Les Láches

Les Láches
Terra Incognita


__ADS_3

"Aku kangen banget sama kalian!" seru Hera begitu Tian menjawab panggilan video darinya.


Tian buru-buru turun dari spring bed-nya dan berlari ke kamar Safira. Sahabatnya itu baru saja bersiap mengeringkan rambutnya ketika Tian menerobos pintu kamarnya.


"Hera." Tian berkata cepat sembari memberi isyarat padanya untuk mendekat.


Safira mengambil sebuah handuk dan kembali membungkus kepalanya.


"Hai, *B*eautiful!" sapa Hera saat melihat wajah Safira di layar ponselnya.


"Why, thanks! Meskipun aku sama sekali enggak merasa seneng denger itu dari kamu," balas Safira cuek.


"Shut up! Aku kangen banget sama kalian!" Hera memasang wajah cemberut sambil mendekatkan muka ke arah ponselnya dan mendaratkan bibirnya di kamera depan.


"Uh!" Safira berjengit. Hal pertama yang terlintas di kepalanya adalah jejak lipstik yang mungkin akan membekas di permukaan ponsel milik Hera itu.


Tian sendiri hanya menggeleng-geleng kecil melihat tingkah laku sahabatnya yang satu itu. Di antara tiga sekawan itu, Hera adalah yang nomor satu soal tinggi badan. Namun, dari segi usia, ia adalah yang termuda. Sekalipun usianya hanya lebih muda dua bulan dibandingkan Tian, tetapi sepertinya usia mental gadis itu tiga tahun di bawahnya. Tepatnya, Hera bertingkah persis seperti gadis yang masih duduk di bangku SMA.


"Alvin mana?"


Tian mencari-cari sosok kekasih Hera yang biasanya tidak pernah berhenti menempel di sisi sahabatnya itu. Seolah Hera adalah sebuah planet dan Alvin adalah satelit yang mengorbit di sekitarnya.


Hera memutar kepalanya. Sejenak, pemandangan hutan bakau yang tadinya melatarbelakangi sosok jangkung Hera itu menghilang dari layar ponsel Tian dan digantikan dengan tampilan dek kapal yang bergoyang-goyang karena pergerakan Hera. Beberapa menit kemudian, wajah cantik gadis itu muncul kembali di layar ponsel Tian.


"Dia lagi asyik ngobrol sama dive master-nya." Hera mengedikkan kepalanya ke arah dua sosok yang tengah memunggunginya sambil mengarahkan ponselnya sedikit ke samping agar kedua sahabatnya leluasa melihat pemandangan di belakangnya.


Tian mengenali sosok jangkung yang memakai kaos oblong garis-garis dan celana selutut berwarna khaki sebagai Alvin. Di sebelahnya tampak seorang laki-laki berperawakan tegap sedang asyik menjelaskan sesuatu kepada Alvin.


"Kalian di Havana ngapain aja?" Hera kembali membuat kamera ponsel berfokus ke arahnya.


"Aku sih cuma jalan-jalan di Havana. Terus ke street market buat belanja," jelas Safira, lalu menoleh ke arah Tian yang berada di sampingnya. "Kamu mau ikut nanti? Masih banyak toko yang belum aku datengin."


"Aku mau ke El-Nicho nanti," tolak Tian cepat.


"Ke mana?" Safira mengernyit bingung, begitu pun Hera.


"Cienfuegos."


"Ngapain?" Safira dan Hera bertanya bersamaan.


"Ya tujuan kita di sini kan have fun." Tian memutar bola matanya.


"Ada apa aja di El-Nicho?" tanya Safira penasaran.


"Pohon, binatang, air terjun, danau. Semacam itulah."


"Maksud kamu, kamu mau ke hutan? Mau ngapain? Kemah?" Safira semakin bingung.


Tian dan Hera saling berpandangan malas lewat layar ponsel masing-masing. Bagi Safira, semua tempat yang tidak menyediakan wifi dan barang untuk dibeli adalah tempat yang tidak akan pernah tercatat dalam daftar destinasi tujuannya.


"Tapi nantinya kalian berdua bakalan jalan-jalan ke Havana Lama juga, 'kan?" Safira bertanya lagi.


Hera mengangguk antusias, sedangkan Tian hanya mengangkat bahu.


