
Afgar memandangi sebuah potret pada album di galeri PC-nya, sambil sesekali tersenyum-senyum sendiri. Album tersebut berisi foto-foto bersama Tian sejak awal bertemu di kelas playgroup. Saat itu, Tian masih tinggal bersama Damian, ayah kandungnya yang sayangnya tak pernah memberikan perlakuan yang semestinya diberikan seorang ayah kepada putrinya. Mengingat namanya saja membuat darah Afgar mendidih. Karena itu, ia mengalihkan fokusnya kepada hal lain, yakni kenangannya saat kali pertama memutuskan untuk dekat dengan seorang Titiana Hamada.
Sebenarnya, Afgar kecil tak memiliki ketertarikan sedikit pun dengan Tian yang walaupun memiliki kecantikan di atas rata-rata teman sekelasnya, tetap kalah cantik dengan Hera, putri seorang kenalan ayahnya yang sering diajak saat berkunjung pada jamuan makan malam mewah di rumahnya. Afgar memang sempat menyukai Hera saat masih berada di usia yang dengan mudahnya jatuh cinta dengan hal-hal yang indah dan menarik perhatian tersebut. Namun, sebuah keadaan mengubah preferensinya. Sejak saat itu, gadis favoritnya bukan lagi Hera, melainkan seorang gadis kecil–yang berada di kelas yang sama dengannya–dengan gigi kelinci dan pipi tembam menggemaskan. Tian.
Kisah kecil itu bermula ketika Afgar sedang menunggu jemputan di kelas. Pada hari itu, hujan turun sangat deras, sehingga sopir pribadi ayahnya sedikit kesulitan menjemputnya karena jalanan yang banjir. Untungnya, Afgar bukan satu-satunya yang tertinggal di kelas. Tian, yang saat itu juga terlambat di jemput, duduk di sudut kelas sembari membaca sesuatu dari buku yang disediakan oleh di kelas mereka.
Kala itu, Afgar mengira bahwa yang dilakukan oleh gadis itu hanyalah melihat-lihat gambar yang ada pada buku tersebut. Namun, Afgar terkejut saat mendengar beberapa kata yang terucap dari bibir gadis itu saat ia mendekat. Karena penasaran, Afgar memutuskan untuk bertanya.
“Kamu bisa baca?”
Gadis itu mendongak. Mata bulatnya melebar saat menatap Afgar. Mungkin karena tak menyangka bahwa anak laki-laki yang tak pernah berinteraksi dengannya itu memutuskan untuk membuka percakapan. Setelah mengatasi keterkejutannya, gadis itu mengangguk pelan lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Tak puas dengan jawaban itu, Afgar duduk di sebelahnya dan ikut melongok isi bukunya.
“Pintu,” eja Tian pada sebuah halaman yang menampilkan gambar sebuah pintu kayu bercat cokelat.
“Jendela,” ucapnya lagi dan Afgar memang melihat gambar jendela kaca di atas lembaran kertas tebal itu.
Tian membalik halaman berikutnya. “Meja.”
Afgar belum mengenal huruf, tetapi hanya dengan melihat saja Afgar sudah bisa “membaca” isi buku yang dibaca oleh Tian. Karenanya, Afgar mulai curiga kalau-kalau gadis itu hanya pura-pura bisa membaca. Akhirnya, ia mencoba menutup gambar yang ada pada halaman berikutnya dengan kedua tangan kecilnya.
“Ayo coba baca lagi!” perintah Afgar saat Tian melempar tatapan bingung ke arahnya.
Gadis itu menurut tanpa banyak protes. Hal yang tak mungkin dilakukan oleh Afgar jika seseorang memperlakukannya dengan cara yang sama.
“Kursi.” Tian mengeja dan Afgar mengintip gambar di balik tangannya. Benar.
“Kapur tulis,” lanjut Tian. Afgar kembali mengangguk.
“Papan tulis.” Benar lagi.
