
Safira menatap langit-langit kamarnya dengan nanar. Pandangannya kosong, tetapi isi kepalanya penuh. Yang dipikirkannya tak lain adalah Afgar. Hatinya patah berkat pemuda itu. Satu minggu telah berlalu semenjak pertengkarannya dengan Afgar di pesta ulang tahunnya, tetapi tak sekali pun pemuda itu mencoba menghubunginya terlebih dahulu. Padahal, Safira telah memberikan ultimatum yang jelas kepada pemuda itu untuk memilih. Dirinya atau Tian?
Sebuah senyum sinis membayang di bibir Safira mengingat pertanyaan yang dilontarkannya kepada tunangannya itu. Menyalahkannya kebodohannya sendiri yang menanyakan sesuatu sejelas itu. Bahkan tanpa dipaksa pun pilihan Afgar tentu akan jatuh kepada Tian.
Dirinyalah yang terlalu dibutakan oleh cinta saat pemuda itu mengajaknya berpacaran dua tahun lalu. Ditambah juga terlampau naif karena percaya bahwa pemuda itu akhirnya membuka hati untuknya dan telah melupakan cinta pertamanya saat mengajak Safira bertunangan.
Ya, cinta pertama Afgar. Tian. Sahabatnya yang juga telah mengenalkannya pada sosok Afgar.
Safira tahu, bukan Tian yang bersalah dalam masalah ini. Ia bahkan ragu kalau Tian memiliki perasaan yang sama pada Afgar. Namun, ada satu hal yang diyakininya, yaitu bahwa Tian mengetahui tentang perasaan Afgar kepadanya. Hanya saja, gadis itu berpura-pura tak menyadari perasaan pemuda itu dan malah menjodohkannya pada Safira.
Safira merasa menjadi orang paling idiot sedunia karena baru mengetahui hal itu. Ia tolol karena terlambat menyadari bahwa dirinya hanya korban dari ketidak bertanggungjawaban dua manusia yang mencoba menyembunyikan kebenaran perasaan masing-masing. Perasaan salah satu pihak, tepatnya.
Air mata Safira kembali menetes. Tiba-tiba ia merasa seluruh kebahagiaan yang dirasakannya semenjak bertemu Afgar tak lebih dari kepalsuan semata. Ia merasa tak berharga dan tak diinginkan. Kesepian yang teramat sangat seolah berusaha menelannya tenggelam bersama dengan kegelapan yang perlahan melingkupi ruang kamarnya sejak ia membuka mata dari tidur siangnya tiga jam lalu itu.
Waktu yang dihabiskannya untuk berbaring di atas tempat tidurnya itu bahkan jauh lebih lama lagi. Namun, Safira sudah kehilangan keinginan untuk melakukan apa pun. Bahkan untuk sekedar memikirkan tindakan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahannya kali ini saja dia enggan.
Sampai akhirnya, ketika Safira bersiap untuk menutup matanya dan berusaha tidur kembali, sebuah ketukan di pintu kamarnya terdengar. Safira bergeming. Ia berniat mengabaikan ketukan itu sampai berhenti sendiri. Sampai orang yang berada di balik pintu itu membuka suara.
“Fir. Ada telepon dari Afgar.” Suara bariton Adnan, adiknya, terdengar dari luar kamarnya.
Seketika itu juga Safira bangkit dari posisi tidurnya. Setelah berhasil mengontrol tubuhnya yang limbung sejenak karena bangun terlalu cepat, gadis itu membuka pintu kamarnya. Tentunya, setelah mengusap kering air matanya. Meskipun ia ragu bahwa jejak dari tangisannya yang lebih lama bisa disembunyikan dengan cara itu.
Bagaimana pun penampakan wajahnya kali ini, Safira tidak peduli. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Afgar yang akhirnya meneleponnya. Secercah harapan yang beberapa kali sempat dikuburnya dalam-dalam, tumbuh kembali demi mendengar bahwa pemuda itu mencarinya. Mungkin pemuda itu akhirnya menyadari kesalahannya dan berniat meminta maaf pada Safira.
Safira meraih gagang telepon di meja yang terletak di antara kamar Adnan dan kamar orang tuanya.
__ADS_1
“Hai, Gar,” sapa Safira dengan suara lemah. Sama sekali tidak mencoba menyembunyikan pengaruh dari pertengkaran antara dirinya dengan Afgar.
“Besok malam aku jemput kamu, ya?” tanya Afgar setelah menjawab sapaan Safira.
Hati Safira langsung berbunga-bunga. Meskipun begitu, ia mencoba untuk menyembunyikan kebahagiaannya itu dengan pertanyaan basa-basi.
“Mau ke mana?”
