
"Filippo Marinetti pasti sedih banget kalau tahu orang kayak Farah dapet nilai tertinggi di kelas estetika!" Tian duduk di salah satu kursi kantin sambil menggerutu.
Keempat sahabatnya yang sudah lebih dulu duduk di sana memandangnya bingung.
"Philip siapa?" tanya Hera.
"Filippo Marinetti," ulang Tian sabar.
"Siapa tuh?" tanya Hera lagi.
Gadis itu menjadi satu-satunya orang yang mendengarkan keluhan Tian. Safira sendiri kembali asyik berkutat dengan laptopnya setelah melambai singkat ke arah Tian, Afgar yang duduk di sebelahnya bergeming. Pemuda itu terlihat enggan melepaskan apa pun yang dilihatnya di layar laptop milik Safira. Tian sendiri memilih tak peduli dan kembali menatap Hera.
"Bapak aliran futurisme."
Hera menatap Tian dengan tatapan yang kurang lebih berarti "apakah aku seharusnya tahu?".
"Memang menurut kamu kenapa Farah nggak boleh dapet nilai tertinggi?"
Kali ini Alvin yang bertanya. Hanya saja mata pemuda itu tak beralih dari layar ponsel seolah ia tak benar-benar bertanya karena ingin tahu. Sekalipun begitu, Tian tetap menjawab pertanyaan itu karena kekesalan yang ingin dilampiaskannya.
"Dia nggak paham estetika ekspresivis, makanya bisa seenaknya mengkritik aliran futuris..."
"Ngomongnya bisa pakai bahasa Indonesia aja nggak, Ti?" celetuk Hera lagi.
Tian mengeluarkan suara yang mirip rengekan, membuat Safira dan Afgar yang hanya mendengarkan sambil lalu ikut tertawa bersama Hera.
"Estetika ekspresivis itu cara menilai keindahan dari dalam sebuah karya. Dari emosi yang coba diekspresikan oleh pelukis. Bukan berdasarkan keindahan realisasi eksternal. Aku udah pernah nunjukin kalian contoh lukisan naturalisme, 'kan?"
Tian tanpa sadar menggunakan kata "kalian" meskipun hanya Hera yang menyimak penjelasannya baik-baik.
"Gambar pohon, gunung, pemandangan alam. Itu 'kan?" sahut Hera.
"Nah! Itu keindahan berdasarkan realisasi eksternal. Konsep estetikanya mimesis. Nah si Farah ini penganut garis keras Teori Plato yang satu itu, yang cuma mau tahu kalau lukisan yang realistis itulah yang indah. Aliran kayak ekspresionis, fauvis, surealis, sampai futuris udah jelas termarjinalkan," jelas Tian menggebu-gebu.
"Ya ampun udah kali, Ti. Materi di kelas nggak usah di bawa-bawa ke meja kantin. Nggak terima banget kayanya kalau esaiku dapat nilai lebih bagus." Tiba-tiba saja, Farah sudah berada di dekat meja yang ditempati Tian bersama beberapa orang gadis yang dikenali Tian berasal dari fakultas yang berbeda.
"Oke esaimu lebih padat dan kontekstual daripada punyaku, tapi tetap aja pendapatmu itu menyudutkan aliran lain. Dan jangan pikir aku nggak tahu kenapa tema esaimu isinya membela banget aliran realis. Kamu tahu tesis Pak Yowen pakai tema yang sama, 'kan?" sahut Tian tak terima.
"Jadi, kamu mau bilang Pak Yowen nggak objektif?" Farah pura-pura memasang ekspresi tak menyangka.
"Kamu yang nggak sportif."
"Kalau 'riset'-ku dibilang nggak sportif, terus apa yang sportif? Proposal pameranmu yang disponsori sama nama besar papa mama kamu?" cibir Farah.
"Jadi, itu alasan kamu mati-matian cari muka di depan Pak Yowen? Karena kamu pikir aku pernah dengan sengaja bikin proposalmu ditolak sama beliau?" Tian menghela napas lelah. "Berapa kali sih aku harus bilang kalau proposalmu ditolak karena lukisan di list kamu itu kurang variatif?"
"Daftar lukisan itu bisa dirombak, tapi proposal anak konglomerat yang orang tuanya ikut campur jelas membuat proposalku dieliminasi sebelum revisi."
