
Entah salah apa aku pagi ini sehingga pak Chandra diam tanpa suara mungkin pak Chandra sedang mengheningkan cipta begitu pikirku.
" Eheem sudah kali pak mengheningkan ciptanya kita tidak lagi upacara " ucapku
" Kenapa " Tanya pak Chandra sangat menjengkelkan
" Disini ada Rari pak mengapa bapak diam saja seperti orang yang sedang mengheningkan cipta begitu "
" Tidak "
" Rari punya salah atau tadi membuat bapak marah mengapa sangat sensitif seperti ini seperti perempuan sedang datang bulan saja "
" Tidak tahu " Ucap pak Chandra lagi
" Huuh sangat menyebalkan untung saja kau tunangan ku yang tampan pak jika tidak sudah aku jadikan perkedel kau " Batin ku melihat pak Chandra yang sedang ada di dunianya sendiri tanpa memperdulikan lihat saja ekspresi mukanya yang datar seperti sangat menjengkelkan.
Kenapa diam seperti ini " Aku merangkul tangan pak Chandra untuk membujuknya
" Tidak ada apa-apa "
" Sudahlah lanjutkan saja mengheningkan ciptanya " Aku berdiri berniat meninggalkan pak Chandra
" Rari pulang ya " Berharap pak Chandra merespon
" Ayo dong pak tahan " Batinku berkata penuh harap namun pak Chandra masih saja mengheningkan cipta.
Aku berjalan sendiri meninggalkan pak Chandra yang dengan khusyuk nya mengheningkan cipta tanpa sebab seperti itu.
" Entah apa yang merasuki pak Chandra sehingga diam seperti itu sangat menjengkelkan " Aku menggerutu sambil mencari-cari jawaban dari diamnya pak Chandra.
Aku berdiri dipinggir jalan menunggu taksi ataupun angkot lewat.
__ADS_1
" Hey " Mobil merah berhenti di hadapanku yang didalamnya ada Dion
" Eh Dion "
" Nunggu taksi ya Ri "
" Iya "
" Naik saja "
" Tidak usah " Tolak ku
" Apa kamu menunggu tunanganmu itu "
" Iya " jawabku singkat
Tidak lama pak Chandra datang menghampiri ku dan Dion.
" Aku pikir akan memberikan tumpangan karena Rari terlihat sedang menunggu taksi "
" Apa kau tidak lihat aku ada disini, pergilah " pak Chandra dengan tatapan sinis
" Duluan ya " ucap Dion dengan melempar kan senyum
Pak Chandra menatapku dengan tajam aku melihatnya tersenyum dengan tingkah dan tatapan seperti itu.
" Seperti nya tunangan kecilku ini tidak bisa dibiarkan sendiri "
" Apa sudah selesai mengheningkan ciptanya " Aku meledek pak Chandra dengan tersenyum
" Sudah "
__ADS_1
" Haha bapak sangat menggemaskan " aku tertawa
" Sini polpen yang diberikan Dion waktu itu "
" Polpen "
" Iya, sini "
" Itu bukan Dion yang memberikan tapi Wiwid " aku menerangkan
" Sama saja tapi bukankah Dion yang memilihkan dia benar-benar licik "
" Ini polpen nya, jadi ini penyebabnya tunangan kesayanganku ini mengheningkan cipta seperti tadi "
" Nah ini polpen tidak kalah bagus bapak memilih kan nya untuk mu jadi buang saja polpen dari Dion itu " pak Chandra memberiku polpen berwarna pink
" Sangat bagus terimakasih pak guru ku "
" Sini polpen itu aku tidak suka melihatnya mataku sakit melihatnya " pak Chandra mengambil polpen yang diberikan Wiwid
" Sudahlah jangan seperti itu "
" Aku tidak suka kau berteman dengan Wiwid "
" Dia hanya anak kecil dia tidak salah bukan "
" Tetap saja bukankah mereka sepupuan dan Dion itu sangatlah licik "
" Jangan pedulikan dia " bujuk ku
Ternyata pak Chandra sangat sensitif hanya karena polpen pak Chandra bisa mendiamkanku seperti tadi dan untung saja ngambek pak Chandra tidak terlalu lama hanya sebentar saja coba sampai lama bisa-bisa aku pusing dengan sikap pak Chandra yang diam seribu bahasa seperti itu.
__ADS_1