Les Láches

Les Láches
(Un)Familiar


__ADS_3

“Hai, Cantik!”


Tian melempar tatapan tajam ke arah laki-laki bersetelan jas abu-abu bergaris yang berdiri di dekat meja dessert sembari mengedipkan satu mata ke arahnya, sebelum kembali berjalan menuju balkon lantai dua bangunan tempat dirinya berada. Malam itu, dirinya menghadiri pesta ulang tahun Zaira Oberon, neneknya. Nenek Marcela tepatnya, mengingat hanya adik bungsunya itu sajalah yang mewarisi darah dari ayahnya, keturunan satu-satunya dari pemegang saham terbesar di perusahaan keluarga Oberon, Mathis Oberon.


Sebenarnya, Tian hampir melupakan fakta bahwa dirinya bukan putri kandung Adler berkat kebaikan yang diterimanya dari laki-laki itu sejak dirinya tersadar di ranjang rumah sakit sepuluh tahun lalu. Namun, semua anggota keluarga besar Adler, termasuk ayah dan ibu Adler, selalu berusaha memastikan bahwa Tian tidak akan pernah lupa dengan asal-usul dirinya yang sebenarnya. 


Bahkan, Lidia dan Joan yang belum menginjak usia dewasa pun tahu bahwa diri mereka dibenci. Untungnya, Adler selalu membesarkan hati mereka dengan mengatakan bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa membuatnya berhenti menganggap Tian dan keduanya sebagai putri yang disayanginya. Laki-laki itu bahkan rela melepas marga Oberon dari namanya saat kedua orang tuanya menentang pernikahannya dengan Bella hanya karena wanita itu seorang janda. Apalagi asal-usul Bella yang yatim piatu sangat kontras jika dibandingkan dengan latar belakang keluarga Oberon yang memiliki sejarah keluarga panjang dan kekayaan berlimpah yang diwariskan secara turun-temurun.


Tian menarik salah satu sisi rambutnya yang dimainkan oleh angin ke belakang telinga. Malam itu, Tian sengaja mengurai rambutnya untuk menyembunyikan potongan kerah off-shoulder dari gaun yang dikenakannya. Gaun tersebut dipilih sendiri oleh Bella pada hari terakhir kepulangannya dari Prancis. Wanita itu memang sempat menawarkan pada Tian untuk memeriksa katalog yang dikirimkan olehnya sebelum memilih gaunnya sendiri. Namun, karena enggan dipusingkan dengan berbaris-baris model pakaian yang terlihat sama saja di matanya itu, Tian menyerahkan semua keputusan itu kepada ibunya.


Tian dengan cepat menyalahkan ketidakacuhannya itu setelah ibunya menyerahkan potongan kain berwarna hijau velvet itu kepadanya. Gaun berbahan linen itu jauh dari kata jelek. Sangat jauh malah. Hanya saja, potongan leher dan belahan pada sisi depan kanan dress yang mengekspos kakinya sampai sebatas lutut itu membuat Tian enggan untuk memakainya. Belum lagi, potongan regular fit yang memperlihatkan lekuk pinggang dan pinggulnya itu. Tian tidak pernah merasa nyaman dengan model pakaian yang membuat lekuk tubuhnya terlihat.


Meskipun, banyak orang yang berulang kali mengatakan bahwa mereka bermimpi memiliki bentuk tubuh sepertinya, Tian hanya bisa merasa skeptis. Sebab, tak sekalipun ia bangga dengan kelebihan fisik yang dimilikinya itu. Sebaliknya, ia malah cenderung merasa malu saat mendengar orang lain memuji bentuk tubuhnya. Ia merasa dilecehkan saat orang-orang memandanginya dengan tujuan untuk menilai tubuhnya. Hanya saja, ia menyimpan sendiri pendapat itu dalam kepalanya dan melindungi dirinya dari perasaan tersebut dengan gaya berpakaiannya yang selalu longgar dan tertutup.


Bukannya Tian sama sekali menolak memakai sesuatu yang pas badan, hanya saja memaksakan dirinya untuk mengenakan pakaian tipe tersebut selalu memberikan efek samping yang kurang menyenangkan. Tian cenderung akan berkeringat di luar batas kewajaran saat berada dalam balutan pakaian tersebut. Hal yang dialaminya itu mungkin terlihat normal di mata pengamatnya. Tentu tak sedikit orang yang akan mengeluarkan banyak keringat saat mengenakan pakaian ketat karena terbatasnya ruang bagi kulit untuk bernapas. Namun, Tian tahu benar bahwa yang dirasakannya adalah fenomena yang tidak wajar. Sebab, ia akan tetap terlihat seperti itu sekalipun berada di ruangan dengan suhu yang luar biasa dingin.