"Mungkin."


Tian memang paling malas diajak berbelanja. Apalagi belanja ala Safira yang membeli setiap barang yang menurutnya bagus untuk dipakainya sendiri atau dibagikan kepada orang-orang terdekatnya. Atau ala Hera yang akan lebih dahulu mengumpulkan setiap barang yang ingin dibelinya ke dalam beberapa troli belanjaan dan "menyortirnya" sebelum berjalan menuju kasir.


"Dari kemaren Tian kabur berdua sama Meda, ninggalin aku sama Afgar," adu Safira pada Hera.


Hera mengangkat sebelah alisnya. "Bukan kebalikannya?"


"Serius, Ra. Aku ninggalin dia sebentar buat belanja ...."


"Yakin cuma sebentar?" potong Hera lagi.


Safira melotot gemas. "Pokoknya ini anak dari kemaren enggak di Havana. Dia ke Viñales."

__ADS_1


"Viñales yang di Pinar del Rio?" tanya Hera memastikan.


Safira mengangguk mantap.


"Naik apa?" tanya Hera sambil menatap Tian.


"Bus."


"Ide siapa tuh?" tanya Hera lagi.


"Yang mana? Naik busnya atau jalan-jalan ke Viñales-nya?" Tian balik bertanya.


"Dua-duanya. Manusia anti ribet sedunia kayak kamu mau diajak jalan-jalan ke Viñales aja sudah kayak Monas masuk tujuh keajaiban dunia. Ini malah jalan-jalannya naik bus yang harus nunggu lama dan desak-desakan sama penumpang lain," celoteh Hera yang didukung oleh anggukan sepakat dari Safira.


"Aku anti ribet, bukan anti sosial. Aku juga suka ketemu orang, enggak cuma duduk diem terus di hotel." Tian membela diri.


"Oke deh. Kembali lagi ke El-Nicho. Kamu mau ke sana sama Meda lagi?" tanya Hera.


Tian mengangguk.


"Siapa mau ke El-Nicho?" tanya Alvin tiba-tiba muncul di sisi Hera.


"Tian tuh." Hera mengedikkan dagunya ke arah layar ponsel yang menampilkan dua sosok sahabat perempuannya.


"Ih. Sekalian tanning di sana?" Safira yang pertama kali menyadari warna kulit Alvin yang sedikit kecokelatan, bertanya heboh.


"Kalau kayak gini, gantengan mana aku sama tunanganmu?" Alvin mengusap-usap dagunya sembari mendekatkan wajahnya ke kamera.


"Meskipun Dylan O'Brien yang berdiri di tempat kamu dan nanya gitu ke aku, jawabanku tetep Afgar." Safira mencatut nama aktor favoritnya itu untuk menekankan pilihannya.


"Udah deh. Enggak usah sok kegantengan." Hera mendorong wajah kekasihnya itu menjauh dari kamera.


"Perjalanan ke El-Nicho lama loh, Ti. Setengah hari kira-kira. Rencananya mau naik taksi ke sana?" tanya Alvin lagi. Kali ini ia memasang wajah serius.


"Katanya sih bisa naik kereta," jawab Tian yang semalaman mencari rute perjalanan dengan biaya termurah.


"Duh! Taksi di sini kalo dirupiahin mahal," keluh Tian membuat Hera dan Alvin saling berpandangan.


"Kamu bisa pake duitku dulu, Tian. Tinggal ambil di brankas." Hera yang mengira sahabatnya itu sedang kesulitan finansial, berkata iba.


"Dia bukannya enggak punya duit, tapi dia belajar hidup prihatin dari calon pacarnya," sahut Safira ketus. Kalau memang Tian kesulitan uang, Safira-lah yang akan pertama kali turun tangan.


"Meda?" tanya Hera memastikan.


"Meda?" Alvin ikut bertanya dengan nada yang berbeda. Nada keheranan.


Safira mengangguk cepat sebelum bercerita bahwa Tian dan Meda sepakat akan membagi rata biaya perjalanan yang mereka keluarkan.


"Meda enggak kayak kita, Guys." Safira menekankan fakta bahwa di antara pemuda itu dan kelompoknya memang ada kesenjangan status sosial.


"It doesn't matter." Tian menyuarakan pendapatnya.


