Les Láches

Les Láches
..., but I Love You


__ADS_3

Safira mendengarkan suara-suara yang mengalir dari speaker ponselnya sembari mengawasi Tian yang berjalan-jalan di tanjung pantai Varadero. Di seberang telepon, Alvin sedang berbicara dengan Hera, membujuknya agar mengurungkan niatnya kembali ke Havana.


Setelah mendengar masalah yang menimpa Tian dari Safira, Hera memang langsung berniat menemui sahabatnya itu. Safira sudah menduga bahwa Hera akan bertingkah sedemikian rupa mengingat gadis itu sangat menyayangi Tian. Karena itulah, ia tidak ingin menyimpan kabar itu lebih lama lagi dari Hera meskipun mengetahui risikonya. Ia hanya berharap kalau Alvin bisa diandalkan untuk menenangkan Hera dan meyakinkannya kalau keadaan Tian sudah jauh lebih baik. Beruntung, pertaruhannya berhasil.


Beberapa menit berlalu sejak kedua sejoli itu berdebat di seberang telepon sampai kemudian suara Alvin kembali muncul di speaker.


"Hera udah tenang, tapi dia mau telepon Tian nanti malam." Alvin terdengar kelelahan.


Berdebat dengan Hera memang bukan kegiatan yang sering dilakukannya. Biasanya, ia selalu menuruti kemauan kekasihnya itu tanpa menawar. Hanya saja, kali ini ia sepakat dengan Safira kalau kepulangan Hera ke Havana tidak akan memberi dampak yang berarti bagi keadaan Tian. Malah mungkin akan membuat Tian semakin merasa bersalah karena berpikir bahwa dirinya telah merusak rencana liburan sahabat-sahabatnya.


"Oke. Aku akan kasih tahu Hera kalau Tian udah di penginapan," balas Safira.


Alvin menghela napas. "Kalau Tian tahu kamu ngabarin Hera ...."


"Aku tahu kalau Tian bakalan marah. Secara enggak langsung aku udah bilang ke Tian kalau aku enggak akan ngasih tahu tentang masalah dia ke Hera asalkan dia mau ikut aku ke Varadero. Tapi, aku enggak bisa nyembunyiin ini dari Hera atau bahkan maksa Hera untuk enggak khawatir sama keadaan Tian. Jadi, kalau mereka berdua mau marah ke aku, ya ... That's it." Safira tertawa pahit.


Terdengar suara berisik di seberang telepon.


"Aku enggak marah sama kamu, Fir. Aku cuma kesel karena enggak ada yang cepet-cepet ngasih tahu aku soal masalah ini." Suara Hera terdengar masih sedikit emosional, tetapi Safira bisa merasakan bahwa gadis itu mencoba mengendalikannya. "Aku rnggak mau kalian berpikir kalau liburanku lebih penting daripada masalah kalian."


"Iya. Aku ngerti. Maaf ya, Sweetheart," balas Safira.


"Ada masalah?" Afgar yang baru kembali dari kedai minuman menatap wajah kekasihnya itu khawatir.


Safira memang sedang memikirkan banyak hal usai mengakhiri teleponnya dengan Hera beberapa menit yang lalu. Ia memikirkan banyak hal yang pasti akan berubah setelah mereka kembali ke Indonesia. Sikap Tian karena masalah keluarganya, hubungan Tian dengan Meda, bahkan hubungannya dengan Afgar. Ia tidak bisa memungkiri, ada banyak kekhawatiran yang melintas di kepalanya setelah perdebatan kecil antara dirinya dan Afgar semalam. Ia tidak yakin apakah firasatnya kali ini benar atau hanya efek keparanoidan berlebihan. Yang terpenting, ia sudah bertekad untuk memastikan tidak akan ada yang terluka di masa depan karena keputusannya.


"Nggak ada apa-apa, Gar. Aku tadi cuma mikirin Tian habis ngobrol sama Hera," jawab Safira akhirnya.


Afgar mengangguk kecil. "Hera ngomong apa aja?"


"Dia cuma mau nelepon Tian nanti malam kalau kita semua udah di penginapan."


