Mafia In Love [KimJane]

Mafia In Love [KimJane]
Chapter 23


__ADS_3

*Holla guys**🤟🏻*


✨Happy Reading✨


•


•


#KIM POV


Mataku refleks terpejam, kala aroma wangi yang aku yakini dari sebuah hidangan, menabrak Indra penciumanku dan menyeruak masuk lebih dalam. Aku merasa aroma wangi itu seakan menyambut kedatanganku malam ini, membuatku ingin segera masuk ke dalam sana.


Tanpa sadar, kaki ini melangkah dengan cepat, memburu aroma wangi yang terasa semakin pekat. Mataku mengedar, mencari keberadaan seseorang yang menciptakan aroma itu.


Lihat, dia disana.. sosok bak bidadari yang membuatku selalu ingin cepat kembali ke rumah, sedang sibuk dengan berbagai peralatan masak serta apron berwarna ungu kesayangannya. Sepertinya ia tengah sibuk dan begitu fokus dengan kegiatannya, bahkan ketika aku meletakkan beberapa paper bag ke atas meja, perhatiannya masih belum teralihkan.


Sudut bibirku terangkat keatas, itu terjadi secara otomatis setiap kali melihatnya. Dan Hanya dia yang mampu membuatku melakukan hal itu. Aku melangkah semakin dekat, berusaha membuat gerakan sepelan mungkin untuk memberinya sedikit kejutan.


“Aku pulang!” kulingkarkan kedua tanganku di pinggang ramping miliknya dari arah belakang. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selalu membuatku candu.


“KIM!!” Sepertinya ia terkejut dengan gerakanku yang tiba-tiba, dan aku merasa senang akan hal itu. Namun dia sepertinya kesal padaku saat ini.


“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut” Semakin ku peluk erat pinggang yang dibalut dengan apron itu, sembari menumpukan daguku ke atas bahunya.


Cup!!


Tidak lupa, Aku hadiahkan sebuah kecupan singkat di pipinya yang halus nan lembut itu, persis seperti permen yuppi, membuatku gemas dan ingin menggigitnya.


“Jangan lakukan itu lagi!” Pintanya dengan tatapan galak namun tak dapat menyembunyikan senyum yang mungkin ia tahan sejak tadi.


Aku tersenyum semakin lebar, bergelayut manja sembari memberi kecupan-kecupan kecil di leher jenjang kesukaanku. Namun sepertinya ia sedikit terganggu, mungkin karena merasa geli.


“Jane cium” pintaku, dan dia tertawa setelah mendengar gumamku yang tertahan dilehernya.

__ADS_1


Ia membalikkan tubuhnya dengan cepat, menangkup wajahku dan menghadiahkan lima ciuman sekaligus secara beraturan. Kening, kedua pipiku secara bergantian, hidung dan terakhir dibagian yang paling aku sukai, bibir.


“Sudah puas?” Aku tersenyum penuh kemenangan setelahnya, dengan ia yang kembali bergelut dengan pan kotak itu.


“Aku memasak menu baru hari ini!” Dia menunjukkan kegiatan yang membuatnya tak teralihkan sejak tadi, matanya melirik sejenak ke arahku lalu kembali fokus.


“Apa itu?” Aku bertanya, meskipun mataku dapat melihat jelas sebuah daging yang dibakar diatas pan, dengan asap yang mengepul.


“Steak?” Tanyaku lagi, yang dijawab dengan anggukan kepala pelan olehnya.


“Bisakah kau lepaskan dulu? Aku harus menghidangkan steak ini terlebih dahulu” aku melepaskan pelukanku dengan terpaksa, rasanya tak rela melepaskan tubuh itu meskipun hanya sebentar. Namun apa boleh buat, aku tidak boleh egois dan membuatnya merasa tidak nyaman.


Aku melangkah menuju meja makan, tempat dimana ia akan meletakkan hasil karyannya nanti. Duduk manis, menunggu dengan sabar disana. Namun mataku tak dapat lepas dari setiap gerakan yang ia buat, walaupun itu hanya gerakan kecil.


Dalam hati aku selalu berucap syukur untuk kehadiran bidadari yang diterjunkan langsung oleh-Nya. Aku selalu merasa buruk sejak dulu, terlebih karena kehilangan semua anggotan keluargaku. Namun sejak kedatangannya ke dalam hidupku, untuk kali pertama aku merasa menjadi seseorang yang paling beruntung saat ini.


