Les Láches

Les Láches
43.


__ADS_3

Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi ketika Tian memutuskan dirinya sudah tak mungkin menjemput kantuknya kembali. Matanya sudah terbuka sejak pukul 03.00 padahal dirinya baru tidur selama kurang dari satu jam.


Tian akhirnya memutuskan turun dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan mengambil air wudu. Setelah menunaikan ibadahnya, Tian meraih ponselnya dari atas meja rias dan memasukkannya ke dalam saku piyama. Ia lalu turun menuju dapur dan membuka kulkasnya untuk menyiapkan menu sarapan untuk keluarganya.


Ia bersyukur kemarin menyempatkan diri untuk memborong bahan masakan setelah mengantar Afgar berbelanja keperluannya selama di London sehingga ia tidak perlu pergi ke pasar di pagi-pagi buta begini.


Pemuda itu sendiri sudah berada di penerbangannya sejak pukul satu dini hari. Tian terjaga hingga larut karena alasan yang satu itu. Ia ingin memastikan bahwa Afgar cukup terjaga untuk menyetir mobilnya sendiri ke bandara.


Sesosok laki-laki berjalan tergopoh-gopoh menuju ruangan tempat Tian berada saat Tian tak sengaja menutup pintu kulkasnya sedikit lebih keras dari seharusnya karena tangannya penuh dengan bahan-bahan yang coba ia keluarkan sekaligus.


“Ya Allah! Mbak Tian toh. Saya pikir ada maling subuh-subuh.” Eko muncul di ambang pintu dapur sambil mengelus dada.


Tian hanya bisa tersenyum kecut sembari menunjukkan ekspresi menyesal. “Pak Eko habis dari masjid?”


“Iya, Mbak,” jawab Eko sambil menguap lebar. Sepertinya, dirinyalah yang mendapat tugas berjaga semalam.


“Pak Dironya mana?” tanya Tian sembari meletakkan sepanci air mineral ke atas kompor.


Ia berniat untuk membuat kopi dan roti isi sebelum memulai sesi masak yang sesungguhnya demi melihat bahwa salah satu penjaga rumahnya itu perlu segera menerima asupan makanan untuk menyegarkan diri setelah semalaman terjaga.


“Diro salat di rumah tadi, Mbak,” jawab Eko yang kini duduk di salah satu kursi di depan counter tempat Tian biasa menyiapkan seteko kopi panas.


Tanpa sadar, hal itu menjadi kebiasaan bagi dirinya dan Diro. Keduanya hampir tak pernah melalui pagi tanpa didahului dengan meminum kopi buatan Tian atau Bella.


“Lho. Kenapa nggak ke masjid sekalian?”


“Nanti kalau kami ke masjid bareng-bareng, yang jaga Mbak Tian sama adik-adik siapa?” jawab Eko sambil terkekeh.

__ADS_1


“Halah, Ko. Ngoceh aja kamu. Bukannya bantuin Mbak Tian. Yang majikan ini siapa?” tegur Diro ketus saat dirinya masuk ke dapur dan mendapati kelakuan rekannya itu.


“Oh, iya. Maaf, Mbak Tian. Saya bisa bantu apa, ya?”


Tian hanya melempar senyum lembut kepada laki-laki itu. Sejujurnya, dia memang tidak nyaman saat ada orang yang mengawasinya memasak tanpa berniat membantu. Apalagi kalau orang itu laki-laki. Namun, itu bukan karena dirinya menilai tindakan itu dari sudut pandang ‘siapa majikan, siapa pegawai’. Hanya saja, ia merasa ada peran yang disematkan padanya saat seorang laki-laki mengawasinya memasak. Seolah tugas memasak tanpa dibantu itu sudah merupakan kewajibannya sebagai perempuan dan wajar jika laki-laki tidak merasa perlu untuk membantu karena pekerjaan domestik bukan ranah yang biasa mereka tangani.


Tian menggeleng kecil. Pikirannya mulai liar. Ia merasa sedikit terlalu dalam menggali makna atas tindakan Eko itu. Tentu saja, ia tahu tidak semua laki-laki dengan sengaja bertindak seperti itu. Hal itu hanya bentukan dari kebiasaan karena mereka—termasuk juga Tian—dibesarkan di dunia yang kental dengan budaya patriarki yang mengaitkan pekerjaan domestik dengan perempuan dan pekerjaan industrial dengan laki-laki. Well, tidak ada yang bisa memilih bagaimana dirinya dibesarkan.


