
Afgar yang baru keluar dari kamar mandi, mengernyitkan dahi saat memeriksa ponselnya. Di layar terpampang pemberitahuan 23 panggilan tidak terjawab dari Safira. Afgar berniat menelepon balik kekasihnya itu, ketika ia mendengar pintu suite-nya digedor dengan keras.
Meda yang tadinya sedang tiduran di kasurnya sembari membaca buku kedua seri Cormoran Strike, bangkit dari posisinya. Setelah bertukar pandang sekilas dengan Afgar, ia bergegas keluar kamar.
"Siapa?" Meda bertanya sebelum memutar kunci pintu suite.
"Safira. Bukain pintunya sekarang!" seru Safira sambil terus mengetuk daun pintu.
Gadis itu melesat masuk segera setelah Meda membuka pintu.
"Gar! Kenapa enggak diangkat sih teleponnya?!"
Suara keras Safira terdengar hingga ke telinga Meda yang masih tertinggal di luar kamar karena harus menutup pintu kembali.
"Kamu kenapa sih? Dateng-dateng langsung marah-marah. Aku baru selesai mandi,"
Meda mencuri dengar penjelasan Afgar ketika kembali ke kamar untuk mengambil buku-bukunya. Ia berniat untuk berjalan ke luar hotel dan mencari kafe terdekat. Namun, niatnya untuk melarikan diri itu terhenti ketika mendengar kalimat yang berikutnya meluncur dari mulut Safira.
"Tian mau balik ke Indonesia."
Alis Afgar hampir bertaut mendengar hal itu.
"Ada masalah apa?" tanya Afgar bingung.
"Dia cuma bilang ada masalah di rumah, tapi dia enggak mau cerita masalah apa yang bikin dia buru-buru packing. Coba kamu ke kamar sekarang. Tian mungkin bisa lebih terbuka kalau sama kamu."
Safira mengatakan itu bukan tanpa dasar. Dari kelima orang di lingkaran pertemanan mereka, Safira adalah orang yang terakhir bergabung. Dan di antara kelima orang tersebut, Tian paling dekat dengan Afgar, orang yang melalui masa balita hingga dewasa bersamanya.
Afgar sendiri langsung melesat menuju ke arah kamar Tian tanpa diminta dua kali. Safira yang tertinggal di kamar bersama Meda, melempar tatapan penuh arti kepada pemuda itu. Memberinya isyarat untuk mengikutinya dan Afgar. Tanpa diminta pun, Meda memang sudah berencana untuk melihat keadaan Tian.
Afgar yang sudah lebih dulu tiba di ruangan kamar Tian, menahan lengan Tian yang sedang berusaha menutup kopernya. Hal yang tidak mudah dilakukan karena, seperti yang sudah-sudah, Tian benar-benar tidak ahli menangani pekerjaan yang satu itu. Ia bahkan nekat meninggalkan beberapa barang yang tidak bisa dimasukkannya ke dalam koper.
"Ada apa, Ti?" tanya Afgar cemas.
"Mama masuk rumah sakit, Gar. Aku harus pulang sekarang." Air mata membasahi wajah Tian yang terlihat panik.
"Masuk rumah sakit karena apa? Kamu denger kabar dari siapa? Coba jelasin pelan-pelan." Afgar memeluk Tian yang terus berusaha melepaskan lengan dari genggaman Afgar.
"Papa bilang, Mama ketemu sama laki-laki itu di sekolah Lidia. Dia maksa mau ngambil Lidia sama Joan. Mama berusaha nyegah adik-adikku dibawa, tapi Mama ...." Tian kembali terisak. "Laki-laki itu mukulin Mama."
Afgar mempererat pelukannya di tubuh Tian yang bergetar. Safira yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri. Meda, di sebelahnya, mengenali arti dari ekspresi gadis itu. Tercabik antara rasa cemburu atas kedekatan keduanya dan keprihatinan karena ia memahami sepelik apa masalah yang sedang dihadapi oleh sahabatnya itu.
"'Laki-laki' itu siapa?" tanya Meda dengan suara berbisik.
"Ayah kandung Tian," jawab Safira singkat sebelum menarik pemuda itu untuk berbalik.
Ada sesuatu yang ingin dibicarakannya dengan pemuda itu. Di samping itu, ia tidak ingin melihat interaksi antara tunangan dan sahabatnya itu lebih jauh. Meda mengikuti gadis itu dengan alasan yang sama.