"Iya. Dalam cinta, status sosial bukan masalah." Hera mengangguk-angguk dengan wajah serius.


"Dalam PERTEMANAN, status sosial bukan masalah," koreksi Tian.


"Oke. Semuanya memang diawali dengan pertemanan dulu." Alvin ikut menambahkan dengan ekspresi yang tidak kalah seriusnya. Namun, Tian bisa melihat sudut bibir pemuda itu bergerak-gerak menahan senyum.


"Whatever!"


Tian meletakkan ponselnya dan turun dari ranjang Safira, membiarkan ketiga sahabatnya itu melanjutkan percakapan tanpa dirinya.


Meskipun setelah itu topik pembicaraan sudah beralih dari dirinya, ia lebih memilih mengalihkan perhatiannya pada koleksi skincare dan kosmetik yang berdesak-desakan di kotak make-up milik Safira. Gadis itu membaca satu-satu tulisan yang tertera di label kemasan benda-benda yang asing baginya itu.


"Mau belajar make-up?" tawar Safira yang baru saja mengakhiri sambungan panggilan video dan mengembalikan ponsel milik Tian.


Tian mendongak sekilas. "Mungkin kapan-kapan."

__ADS_1


Safira yang hendak meyakinkan Tian untuk memantapkan niatnya kembali menutup bibirnya ketika sebuah ketukan terdengar di daun pintu kamarnya.


"Siapa?" tanya Safira setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.


"Meda! Tian di dalam?" jawab suara di balik pintu itu.


Safira meluncur cepat untuk membukakan pintu. Saking antusiasnya, ia sampai tidak menangkap isyarat dari Tian untuk mengulur waktu. Safira baru menangkap maksud Tian ketika pintu sudah terbuka dan Tian baru saja berhasil menarik selimut dari ranjang Safira.


"Wow!" Kata itu meluncur begitu saja dari bibir Meda saat melihat ke arah pakaian tidur yang dikenakan Tian. Atasan kamisol berbahan satin dengan tali spageti dan potongan dada berbentuk V yang melekat di tubuhnya itu memperlihatkan lekuk tubuh sempurnanya.


Tian tidak menangkap kata-kata yang digumamkan oleh Meda, tetapi dari ekspresinya saja Tian sadar bahwa tidak ada gunanya menggunakan selimut di tangannya itu untuk menutupi sesuatu yang sudah terlanjur terekspos itu. Tian berlari cepat melewati Meda yang refleks memberi ruang saat melihat gadis itu berniat meninggalkan ruangan. Ia mencoba sekeras mungkin untuk melakukan kontrol pikiran, tetapi ujung matanya bergerak sendiri mengikuti langkah Tian sampai gadis itu menghilang di balik pintu kamarnya.


"Like what you see?" Safira menatap Meda dengan senyum penuh kemenangan seolah baru saja menangkap basah seorang maling ternak yang meresahkan warga.


***


"Setelah turun dari kereta nanti kita harus naik taksi."


Meda akhirnya membuka percakapan beberapa menit sebelum kereta yang mereka naiki berhenti di stasiun Cienfuegos. Selama perjalanan, keduanya menghabiskan sebagian besar waktu dengan mencari kesibukan sendiri-sendiri. Meda yang sekuat tenaga berusaha fokus pada novel yang dibacanya dan Tian yang mencoba tidur sampai tiba di stasiun tujuan. Pada akhirnya, kecanggungan itu cair juga berkat ingatan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Kamu enggak masalah naik taksi?" Tian seolah mendadak lupa dengan insiden tadi pagi dan menatap Meda cemas.


"Kita juga tidak bisa cari tumpangan ke sana, 'kan?" tanya Meda balik.


Tian menyandarkan punggungnya kembali ke kursinya. Di kepalanya terlintas ide untuk menanggung semua pengeluaran yang dirasanya "mewah" itu, tetapi ia cemas kalau-kalau perbuatannya malah akan menyinggung Meda. Karena itu, ia mencoba mengingatkan dirinya untuk sebisa mungkin tidak menjadi beban bagi Meda yang telah berbaik hati mengantar dan menemaninya pergi ke tempat-tempat yang ia inginkan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam waktu setempat ketika kedua muda-mudi itu tiba di Cienfuegos. Setelah keluar dari area stasiun, Meda bertanya tentang penginapan terdekat kepada seorang penduduk lokal yang ditemuinya.