“Tian?”


Sebuah suara mengalihkan perhatian Tian yang sebelumnya tertancap pada permukaan air kolam renang di bawahnya. Seorang wanita berwajah kebarat-baratan dan berambut pirang muncul di belakang Tian. Saat melihat wajah Tian, wanita itu tersenyum lebar dan mengambil langkah mendekat. Tian langsung mengenali sosok tersebut saat penerangan dari lampu balkon membantunya melihat wajah itu lebih jelas. Wanita itu bernama Mary, sepupu jauh Adler. Ia adalah satu-satunya orang dari keluarga besar Adler yang memandang Bella dan ketiga putrinya sebagai manusia seutuhnya. Tanpa embel-embel status sosial dan latar belakang keluarga.


Meskipun tidak berada di keluarga utama, gadis itu murni mewarisi darah Brazil, garis keturunan yang dibangga-banggakan oleh keluarga besar Oberon itu. Mary dikategorikan sebagai gadis yang liar oleh mayoritas anggota keluarga besar Oberon hanya karena wanita itu kabur dari rumah setelah menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Tak ada yang menyangka bahwa wanita cerdas itu sudah merencanakan pelariannya sejak ia sadar bahwa dirinya tidak akan punya hak atas masa depannya jika terus berada dalam kungkungan keluarga besarnya.


Dengan berbekal tekad dan kerja keras, wanita itu mati-matian mengejar kesempatan untuk memperoleh beasiswa di luar negeri. Usahanya membuahkan hasil saat ia menerima kabar bahwa dirinya diterima di sebuah universitas negeri terkenal di Belgia. Di sanalah ia "menghilang" untuk menempuh empat tahun masa studinya. Di sana pulalah ia bertemu dengan pangeran yang berhasil merebut hatinya. Pangeran dalam artian yang sebenarnya, yang putra miliarder berdarah Pakistan dan memiliki saham tersebar di berbagai perusahaan bonafit kelas internasional.


Pernikahan mereka berlangsung di lima negara, yakni Pakistan, Indonesia, Brazil, Belgia, dan Prancis. Semua negara itu memiliki sejarah bagi keduanya, mulai dari negara asal keduanya, tempat mereka bertemu, dan yang terakhir merupakan negara yang ingin mereka tinggali bersama setelah menikah. Kini, posisi Mary di mata keluarga utama bahkan lebih tinggi daripada kedua orang tuanya. Sekalipun label liar masih melekat pada image-nya, tak ada seorang pun yang berani mengusiknya.


Sebenarnya, Tian, seperti halnya Adler, tidak dekat dengan Mary sekalipun wanita itu menunjukkan karakter yang berbeda dengan anggota keluarga utama lainnya. Tian sendiri hanya menduga bahwa ketertarikan yang ditunjukkan Mary pada keluarganya ada hubungannya dengan perasaan senasib sepenanggungan sebagai orang terasing di antara keluarga utama. Tanpa diketahui oleh Tian, bahwa keputusan Mary untuk membelot dari keluarganya sebenarnya terinspirasi dari kekagumannya pada tindakan Adler saat meninggalkan keluarga utama demi Bella dan putri-putrinya. Sikap tegas sepupunya itu membangkitkan hasrat memberontak di dalam dirinya yang sempat terpendam seiring dengan bertambah dewasanya dirinya.


Tanpa dorongan itu, dirinya tidak akan berdiri di tempatnya berada kini dan bertemu dengan lelaki yang menjadi belahan jiwanya. Karena itu, bagi Mary, Adler adalah penyelamat dalam hidupnya. Begitu pula dengan keluarga kecil yang coba dilindungi oleh laki-laki itu dan menjadi motivasi di balik semua sikap yang diambilnya.


“Kenapa di luar?” tanya Mary sembari ikut melempar pandang ke titik yang dilihat oleh Tian sebelum ia mengusiknya.