“Pe-,” Tian diam sejenak. Namun, saat masih mengeja, Afgar mendahuluinya.
“Penghapus!” serunya bangga.
Tian menatapnya dengan mata lebarnya. Sedikit bertanya-tanya, sejak kapan kegiatan itu menjadi sebuah perlombaan. Namun, senyum di wajahnya yang muncul berikutnya membuat Afgar membisu. Padahal, Afgar cilik hampir menyangka akan mendengar sebuah protes tak terima dari gadis itu.
“Siapa yang mengajari kamu membaca?” tanya Afgar saat ia mulai bosan dengan buku-buku lain yang diambilnya dari rak.
"Mama," jawab Tian.
__ADS_1
Berikutnya, Afgar menyeret gadis cilik itu untuk menemaninya bermain balok Lego dengan seenaknya. Kali ini, Afgar lebih unggul daripada Tian. Bahkan jauh lebih unggul. Saat Afgar berhasil menyelesaikan dua buah mobil-mobilan dari keping balok warna-warni yang dipungutnya dari tumpukan, Tian hanya bisa meniru bentuk dasar yang dibuatnya sebelum akhirnya menyerah dan menumpuk beberapa keping balok menjadi sebuah menara yang tinggi.
Awalnya, Afgar tidak peduli karena asyik dengan mainannya sendiri. Namun, ketika tumpukan milik Tian itu tumbang–karena fondasinya tak mampu menahan beban yang terus ditambahkan–dan mengenai mainan buatan Afgar, tinju bocah laki-laki itu menyasar sisi kiri lengan Tian. Gadis itu sedikit terkesiap, tetapi tidak menangis. Bahkan Afgar lah yang sedikit berkaca-kaca saat seorang guru yang mengamati keduanya dari jauh menegur perbuatannya.
“Maaf.” Gadis kecil itu membuka bibirnya saat Afgar menolak untuk meminta maaf sekalipun dimarahi oleh sang guru.
“Kenapa kamu yang minta maaf?” tanya guru mereka yang usianya mungkin baru mencapai kepala tiga itu.
“Saya merusakkan mainan Afgar,” akunya takut-takut.
Wanita muda itu, yang Afgar sendiri telah lupa namanya, menarik napas panjang sebelum menjelaskan bahwa tidak ada masalah yang boleh diselesaikan dengan kekerasan. Wanita itu kemudian menjelaskan mengenai konsep keadilan dengan bahasa yang sesederhana mungkin agar bisa dipahami oleh dua pasang telinga kecil yang tengah mendengarkan petuahnya itu.
“Ada polisi yang berhak menghukum orang-orang yang bersalah. Namun, tidak semua kesalahan bisa dilaporkan ke polisi. Ada yang bisa dibicarakan baik-baik dulu sebelum pergi melapor ke pihak berwajib, apalagi sebelum main tangan.” Wanita itu menutup penjelasannya sembari melempar pandang penuh arti kepada Afgar yang hanya bisa menunduk.
“Kalau memukul orang bisa dilaporkan polisi juga, Bu Guru?” tanya Tian tepat setelah wanita itu selesai berpetuah.
Afgar langsung berkeringat dingin. Ia tahu siapa itu polisi dan apa yang mereka lakukan pada orang jahat. Afgar kecil langsung bisa membayangkan dirinya berdiri tepat di belakang jeruji besi hitam, menangis memanggil nama ayah, ibu, bahkan nama kakaknya.
“Memukul yang bagaimana dulu? Kalau hanya karena disebabkan oleh pertengkaran antar teman, tentu kamu bisa membicarakan baik-baik dulu dengan teman kamu itu agar tidak mengulangi perbuatannya. Dan kalaupun temanmu tadi masih mengulangi kesalahannya, kamu bisa lebih dulu lapor ke Ibu atau guru-guru yang lain.”