"Dia bilang di belokan jalan itu nanti ada hostel buat keluarga," jelas Meda sambil menunjuk ke satu titik di jalan lurus yang berada di depan mereka.


Jalan yang kini tengah mereka lewati itu ternyata lebih gelap dari kelihatannya. Meda yang sama sekali tidak berani mendekati Tian berkat insiden tadi pagi hanya bisa berjalan pelan agar gadis yang mengekor di belakangnya itu tidak kesulitan menyamai langkahnya. Untung saja, hostel yang mereka tuju cukup dekat dengan jalan utama tempat mereka berdiri sebelumnya.


Meda membuka lebar pintu bercat putih sebuah bangunan dengan plakat dari kayu bertuliskan "Hostel Familia Leo" itu. Di balik meja tinggi sebuah ruangan di balik pintu, berdiri seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan dengan tubuh sintal dan rambut bergaya cepol. Wanita itu menyambut mereka dengan senyum ramahnya dan mulai berbincang dalam bahasa Spanyol dengan Meda.


Tian yang tidak memahami satu kata pun akhirnya memilih mengalihkan perhatiannya pada interior ruangan bercat krem dengan lantai hitam putih itu. Tidak ada dekorasi spesial selain lukisan-lukisan dengan aliran naturalisme yang menggambarkan jajaran pohon, air terjun, pegunungan, kawanan burung, dan banyak lagi. Namun, ada sebuah lukisan yang menarik di mata Tian.


Tanpa sadar tubuhnya bergerak untuk mengamati lukisan itu lebih dekat.


"Yeni bilang tinggal dua kamar yang kosong. Kamu ambil yang double bed atau yang single bed?" tanya Meda yang baru menyelesaikan percakapannya dengan pemilik hostel itu.


"Kalau ada yang double bed kenapa harus pesan dua kamar?" Tian yang masih tenggelam dalam pesona lukisan itu baru menyadari kata-kata yang meluncur dari bibirnya itu setelah beberapa saat.


Meda yang menangkap ekspresi serba salah yang muncul belakangan di wajah Tian hanya bisa tersenyum canggung.


"Aku ambil yang single, ya?" tanyanya sekali lagi sebelum berjalan kembali ke arah Yeni.


Tian mengekor di belakangnya. "Aku enggak masalah satu kamar."


"Aku yang masalah." Meda bersikeras.


"Aku enggak ngorok. Aku juga enggak masalah tidur dengan lampu nyala atau mati." Tian kembali mencoba meyakinkan.


Alis Meda hampir bertaut melihat tingkah gadis itu. Ekspresi Tian mengatakan kalau kejadian tadi pagi masih membuatnya canggung, tetapi ucapannya seolah mencoba menunjukkan fakta yang berlawanan. Beberapa saat kemudian, baru ia memahami apa yang sebenarnya dipikirkan oleh gadis itu.


"Kalau soal ongkos kamar, aku masih bisa survive tanpa harus memaksa pesen satu kamar buat dua orang," kekeh Meda.


Bibir Tian terkatup rapat saat menyadari bahwa pemuda itu membaca pikirannya. Ia sudah cemas jika harus bersitegang lagi dengan pemuda itu. Namun, setelah beberapa saat Meda tidak menunjukkan ekspresi kesal atau sejenisnya dan malah melanjutkan transaksi pemesanan kamar, Tian akhirnya bernapas lega.


Meda sendiri memang sama sekali tidak merasa tersinggung seperti perkiraan Tian. Sebaliknya, ia malah merasa senang karena gadis itu mempertimbangkan kondisinya sebelum mengambil keputusan. Hal yang tidak sering dilakukan oleh orang-orang yang lebih lama dikenalnya daripada gadis itu.


"Tu novia?*" Yeni bertanya sambil mengerling Tian dengan matanya yang ramah.


Kali ini, Meda hanya tersenyum sambil menyemogakan perkataan wanita itu kalau memang skenario itulah yang terbaik untuk keduanya di masa depan.


Catatan Penulis


Terra Incognita \= daratan asing

__ADS_1


Tu novia? \= kekasihmu?


__ADS_2