“Cuma mau cari angin segar,” jawab Tian. Matanya diam-diam memperhatikan bagaimana maxi dress hitam yang dikenakan wanita itu terlihat menambah pancaran pesona seksi dirinya sekalipun tidak memamerkan lekukan tubuh.


“I see. It's very stuffy inside, indeed.” Mary sepertinya tidak menangkap maksud Tian yang sebenarnya. Namun, Tian sama sekali tidak berniat mengoreksinya.

__ADS_1


“Kuliahmu bagaimana?” tanya Mary lagi dengan logat asing yang kental, mengingat ia menghabiskan hampir delapan tahun waktunya tinggal di Prancis bersama keluarga barunya.


“Fine.” Tian menjawab singkat.


Mary mengangguk mengerti saat menangkap keengganan gadis itu untuk membahas mengenai studinya. Hal itu bukannya tanpa alasan. Keluarga utama Oberon menentang habis-habisan keputusan Adler untuk menguliahkan Tian di jurusan seni rupa. Bukan karena jurusannya, melainkan karena profesi yang ingin ditekuni gadis itu begitu studinya tuntas. Tian ingin menjadi kurator, sementara profesi itu sama sekali tidak pernah ada dalam sejarah keluarga Oberon. 


Dalam keluarga besar Oberon tradisi turun-temurun adalah hal yang sakral dan sangat dijunjung tinggi, sehingga hampir tidak ada ruang untuk berinovasi. Adler bisa dibilang “beruntung” karena pilihan karirnya sebagai arsitek sejalan dengan bisnis konstruksi dan properti milik keluarga besarnya, sehingga tidak mendapat tentangan dari orang tuanya. Pertentangan mengenai masa depan Tian itu sendiri sempat menjadi konflik terbesar kedua yang dibawa Adler setelah menikahi Bella. Konflik itu berujung dengan Adler menarik seluruh saham miliknya dan hengkang dari perusahaan milik keluarganya. Dilihat dari semua kejadian itu, wajar rasanya jika Tian sedikit defensif ketika orang-orang dari keluarga besarnya menyinggung mengenai topik yang berkaitan dengan masalah tersebut di depannya. Tidak terkecuali Mary.


“How about boyfriend?” Mary mencoba mengganti pendekatannya untuk memulai pembicaraan dengan Tian.


Tian hanya menggeleng, tetapi ekspresinya mulai melunak.


“No way! You can’t be serious!” Mary berseru tak percaya. “Not even a crush?”


Tian diam sejenak sebelum menggeleng lambat, sebuah senyum tersungging di bibirnya.


“Liar. Your smile says otherwise.” Mary tertawa menggoda.


Tian ikut tertawa sebelum akhirnya mengaku pada Mary bahwa ada satu nama yang memang terlintas di kepalanya saat mendengar pertanyaan terakhir Mary. Tian juga menceritakan tentang pertengkaran yang sempat terjadi di antara dirinya dan pemuda itu yang membuat dirinya sempat membantah fakta bahwa ia tengah dekat dengan seorang laki-laki.


“Sahabat yang sudah aku kenal dari kecil. Bahkan, jauh sebelum aku bertemu Papa,” jelas Tian.


Mary mengangguk-angguk kecil. Ia memang sudah mendengar cerita tentang masa lalu Bella dan ketiga putrinya saat Adler menjelaskan latar belakang wanita yang ingin dinikahinya itu kepada anggota keluarga besarnya. Tentu saja, tak ada yang mau repot-repot menunjukkan simpati atas cerita masa lalu wanita itu. Tak ada satu pun, kecuali Mary.


“Tentu saja. Dengan sejarah panjang seperti itu, mustahil kamu tidak pernah jatuh cinta pada Afgar.” Mary tersenyum tipis. “Namun, pertanyaan pentingnya adalah apakah kamu sudah benar-benar berhenti menyukai Afgar?”


Tian mengerutkan keningnya, seolah Mary menanyakan sesuatu yang sudah sangat jelas jawabannya. “Of course. Dia sudah jadi tunangan orang.”


Mary menggeleng buru-buru. “Bukan karena Safira atau siapa pun. Aku mau tahu perasaan kamu terlepas dari semua itu. Sudah benar-benar moving on dari Afgar?”


