Les Láches

Les Láches
Posesif


__ADS_3

Meda melirik ke arah Tian untuk yang kesekian kalinya sebelum turun dari Mustangnya. Udara malam yang dingin membuatnya bergerak lebih cepat untuk membukakan pintu bagi kekasihnya itu. Namun, saat matanya kembali menatap Tian yang tersenyum ke arahnya sambil berniat turun, ia menutup kembali pintu penumpang dan mengunci mobilnya. Mata Tian melebar mendapati perlakuan Meda itu.


“Med. Apa-apaan? Aku mau turun!” teriak Tian sembari mengetuk-ngetuk jendela mobil pemuda itu.


Meda bergeming. Tian yang mengira bahwa pemuda itu mungkin tidak mendengarnya, hampir berteriak lagi dengan suara yang lebih keras. Namun, sebelum ia melaksanakan niatnya, Meda membuka kunci mobilnya.


“Kenapa aku dikunciin di dalam?” Tian bertanya dengan perasaan antara kesal dan bingung.


Meda hanya mendengus tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan Tian, bahkan saat gadis itu mengulang pertanyaan ketika keduanya berjalan menuju pekarangan depan rumah Afgar.


Saat ini, keduanya tengah menghadiri pesta ulang tahun Afgar yang diadakan di pekarangan depan rumahnya. Halaman depan rumah keluarga Afgar mungkin tidak seluas milik Adler, tetapi itu cukup untuk menampung tamu-tamu undangan yang dikumpulkan oleh Afgar untuk meramaikan pestanya.


Tian sendiri akhirnya menyerah untuk menanyai Meda dan memutuskan untuk mencari sahabat-sahabatnya di antara kerumunan manusia yang ada di sekitarnya. Hera dan Alvin yang telah tiba terlebih dahulu, terlihat berdiri di salah satu sudut pekarangan sambil membicarakan sesuatu dengan ekspresi wajah serius. Tian sedikit ragu untuk mendekat, tetapi Hera telah berpesan pada Tian untuk menemuinya ketika Tian sudah tiba di rumah Afgar. Karenanya, sebelum mengambil langkah lebih jauh dan tak sengaja mendengarkan percakapan mereka yang sepertinya rahasia itu, Tian menyerukan nama Hera dengan volume suara yang diusahakannya tak berlebihan. Namun, nyatanya ia masih mendapat teguran. Bahkan teguran itu berasal dari bibir kekasihnya sendiri.


“Kamu ngapain sih teriak-teriak?!” sergah Meda sambil mengerutkan dahi.


Tian hanya bisa cemberut dan memutuskan kembali berjalan tanpa menunggu Meda. Ia menghampiri Hera yang memberinya isyarat agar mendekat saat melihatnya.


“Mukanya jelek banget!” tegur Hera saat Tian berada di hadapannya.


Tian langsung mengeluarkan cermin kecil dari dompetnya dan memeriksa polesan make-up di wajahnya.


“Ada yang belepotan?” tanyanya panik. 


Tian bersumpah di dalam hati kalau ia tidak akan berdandan lagi jika sampai penampilannya kali ini terlihat konyol di mata orang lain.


“Bukan make up-nya. Ekspresi kamu tuh kenapa kayak begitu. Datang-datang udah bete,” balas Hera cepat sebelum beralih untuk menatap Meda. “Berantem?”


Meda lagi-lagi hanya mendenguskan napasnya, membuat Tian langsung mengadu kepada Hera.


“Tadi aku mau dikunciin di mobil, terus barusan dia ngomel cuma karena aku teriak-teriak pas manggil nama kamu. Ya, coba kamu pikirlah, Ra. Dari ujung sana,” Tian menunjuk pada titik yang tadi menjadi tempatnya berdiri, “ke sini, kamu bisa dengar suaraku kalau aku nggak teriak?”