Mata Safira kembali mencari-cari sosok Tian yang sempat menghilang dari jarak pandangnya saat ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia menemukan gadis itu berjongkok sendirian di tepi pantai. Beberapa kali gelombang ombak yang sampai di pesisir memainkan ujung-ujung rok panjangnya. Namun, Tian yang sepertinya juga tengah melamunkan sesuatu, mengabaikan hal itu.


Tian memang tengah memikirkan keadaan keluarganya. Sejak keberangkatannya ke Varadero, ia beberapa kali mencoba menghubungi ayah dan ibunya. Namun, semua panggilan itu tersambung ke kotak suara. Ia menduga, pesawat yang dinaiki oleh keluarganya belum mencapai bandar udara tujuan. Tian bukannya tidak mencoba memikirkan hal lain untuk mengontrol kegelisahan hatinya. Hanya saja, hal kedua yang menghantui benaknya pun tak membuatnya merasa jauh lebih baik, pikiran tentang Meda.


Sebuah bola voli yang menggelinding di dekat kakinya membuat Tian tersadar bahwa dia masih berada di tengah keramaian. Matahari sudah cukup tinggi, saat ia mencoba bangkit dari posisi duduknya. Spontan gadis itu mengangkat salah satu tangan untuk melindungi matanya dari silau, saat mencoba mencari arah datangnya bola.


"Hi! Could you hand me the ball?" Seorang pemuda berambut cokelat pekat menghampirinya sambil mengangsurkan kedua tangannya.


"Yeah," gumam Tian sembari melempar benda di tangannya ke arah pemuda itu.


"And your phone number, please," tambah pemuda itu saat ia berdiri di jarak sekitar 2 meter dari tempat Tian berada.

__ADS_1


"Pardon." Tian mengernyitkan dahi.


"Well, I've been watching you since an hours ago and I think you're here by yourself. So, I decide I can try to talk to you, since we're both strangers here," jelas pemuda itu.


Tian mengamati penampilan pemuda itu yang memang tidak terlihat seperti penduduk lokal. Di samping itu, kalau diperhatikan dengan lebih seksama, ia terlihat memiliki struktur wajah orang-orang dari daratan Asia meskipun dengan manik mata berwarna hijau terang alih-alih gelap seperti orang Asia kebanyakan.


"Right. My name is Sora. How about you?" Pemuda itu mengangsurkan tangannya.


Tian menjabat tangan hangat Sora sambil menyebutkan nama dan asalnya. Pemuda itu mengerutkan keningnya.


"I thought you also come from Japan or at least inherit Japanese blood. I mean you look like one of us." Pemuda itu menunjuk sekelompok muda-mudi yang mengawasinya dari sebuah titik di tepi pantai.


"Is there any problem here?"


Sebuah suara yang muncul dari belakang tubuh Tian membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dari Sora. Terlihat Meda berjalan ke arahnya sambil menggotong sebuah papan seluncur. Tian tidak bisa menahan matanya untuk tidak memelototi semua inci bagian tubuh pemuda itu yang terbalut dengan atasan surfing dan aquashort ketat. Ia tak menyangka Meda yang terlihat kurus ternyata memiliki sixpack seperti halnya Afgar dan Alvin, dua orang yang memang sama-sama penggila gym.


"Kamu ada masalah sama dia?" Pertanyaan Meda itu membuat Tian kembali tersadar dari lamunannya.


"Enggak. Kami malah baru kenalan," jelas Tian dengan nada suara dingin sebelum berbalik menatap Sora yang masih berdiri di dekatnya, tetapi dengan ekspresi yang berbeda.


"I'm sorry. Yeah, my grandfather is a Japanese, so I'm a quarter Japanese," ujar Tian pada Sora. "And he's my friend ...."


"Aku tidak minta kamu mengenalkan aku ke bocah ini." Meda mencoba memotong sebelum Tian menyebutkan namanya.


Sora sendiri merasa memiliki sedikit harapan saat mendengar bahwa pemuda di samping Tian hanyalah seorang teman. Namun, ketika ia melihat pemuda itu semakin menunjukkan aura permusuhan kepadanya, yang terlintas di kepalanya adalah kabur dari hadapan Tian secepat mungkin. Seolah ia tidak pernah berdiri di depan gadis itu dan mencoba meminta nomor teleponnya.