"Kamu suka sama Tian?" Safira bertanya to the point setibanya mereka di luar suite.
Meda terdiam cukup lama sebelum menganggukkan kepalanya. Safira tersenyum tipis seolah sudah menduga jawaban tersebut.
"Kalau kamu serius suka sama Tian, kamu harus mengambil langkah aktif mulai sekarang. Saat ini, Tian sedang dalam kondisi mental yang lemah dan aku berharap kamu bisa mengambil kesempatan ini untuk ...." Safira menghentikan ucapannya saat Meda tertawa sinis di sela penjelasannya.
"Ada yang salah?" tanya Safira bingung.
__ADS_1
"Aku cuma penasaran. Kamu melakukan ini karena peduli sama Tian atau karena kamu tidak mau perhatian pacar kamu teralihkan karena masalah keluarga Tian. Yah, tapi itu tidak penting, karena aku tidak mau terlibat dengan skema apa pun yang kamu mainkan," jawab Meda sinis.
"Aku peduli sama masalah Tian sebesar aku peduli sama hubunganku dengan Afgar." Safira melipat kedua tangannya di depan dada. "Kamu bilang kamu suka sama Tian, tapi kamu enggak mau memanfaatkan ini untuk ngedeketin Tian? Oke. Kalau gitu, aku mau dengar apa rencana kamu buat bikin Tian me-notice kamu?"
"Apa aku pernah bilang kalau aku mau mendekati Tian?"
"Jadi, kamu mau bilang kamu suka sama Tian, tapi enggak ada keinginan untuk pacaran sama dia atau semacamnya?" Safira tertawa sinis. "Bullshit!"
Meda mengangkat bahunya. "Terserah kamu mau berpikir seperti apa, yang pasti aku tidak akan bertindak atas perintah siapa-siapa. Kakekmu mungkin atasan ibuku, tapi itu tidak membuat aku otomatis jadi bawahan kamu."
Pemuda itu berjalan menuju ujung koridor. Namun, sebelum menghilang di balik lift yang mengarah ke lantai satu, ia berbalik.
"Oh iya. Jangan lupa kunci pintu suite room kamu. Bukan cuma aku dan Afgar yang tahu kalau ada tiga cewek yang menginap di suite itu," pesan Meda mengetahui kecerobohan Safira yang satu itu.
Beberapa waktu yang lalu pun, gadis itu membuatnya bisa memasuki suite-nya dengan mudah karena lupa mengunci pintu. Lalu, melihat Afgar bisa memasuki kamar Tian tanpa menunggu Safira hanya bisa berarti satu hal. Gadis itu memang sedikit menyepelekan bahaya yang bisa saja timbul di negeri asing ini.
Safira menghela napas dan masuk kembali ke dalam suite-nya. Ia duduk di ruang tengah sampai Afgar keluar dari kamar Tian.
"Tian gimana, Gar?" tanya Safira sembari bangkit dari sofa. Afgar menghampirinya dan membimbingnya kembali duduk.
"Tian udah tenang." Afgar meletakkan ponselnya di atas meja. LED yang menyala sesaat itu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. "Aku telepon Om Adler tadi dan nanyain gimana kabar Tante Bella. Om Adler bilang semuanya baik-baik aja. Tante Bella cuma lecet di bagian kaki. Lidia sama Joan sedikit syok, tapi mereka juga baik-baik aja."
"Terus Tian jadi pulang ke Indonesia kapan?" Safira bertanya lagi.
Afgar menggeleng kecil. "Om Adler minta kita enggak usah buru-buru pulang. Sekarang, semua orang rumah Tian lagi di Prancis. Om Adler ada kerjaan di sana dan dia sengaja ngajak mereka semua karena enggak mau kalau sampai laki-laki itu datang ke rumah pas diae nggak ada. Aku setuju sama keputusan Om Adler itu. Meskipun dia mampu buat nyewa bodyguard, kalau laki-laki itu datang ke rumah lagi, mental adik-adiknya Tian bakalan terguncang lagi."
"Jadi, kita harus gimana, Gar? Aku yakin Tian masihe nggak bisa tenang meskipun tahu kalau keluarganya udah aman." Safira menggenggam tangan Afgar dengan sedikit kalut.