__ADS_1
"Dirombak? Dalam kurun waktu satu minggu? Kamu pikir lobbying pelukis untuk mempercayakan lukisannya ke kamu itu sama kayak kalau kamu meminjam penghapus ke teman kamu? Dikasih begitu aja?"
Tian menggeleng heran. Tak habis pikir dengan mekanisme kerja otak teman sekelasnya itu.
"Anak konglomerat kayak kamu ngerti apa sih soal teknik negosiasi. Paling-paling daftar lukisan di proposal kamu itu juga dicariin mama papa kamu," dengus Farah.
"Anak konglomerat melulu yang disebut dari tadi." Hera yang sejak tadi menahan diri untuk tidak memperpanas situasi akhirnya ikut menyahut.
"Sentimen," komentar Alvin.
"Contoh manusia tolol yang tutup mata sama fakta." Afgar menggeleng pelan.
Tian hampir tersenyum mendengar sahabat-sahabatnya bangkit bersamaan untuk membelanya. Sayangnya, rekan-rekan Farah di sisi lain juga tak terima melihat temannya itu dikeroyok.
"Kalian kalau nggak tahu apa-apa soal konten obrolan mereka berdua nggak usah ikut campur deh!" omel salah seorang gadis yang memakai blouse bergaris hitam putih.
"Eh. Temen Mbak itu yang udik! Nggak perlu orang jurusan seni rupa buat tahu kalau negosiasi itu nggak bisa diwakili sama pihak yang nggak punya pengetahuan mendalam soal seni lukisan. Mama papanya Tian itu bidangnya arsitektur, bukan pelukis. Kalau yang dipamerin itu sketsa lanskap baru wajar kalau dia nuduh Tian nge-cheat." Omelan Safira terputus dengan suara tawa Alvin saat gadis itu menggunakan istilah yang sering dikumandangkannya saat kalah bermain game. "Nah, ini lukisan. Seperti yang Tian bilang, prosedurnya nggak kayak minjem penghapus yang nggak balik nggak apa-apa."
"Halooo, Mbak! Yang digarisbawahi di sini itu sponsorship-nya. Kalau bukan karena koneksi yang satu itu, nggak mungkin proposal dia bisa ngalahin proposal Farah." Teman semeja Farah itu masih ngotot membela gadis itu.
"HAHA. Tadi katanya daftar lukisan yang dikira pakai jalur belakang. Sekarang ganti sponsorship yang dibahas. Ya udah ayo kita bahas sponsorship." Kali ini, Hera yang menyahut. "Kamu menyangkutpautkan sponsorship di proposal Tian dengan koneksi karena apa? Perusahaan papanya Tian ikut mendanai? Ribut banget perkara siapa yang mendanai. Padahal, proposal pameran kalian itu bisa tetep dieksekusi meskipun tanpa sponsor. Kamu menerapkan sistem HTM, kan? Dari situ aja udah dapet dana. Kamu salah kalau mengira Tian yang diuntungkan dengan dana sponsor yang nggak seberapa itu dibandingin popularitas yang didapat sama pihak yang ngasih sponsor. Yang untung besar ya korporasinya itu. Kalau Tian kecipratan popularitas itu karena konten proposalnya bisa direalisasikan dan hasilnya memuaskan. Nggak ada hubungannya sama sekali dengan sponsorship."
"Anak Fakultas apa sih? Belog sajan!" maki Safira.
"Fir!" tegur Tian dan Afgar bersamaan.
***
"Sudah, Om. Sejak kuliah semester akhir," jawab Meda singkat sambil duduk memangku Marcela.
Sejak Meda tiba dan menawarkan Adler untuk bergantian menggendong Marcela, balita perempuan itu langsung menempel pada Meda. Ia bahkan meronta hebat saat Adler mencoba untuk mengambilnya kembali. Lidia dan Joan juga ikut terpengaruh pesona pemuda itu. Lidia yang biasanya pendiam di depan orang asing terlihat banyak berbincang dengan Meda yang berkata pernah mengikuti klub astronomi di kampusnya. Pemuda itu berkomentar begitu karena Tian pernah bercerita bahwa Lidia adalah anak yang cerdas dan sangat menyukai ilmu perbintangan. Cita-citanya adalah menjadi seorang peneliti atmosfer dan luar angkasa. Cita-cita yang mungkin tidak akan siapa pun dengar keluar dari bibir seorang gadis belia yang bahkan belum mencicipi bangku SMP.
