Les Láches

Les Láches
40.


__ADS_3

Meda berdiri diam di tempat selama beberapa menit, tetapi isi kepalanya tidak bisa tenang. Benaknya bergolak oleh amarah. Namun, ada sesuatu dari dalam dirinya yang mencegah kakinya untuk melangkah ke mana pun. Ia tidak kuasa untuk berjalan ke depan dan mengusik pemandangan yang membuat jiwanya tercabik itu, tetapi ia pun tak mau berbalik pergi seolah tak pernah melihat pengkhianatan yang terjadi di hadapannya itu.


Ya, pengkhianatan. Meda tak tahu istilah apa lagi yang kiranya lebih baik untuk mendeskripsikan momen yang tengah terjadi di depan matanya sendiri itu. Kekasihnya, Tian, tampak sedang memeluk Afgar, pemuda yang disebutnya sahabat. Padahal, Meda sudah sangat jelas menyatakan ketidaksukaan atas kontak fisik antara keduanya. Apa lagi namanya kalau bukan pengkhianatan?


Bahkan reaksi yang ditunjukkan oleh Tian ketika Meda memanggil namanya adalah melepaskan pelukannya dan menjauh dari Afgar dengan segera. Respon yang menegaskan bahwa gadis itu sangat sadar jika tindakannya salah. Tak ada ruang lagi untuk mencari pembenaran atas tindakannya itu, bukan?


“Meda?” lirih suara Tian saat berbalik memanggil namanya.


Meda masih berdiri di tempatnya. Sama sekali tak berniat mendekat ataupun menjauh. Hanya tatapannya saja yang bergantian terarah kepada kedua sosok di hadapannya itu, seolah meminta penjelasan terbaik yang bisa mereka berikan kepadanya sebelum ia mengeluarkan semua kemarahannya. Namun, selain satu kata itu, tak ada lagi ucapan yang keluar lewat bibir Tian.


“Aku ke sini karena tadi Ibu bilang kamu ke rumah untuk mencari aku, tapi sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan.” Meda berkata cukup keras untuk didengar oleh kedua sosok yang berdiri kira-kira dua meter di hadapannya itu.


Meda mengamati wajah kekasihnya itu untuk yang terakhir kalinya sebelum berbalik pergi.


Di sisi lain, Tian, menatap Afgar dengan pandangan khawatir sampai pemuda itu menganggukkan kepalanya. Anggukan yang kurang lebih bertujuan sebagai isyarat bahwa dirinya sudah siap ditinggalkan sendiri. Karenanya, Tian segera beranjak menyusul Meda yang kini tengah berjalan di jalanan kompleks perumahannya yang terhubung dengan jalan raya.


Saat mata Tian akhirnya menemukan sosok Meda, ia mulai berlari untuk menyusul langkah kekasihnya itu.


Tian menangkap lengan Meda dan menyentakkan lengan pemuda itu dengan tenaga yang dirasanya cukup untuk membuatnya berhenti.


“Kamu nggak boleh pergi begitu aja tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi.” Tian berkata cepat di sela penggalan napasnya yang tersengal karena sempat berlari.


Meda memang berhenti, tetapi bukan untuk mendengarkan penjelasan dari Tian. Ia berhenti karena beberapa pasang mata milik pengunjung warung kopi—tempat mereka berhenti—yang rata-rata laki-laki itu kini tengah mengamati dirinya dan juga Tian. Meda cukup yakin bahwa perhatian mereka teralihkan dari apa pun aktivitas yang sebelumnya mereka lakukan di meja masing-masing bukan karena aksi lari-larian yang dilakukan oleh Tian, melainkan penampilan Tian dengan crossover dress warna kuning cerahnya yang sangat mencuri perhatian di jalanan kompleks perumahan yang biasanya sepi pejalan kaki pada malam hari itu.


Saat akhirnya, telinganya menangkap sebuah lengkingan siulan dari arah warung kopi tersebut, barulah Meda berbalik meraih lengan Tian dan menarik gadis itu menjauh. Meda tidak melepaskan tangannya sampai langkahnya terhenti di sebuah taman kecil yang berada di lingkungan perumahan elit itu. Pemuda itu duduk di salah satu bangku taman sambil mengarahkan pandangannya pada sebuah tiang lampu di dekatnya. 

__ADS_1


Tangan Tian—yang bergantung di sisi tubuhnya setelah pemuda itu melepaskan pegangannya—terasa dingin. Gadis itu menyatukan kedua tangannya seolah sedang mencari kehangatan yang serupa, tetapi menyerah dengan cepat saat hatinya membisikkan kata “mustahil”. Tidak ada kehangatan dalam kesendirian.


Akhirnya, Tian memberanikan diri untuk kembali meraih tangan Meda sambil duduk di sampingnya.


“Med, ayo bicara,” pinta Tian sambil meremas jari Meda. Namun, Meda bergeming. Pemuda itu bahkan sama sekali tak membalas sentuhannya.