"Kamu bener, Fir. Karena itu, mungkin kita harus batalin rencana kita buat ke Varadero dan nemenin Tian di sini." Afgar menatap mata tunangannya itu dengan lembut. Mencoba meminta pengertiannya.
"Aku setuju aja, tapi menurutku Tian akan semakin tertekan kalau harus terus berada di sini."
"Kita enggak perlu membatalkan rencana ke Varadero. Kita cuma tinggal ajak Tian dan Meda ikut sama kita," usul Safira.
Afgar mengernyitkan dahi. "Aku paham alasan kenapa Tian harus ikut kita, tapi kalau Meda?"
"Kamu tahu 'kan alasan Tian enggak pernah mau ikut kalau kita jalan bertiga aja? Menurut kamu meskipun keadaannya berbeda, Tian akan setuju? Lagipula, Meda juga tanggung jawab aku. Aku yang ngajak dia ke sini. Aku enggak mau mengecualikan dia dari rencana kita." Safira menjawab tegas.
"Tapi aku enggak suka sama laki-laki itu." Afgar masih enggan setuju.
"Kenapa?" tuntut Safira cepat.
Sekali lagi, Afgar mengerutkan dahi. "Dia pernah berantem sama Tian."
"Ya, dan itu cuma sekali. Setelah itu, mereka bahkan bisa jalan-jalan bareng berdua aja ke Viñales, terus nginep satu malam di Cienfuegos. Mereka bisa get along, Gar," bujuk Safira.
"Tapi aku tetep enggak setuju kalau Tian harus sama laki-laki itu." Afgar bersikeras.
"Apa yang kamu maksud dengan 'sama laki-laki itu'? Kamu pikir aku mau jodohin Tian sama Meda?"
"Enggak?" Afgar bertanya skeptis.
"Itu bukan pilihan kita, Afgar. Itu semua terserah mereka berdua. Kalau mereka terbiasa satu sama lain, kenapa enggak?"
"Makanya jangan sampai mereka terbiasa!" Suara Afgar sedikit meninggi.
__ADS_1
"Gar," Safira berkata dingin. "sebagai sahabat wajar kalau kamu mau melindungi Tian ketika suatu masalah menimpa dia. Tapi kamu enggak berhak membatasi hubungan dia sama seseorang hanya karena kamu pikir orang itu akan menimbulkan masalah bagi Tian. Salah-salah, orang bakalan mikir kalau kamu sedang memonopoli Tian untuk kepentingan kamu sendiri."
"Kepentingan apa yang kamu maksud, Fir?" Afgar memicingkan matanya.
"You tell me." tantang Safira.
"Oke. Fine. Dia ikut kita besok, tapi aku enggak akan mentolerir kalau dia nyakitin perasaan Tian lagi."
Afgar melangkah keluar dari suite tersebut, meninggalkan Safira yang mendadak sakit kepala.
Esoknya, gadis itu malah harus mengalami sakit kepala yang dua kali lipat lebih menyiksa ketika mencoba menarik Tian keluar dari selimutnya. Setelah beberapa bujukan yang ia gunakan tidak berhasil, Safira akhirnya menggunakan kartu terakhirnya.
"Oke. Aku telepon Hera buat balik ke Havana sekarang."
Mendengar itu, Tian bangkit dari kasurnya dan berjalan ke arah kamar mandi dengan santainya. Seolah Safira sama sekali tidak berusaha membangunkannya sejak satu jam lalu.
"Sini aku dandanin." Safira menepuk kursi di depan meja rias saat Tian keluar dari kamar mandi. Di samping kakinya, terbuka kotak make-up yang berukuran hampir separuh koper milik Tian.
"Makasih ya, Fir." Tian berbisik pelan saat Safira mulai menyapukan cairan toner ke kulit wajah Tian. "Dan maaf."
"Maaf buat apa?" tanya Safira lembut.
"Aku bikin kamu dan Afgar khawatir," ujar Tian lemah.
"Udah sewajarnya sebagai sahabat kami cemas kalau ada apa-apa terjadi sama kamu, tapi kamu memang harus minta maaf soal satu hal." Safira mengangkat dagu Tian agar gadis itu menatap matanya. "Kalau ada apa-apa kamu juga bisa cerita sama aku. Bukan cuma sama Afgar. Aku tahu, aku belum lama kenal kamu seperti Afgar atau Hera. Tapi, aku juga berharap aku bisa mengerti kamu seperti mereka."