Padahal, ke mana pun Afgar mengajaknya, ia akan dengan senang hati mengikutinya.
“Kamu lupa besok Papa pulang dari London? Mama berencana mengadakan makan malam keluarga untuk menyambut kepulangan Papa. Kamu pasti orang kedua yang akan dicari papaku setelah Mama,” jawab Afgar.
Safira yang mendengar semua itu seketika merasa ada setimba air dingin disiramkan di atas kepalanya. Pelupuk matanya memanas dan tubuhnya gemetar karena kemarahan. Namun, ia mencoba untuk menguasai dirinya sebelum mengeluarkan kata-katanya.
Afgar menghela napas panjang sebelum menjawab. “Aku tidak mau membahas masalah yang sudah berlalu karena hanya akan membuat kita berantem lagi.”
“Lagi? Barangkali kamu lupa, Gar. Kita MASIH berantem,” tukas Safira cepat.
“Jadi, kamu masih mau memperpanjang masalah kemarin?” tanya Afgar dengan nada suara yang berbeda.
Safira mengenali nada itu. Sangat mengenalnya malah. Itu adalah nada suara Afgar setiap ia “memaksa” Safira untuk menyudahi pertengkaran mereka terdahulu dan kembali berbaikan. Safira tertawa pahit, fakta itu juga baru kali ini disadarinya.
Dia benar-benar telah dibutakan oleh perasaannya pada Afgar selama ini sampai mengabaikan fakta bahwa pemuda itu hanya memanfaatkannya saja. Baik memanfaatkan perasaan Safira, maupun memanfaatkan pengaruh orang tua Safira untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya sendiri.
Ya, semenjak bertunangan dengan Safira, harga saham perusahaan keluarga Linus memang naik pesat. Berita persatuan dua keluarga berlatar belakang konglomerat berkat ikatan pertunangan ataupun pernikahan memang menjadi cara promosi tercepat bagi para pebisnis.
__ADS_1
Keuntungan itulah yang dicari oleh Afgar darinya. Tanpa itu, sulit bagi Afgar meraih kepercayaan ayahnya agar menyerahkan kepengurusan perusahaan keluarga kepada dirinya.
Celakanya, segalanya baru terlihat dengan jelas oleh Safira saat hubungan mereka mencapai titik ini. Ketika dirinya sudah sangat menyayangi Afgar dan rela melakukan segalanya untuk pemuda itu.
Untungnya, atau sayangnya, pilihan pemuda itu yang tak bisa tidak mengutamakan Tian itu, kini membuat Safira sadar sebelum melangkah lebih jauh. Dirinya akhirnya menyerah untuk membersamai pemuda itu lagi. Ya, Safira memutuskan mundur selamanya untuk memperjuangkan hubungannya dengan Afgar.
Ia menarik napas panjang sebelum mulai menyampaikan keputusannya.
“Besok aku mau ke Denpasar. Jadi, aku tidak bisa datang ke acara makan malam keluarga kamu. Sampaikan saja salamku sama papa mamamu."
Terdengar helaan napas Afgar di ujung telepon saat Safira mengatakannya. Namun, sebelum pemuda itu membalas ucapannya, Safira kembali bersuara.
"Aku berharap pilihan kamu membawa kebahagiaan bagi diri kamu sendiri. Juga Tian."
Tak ada suara balasan dari ujung telepon, sementara Safira berjuang sekuat tenaga meredam isaknya.
“Maksud kamu, kamu ingin menyudahi pertunangan kita?” tanya Afgar setelah beberapa menit berlalu.
“Ya. Goodbye, Afgar. Terima kasih untuk segalanya. Sampaikan kabar ini beserta maafku buat mama dan papamu.” Setelah mengucapkan salam perpisahannya, Safira meletakkan gagang telepon itu di tempatnya.
Air mata yang keluar dari pelupuk mata Safira mengalir deras. Semua kenangan bahagia yang pernah dilaluinya dengan Afgar tiba-tiba muncul silih berganti seolah tengah merayunya untuk bertahan.
Wajah Afgar di saat tersenyum, sedih, marah, ataupun kesal membayang di kepalanya dan membuat sesak dadanya. Belum lagi bisikan-bisikan di kepalanya yang seolah memberi tahunya bahwa tak akan ada lagi pemuda yang lebih baik dari Afgar.
Namun, kali ini Safira benar-benar tak peduli. Hatinya sudah dicederai begitu parah. Ia tahu, tidak akan mudah melupakan Afgar, tetapi ia juga tidak mau harus mengalami lagi sakit yang seperti ini. Lebih baik ia hidup sendiri sampai mati daripada harus menangisi seorang laki-laki sampai seperti ini.
__ADS_1