Joan sendiri yang biasanya super aktif mendadak tenang sejak melihat wajah super tampan Meda yang membuatnya teringat dengan oppa-oppa yang menjadi member boyband Korea idolanya. Adler hanya bisa menghela napas pasrah melihat keempat putrinya lebih memilih Meda daripada dirinya. Laki-laki itu melempar pandang ke arah Bella saat istrinya itu kembali dari dapur, hanya Bella lah satu-satunya perempuan di rumah ini yang tidak terpikat oleh Meda. Namun, harapannya itu pupus ketika senyuman sumringah di wajah perempuan itu malah ditujukan kepada Meda. Sambil membawa sekotak puding cokelat buatannya, Bella duduk berseberangan dengan pemuda itu.
"Bawa pulang, ya. Tante memang nggak sejago Tian kalau soal urusan masak, tapi Tante yakin rasa pudingnya nggak akan sampe bikin orang rumah kamu masuk rumah sakit." Pesan Bella tanpa kehilangan senyum lebarnya, membuat keringat dingin merembes dari punggung Meda.
"Ish! Mama. Amit-amit eh ngomongnya. Nggak boleh gitu sama makanan. Kalau masakan Mama bermasalah mana mungkin Joan bisa sampe segede ini."
Tian muncul berikutnya dari arah dapur. Ia mengerling sejenak ke arah Meda sebelum berjalan ke samping Adler. Niat awal gadis itu adalah untuk berpamitan pada ayahnya itu. Namun, sebuah kepalan dari buku-buku jemari tangan Joan menghantam lengan atasnya dan membuat Tian mengaduh kesakitan.
"Joan! Kamu nggak lihat tangan Kak Tian itu masih ada gipsnya? Main tinju aja kayak anak cowok. Minta maaf sama Kakak!" Marah Bella sambil berkacak pinggang.
Wajah malaikat milik perempuan itu digantikan dengan kemurkaan yang tak main-main. Joan yang paling preman dan sulit diatur dibandingkan ketiga saudarinya yang lain sekalipun langsung menciut nyalinya dan meminta maaf kepada Tian. Ia bahkan turun dari kursinya untuk bersembunyi di balik tubuh Tian. Gadis kecil itu tahu benar kalau ibunya tidak akan menunjukkan ekspresi seperti itu saat menatap kakak sulungnya.
"Kak Tian juga minta maaf sama Joan dong," suruh Adler.
Ia dan Bella memang terbiasa menggunakan cara seperti itu untuk mendamaikan pertengkaran-pertengkaran kecil di antara keempat putri mereka. Mereka akan memarahi satu pihak yang bersalah, tetapi selalu membiasakan kedua belah pihak untuk saling bertukar maaf.
__ADS_1
"Tidak ada pertengkaran yang tidak melibatkan dua belah pihak yang sama-sama bersalah."
Begitu prinsip yang Adler tanamkan kepada keempat putrinya. Sehingga, yang bersalah akan berpikir dua kali sebelum melakukan kesalahan. Sedangkan yang lainnya bukannya serta merta merasa puas karena saudarinya dimarahi, melainkan harus menanggung perannya sebagai pemicu perkelahian.
"Iya. Kakak minta maaf juga ya, Jo," kata Tian sambil mengulum senyum tipis.
Bukan karena tidak rela harus ikut disalahkan, melainkan karena pukulan Joan masih menyisakan nyeri di lengannya. Adler yang menyadari penderitaan Tian itu hanya bisa bangkit dan membantu menggosok lengan putri sulungnya itu untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Masih sakit?" tanya Meda saat keduanya sudah berada di dalam Mustang miliknya.
Tian meraba-raba lengan kanannya itu sebelum menggeleng.
"Tadi kelasnya kenapa tiba-tiba diundur jadi siang? Baru juga hari pertama masuk kuliah." Meda bertanya lagi.
Hati Tian mencelos. Ia sudah beberapa kali berdoa dalam hati agar Meda tidak menanyakan perihal kebohongannya tersebut. Sebab, tentu saja, hal itu akan membuat Tian mengucapkan kebohongan lainnya. Tian mencoba memutar cara agar tidak sampai mengeluarkan kata-kata bohong. Karena itu, ia hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya.
