Les Láches

Les Láches
Pagliacci


__ADS_3

Wajah Hera mungkin akan terlihat semerah tomat saat ini. Dengan langkah terseok, ia mencoba menyamai langkah kaki Alvin yang berjalan cepat mendahuluinya keluar dari warung kopi berpenerangan lampu pijar kuning di langit-langitnya dan lampu hias warna-warni di dinding bata hebel. Hera terpaksa harus menahan malu karena beberapa laki-laki memandang ke arah mereka berdua dengan berbagai macam tatapan. Sebagian besar di antara mereka pasti mengira bahwa Hera tengah mencoba menarik perhatian seorang laki-laki. Yah, meskipun perkiraan itu mungkin tidak sepenuhnya salah.


Malam itu, Hera memang menyusul Alvin ke tempat yang diberitahukan oleh Afgar saat ia menghubunginya. Dengan tekad untuk memulai percakapan serius dengan pemuda itu mengenai perubahan sikapnya, ia mendatangi lokasi yang ternyata cukup jauh dari pusat kota. Sepanjang perjalanan, sopir taksi yang mengantar Hera mengomel panjang pendek karena jalanan yang sedikit rusak serta suasana yang sepi sepanjang jalan. Laki-laki setengah baya itu baru menutup mulut ketika Hera menyanggupi akan membayar dua kali lipat dari nilai yang dihitung oleh mesin argometer.


Sayangnya, kedatangan Hera tak disambut dengan baik oleh Alvin seperti harapannya. Bukan hanya tak menunjukkan seulas senyum pun di wajahnya, pemuda itu juga melempar pandangan dingin ke arah Hera yang muncul di hadapannya dengan tiba-tiba.


Alvin sendiri langsung memahami alasan para pemuda yang duduk di bangku depan tempat itu mendadak ribut sebelumnya. Tempat yang dikunjungi olehnya tersebut memang merupakan sebuah lokasi yang tidak pernah didatangi oleh spesies lain selain laki-laki. Kalaupun ada perempuan, maka sudah pasti perempuan itu datang untuk mencari “klien”.


Darah Alvin mendidih saat mengingat fakta yang terakhir. Melihat kekasihnya itu menerima pandangan penuh nafsu dari para lelaki yang dengan terang-terangan mengamati setiap inci lekuk tubuhnya tanpa segan itu, membuat Alvin ingin menghancurkan apa pun di dekatnya. Dengan segera ia bangkit dari kursinya dan membayar pesanannya di kasir sebelum mengambil langkah lebar untuk meninggalkan tempat itu. Hera hanya mampu terperangah melihat kelakuan Alvin yang bahkan tak mau repot-repot menatapnya itu.


“Mbak. Semalamnya berapa?” Sebuah celetukan dari arah salah satu meja di bagian depan bangunan itulah yang akhirnya menghentikan langkah Alvin.


Dengan nyalang, ia melempar pandang ke arah seorang pemuda berkaos hitam monokrom hitam dengan logo print sebuah brand terkenal. Hera mencibir ke arah pemuda yang kini tengah menatapnya dengan pandangan berani itu. Dengan sekali lihat saja, mata tajamnya langsung tahu bahwa semua barang yang menempel di tubuhnya itu adalah imitasi. Ia hampir melanjutkan langkahnya karena mengira Alvin juga tidak akan menanggapi orang yang berlagak sok kaya dan memamerkan diri dengan balutan benda-benda bermerek yang ternyata KW itu. Namun, langkah Alvin yang kini berganti arah untuk menghampiri meja tersebut, lagi-lagi menghianati ekspektasi Hera.


“Coba ulangi lagi omongan kamu barusan,” ucap Alvin dengan suaranya yang dalam.


Ekspresi Alvin mungkin terlihat tenang, tetapi siapa pun yang kini tengah melihat ke dalam matanya pasti bisa merasakan kemarahan hebat yang disembunyikannya. Pemuda berkaus hitam itu sampai kehilangan keberanian untuk membalas perkataan Alvin. Apalagi melihat fisik Alvin yang tinggi dan berotot tentu membuatnya semakin kehilangan kepercayaan diri untuk terus mengkonfrontasinya. Akhirnya, salah seorang pemuda yang duduk di sebelahnyalah yang turun tangan.


“Udahlah, Bro. Perempuan macam begitu ‘kan banyak. Aku bisa kasih kamu nomor kenalanku yang koleksinya banyak, tapi kali ini kamu ngalah ya sama temenku. Anak keluarga Subrata, nih. Kalau kamu nggak pernah denger namanya, aku langsung kasih tahu, ya. Keluarganya itu ....”


Belum sempat pemuda tambun itu menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan keras mendarat di rahang kirinya. Hantaman keras itu membuat tubuh pemuda itu roboh ke tanah. Ia jatuh terjengkang ke belakang, bersama dengan kursi rotan yang didudukinya, diiringi dengan suara debuman yang tidak bisa dibilang pelan. Beberapa mata yang ikut melihat peristiwa tersebut hanya bisa terdiam di posisi masing-masing tanpa berniat membantu.


