Les Láches

Les Láches
Teritorial


__ADS_3

“Aku dengar dari Tian, kamu mau ke Paris bulan depan?” Afgar membuka percakapan sembari mengambil jarak lebih dekat dengan Meda.


Meda mengangguk singkat sembari menyesap kopi di cangkirnya. Pilihan minumannya itu sempat membuat Tian melempar pandangan bingung ke arahnya. Pasalnya, pelayan keluarga Afgar harus membuatkan pesanan spesial tersebut karena semua minuman yang disajikan di pesta adalah minuman dengan campuran es di dalamnya.


“Papanya Tian punya banyak kenalan di sana dan aku bisa menghubungkan kamu dengan mereka kalau kamu sampai di sana,” kata Afgar lagi.


Meda mengangkat sebelah alisnya. “Kamu mau menghubungkan aku dengan kenalan Pak Adler?”


“Iya, Med. Afgar ini koneksinya luas. Kebetulan dia juga kenal sama orang-orang yang pernah kerja sama dengan Papa karena papanya Afgar seprofesi dengan papaku. Nah, Afgar ini perannya kayak mamaku, negosiator di setiap diskusi pekerjaan yang dilakukan papanya.” Tian menjawab pertanyaan Meda itu.


Afgar tertawa kecil sambil mengusap bibir Tian dengan ujung ibu jarinya lalu menunjukkan serpihan roti yang menempel di sana. Meda sudah hampir bersuara untuk memperingatkan Afgar ketika pemuda itu mendahuluinya berbicara.


“Aku nggak ada apa-apanya dibandingin Tante Bella, Tian. Mama kamu bisa banyak bahasa, sedangkan aku?”


“Kan ada aku,” sahut Safira yang datang sambil membawa minuman berwarna merah untuk Afgar dan dirinya.


Hera dan Alvin menyusul di belakangnya sambil berbicara dan bercanda sendiri. Atmosfer di antara kedua sejoli itu sudah jauh berubah dibandingkan sebelumnya.


“Nah! Bener. Ada Safira. Dia yang translator, kamu yang lobbying.” Tian menjentikkan jarinya seolah baru saja memecahkan sebuah permasalahan yang sangat rumit.


Afgar mengambil salah satu gelas yang dibawa Safira dan menarik pinggul gadis itu untuk mendekat ke arahnya. Wajah Safira sedikit memerah karena ia jarang melakukan kontak fisik dengan tunangannya itu di depan umum. Tian sendiri ikut merasa senang melihat kedekatan Afgar dan Safira itu. Itu berarti masalah di antara keduanya sudah benar-benar berakhir.


Sayangnya, Meda tak melihat hal yang sama dengan yang dilihat oleh semua orang. Logikanya mempertanyakan maksud dari Afgar itu karena firasatnya mengatakan bahwa tindakan pemuda itu tidak mengandung ketulusan. Tangan Afgar memang menyentuh Safira, tetapi Meda jelas melihat ke arah mana mata penuh kasih sayang pemuda itu menatap.


“Meda. Kamu nggak lapar?” Pertanyaan Tian menarik Meda kembali dari pikiran-pikirannya yang melanglang buana.


“Aku sudah makan dari rumah tadi,” jawab Meda sembari merapikan posisi jasnya di tubuh Tian.

__ADS_1


Tian mengerutkan dahi. “Kamu tahu mau ke pesta kok makan di rumah?”


“Kamu kan tahu masakan ibuku nggak bisa ditolak, Ti. Oh iya, Ibu juga bilang kapan-kapan kalau libur panjang kuliah lagi, kamu menginap saja di rumah.” Kali ini, Meda tersenyum penuh arti kepada Afgar. Gilirannya untuk menunjukkan kepada pemuda itu apa artinya menjadi kekasih Tian.


“Aku harus tidur di mana? Bukannya kamar tamu dipakai buat ruang kerja?” 


Tian bertanya bingung saat mengingat fakta yang pernah diceritakan oleh Verdita pada salah satu kesempatan saat ia berkunjung.


“Di kamar aku lah,” sahut Meda cepat sambil tertawa kecil seolah apa yang ditanyakan oleh Tian sudah sangat jelas jawabannya.


Sementara sahabat-sahabat Tian, kecuali Afgar, menyoraki percakapan di antara keduanya itu. 


“Nanti aku tidur di sofa ruang tengah.” Meda kembali menambahkan membuat Hera dan kedua orang lainnya yang tadinya menyoraki, berseru kecewa.