Meda yang melihat bahwa pemuda bernama Sora itu sudah kehilangan semangat tempur, meraih pergelangan tangan Tian.


"Well, if you have no further issues with my girl-friend," Meda sengaja memberi jeda yang penuh arti di dua kata terakhir, "let us excuse ourselves."


Meda tidak menunggu sampai pemuda itu menyahut saat menarik Tian menjauh. Tian terburu-buru memberi salam ke arah Sora sebelum mengikuti langkah-langkah panjang Meda. Pemuda itu baru berhenti berjalan saat keduanya berada di ujung pantai yang sepi. Ia menatap Tian yang juga tengah memandanginya dengan ekspresi dingin.


"Apa maksud tatapan mata kamu itu?" tanya Meda dengan ekspresi datar.


"Apa maksud kamu tiba-tiba memotong pembicaraan aku dengan orang lain?" Tian balas melempar pertanyaan.


"Pembicaraan apa? Dia jelas-jelas sedang mencoba mendekati kamu," dengus Meda.


"Terus di mana letak kesalahannya?" Tian masih memberinya tatapan dingin.


"Kamu masih minta aku untuk jelasin di mana salahnya?" Meda mengusap wajahnya. "Kamu tidak kenal sama dia."


"Karena itu kami kenalan," tukas Tian cepat.

__ADS_1


"Kamu bisa tahu dia jahat atau baik dengan perkenalan sesingkat itu?"


"Ini bukan soal berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk mengenal seseorang, melainkan standar benar dan salah yang kamu pakai untuk menilai orang itu. Mau kamu kenal dia berapa lama pun, kalau mindset kamu soal dia sudah jelek, ya that's it!" Tian tersenyum penuh arti pada Meda.


"Aku tidak pernah memberi kamu penilaian jelek, Tian."


"You sure about that? Karena terakhir kali kita bicara, kamu bahkan sudah menunjukkan itu dengan sangat eksplisitnya." Tian tertawa sinis.


"Cukup! Aku cuma mau melindungi kamu dari suatu bahaya yang mungkin kamu sepelekan." Meda meninggikan suaranya.


"Cukup? Oke." Tian berniat berjalan menjauh, tetapi Meda menahan lengannya.


"Kenapa sih kamu tiba-tiba mengaitkan semua pembicaraan ini dengan masalah kemarin?"


"Cuma kamu di sini yang nggak mau mengakui kalau semua ini berkaitan dengan masalah kemarin. Bahkan, masalah di hari pertama kita ketemu. Cuma kamu di sini yang nggak sadar betapa twisted-nya pola berpikir kamu itu!" bentak Tian.


"Aku yang seharusnya bilang cukup di sini, Meda. Aku seharusnya nggak mencoba terus-terusan memahami kamu dan memberi kamu kesempatan. Apa yang aku harapkan? Seorang Meda bener-bener bisa mengatasi traumanya berkat aku? Itu utopis. Kamu sendiri nggak berusaha mencari di mana letak permasalahan kamu. Enggak," Tian menggeleng pelan, "lebih tepatnya, kamu menutup mata dan nggak mau mengakui bahwa di situlah letak permasalahan kamu."


Usai mengatakan itu, Tian benar-benar melangkah menjauh. Kali ini, Meda tidak memiliki cukup keberanian untuk menahan kepergiannya. Tian benar-benar menunjukkan betapa emosi sesaat Meda telah menimbulkan luka yang mendalam di hatinya. Sekali lagi saja pemuda itu salah mengambil langkah, maka hubungannya dengan gadis itu tidak akan pernah pulih.


Ini kali pertama Meda ragu menentukan pilihan. Lebih tepatnya, takut akan resiko yang terjadi jika ia sampai salah mengambil keputusan. Semua karena Tian. Padahal, ia sendiri sudah berkali-kali memantapkan niat untuk menjauhi gadis yang baru dikenalnya selama beberapa hari itu. Namun, ketika tinggal sedikit lagi usaha yang diperlukan untuk mewujudkan hal itu, hatinya selalu mencoba kembali menggapai gadis itu ke dalam genggamannya.


