapkan salam perpisahan untuk mengakhiri sambungan telepon.


“Iya. Buruan tidur!” perintah Tian sekali lagi.


“Kalau kamu sudah masuk kuliah, kita bisa ketemu hari apa saja?” 


Meda masih belum ingin mengakhiri pembicaraan. Saat otaknya sadar bahwa percakapan akan segera berakhir, berbagai macam pertanyaan malah muncul di kepalanya.


“Kapan aja kalau kamu dan aku lagi sama-sama nggak sibuk,” balas Tian cepat, seolah berada dalam posisi siaga untuk menjawab pertanyaan lainnya dari Meda.


“Kalau aku mau makan masakan kamu?”


Tian mendenguskan tawanya. “Kamu boleh dateng ke rumah pagi-pagi untuk sarapan setiap hari.”


“Kalau aku ingin kita pacaran?”


Tian tersedak dalam usahanya untuk mengendalikan napas yang sedang diambilnya sebelum bersiap menjawab pertanyaan Meda yang tak disangka-sangkanya itu. Perlahan, tapi pasti, Tian bisa merasakan wajahnya menghangat.


“Nanti,” jawab Tian akhirnya.


“Kapan? Kasih tahu aku jawaban yang pasti, Tian,” tuntut Meda.


“Aku juga suka sama kamu. Itu jawaban yang pasti.”


“Kalau begitu kita mulai pacaran sekarang?”


Tian tidak menjawab.


“Oke?” tuntut Meda lagi.


“Just go to bed, Med,” kata Tian yang masih menolak menjawab.


“Fine. Kamu tidak perlu menjawab, tapi kamu juga tidak boleh mengelak kalau aku mengaku sebagai pacar kamu.”


“Memang kamu mau pamer sama siapa?” tanya Tian sambil tertawa geli mendengar kengototan pemuda itu.


“Orang tua aku, orang tua kamu, temen-temen kuliah kamu, Afgar.”


Keduanya sama-sama terdiam setelah nama terakhir itu muncul. Tian sendiri diam-diam tersenyum pahit. Sekeras apa pun usahanya untuk menjelaskan pada Meda, pemuda itu masih menarik garis yang berhubungan antara dirinya dan Afgar.


“Pokoknya ini hari pertama kita pacaran. Mulai sekarang, jangan ngasih nomor kamu sembarangan ke laki-laki lain!” Meda kembali menegaskan status baru hubungan di antara keduanya sebelum mengucapkan salam untuk mengakhiri sambungan telepon.


Sepanjang malam itu, Tian hampir tidak bisa tidur. Hatinya sedikit dilanda kecemasan saat lagi-lagi nama Afgar disebut di depannya. Setelah insiden di taman bermain itu, perasaannya pada Afgar tidak bisa ia jelaskan. Yang pasti ia selalu merasa was-was dan tak tenang saat mendengar nama sahabatnya sejak kecil itu. Namun, semua kecemasan itu hanya mengisi sebagian kecil waktu terjaganya, sedangkan sisa waktu lainnya ia habiskan untuk mengingat fakta baru tentang hubungannya dengan Meda.

__ADS_1


Tian sama sekali tidak merasa marah meskipun Meda “memaksanya” untuk menerima perasaannya. Ia malah merasa senang dan lega karena pemuda itu begitu bertekadnya untuk meresmikan hubungannya dengan Tian. Ia hampir yakin kalau dirinya terlihat seperti orang gila karena berulang kali tertawa sendiri saat mengingat pesan yang diberikan oleh Meda, pemuda yang kini kekasihnya itu, sebelum menutup teleponnya.


Esoknya, Tian bangun kesiangan dan hampir melewatkan waktu subuh berkat terlalu lama terjaga semalaman. Suara ketukan, gedoran tepatnya, yang dilakukan Joan pada pintu kamarnya menjadi alarm ketiga sekaligus terakhir yang menyadarkannya dari mimpi indah yang tak bisa diingatnya bahkan setelah sepenuhnya terjaga.


__ADS_2