__ADS_1


Alvin yang sedari tadi hanya diam, ikut memperhatikan Meda yang tidak membela diri sama sekali. Pemuda itu malah asyik melempar pandang ke semua penjuru di pekarangan rumah Afgar dengan tatapan garang. Alvin mengikuti arah pandangnya dan seketika terkekeh kecil membuat mata Hera langsung melebar. Pasalnya, kekasihnya itu sama sekali tidak tertawa semenjak keduanya keluar dari bangunan rumah Hera.


Ya, sebelumnya, pemuda itu hanya menunjukkan ekspresi ceria yang dipaksakan di depan orang tua Hera, tetapi kembali berwajah dingin saat hanya berdua dengan Hera. Namun, tawa yang baru saja ditunjukkan oleh pemuda itu adalah tawa lepas, tulus. Seolah ia kembali menjadi Alvin yang biasanya.


“Ada apa, Vin?” Hera memberanikan diri untuk bertanya. Kalau ia menemukan sesuatu yang bisa membuat Alvin tertawa kembali, ia akan berusaha untuk melakukannya.


“Dia cuma cemburu.” Alvin menjawab sambil melempar senyum jahil kepada Meda yang hanya mengangkat bahu tak peduli.


Hera, di sisi lain, sama sekali tidak memperhatikan hal lain–termasuk jawaban Alvin–selain fakta kalau kekasihnya itu benar-benar kembali terlihat “normal”. Selama beberapa detik, Hera kehilangan kata-kata. Ia baru berhasil memaksa dirinya berbicara ketika melihat senyum Alvin memudar saat melihat reaksinya.


“Cemburu karena apa?” Hera bertanya buru-buru. Suaranya terdengar melengking karena ia memaksa untuk mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang tercekat.


Untungnya, senyum di bibir Alvin terbit kembali saat ia menjawab pertanyaan Hera.


“Coba lihat baju Tian.”


Hera menuruti perintah Alvin. Ia mengamati dress kuningnya yang berpotongan A-Line dan mengerutkan dahinya.


Tian sendiri ikut memeriksa penampilannya.


Alvin mendekatkan bibirnya ke telinga Hera. “Jangan minta aku untuk menilai penampilan Tian dengan bibirku sendiri. Karena bakalan ada dua pasang tangan yang ngehajar aku kalau sampai opini jujurku terlontar.”


Hera semakin tak mengerti. Dua orang? Dan kenapa juga Alvin harus dihajar?


Alvin menghela napas tak sabar sebelum kembali menatap Meda.


“Ngerasa nggak, kalau penampilan pacar kita ini ketuker?”


Tanpa perlu ditanya dua kali, Meda mengangguk mantap membuat Tian dan Hera saling bertukar tatapan menilai. Hera langsung paham apa maksud Alvin saat membandingkan pakaiannya dengan gaun yang dikenakan Tian, sedangkan Tian sendiri masih terlihat kebingungan.


“Ya ampun! Aku pikir ada apa?” seru Hera sebelum menarik lengan Tian mendekat.

__ADS_1


“Nih, Ti! Alvin mau bilang kalau penampilan kamu itu nggak seperti biasanya. Kamu itu biasanya kan pakai bajunya tertutup seperti yang aku pakai ini, tapi malam ini malah pakai baju yang seperti gaya pakaian aku biasanya. Itu maksudnya ketuker.”


“Gaya pakaian kamu yang biasanya? Yang seksi?” Mata Tian membulat percaya setelah mendengar penuturan sahabatnya itu. “Ini seksi?”


“Menurutmu nggak?” 


Kali ini Meda yang bertanya dengan nada tajam membuat Tian hanya bisa membalas dengan suara berbisik.


“Yang kelihatan kan cuma bagian bahu aku.”


"Bukan karena itu. Gaun-gaun tipe slim fit seperti ini terlalu menonjolkan bentuk tubuh pemakainya." Hera berdecak setengah geli, setengah kesal. “Kalau aku yang pakai mungkin masih aman, tapi kalau Kate Upton yang pakai sudah bisa diprediksi kalau akan ada banyak lekukan yang terekspos.”


