
Tian menatap sesosok tubuh yang terbaring di ranjang bangsal VIP itu dengan pandangan nanar. Tubuhnya ingin menyusul kedua adiknya yang telah berlari mendahuluinya untuk menuju ranjang tersebut, tetapi lututnya mengkhianatinya dan membuat Tian merosot ke lantai dengan cepat. Air mata mengalir deras mengaburkan pandangannya.
“Pa-papa?” Terbata-bata Tian mencoba memanggil sang ayah yang terbaring tak bergerak di sana, seolah berharap sosok tersebut hanya sedang tidur siang di atas ranjang tersebut dan akan segera menjawab panggilannya dengan sebuah senyuman lebar sarat kasih sayang seperti biasa.
Namun, tidak ada yang terjadi. Bukan karena suaranya terlalu lemah dibandingkan dengan raungan histeris dua bocah kecil yang tadi dibawanya itu, melainkan karena kondisi ayahnya memang tidak memungkinkannya untuk segera terbangun dari kondisi komanya. Ya, sosok yang biasanya terlihat gagah dan tak terkalahkan itu kini tengah terbaring tak berdaya di ranjangnya dengan kondisi tanpa kesadaran.
Bella memegangi lengan putri sulungnya tersebut untuk membantunya bangkit dan membimbingnya untuk berjalan mendekati sang ayah. Dada Tian semakin sesak melihat keadaan ayahnya dari dekat. Hampir separuh wajah dan tubuh bagian kanan ayahnya tertutup oleh luka bakar. Kepala sang ayah yang biasanya ditutupi rambut lebat itu kini dicukur habis karena operasi yang harus dijalaninya akibat kecelakaan maut tersebut. Satu-satunya hal yang membuat Tian bisa mengenali sosok itu sebagai ayahnya hanya sebuah tanda lahir besar di bahu kirinya.
“Ma. Ini kenapa? Kenapa papa bisa kayak gini?” tanya Tian dengan suara sengau. Sebelum terbang ke Swedia, Tian memang mendengar mengenai kecelakaan yang menimpa ayahnya itu, tetapi Bella tidak menceritakan detailnya di telepon.
Wajah Bella sendiri tidak terlihat lebih baik daripada wajah ketiga putrinya. Matanya luar biasa sembap dan wajahnya lebih pucat daripada warna dinding keramik ruangan yang ditempati oleh Adler tersebut. Tanpa bertanya pun, Tian sudah tahu bahwa sang ibu tidak tidur sejak ia menelepon Tian kemarin sore. Bella bahkan tidak beranjak sedikit pun dari sisi sang suami sejak laki-laki itu keluar dari ruang operasi.
“Papa kamu terlibat dalam kecelakaan beruntun waktu pulang dari pertemuan bisnis sama kliennya. Polisi bilang, papa kamu sedikit kelelahan sehingga nggak bisa menghindar ketika sebuah truk yang kelebihan muatan melenceng ke luar jalur saat mencoba menerobos lampu merah. Pengemudi truknya meninggal di tempat.” Bella menyampaikan kalimat terakhir dengan suara tercekik, seolah membayangkan bahwa suaminya bisa saja berada di posisi sebagai yang harus kehilangan nyawanya.
“Ada korban lain?” tanya Tian.
Ia sangat memahami perasaan ibunya. Karenanya, ia mencoba untuk mengalihkan perhatian sang ibu.
Bella mengangguk. “Ada dua mobil lain yang terlibat, satunya cuma mengalami benturan ringan karena sempat menghindar, dan kondisi satunya lagi nggak jauh lebih baik daripada papa kamu. Harusnya—harusnya mama ada di sana sama papa kamu. Semua ini karena mama nggak ikut papa kamu ke pertemuan. Kalau ada mama, papa kamu nggak mungkin kecapekan seperti itu dan bisa lebih konsentrasi di jalan. Semua ini gara-gara mama.”
__ADS_1
Tian meraih tangan Bella yang mengepal kuat dan mengusapnya lembut.
“Jangan nyalahin diri Mama sendiri. Mama pasti punya alasan kenapa Mama nggak bisa ikut, kan? Marcela mana?” tanya Tian sambil mengedarkan pandang ke seantero ruangan. Ia baru sadar bahwa dirinya tidak melihat gadis kecil itu sejak tiba di kamar inap ayahnya.
“Marcela di kamar lain. Dia demam tinggi sejak beberapa hari lalu dan kondisi cuaca yang berubah-ubah bikin ketahanan fisiknya semakin menurun. Kemarin lusa, waktu mama nganter dia check-up ternyata ada gejala tifus. Karena itu, mama harus nemenin dia opname di sini,” jelas Bella dengan air mata yang semakin deras mengalir. Ia hampir kehilangan kewarasan melihat dua orang yang sangat dikasihinya itu terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Bahkan salah satunya seolah sedang berada di persimpangan antara hidup dan mati.