Selama sisa hari itu, Meda menghilang. Safira yang mulai kebingungan karena tidak melihat sosoknya di jam makan malam, berulang kali mencoba menghubungi ponsel Meda sebelum Tian mengingatkan bahwa ponsel Meda tidak aktif selama berada di negeri itu. Pemuda itu memang tidak berniat menghubungi atau menerima telepon dari siapa pun selama di Kuba. Untuk menghubungi keluarganya saja, ia memanfaatkan layanan wi-fi hotel dan mengirim pesan melalui e-mail.


Afgar yang mencuri dengar ucapan Tian saat mengingatkan Safira itu, tersenyum dalam hati. Bersyukur karena sepertinya gadis itu tidak terpengaruh atas kabar menghilangnya Meda. Yang tidak diketahui Afgar adalah, hati Tian sebenarnya sedang sangat kalut. Gadis itu merasa pertengkaran antara dirinya dan Meda lah yang membuat pemuda itu tidak menampakkan diri hingga hampir tengah malam.


Ia mencoba menyangkal pemikirannya itu dengan fakta bahwa Meda adalah pemuda keras kepala yang tidak akan membiarkan pendapat siapa pun menggoyahkan prinsipnya. Namun, ketika percakapan berjam-jam di telepon dengan Hera dan Alvin bahkan tidak membuat gadis itu melupakan kemungkinan bahwa dirinya adalah penyebab utama Meda tidak mau kembali ke penginapan, gadis itu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju teras resort yang anehnya masih ramai dipadati tamu.


Tian merapatkan kardigan oversize hitam di sekeliling tubuhnya ketika ia duduk pada sebuah sofa di sudut lobi. Ia menggigil. Bukan karena kedinginan, melainkan karena tatapan mata beberapa pria yang melintas di sekitar lobi itu seolah tengah mencoba menelan dirinya mentah-mentah. Kalau bukan karena mencemaskan Meda, ia tidak akan melakukan hal senekat itu. Kendati sama-sama memilih penginapan dengan fasilitas terbaik, kualitas penginapan yang berhasil mereka sewa kali ini berada beberapa tingkat di bawah kualitas hotel mereka sebelumnya, terutama di bidang keamanan. Hanya ada seorang penjaga yang berdiri di depan pintu penginapan. Jumlah yang jauh dari kata memadai bila tiba-tiba terjadi kericuhan massal di lobi penginapan tersebut.


Tian kembali menyembunyikan kepala dalam-dalam di balik majalah yang pura-pura dibacanya ketika seorang pria setengah baya terlihat berjalan mendekat sambil terus-terusan meliriknya. Namun, tampaknya, kali ini usaha itu tidak berhasil membuat laki-laki itu menjauh. Tian sudah hampir berlari kembali ke arah kamarnya dan melupakan niatnya untuk menunggu Meda ketika sebuah tangan menangkap lengannya, membuat langkahnya tertahan.


"Tian?" Suara yang dikenalinya itu membuat Tian membatalkan niat untuk berteriak.


"Kenapa kamu di sini?" Meda menatapnya bingung.


"Kamu yang kenapa jam segini masih di luar?" Tian menggeram gemas sembari memukul dada Meda.


Pemuda itu masih menggunakan pakaian yang tadi siang dikenakannya. Mata pemuda itu sayu tanda kelelahan dan bibirnya terlihat pucat serta mengering. Tangan Tian bergerak sendiri ke arah kening Meda. Tepat seperti dugaannya, pemuda itu terserang demam.


Tian sudah siap mengomel. Namun, saat ingatan pertengkaran tadi siang kembali memenuhi kepalanya, ia menelan kembali semua kata-kata itu sembari menjauhkan diri dari jangkauan Meda.


"Ayo balik ke kamar," Tian sudah berbalik ketika sepasang lengan Meda melingkar di tubuhnya, menahannya untuk bergerak lebih jauh.

__ADS_1


"Maafin aku, Tian. This might sound crazy enough, but I think, I love you."


__ADS_2