Kali ini Tian memeriksa benaknya baik-baik. Mencoba mencari tahu bagaimana perasaannya bereaksi saat membayangkan seandainya pemuda itu tak berhubungan dengan siapa pun. Saat logikanya tak melihat keadaan tersebut sebagai sebuah kesempatan, ia langsung memutuskan bahwa ia sudah benar-benar mengakhiri perasaan itu. Sejujurnya, ia bahkan sudah tak dapat mengingat kapan terakhir kali hatinya terasa bersemangat saat menanti waktu pertemuannya dengan Afgar.


“Aku sudah nggak menyimpan perasaan seperti itu lagi sama Afgar,” sahut Tian akhirnya.


Mary melihat ke dalam mata Tian, mencoba mencari kesungguhan di sana.

__ADS_1


“He will trust you as long as he listen to your plea.”


“Indeed. KALAU dia mendengarkan. Yang aku khawatirkan adalah dia nggak akan pernah mau menghubungi aku lagi.” Tian menggeleng jengah. Memikirkan hal itu saja membuat isi perutnya bergejolak.


“Kapan terakhir kalinya kalian in touch?”


Tian tidak perlu berpikir lama untuk mengingat saat-saat terakhirnya bicara dengan pemuda itu. “Setelah pulang dari kencan pertama sekaligus terakhir kami. Ironis, ‘kan?”


“No texting?” Mary terus mencoba menganalisa konflik di antara kedua orang itu. Entah mengapa, sekalipun ia belum bertemu dengan Meda, ia bisa menilai bahwa pemuda itu adalah sosok yang baik dan berkarakter. Ia tidak mau kesalahpahaman kecil membuat hubungan Tian dan kandidat calon menantu keluarga Adler itu kandas di tengah jalan.


“Kami masih aktif bertukar pesan di Whatsapp. But… you know how it feels when something is off. Percakapan kami terasa canggung.” Tian menggaruk sisi kepalanya yang tidak gatal sebelum kembali melanjutkan. “Lebih lucunya lagi, libur kuliah hampir berakhir dan laporan tugas yang seharusnya menjadi hal pertama yang aku pikirkan malah seolah berada di tumpukan terakhir dalam daftar prioritasku. This is driving me nuts!”


“Oh, dear! Don’t make your stress worsen. Itu semua normal. There is almost nothing logical about love.” Mary menepuk-nepuk punggung keponakannya itu dengan lembut.


“Apa kamu juga merasa seperti ini saat bertemu dengan Morgan?”


Mary menggeleng cepat. “Luckily, our relationship is out of drama.


Mary buru-buru menutup mulutnya setelah menyadari bahwa secara tak langsung ia telah menyebut hal yang dilalui Tian tersebut dengan istilah yang, tentunya, terdengar negatif.


“I am so sorry. I mean no harm. It’s just ….” Mary mencoba menjelaskan ketika Tian memotongnya.


“It’s okay. I know. This situation kinda turn out to be dramatic, indeed.”


“No. Ugh! Listen to me! Don’t let that slip of tongue affect what I told you before. Kamu harus memastikan dia mendengar dan melihat semua kata-kata sekaligus ketulusan kamu. Just do it! Then everything will turn back to be normal. Easy does it!” Mary mengatakan semua itu dalam satu tarikan napas, menunjukkan betapa bertekadnya ia untuk membantu Tian memperbaiki hubungannya dengan Meda.


Tian bisa melihat semua itu dan memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan saran penuh kesungguhan yang diberikan oleh Mary, sosok yang akan dengan senang hati dipanggilnya Bibi kalau saja usianya tak terpaut hanya lima tahun dengannya.


“Aku akan coba mengajak dia bertemu dan menyelesaikan semua kesalahpahaman ini sebelum mulai masuk kuliah.” Tian berjanji pada wanita itu.


“Give me your phone number and e-mail adress. I will contact you as soon as I set my foot on Lyon. We will got so much things to talk about.” 


Mary mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik nomor ponsel dan alamat surel Tian. Setelah beberapa kali memastikan bahwa Tian tidak akan lupa untuk menghubunginya, wanita itu beranjak pergi. Pesta ulang tahun Zaira hampir selesai dan ia harus segera bertolak menuju bandara untuk kembali ke Prancis.


“Send my greetings toward Rafael,” seru Tian, menyebut nama putra kecil Mary yang baru berusia satu tahun itu, sebelum wanita itu benar-benar menghilang di telan kerumunan tamu undangan.

__ADS_1


__ADS_2