Namun, tak ada kebiasaan buruk yang tak mungkin dirubah, pun tak ada kebiasaan baik yang tak bisa dibentuk. Kali ini, Tian lah yang salah karena membiarkan tindakan Eko untuk “melihat-lihat” alih-alih memintanya untuk membantu.


Karenanya, Tian meminta bantuan Eko untuk mengangkat air dalam panci yang mulai mendidih dan memindahkannya ke atas counter.


“Makasih, Pak,” kata Tian lembut sembari melanjutkan kegiatannya untuk memotong-motong roti tawar.


“Saya bikin kopi sekalian ya, Mbak?” Eko semakin bersemangat untuk membantu setelah melihat senyum putri majikannya itu. Tian merespon pertanyaannya dengan anggukan dan senyuman lain.


Diro berlalu dari dapur sambil menggeleng kecil melihat tingkah Eko.


“Saya mau buat sandwich buat temen ngopi, Pak. Kalau untuk sarapan nanti, saya mau bikin ayam rica-rica sama pindang bumbu kacang,” jawab Tian.


Eko menelan ludah. Tiba-tiba suara perutnya yang berbunyi nyaring membahana di seantero dapur. Tian tertawa terbahak-bahak.


Eko tersenyum malu-malu. “Saya jadi laper.”


Tian meletakkan beberapa potong roti isi daging ke dalam piring saji, lalu menata piring tersebut bersama seteko kopi buatan Eko ke dalam sebuah nampan besar. Setelah Eko pergi dari dapur sambil membawa nampan tersebut ke pos jaga, Tian kembali sibuk dengan kegiatannya.


Tian melirik jam yang menunjukkan waktu pukul setengah lima, saat ia mendengar suara berisik dari ruangan di samping dapur. Ruangan itu sebenarnya cukup besar untuk dijadikan kamar tidur, tetapi Bella menjadikan ruangan tersebut sebagai tempat menyimpan peralatan untuk bersih-bersih seperti sapu, tongkat pel, ember, tumpukan selang, dan banyak lagi lainnya.

__ADS_1


Suara berisik itu sendiri biasanya ditimbulkan oleh Joan saat memulai aktivitas paginya untuk membersihkan rumah. Adiknya yang satu itu mungkin memang bengal, tetapi dia bangun sedikit lebih pagi daripada Lidia yang memiliki citra lebih rajin. Meskipun sebenarnya itu ada kaitannya dengan kebiasaan Lidia yang tidur paling malam dibandingkan seluruh saudari-saudarinya yang lain.


“Kak Tian ada kopi?” Joan masuk ke dapur dan melayangkan pandang ke atas counter.


“Sejak kapan kamu ngopi?” Tian melempar pertanyaan balik.


“Ada, nggak?”


“Nggak ada. Selama ini yang suka ngopi kan cuma pak Eko, pak Diro, sama mama. Jatah buat pak Eko sama pak Diro ya udah dibawa dari tadi,” jawab Tian sambil mulai memasukkan semua bahan yang sudah disiapkannya ke dalam wajan.


Joan mengeluarkan keluhan kecil.


“Ini ada sandwich kalau kamu laper,” kata Tian lagi sambil meletakkan piring yang telah ia isi kembali dengan potongan roti isi ke atas counter.


“Kak Tian mikir aku nyari kopi karena laper?” tanya Joan, tetapi tetap mencomot dua potong roti dari atas piring dan menjejalkannya sekaligus ke dalam mulut.


“Ya, terus?”


“Lifestyle, Kak Tian, lifestyle.” Joan menjawab dengan nada seolah yang baru saja dikatakannya itu adalah pengetahuan paling dasar yang bahkan sudah diketahui oleh anak di bangku taman kanak-kanak.


“Lifestyle macam apa? Siapa yang kamu tiru? Mama?” Tian mengerutkan keningnya bingung.


“Niru? Nggak lah, ya. Mama itu ngopi sesekali aja karena malemnya susah tidur gara-gara Marcela rewel. Kalau lifestyle itu rutin, Kak. Jadi, seenggaknya aku HARUS minum kopi tiap pagi,” jelas Joan dengan gaya bicaranya yang sok tahu.


“Demi apa minum kopi tiap pagi?”


“Aduh, lifestyle, Kak Tian!” tegas Joan gemas.

__ADS_1


Tian ikut gemas. “Ya, orang ‘kan menganut gaya hidup tertentu itu dengan satu atau banyak alasan, Jo. Kamu apa?”


“Aduh, susah ngomong sama Kak Tian.” Joan kabur segera setelah mengucapkan kata-kata itu. Meninggalkan Tian yang melongo sendirian.


__ADS_2