Wanita itu menjelaskan dengan kelabakan. Sepertinya, isi kepalanya juga berpikir bahwa Afgar lah yang dimaksud oleh Tian. Hanya saja yang dibayangkannya bukan khayalan imajinatif tentang seorang bocah laki-laki kecil yang menangis dengan memakai pakaian bertuliskan “tahanan”, melainkan dua orang tua yang berjibaku saling serang karena insting mereka yang meyakini bahwa anaknya adalah malaikat dan tidak boleh disalahkan sekalipun memang begitulah faktanya.
“Kalau memukulnya sampai berdarah?” tanya Tian lagi.
“Nggak ada yang berdarah, Tian.” Wanita muda itu bernapas lega setelah selesai memeriksa lengan gadis itu. Ia kemudian mencubit pipi Tian dengan gemas.
“Bukan Tian, tapi Mama.”
Wanita itu terkesiap. “Siapa yang pukul?”
Tian kecil tidak berani menjawab dan hanya menunduk lesu. Ia bergeming sekalipun gurunya memaksanya untuk berbicara.
Ketika akhirnya guru mereka menyerah untuk menanyai gadis itu dan membiarkan keduanya bermain berdua. Afgar menyentuh lengan Tian yang dipukulnya tadi.
“Ini sakit?” tanyanya sedikit ragu.
Tian mengangguk. Afgar kembali sedih. Dirinya saat itu tak berpikiran panjang dan hanya tahu bahwa satu-satunya cara untuk melampiaskan kemarahannya adalah dengan memukul sesuatu atau seseorang. Kebiasaan yang mulai detik itu ingin diubahnya.
“Terus kenapa nggak nangis?”
__ADS_1
“Aku pernah merasakan yang lebih sakit,” jawab Tian polos.
“Yang memukul, orang yang sama dengan yang memukul mamamu?” Afgar bertanya lagi.
Tian diam sejenak, sebelum mengangguk pelan.
“Papamu?”
Jeda yang dibutuhkan Afgar sebelum menerima jawabannya semakin panjang. Setelah beberapa saat, gadis kecil itu akhirnya mengangguk.
“Jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia,” pinta Tian sembari mengangsurkan jari kelingking kanannya.
Afgar mengangguk antusias. Dirinya di masa itu belum mengerti apa itu rahasia, hal yang harus dilakukannya untuk menjaga rahasia, dan hal yang dipertaruhkan oleh orang yang menitipkan rahasia itu kepadanya. Yang ia tahu adalah setelah ia menceritakan “rahasia” itu kepada ibunya, rahasia itu menyebar dengan cepat di antara semua guru dan ibu-ibu teman sekolahnya. Sebulan setelah kejadian itu, seorang laki-laki muda yang mengaku ayah Tian datang ke ruang guru dan mengurus dokumen kepindahan bagi Tian.
Gadis itu menangis sesenggukan saat mengucapkan salam perpisahan di depan kelas. Afgar yang mengantarnya sampai ke pintu gerbang sekolah menyempatkan diri untuk menyelipkan sebuah nomor telepon rumah di saku seragam Tian, meminta gadis itu untuk menghubunginya sesering mungkin.
Gadis itu sering meneleponnya dari telepon umum–begitu yang diakuinya–dan bertukar banyak kisah tentang kehidupannya di tempat baru yang tak lebih baik dari sebelumnya.
Tian bercerita bahwa dirinya kini dikurung di rumahnya dan terpaksa harus menjalani home schooling. Untuk bertelepon saja, ia harus menunggu saat sang ayah melakukan perjalanan panjang ke luar negeri, karena hanya saat itulah Bella diizinkan pergi ke luar rumah untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Itu pun harus diantar oleh sopir sekaligus bodyguard yang disewa Damian untuk mengawasi gerak-gerik ibunya itu.
Hanya ibunya. Tian sendiri dengan mudah menyelinap dari penjagaan dan menelepon Afgar.