"Semalam aku kalut, Fir. Aku pikir aku enggak punya waktu untuk menjelaskan ke kamu dengan keadaanku yang seperti itu. Tapi, aku enggak pernah berusaha untuk menyembunyikan apa pun dari kamu dengan sengaja." Tian menggenggam tangan Safira. "Maaf ya, kalau aku udah nyakitin kamu dengan bikin kamu salah paham."
"Minta maaf doang?" Safira mengangkat sebelah alisnya. "Aku enggak dapet ganti rugi apa-apa nih?"
Tian tertawa lebar. "Oke. Kamu minta apa?"
"Aku cuma minta kamu jujur sama perasaan kamu ke Meda," jawab Safira. Kini, tangannya mengaplikasikan pelembab di wajah Tian.
"Enggak ada yang bisa diceritain kalau yang kamu maksud adalah sesuatu yang romantis, Fir." Tian menunduk lesu. "Sebenarnya, aku malah mau tanya mengenai apa aja yang kamu tahu tentang Meda? Semuanya."
"Enggak banyak, Ti. Seperti yang udah aku jelasin sebelumnya, Meda ini anak dari pegawai kesayangan kakekku. Jabatan ibunya memang cukup mentereng, yaitu manajer cabang perusahaan di Jakarta. Tapi, kalau dibandingin sama kita, keluarganya ini termasuk dalam kalangan menengah. Cuma kalau yang aku dengar dari Kakek, latar belakang ayah sama ibunya Meda ini sebenarnya cukup elit juga."
"Kerabat dari pihak ayahnya semuanya pengusaha, sedangkan ibunya dari keluarga dokter. Kayaknya hubungan keluarga Meda sama keluarga besar orang tuanya itu jelek banget karena profesi orang tua Meda enggak ada yang sejalan dengan tradisi keluarga utama," terang Safira panjang lebar
"Jadi, itu alasannya kenapa dia benci banget sama orang-orang kaya seperti kita." Tian menggumam pelan. Sekarang ia menyadari, semua perkataan yang pernah diutarakannya pada pemuda itu, sekalipun benar, tidak akan pernah mampu menggoyahkan stigma yang sudah terlanjur mengakar di jiwa pemuda itu.
"Kamu masih mau denger kelanjutannya?" Tangan Safira yang sudah memegang kuas blush-on berhenti di udara. Ia memandang kekosongan di mata Tian dengan khawatir.
"Ada lagi yang menurut kamu perlu aku denger, Fir?" tanya Tian lemah.
"Yang kamu denger tadi, semua tentang keluarganya. Kamu enggak mau denger hal lain tentang diri Meda sendiri?"
Tian ingin menjawab pertanyaan itu dengan gelengan, karena toh informasi tersebut tidak akan ada gunanya lagi bagi Tian. Ia sudah tidak bisa memikirkan cara lain untuk memulai percakapan normal dengan seseorang yang sudah memberi label buruk bahkan jauh sebelum bertemu dengannya. Namun, hati Tian tidak mengizinkannya untuk mendustai diri sendiri. Nyatanya, Tian masih peduli.
"Apa lagi yang kamu tahu soal Meda?" tanya Tian, akhirnya.
Safira tersenyum tipis. "Meda itu 7 tahun lebih tua dari kamu. Dilihat dari mukanya sih memang enggak kelihatan, tapi itu faktanya. Dia cerdas, tekun, dan aktif di beberapa penelitian payung. Pokoknya kalau soal bikin CV bagus, dia yang terbaik. Bahkan, waktu dia selesai magang di perusahaan multinasional punya mitra bisnisnya Kakek, dia langsung ditawari kerjaan tetap. Belum lagi diiming-iming prospek jenjang karir yang lancar kalau performa kinerjanya bagus. FYI aja, dia baru kerja 5 tahun, tapi udah naik jabatan dua kali. Kamu tahu posisinya sekarang?
Tian menggeleng.
__ADS_1
"GM," tutup Safira sambil mempersiapkan diri untuk melihat ekspresi kekaguman di wajah sahabatnya itu.
Namun, ekspresi yang ditunjukkan Tian bukan hanya tidak seheboh ekspektasinya, melainkan sangat bertolak belakang dengan efek yang diharapkan oleh Safira. Saat ini, Tian malah terlihat semakin kehilangan semangat untuk mencoba mendekati pemuda itu lagi.