
Nata sibuk latihan main gitar dengan pak Chandra Alana juga sibuk sibuk dengan urusannya sehingga tinggal aku sendiri yang tidak memiliki teman selain mereka berdua
Aku berjalan diantara lapangan bola karena lewat situ sedikit adem banyak pohon rindang melindungi tidak ada kelas olahraga hanya ada beberapa anak cowok main bola tanpa di dampingi guru pengajar biasa terjadi mereka main hanya sekedar main bersama dengan santainya aku menuju kantin untuk membeli minuman dingin karena cuaca siang itu sangatlah panas " bruuuk " bola mengenai kepalaku sehingga aku hilang keseimbangan tubuhku ambruk kebawah mataku berkunang-kunang kepalaku sangat pusing rasanya sangat berat seketika mereka yang tadi asik main bola masuk dalam suasana tegang melihatku terkapar karena bola yang tadi mereka tendang mengenai kepalaku.
Ada beberapa siswi menghampiku untuk menolongku bangkit para PMR pun dengan cekatan untuk membantuku karena di hidungku keluar cairan merah dengan segarnya keluar begitu saja yang disebut dengan mimisan ada beberapa guru juga langsung datang melihatku dan para siswa yang dari tadi main bola berdiri mematung mungkin mereka bingung dan takut.
Pak Chandra yang tadinya mengajari Nata main gitar langsung meninggalkan gitarnya apa lagi memperdulikan Nata, pak Chandra menanyakan keadaanku karena melihat ku lemah dengan noda merah di hidungku dan juga kepalaku yang dihantam bola dengan cukup keras
" Rari apa kamu baik-baik saja "
" iya pak tida apa-apa "
" apanya yang tidak apa-apa coba lihat kamu mimisan "
" mungkin kepala saya kaget pak karena hantaman bola "
" dasar bodoh apa otakmu tergeser itu jelas sakit "
__ADS_1
" tidak apa pak "
" tunggu sebentar akan bapak hukum anak-anak itu "
Aku kaget dengan perkataan pak Chandra tadi mengapa pak Chandra terlihat sangat marah ini kan hanya kecelakaan kecil mereka juga tidak sengaja menendang bola dan mengenai kepalaku mengapa mereka harus di hukum.
Yang benar saja semua siswa yang main bola tadi dihukum berdiri dibawah bendera sungguh kasian sedangkan cuaca saat itu begitu panas yang akan mencucurkan keringat diantara pelipis mereka aku merasa sedikit bersalah padahal mereka tidak seharusnya di hukum seperti itu.
" Apa kamu baik-baik saja Rari " untuk kedua kalinya pak Chandra menanyakan keadaanku namun kali ini terlihat lebih santai dari sebelumnya yang terpancar sangat khawatir
" baguslah, apa kepalamu masih terasa sakit "
" tidak pak, apa mereka harus dihukum "
" mereka pantas untuk itu karena sudah membuat kamu sakit "
" mereka tidak sengaja pak "
__ADS_1
" sengaja atau tidak mereka jelas salah karena mereka main di luar jam olahraga apa kamu paham "
" tapi kasian mereka pak "
" sudahlah biarkan hitung-hitung untuk membuat mereka jera "
" tapi kan cukup dengan di tegur "
"apa kamu pikir bapak tidak mengkhawatirkan mu "
" kenapa "
" ah lupakan saja "
Sepertinya pak Chandra benar-benar mengkhawatirkan ku di matanya seperti ada sesuatu tapi aku tidak tahu apa itu.
Di gerbang sekolah ada beberapa siswa yang tadi main bola menghampiriku mereka meminta maaf padaku dari sorot mata mereka ada rasa menyesal namun juga ada rasa kesal mungkin kesal dihukum sampai satu jam dibawah terik matahari apa lagi pasti sangat malu, aku menepuk bahu salah satu siswa itu dan mengatakan tidak apa dan aku juga minta maaf karena kejadian tadi mereka harus di hukum berdiri dibawah terik matahari.
__ADS_1