"Aku sih seneng aja karena bisa ngerasain libur sedikit lebih lama." Tian menggigit bibirnya, dalam hati memaki dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga lidahnya dan pada akhirnya tetap saja menambah kebohongan.
Untungnya, Meda tak membahas topik itu lebih jauh. Tangan pemuda itu bergerak untuk menyalakan radionya. Alunan musik lembut memenuhi pendengaran keduanya. Awalnya Tian berniat diam untuk mendengarkan suara Meda yang perlahan mulai berpadu dengan suara penyanyi tersebut. Namun, lama-kelamaan lirik dan musik yang didengarnya itu semakin terasa familiar. Saat Meda akhirnya menatap dirinya sambil melempar senyum penuh arti, barulah Tian mengingat tempat ia pernah mendengar lagu itu.
"Jadi ingat waktu di Viñales, ya?" goda Meda saat melihat Tian akhirnya mengenali lagu yang diputarnya.
"Ojála, 'kan?" tanya Tian.
Meda mengangguk dan mulai kembali bernyanyi. Tian sendiri ikut berdendang. Meskipun ketika sadar bahwa kemungkinan suara cemprengnya akan mencemari kemerduan suara Meda, ia buru-buru memelankan volume suaranya.
"Awal Juni nanti, aku mau ke Paris."
Tiba-tiba Meda memberi kabar yang segera saja membuat Tian mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Meda. Seolah berharap bahwa yang baru saja dikatakan kekasihnya itu hanyalah sebuah candaan. Namun, saat Meda memandangnya balik tanpa menunjukkan tanda-tanda siap menertawakan keterkejutan Tian, gadis itu sadar bahwa Meda sedang berbicara serius.
"Ngapain ke Paris?" tanya Tian akhirnya.
"Urusan kerja."
"Ya, aku tahu pasti urusan kerja. Cuma kenapa harus di Paris? Proyek spesial? Berapa lama?" Tian memberondong Meda dengan pertanyaan tak sabarnya.
"Iya. Ada proyek kerja sama antara cabang perusahaan di Paris dengan perusahaan lain di sana. Skalanya cukup besar, sih. Namun, rencanananya aku hanya akan di sana selama kurang lebih sebulan untuk ikut bernegosiasi mengenai isi kontrak perjanjian kerja samanya," terang Meda sambil meraih tangan Tian ke dalam genggamannya. Ia sadar bahwa kekasihnya itu sangat tak rela mendengar kabar kepergiannya.
Sebenarnya, Meda sendiri pun enggan untuk pergi lama meninggalkan negara asalnya juga orang-orang terdekat yang pasti akan dirindukannya, termasuk Tian. Namun, perintah langsung dari CEO perusahaannya menempatkannya pada posisi "tidak boleh menolak". Perintah langsung itu pun sebenarnya berbunyi bahwa waktu yang diperlukan bagi Meda untuk menyelesaikan perjanjian itu mungkin tak bisa dipastikan. Hanya saja, Meda telah bertekad sendiri bahwa ia akan menyelesaikan tanggung jawabnya sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukannya itu dan segera pulang ke Indonesia.
Catatan penulis
- Futurisme merupakan suatu paham dari beberapa orang atau sekelompok orang yang percaya atau yakin akan adanya masa mendatang yang lebih baik, dalam arti lebih modern, lebih konkrit, bahkan diyakini bahwa manusia akan mampu menguasai jagad raya dengan tehnologi yang dimilikinya nanti.
- Ekspresionisme adalah aliran seni rupa yang menganggap bahwa seni merupakan sesuatu yang keluar dari diri seniman, bukan dari peniruan alam dunia.
- Fauvisme adalah aliran yang menghargai ekspresi dalam menangkap suasana yang hendak dilukis.
__ADS_1
- Surealisme adalah aliran yang menghadirkan kontradiksi antara mimpi dan realita menjadi nyata dalam gambar yang memperlihatkan objek nyata dalam keadaan yang tidak mungkin terjadi, seperti dalam mimpi atau alam bawah sadar manusia. Surealisme menggunakan pendekatan teori psikologi Freud yang mengeksplorasi alam bawah sadar dan citra mimpi manusia sebagai salah satu penggambaran dari hasrat manusia.
- Belog sajan \= bodoh sekali (bahasa Bali)