Bella hampir mengucapkan kata maaf sekali lagi ketika pintu ruangan dibuka dengan kasar. Keempat pasang mata milik penghuni ruangan tersebut menatap bersamaan ke arah seorang perempuan berusia sekitar 60 tahunan yang kini tengah melangkah cepat ke arah Bella. Sosok itu adalah Zaira Oberon, ibunda dari Adler.
Bella dan Tian bangkit dari posisi duduk mereka dan bersiap menyambut, tetapi sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Bella sebelum ia sempat mengucapkan apa pun. Refleks, Tian menarik tubuh ibunya yang bergetar hebat itu ke dalam pelukannya sambil menatap nyalang ke arah Zaira.
“Pembawa sial!” maki perempuan tua itu sambil melempar pandangan tajam ke arah Bella dan Tian.
“Menjauh kalian dari sini. Dasar setan pembawa penyakit!” bentaknya sambil mencampakkan kedua tubuh kecil itu menjauh dari tubuh putranya.
Tian hampir bereaksi keras saat melihat kedua adiknya yang masih kecil itu diperlakukan seperti itu, tetapi Bella menahan lengan putri sulungnya itu. Ia melempar pandangan memohon kepada Tian saat putrinya tersebut berusaha memberontak. Akhirnya, Tian terpaksa mengalah dan memberi isyarat pada Lidia dan Joan untuk mendekat ke arahnya.
“Sejak awal saya sudah menentang keinginan Adler untuk menikahi perempuan yang tak punya latar belakang keluarga yang jelas seperti kamu. Belum lagi janda dengan tiga anak. Saya tidak tahu apa yang telah kamu lakukan untuk membuat putra saya begitu tergila-gila denganmu. Kalau laki-laki lain, saya bisa menebak kalau mungkin mereka mengincar wajah dan tubuh kamu. Tapi putra saya dibesarkan dengan baik dan tidak hanya melihat perempuan dari sisi fisik saja.”
“Dan akhirnya pertanyaan saya terjawab hari ini. Kamu itu perempuan licik. Kamu membuat putra saya berada di sini karena kecelakaan akibat kelelahan. Kamu sudah merencanakan banyak hal ternyata!”
__ADS_1
“Merencanakan?!” Tian yang tak lagi bisa menahan diri mendengar cara Zaira merendahkan ibunya berkata dengan suara melengking. “Orang gila ini ngomong apa, Ma?”
“Shh, Tian!” tegur Bella yang tak menyangka kalimat tersebut keluar dari bibir putrinya yang berwatak lembut itu. Zaira sendiri pun tak menduga bahwa cucu angkat yang dianggapnya penurut itu ternyata punya sisi seperti itu.
“Kenapa kamu tidak bersama dengan Adler saat kecelakaan itu terjadi? Kebetulan? Atau karena kamu tahu kalau Adler sudah sangat kelelahan dan pasti akan terlibat kecelakaan selama perjalanan?” tanya Zaira dengan senyum sinisnya.
“Marcela sakit. Dia ada di ruangan lain. ITU yang bikin mama nggak bisa nemenin papa kemarin,” kata Tian tegas.
“Sakit? Kamu yakin itu bukan karena dibikin sakit sama mama kamu?”
“Anda psikopat?! Ibu mana yang akan melakukan semua itu pada putrinya sendiri?” tanya Tian berang.
“Justru ibu kamu yang psikopat! Psikopat yang pandai berakting tepatnya. Lihat bagaimana ibumu berlagak lemah dan membiarkan kamu membela dia saat seharusnya dialah yang menjelaskan kenapa harus putra saya yang mengalami semua ini? Kenapa bukan dia yang sekarat dan terbaring di sini? Dengan begitu, mungkin saya bisa sedikit menganggap keberadaan dia di samping putra saya ada artinya.” Air mata Zaira menetes dan wajahnya memerah saat mengatakan semua itu. “Saya sudah mengira akan terjadi bencana mengerikan sejak Adler membawa ibumu ke rumah.”
Tian kehabisan kata-kata mendengar seluruh ucapan Zaira tersebut. “Isi kepala Anda benar-benar mengerikan.”
Zaira hampir membuka mulutnya kembali ketika sesosok laki-laki memasuki ruangan Adler dan berhenti tepat di depan Bella dan putri-putrinya.
“Pulang ke Indonesia sekarang!” perintah laki-laki itu dengan suara dingin.
__ADS_1