“Med, kamu pasti mikir yang nggak-nggak lagi soal aku dan Afgar. Iya, kan?” Tian mencoba lagi.


Meda mengeluarkan dengusan tawanya, tetapi masih tak ada kata yang keluar dari bibirnya.


“Safira mutusin hubungan pertunangan dia sama Afgar.”


Kali ini Meda menatap wajah Tian. Perasaannya bercampur antara terkejut dan marah.


“Afgar lagi kalut, Med. Wajar kalau—”


“Wajar? Kalau aku memutuskan kamu, kamu akan lari ke laki-laki itu hanya untuk bercerita kalau kamu diputuskan tanpa terlebih dahulu mencoba membujuk aku untuk mempertahankan hubungan kita?” tukas Meda.


“Med! Tolong jangan menempatkan hubungan kita di situasi yang sama!” bentak Tian kesal.


“Kamu! Kamu yang membawa hubungan kita ke arah sana dengan terus berusaha menutupi kelicikan laki-laki itu dengan mindset kamu yang menempatkan dia sebagai sahabat. Lantas membiarkan dia bertindak sesuka hati di teritori yang seharusnya hanya untuk aku dan kamu!” Meda balas berteriak.


Untung saja, lokasi taman itu jauh dari kompleks bangunan rumah di lingkungan perumahan Tian, sehingga pertikaian yang cukup besar di antara dua sejoli itu tak sampai membangunkan siapa pun.


“Kamu selalu punya pikiran buruk sama Afgar sejak kejadian di taman bermain itu, ‘kan? Nggak peduli sekeras apa pun usaha aku untuk membuktikan kalau kami nggak ada perasaan romantis satu sama lain, kamu hanya akan mencari-cari kesalahan pada hubungan kami, ‘kan?” Tian mulai meneteskan air matanya.

__ADS_1


“Hubungan kami”, ya? Meda tersenyum kecut.


Kedengarannya mungkin sepele. Namun, bagi Meda yang bisa dianggap orang asing di antara keduanya, ucapan Tian itu seperti penegas bahwa sebagai orang baru, Meda lah yang sebenarnya mengganggu hubungan antara Tian dan Afgar yang sudah terlebih dahulu terikat takdir.


“Jadi, kamu ke sini hanya untuk memaksa aku untuk memaklumi ‘hubungan kalian’, ‘kan? Bukan untuk membicarakan hubungan antara kamu, Titiana dan aku, Andromeda?” Meda bangkit dari posisi duduknya. “Ya sudah. Silakan kembali kepada Afgar. Lakukan hal yang terbaik untuk membuatnya mengerti kalau hubungan kalian lebih penting daripada hubungan kamu dengan orang yang belum genap setahun kamu temui ini.”


Meda melangkah menjauh.


“Meda! Please, jangan kekanak-kanakan seperti ini. Kamu harus mengerti. Kamu harus lihat dari sudut pandang Afgar yang butuh didengarkan dan ditenangkan di saat-saat seperti ini.” Tian kembali meraih lengan Meda, tetapi pemuda itu menepiskan sentuhannya dengan kasar. Tian sampai ketakutan saat sentakan lengan Meda hampir membuatnya jatuh terjengkang ke belakang.


“Meda. Kamu nggak menyelesaikan masalah apa pun dengan bersikap seperti itu,” ujar Tian sambil berusaha menyamai langkah Meda yang berjalan menjauh tanpa berusaha menunggu Tian sama sekali.


“Meda! Mau kamu apa sih?”


Meda bergeming.


“Meda! Kamu tahu kalau yang kamu mau adalah aku menjauh dari Afgar, itu nggak akan mungkin terjadi. Dia sahabat aku. Kenapa sih kamu nggak mencoba berteman baik dengan Afgar aja daripada melarang aku dekat sama dia?”


Tian yang masih memakai hak tinggi karena berusaha berdandan maksimal sebelum berangkat ke rumah Meda tadi, mulai tertinggal semakin jauh. Pergelangan kakinya yang sempat terkilir saat terburu-buru mengejar kepergian Meda dari halaman rumahnya tadi pun terasa semakin nyeri.


“Meda!” Tian berteriak lebih keras. Berharap kekesalannya sampai pada Meda dan membuatnya mau mendengarkan Tian. Karena kakinya sudah tak mampu membawanya menyusul langkah pemuda itu lagi. “Kalau kamu pergi sekarang ... kita selesai.”


Meda menghentikan langkahnya dan berbalik hanya untuk mengatakan sesuatu yang membuat Tian berharap Tuhan menghapuskan hari ini dari ingatan manusia mana pun di muka bumi.


“Lakukan sesukamu, Tian. Sudut pandangmu sendirilah memang yang paling penting. Malam ini, kamu sudah menunjukkan dengan sangat jelas sama aku, apa prioritasmu. Aku saja yang mungkin selama ini tidak cukup tahu diri dan meminta terlalu banyak.”

__ADS_1


__ADS_2