Afgar sendiri memilih untuk tidak berkomentar. Pemuda itu hanya meminum isi gelasnya sambil melempar tatapan tajam ke arah Meda. Meda semakin yakin bahwa sejak tadi pemuda itu memang sengaja membawa-bawa kedekatannya dengan Tian untuk memanas-manasi dirinya.


“Sedikit.” Tian menjawab sembari melempar pandang ke arah salah satu meja yang dipenuhi berbagai macam makanan. “Aku ke sana dulu ya.”


Tian berpamitan sambil menunjuk ke arah meja yang tadi diamatinya. Meda mengangguk.


“Aku boleh titip sekalian?” Afgar bertanya saat Tian melangkah menjauh.


“Biar aku yang ambilin.” Safira menjawab sambil mengikuti langkah Tian. 


“Nggak sekalian ikut tuh, Ra?” Afgar beralih kepada Hera yang hanya memandangi kepergian kedua sahabatnya itu. “Kateringnya dari Lalage, lho. Kamu kan dulu nanyain melulu gara-gara penasaran sama menu nasi goreng seafood-nya?”


Mendengar kata nasi goreng bersamaan dengan nama besar katering dari langganan ibu Afgar yang selalu memiliki cita rasa yang tidak main-main itu, cukup untuk membuat Hera tergoda dan menyusul Tian dan Safira. Alvin tentu saja akan mengikuti ke mana pun Hera pergi.

__ADS_1


“Jadi?” Afgar berbalik untuk kembali menatap Meda setelah semua orang pergi meninggalkan keduanya. “Ada yang ingin kamu sampaikan?”


“Banyak.” 


Meda yang sadar bahwa pemuda di hadapannya itu sengaja mencari kesempatan untuk berbicara empat mata dengannya, tidak ragu-ragu untuk menyuarakan semua hal yang sedari tadi masih disimpannya dalam hati.


“Apa yang kamu dapatkan dari pamer kedekatan dengan Tian di depanku seperti itu?”


“Kami tidak sedang pamer.” Afgar menjawab sambil tertawa geli, seolah apa yang dikatakan oleh Meda merupakan sebuah pertanyaan terkonyol yang didengarnya hari ini. “Kami memang sedekat itu dari dulu. Jauh sebelum kamu mengenal Tian.”


“Benar. DULU. Sekarang Tian sudah punya aku. Pacar yang dalam waktu dekat mungkin akan menjadi tunangannya atau bahkan suaminya.”


“Tunggu dulu.” Afgar kembali tertawa. “Kamu udah bicara sama Om Adler dan Tante Bella soal hal itu? Sudah dengar jawabannya? Jangan berspekulasi dulu kalau belum melakukan apa-apa.”


“Restu dari kedua orang tua Tian adalah urusanku sendiri. Yang ingin kutegaskan pada kamu adalah siapa Tian dan siapa kamu?”


“Aku sahabat Tian.”


“Tepat. Itulah kamu. Hanya sahabat. Seseorang yang hanya sedikit lebih dekat daripada teman. Namun, kamu bukan seseorang yang berhak memandang Tian, menyentuh dia, dan memperlakukannya seolah kamu berhak atas dirinya. Tian sudah punya aku. Jangan membuat aku salah paham memaknai kedekatan kalian,” tegas Meda panjang lebar.


“Kamu nggak tahu apa-apa soal hubunganku dengan Tian. Aku udah bersumpah untuk menjaga Tian sejak kecil.” Afgar yang mulai terbawa emosi mengepalkan kedua tangannya.


“Aku tahu. Tian sudah cerita semuanya sama aku. Siapa kamu, apa yang membuat hubungan kalian lebih spesial daripada hubungan Tian dengan Safira atau Hera, semua cerita masa lalu Tian. Aku sudah dengar segalanya. Namun, tetap saja, aku tidak suka caramu memperlakukan Tian seolah...,” Meda mendekat ke arah Afgar dan berbisik di dekat telinganya, “seolah kamu masih ingin memilikinya.”


Meda menjauhkan diri tepat ketika sebuah suara riuh-rendah terdengar. Tanda bahwa Tian telah kembali bersama rombongannya.


“Jangan buat aku salah paham lagi, Afgar. Tian milikku!” Meda menutup diskusi itu sambil menatap pemuda di hadapannya itu dengan pandangan dingin.

__ADS_1


__ADS_2