Tian hanya bisa mengerutkan keningnya mendengar nama yang baru saja disebutkan oleh sahabatnya itu. Ia memang tidak tahu siapa itu Kate Upton dan mengapa sosoknya dibandingkan dengan Tian, tetapi ia sudah bisa menarik garis besar dari hal yang dipermasalahkan oleh orang-orang terdekatnya itu, terutama Meda. Busananya terlalu seksi. Pantas kalau Meda sedikit merajuk.


Meda memang tidak suka melihat Tian berpenampilan "lain" dari biasanya. Ia tidak mau Tian menarik perhatian dari laki-laki lain selain dirinya. Bahkan saat Tian mulai belajar berdandan, Meda memaksa Tian untuk berjanji agar tidak pernah memakai lipstik merah dan riasan mata yang mencolok. Tian tentu saja mematuhi semua permintaan Meda itu dengan senang hati. Selain karena ia juga tidak pernah terbiasa tampil dengan riasan, ia berdandan hanya untuk menarik perhatian Meda. Kalau hasilnya malah akan membuat semakin Meda tak nyaman tentu Tian akan menghentikannya.


“Ya udah. Maaf,” ucap Tian akhirnya sambil menggelayut manja ke lengan Meda.


Meda yang tak menyangka tindakan Tian berikutnya itu hanya bisa menahan napas. Godaan yang dilancarkan oleh gadis itu semakin berbahaya, menurutnya. Ia hampir saja mempertanyakan identitas gadis itu kalau-kalau ia bertukar jiwa dengan gadis lain yang memiliki karakter berbeda. Namun, semburat merah di pipi Tian yang menandakan bahwa dirinya juga canggung dengan tindakannya sendiri, membuat Meda mengurungkan niatnya dan menelan pertanyaanya kembali.


Hera sendiri hanya bisa tertawa geli melihat kejadian tersebut. Dialah yang membuat Tian mempelajari trik tersebut karena gadis itu memaksa Hera mengajarinya cara membuat Meda menempel kepadanya seperti Alvin yang seolah tak mau lepas dari Hera.


Bersikap manja. Itulah salah satu trik yang diajarkan Hera kepada Tian. Siapa yang menyangka kalau tingkah yang seharusnya bertujuan untuk membuat gemas pasangannya itu malah berubah menjadi tindakan yang sangat menggoda saat dilakukan oleh seorang Tian.


Hera sedikit menyayangkan Safira tak melihat hal itu bersamanya. Ia baru saja akan mempertanyakan keberadaan sahabatnya yang satu itu ketika matanya menangkap sosok Afgar keluar dari dalam bangunan rumahnya dalam balutan kemeja hitam lengan pendek dan vest hitam putih. Di sampingnya, Safira berjalan sambil menggamit lengannya. Gadis itu sendiri memakai mini dress berwarna merah dengan kerah pita yang bisa diikat di belakang leher.


“Wow!” Itulah kata yang meluncur dari bibir Safira saat matanya menangkap penampilan Tian. “Kamu nggak tukeran isi lemari sama Hera, ‘kan?”


“Percaya deh, Fir. Aku kira juga ada bajuku yang ketinggalan di rumah dia,” timpal Hera sembari melempar pandang yang kurang lebih artinya “Tuh kan. Apa kubilang?” kepada Tian.


Ketiga gadis itu sibuk meributkan topik tersebut tanpa sadar bahwa Meda melempar pandangan tajam ke arah Afgar sambil menggunakan jasnya untuk menutupi bahu Tian. Memang hanya dirinya yang melihat sinar mata Afgar saat menatap Tian. Dan itu bukanlah tatapan yang akan diberikan oleh seorang kakak kepada adiknya, seperti yang diklaim oleh Tian saat Meda menanyakan tentang hubungannya dengan Afgar.

__ADS_1


__ADS_2