Les Láches

Les Láches
Break


__ADS_3

Tian mengawasi Mustang milik Meda sampai menghilang dari pandangannya sebelum menyusul Bella berjalan memasuki rumah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada Adler yang sedang duduk di ruang tengah, gadis itu naik ke kamarnya. Bella dan Adler yang menyadari perubahan sikap Tian dibandingkan dengan saat ia berpamitan pergi bersama Meda itu hanya bisa saling bertukar pandang tanpa berniat ikut campur. Tian memang bukan sosok yang suka menyimpan rahasia dari kedua orang tuanya, hanya saja ia baru akan berbagi cerita ketika ia merasa waktunya sudah tepat.


Sesampainya di kamarnya, Tian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Ia memandang langit-langit kamarnya yang tinggi sembari memikirkan pertengkarannya dengan Meda selama perjalanan pulang tadi. Sampai akhir pemuda itu menolak menanggapi permintaan Tian untuk kembali membahas topik yang diangkatnya sendiri itu.


Perjalanan sepulang dari kegiatan yang melibatkan pertemuan Meda dan Afgar kembali berakhir seperti ini. Begitu pikir Tian.


Membandingkan kedua pertengkaran tersebut membuat Tian sedikit cemas. Gadis itu mengingat bagaimana pertengkaran terdahulu baru berakhir setelah berminggu-minggu. Itu pun karena Tian terjatuh dari tangga. Kalau tidak, ia ragu Meda akan bersedia menemuinya saat itu juga.


Apakah ia harus sengaja mencelakai dirinya sendiri demi berdamai dengan Meda? Tian sedikit bergidik saat ide ekstrem tersebut melintas di kepalanya. Akhirnya, ia memutuskan bangkit untuk meraih ponsel dari dalam dompet yang ia letakkan di atas meja rias. Ia berniat menghubungi Meda saat itu juga. Menunda terlalu lama akan semakin membuat otaknya memikirkan hal-hal yang aneh.


Sambil menunggu Meda mengangkat teleponnya, Tian memandangi pantulan wajahnya di depan cermin. Ingatan tentang ciuman yang diberikan Meda kepadanya berpuluh-puluh menit lalu tiba-tiba menyeruak kembali di kepalanya dan membuat wajah Tian kembali memerah. Ciuman pertamanya mungkin tak seintens ciuman-ciuman yang selalu dilihatnya dalam film-film di bioskop. Bibir Meda yang hanya menyentuh bibirnya selama kurang lebih satu menit itu, mungkin tak menunjukkan keintiman yang berarti di mata siapa pun yang melihatnya. Namun, bagi Tian, debaran di jantungnya segera setelah momen itu berakhir membuktikan bahwa yang dilakukan Meda tersebut akan menjadi langkah yang penting dalam hubungannya dengan pemuda itu.


“Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan ini. Silakan coba beberapa saat lagi–”


Tian menekan tombol mengakhiri telepon dan memutuskan untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum mencoba menghubungi Meda kembali. Namun, saat ia baru saja berjalan keluar dari walk-in closet-nya, ponselnya berdering nyaring menandakan sebuah panggilan masuk. Tian melempar setelan piyama yang dibawanya ke atas tempat tidur sebelum meraih ponselnya. Sayangnya, nama ID yang terpampang di layar ponselnya itu bukanlah nama Meda.


Sembari menghela napas, Tian menekan tombol jawab.


“Ada apa, Gar?” tanya Tian pada si penelepon, Afgar. 


Nada suaranya sedikit ketus saat membuka percakapan dengan pemuda itu. Tanpa sadar, ia menyalahkan Afgar sebagai penyebab pertengkarannya dengan Meda. Tian menyadari bahwa Meda memang bisa jadi sangat pencemburu kalau sedang membicarakan sosok sahabatnya yang satu itu. Jauh lebih pencemburu dibandingkan saat laki-laki lain terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepada dirinya. Namun, Meda bukan orang yang suka memulai keributan tanpa sebab. 


Oleh karena itu, Tian curiga bahwa Afgar telah melakukan sesuatu yang membuat Meda kesal. Sesuatu yang lebih jauh daripada yang Meda ceritakan kepada dirinya.


“Sudah di rumah, ‘kan?” tanya Afgar.


“Ada apa, Gar?” Tian mengulang pertanyaannya lagi. Kali ini dengan nada suara yang lebih tegas.

__ADS_1


Sunyi sejenak sebelum Afgar akhirnya kembali berbicara.


“Maaf.”


Tian berdecak kesal. Ia memang belum mendengar hal yang membuat sahabatnya itu meminta maaf. Namun, satu kata itu saja sudah cukup untuk membuatnya semakin yakin bahwa Afgar bersalah.


“Nggak perlu minta maaf, Gar. Semuanya udah terlanjur juga. Aku cuma bisa bilang ke kamu agar kamu lebih berhati-hati saat berbicara dengan Meda. Karena dia sedikit sensitif pada hubungan kita semenjak....” 


Tian memutuskan untuk tak melanjutkan ucapannya karena kejadian yang memicu pertengkarannya dengan Meda terakhir kali jelas masih membekas di ingatan siapa pun yang terlibat, termasuk Afgar.