Afgar yang semakin beranjak dewasa akhirnya menyadari dampak dari perbuatannya itu. Namun, ia hanya bisa menyalahkan dirinya atas kesulitan yang diterima oleh gadis itu. Ia tidak lagi punya nyali untuk meminta bantuan kepada siapa pun. Apalagi pada ibunya yang hanya peduli soal popularitas itu. Afgar bersyukur ia masih bisa berhubungan dengan Tian bahkan setelah ia mengakui “dosa” yang telah dilakukannya pada gadis itu.
“Bukan salah kamu. Kamu hanya mau membantu.”
Hanya itu yang diucapkan oleh Tian setelah Afgar menyelesaikan penjelasannya. Saat mendengarnya, Afgar kembali membayangkan wajah seorang gadis yang tersenyum tulus padanya meskipun ia telah merebut kesempatannya untuk menuntaskan ejaan kata penghapus.
Sejak itu, Afgar bersumpah untuk mencari gadis itu saat dirinya beranjak dewasa. Ia ingin melindungi gadis itu untuk menebus semua kesalahannya.
Sayangnya, cita-cita kecilnya itu pupus ketika gadis itu menghilang selama lebih dari setahun. Tak ada yang bisa Afgar lakukan untuk mencari keberadaan Tian. Tak ada nomor telepon yang bisa dihubungi, juga alamat rumah yang bisa didatangi.
Namun, tepat saat Afgar hampir kehilangan harapan, gadis itu muncul kembali di hidupnya. Saat itu, ayahnya mengajaknya mengunjungi sebuah kenalan yang bekerja di bidang yang hampir sama dengannya, arsitektur. Orang itu adalah Adler. Di rumahnyalah, Afgar melihat gadis itu kembali.
Afgar langsung mengenali sosoknya meskipun hampir enam tahun tak bersua. Yah, mata bulatnya yang melebar saat terkejut tak mudah dilupakan, atau memang otaknyalah yang tak mengizinkan Afgar untuk lupa. Yang pasti, pertemuan itu membuat tekad Afgar semakin kuat berakar. Ia ingin memastikan gadis itu tak disentuh oleh laki-laki mana pun. Di matanya, tak ada laki-laki lain yang bisa dipercaya untuk menjaga gadis itu selain dirinya atau Adler, laki-laki yang menyelamatkan gadis itu dari tangan monster yang sayangnya harus disebutnya ayah itu.
Well, sekarang ada Meda. Meskipun Afgar tak tahu harus bagaimana menyikapi perasaannya yang tak tenang semenjak mengetahui bahwa gadis yang disayanginya lebih dari Zefani–adik kandungnya yang seumuran dengan Tian–berpacaran dengan pemuda itu, logikanya mengingatkan bahwa yang diinginkan olehnya hanyalah kebahagiaan Tian. Namun, semakin ia memikirkan bahwa sumber kebahagiaan Tian adalah Meda, hatinya semakin tak tenteram.
Tak perlu orang cerdas untuk mengetahui bahwa perasaan romantisnya pada Tian yang sempat disadarinya saat mereka remaja itu, masih ada di hatinya. Perasaan itu bahkan tak pernah hilang seperti yang dikiranya saat ia memutuskan untuk mengencani teman dekat Tian, Safira. Namun, semua sudah terlanjur dan seperti yang diucapkan Tian beberapa waktu lalu, tak ada kata “kalau’. Keduanya sudah hidup di rentang waktu yang baru.
__ADS_1
Kini, Afgar hanya bisa menanggung semua akibat dari keputusannya di masa lalu. Jadi, sebisa mungkin, ia mencoba tidak menyesali hubungannya dengan Safira yang sudah melangkah ke arah serius. Ia mencoba menikmati kebersamaannya dengan tunangannya itu. Lebih-lebih karena semenjak pertengkaran keduanya yang terakhir, Safira mencoba sebaik mungkin untuk berubah menjadi lebih manis. Dirinya pun harus berjuang dengan sama kerasnya.
Afgar menatap foto Tian untuk yang terakhir kalinya sebelum menyembunyikan kembali folder berisi foto itu dan mematikan komputernya.