“Anak keluarga Subrata kepalamu! Perlu aku telepon pengacara keluarga mereka untuk membuktikan bahwa dia bukan bagian dari keluarga itu? Anak keluarga Subrata sekalipun tidak akan mungkin berani macam-macam dengan keluarga gadis yang kalian lecehkan ini kalau mereka masih ingin punya nama baik di dunia bisnis.” 


Alvin mendelik marah ke arah beberapa pemuda lain yang duduk di meja itu. Pemuda berkaus hitam yang memulai keributan itu pun hanya bisa bungkam dengan wajah memucat. Tidak menyangka bahwa dirinya akan begitu sial hari ini. Sudah memancing kemarahan orang yang salah, hampir dipenjara karena mencatut nama keluarga Subrata untuk menipu pula. Ia menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya, sekeras mungkin berusaha menunjukkan bahwa ia menyesali perbuatannya. 


Ia sama sekali mengabaikan pandangan apa pun yang diberikan oleh orang-orang yang menonton. Yang terpikirkan olehnya hanyalah bagaimana malam ini ia bisa pulang ke rumahnya, alih-alih ke penjara. Namun, tentu saja, Alvin sama sekali tidak bisa memaafkan orang-orang yang telah melecehkan Hera. Tangannya mengeluarkan ponselnya kembali dari dalam saku dan mengambil gambar kelima pemuda yang duduk di meja yang sama dengan pemuda berkaus hitam itu. Setelah berhasil mengambil potret jelas dari kelima sosok tersebut, Alvin mengirimkan seluruh gambar itu ke nomor pengacara keluarganya, Yorik.


Tak butuh waktu lama bagi pengacara keluarganya tersebut untuk membaca pesan dari Alvin dan menyatakan kesanggupan untuk menjalankan perintah dari putra bungsu majikannya itu. Bukan satu dua kali Alvin memintanya melakukan pekerjaan penelusuran latar belakang pada orang-orang yang mengganggu kehidupannya dan orang-orang terdekatnya. Tentu bukan hanya penelusuran latar belakang saja yang dilakukannya. Ia juga melakukan langkah lanjutan yang diperlukan untuk mengacaukan kehidupan orang-orang tersebut sehingga mereka akan berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengan keturunan keluarga Petra.

__ADS_1


Tristan Petra, ayah dari Alvin yang merupakan salah satu putra dari pemilik maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia sekaligus CEO dari salah satu cabang maskapai itu, memberikan keleluasaan bagi kedua putranya untuk memanfaatkan tim legal perusahaan mereka agar bisa mengurus masalah mereka sendiri. Alvin memang sering menggunakan jasa Yorik, tetapi dalam skala yang masih terbilang wajar. Itu pun kalau ia merasa dirinya terancam. Berbeda dengan Dominiq, kakak kandung Alvin yang berusia sembilan tahun lebih tua darinya, tetapi sangat sering membuat masalah dengan skala yang tidak main-main. Penganiayaan kepada wanita yang dibayarnya untuk menemaninya minum-minum hanya sebagian kecil dari rekam jejak gelap yang ditorehkan pemuda itu di ingatan Yorik. Sisanya? Yorik sendiri bahkan tak yakin akan punya cukup kewarasan kalau harus mengeja satu-satu detailnya.


Setelah menerima balasan dari Yorik, Alvin kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir di lahan luas pada bagian kiri tempat itu. Kali ini, sambil menggandeng tangan Hera untuk menegaskan kepemilikannya. Hal yang terlambat untuk dilakukan sebenarnya, mengingat, sekarang, hampir semua pengunjung tempat itu telah mengetahui bahwa keduanya bukan merupakan seseorang yang bisa mereka singgung seenaknya.


“Kamu kenapa ke sini?” tanya Alvin saat keduanya telah berada di dalam mobil.


“Karena aku bingung harus gimana lagi biar bisa ngomong sama kamu.” Hera menjawab sambil menangis. 


Sebenarnya ia sudah sangat ingin meneteskan air mata sejak Alvin tak mengacuhkannya tadi. Belum lagi perkelahian Alvin dengan pemuda-pemuda bertampang liar itu yang semakin memperburuk suasana hatinya.


“Kamu bisa telepon! Kenapa harus ke sini? Kamu tahu dari Afgar soal tempat ini?” tanya Alvin berang membuat Hera semakin ketakutan. 


Sepanjang mengenal Alvin di bangku SMA hingga kini, ia tidak pernah melihat pemuda itu marah. Memasang wajah kesal pun tak pernah. Karenanya, ia hampir tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengendalikan pemuda itu. Alvin seperti menjelma menjadi sosok yang benar-benar berbeda dengan Alvin yang dikenalnya.


“Jawab aku, Ra! Afgar yang kasih tahu kamu?” bentak Alvin lagi.