“Maaf.” 


Kembali kata itu terucap dari seberang telepon, membuat Tian tiba-tiba jadi merasa tak enak.


“Apa ini berarti kamu juga setuju dengan permintaan Meda agar kita menjaga jarak?” tanya Afgar lagi.


Mungkin karena Tian membutuhkan jeda yang terlalu lama untuk memutuskan, Afgar akhirnya kembali berbicara.


“Kalau itu keinginan kamu, aku akan memastikan untuk tidak terlibat lagi dengan urusan kalian berdua. Aku tidak akan muncul lagi di tempat-tempat yang kamu atau Meda biasa kunjungi, tapi aku tidak akan menjamin bahwa kita tidak akan bertemu di ruang publik seperti kampus atau–”


“Sebentar, Gar. Kamu nggak harus bertindak sejauh itu. Kita bisa–kamu bisa mencoba untuk sedikit menjaga sikap aja di depan Meda. Tidak perlu sampai menghindar dari aku. Bagaimana pun juga, kamu masih sahabat aku.” Tian cepat-cepat memotong perkataan Afgar sebelum pemuda itu mengatakan lebih banyak kalimat yang membuat dirinya tercabik dalam rasa bersalah.


Terdengar suara tawa lemah dari ujung telepon.


“Sahabat? Kamu masih menganggap aku begitu, Ti? Setelah beberapa pertengkaran yang membuat kamu terpaksa memilih Meda dibandingkan aku, apa kamu masih menganggap aku sahabat?” Afgar menghela napas. “Aku nggak ngerti kenapa hubungan kita bisa jadi serumit ini. Padahal, bukan sekali dua kali kita dihadapkan pada situasi yang membuat orang lain salah paham mengenai hubungan kita. Biasanya kita bisa melalui semua ini dengan mudah. Bahkan Safira memahami kedekatan kita. Terlepas dari semua itu pun, aku selalu mencoba memahami kamu sama Meda dan bersikap apa adanya di depan kalian. Namun, sepertinya aku akan terus disalahpahami. Karena itu, lebih bijak rasanya kalau aku yang mengalah, Tian. Kamu bisa mencari aku kalau kamu butuh, tapi aku tak akan melakukan hal yang sebaliknya. Tidak dengan resiko merusak hubungan kamu dengan Meda.”


Tian tidak memiliki kesempatan untuk menjawab karena Afgar memutuskan hubungan telepon setelah ia selesai berbicara. Tian hendak meneleponnya balik ketika berikutnya giliran panggilan Meda yang masuk ke ponselnya.

__ADS_1


“Habis terima telepon dari Afgar?” tanya Meda tanpa menjawab salam yang diucapkan oleh Tian.


“Assalamu’alaikum, Meda.” Tian mengulang salamnya.


“Wa’alaikusalam. Benar dari Afgar?” tanya Meda cepat.


Tian menghela napas lelah sebelum mengiyakan.


“Kamu nggak menghargai pendapatku sama sekali ya, Ti?” tanya Meda sinis.


Seketika itu juga air matanya menetes. Benaknya begitu sesak dengan desakan yang diberikan oleh dua laki-laki yang paling dekat dengannya setelah ayahnya itu. Meda menuntut Tian untuk menjauh dari Afgar dan Afgar yang menyalahkan Tian atas ketidakmampuannya membuat Meda memahami kedekatan antara keduanya.


“Aku... aku harus gimana, Meda? Menurut kamu mudah menjauh dari orang yang jelas-jelas penting buat aku. Dia sahabat aku. Orang yang menghibur waktu aku sedih, yang membantuku berdiri saat aku terjatuh, yang membelaku saat orang lain menghakimi aku.” Tian mengatakan semua itu dengan suara bergetar.


Meda menarik napas panjang sebelum menjawab. Kali ini dengan suara yang lebih lembut.


“Mulai sekarang ada aku, Tian. Aku bisa melakukan semua itu untuk kamu.”


“Jadi, maksud kamu, aku bisa membuang segala yang pernah dilakukan oleh Afgar itu seenaknya? Seolah masa lalu kami itu cuma fase kehidupan tidak penting dalam hidup aku? Kenapa kamu bisa se-nggak berperasaan itu sih?” 


Tian bisa merasakan tubuhnya gemetar karena amarah. Ia mulai merasa Meda ingin memonopoli waktu dan kehidupannya. Rasanya seperti melihat sosok ayah kandungnya di masa lalu. Tian buru-buru mengusir pikiran mengerikan itu sebelum melanjutkan ucapannya.


“Meda. Aku menghargai permintaan kamu untuk menjaga jarak dari Afgar. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh aku sesuka hati lagi kalau menurut kamu itu membuat hubungan kami terlihat mencurigakan. Tapi, please, jangan minta aku untuk membuang dia dari hidup aku.”


Namun, suara Meda saat menjawab permintaannya itu kembali terdengar dingin. 


“Entahlah, Tian. Sepertinya kita berdua butuh waktu untuk memikirkan kembali hubungan kita yang rumit ini.”

__ADS_1


__ADS_2