“Jangan tolol kamu, Vin! Kamu mau marah-marah ke Afgar hanya karena dia ngasih tahu kalau kamu di sini? Kenapa aku nggak boleh tahu? Apa aku udah nggak punya hak untuk tahu apa pun soal kamu?”


“Kamu nggak boleh tahu karena aku tahu kamu bakalan ke sini kalau kamu tahu. Kamu nggak seharusnya di sini. Ini bukan soal aku, tapi soal kamu!”


“Ini soal kamu, Vin! Kamu beda sekarang. Kamu nggak bales chat aku. Susah ditelepon. Sekalinya ditelepon malah marah. Kamu juga kasar sekarang. Itu semua adalah alasan kenapa aku sampai mengejar kamu ke sini. Aku ingin tahu apa yang berubah di antara kita? Atau apa ada yang berubah di hidup kamu?” Hera melontarkan segala pertanyaan yang menghantuinya sejak beberapa bulan lalu itu.


Ya, Hera merasakan kekasihnya itu berubah semenjak kepulangan mereka dari Kuba. Awalnya, perubahan itu sama sekali tak disadarinya karena sikap Alvin yang masih ceria seperti biasanya. Namun, seiring dengan perbedaan karakter Alvin yang semakin dirasakan oleh Hera, gadis itu perlahan merunut ke belakang. Hasilnya, ia menyimpulkan ada sesuatu yang ditutupi oleh Alvin semenjak mereka pulang dari Kuba.


“Nggak ada yang berubah.” Alvin menjawab datar sambil mulai menyalakan mesin mobilnya.


“Apa itu artinya aku udah nggak berhak tahu?” Hera bertanya lemah. 


Air matanya hampir jatuh kembali melihat Alvin sama sekali tidak mau menatapnya. Alvin yang biasanya bahkan tidak bisa menjauh sedikit pun dari dirinya. Dari situ saja, ia sudah tahu bahwa semua itu bukan hanya perasaannya saja. Jelas ada masalah!

__ADS_1


“Nggak ada yang berubah.” Alvin mengulang jawabannya. Kali ini dengan nada yang lebih tinggi.


“Oke. Kalau gitu aku menyerah.” 


Hera berniat membuka pintu penumpang, tetapi Alvin menahan lengannya.


“Kamu mau ke mana?”


“Keluar.”


“Mana mobil Pak Rohan? Biar aku bilang sama dia kalau aku akan nganter kamu pulang.” Alvin bertanya sambil mengedarkan pandang ke sekelilingnya untuk menemukan penampakan BMW putih yang biasanya digunakan oleh sopir pribadi Hera untuk mengantar gadis itu ke mana-mana.


“Untuk apa aku pulang sama orang yang nggak mau ngomong sama aku,” sahut Hera sembari mencoba membebaskan lengannya dari cengkeraman tangan Alvin. 


Hal yang tak bisa dilakukannya dengan mudah meskipun dengan menggunakan kekuatan penuh. Apalagi dengan tenaga yang dikontrolnya sedemikian rupa untuk memberi kesan pada Alvin bahwa ia sungguh-sungguh ingin pergi.


“Nggak ada yang perlu diomongin. Sekarang mana mobil kamu?” tanya Alvin lelah.


“Aku nggak sama Pak Rohan.”


“Terus?” Bola mata Alvin hampir keluar saat ia menemukan jawaban tersebut sendiri di detik berikutnya. “Taksi?”


Hera memilih untuk tidak menjawab dan kembali pura-pura berontak. Alvin sendiri hampir mengumpat menyadari satu lagi bahaya yang mungkin akan dijemput oleh Hera dalam usaha gadis itu untuk menyusul dirinya. Seorang perempuan muda dan cantik di kursi penumpang sebuah taksi yang melaju di jalanan sepi. Berikan satu saja tokoh psikopat ke dalam deksripsi tersebut dan siapa pun akan langsung bisa menebak skenario memuakkan apa saja yang bisa menjadi nasib Hera.


Tanpa sadar tangan Alvin meremas lengan Hera. Ia baru sadar dari kekalutan benaknya itu ketika suara Hera yang mengaduh kesakitan membawanya kembali ke dunia nyata. Dengan segera, ia meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


“Please, Ra. Jangan kayak gini lagi, please! Aku bisa gila kalau sampai ada sesuatu yang terjadi sama kamu. Please! Aku nggak mau kehilangan kamu juga.”


Hera hanya bisa terpekur mendapati perlakuan Alvin itu. Apalagi saat merasakan tubuh pemuda itu yang bergetar dan cairan hangat menetes jatuh menerobos lapisan kain di pundaknya. Perlahan, tangan Hera melingkar di punggung pemuda itu untuk memberikannya belaian dan tepukan lembut sesekali. Mata Hera ikut basah seolah menyadari seberapa banyak beban yang coba disembunyikan pemuda itu selama ini di balik senyuman jenakanya.

__ADS_1


__ADS_2