#KIM POV END


🖤🖤🖤🖤🖤


“Kim, kau membeli semua ini untukku?” Tanya Jane dengan senyum mengembang, tak dapat menyembunyikan rasa senangnya saat ini.


Lelaki yang dipanggil namanya itu melirik sejenak ke atas ranjang, memperhatikan ekspresi bahagia seorang Jane dengan hadiah yang sangat sederhana.


“Oh My God, aku ingin melahap habis mereka semua” Jane kembali bersorak senang, mengeluarkan coklat-coklat dengan berbagai bentuk dan merk dari dalam paperbag dengan tidak sabar.


Ya, Kim membelikan coklat dengan berbagai rasa, bentuk dan merk yang berbeda. Lebih tepatnya, itu hasil dari ide Kannika, sahabat dari Jane. Seperti yang Kannika katakan, Jane adalah penggila coklat, gadis itu bisa memakan lebih dari 10 coklat dalam sehari. Namun tentu saja itu tidak akan terjadi, karena bibi Hom akan memarahinya.


“No!! No!! Sehari hanya satu coklat saja!” Cegah Kim, membuat gadis itu mencebik kesal.


Kim menutup laptopnya dan menghampiri sang istri yang sepertinya mulai merajuk. Duduk di tepi ranjang, lalu meraih bahu gadis itu dan menatapnya dengan lembut.


“Kau tahu bukan jika memakan banyak coklat dalam waktu bersamaan akan membuatmu sakit?” tanya Kim dengan nada lembut, yang dibalas dengan anggukan kepala pelan oleh gadis itu.

__ADS_1


“Aku memberikan semua ini untukmu dengan tujuan agar kau selalu merasa senang, namun bukan berarti aku mengijinkanmu untuk melahap habis semuanya secara bersamaan, mengerti” Kim tersenyum ketika wanitanya menganggukkan kepala lagi. Benar-benar penurut, dan inilah yang membuat Kim semakin mencintainya.


Kim menarik tubuh sang istri, membawa Jane ke dalam pelukannya yang hangat.


“Ini pasti ide Nik bukan” gumam Jane didalam pelukan Kim.


“Hhmm.. dia bilang kau sangat suka coklat, jadi aku memintanya untuk membelikan semua coklat yang ada” jawab Kim jujur.


“Aku harap dengan semua coklat-coklat itu, kau tidak akan bersedih lagi” imbuh Kim yang membuat Jane melerai pelukan mereka.


“Bersedih?” Tanya Jane dengan raut wajah yang sulit diartikan.


“Hhmm.. selama dua hari ini aku lihat kau sering melamun dan seperti sedang bersedih. Mungkin dengan membelikanmu sesuatu yang kau sukai dapat menghilangkan sedikit rasa sedihmu, begitu isi kepalaku” jelas Kim dengan antusias.


“Kenapa kau tidak bertanya saja padaku? Tentang alasanku melamun?”


“Aku sangat ingin melakukan itu, sungguh. Namun aku pikir, hal itu akan membuatmu merasa tidak nyaman nantinya. Jadi aku memilih untuk membelikanmu semua ini dan berharap kau menceritakan semuanya padaku. Tapi jika kau belum siap, tidak apa. Aku akan menunggu sampai kau merasa nyaman dan siap untuk bercerita padaku” jawab Kim, dengan tatapan lembut sembari mengangkat salah satu tangannya untuk mengelus pipi Jane.


Jane tersenyum dan memilih kembali menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan Kim.


“Bisakah kau berhenti untuk memohon kepada Ma?” Jane berkata dengan bibir bergetar menahan sesuatu yang mengganjal sejak dua hari kebelakang. Sesuatu yang membuat dirinya melamun dan merasa sedih.


“Jika dia tidak suka denganmu, maka aku tidak apa! Kau sudah berusaha Kim, bagiku itu sudah cukup. Aku tidak bisa melihatmu dimaki dan diperlakukan kasar olehnya, meskipun ia adalah ibuku. Kau tidak perlu membuktikan apapun padanya karena yang merasakan cinta itu adalah aku” imbuh Jane, tanpa sadar air matanya kini menetes dan mengalir deras di atas pipinya.


Meskipun lelaki itu tak pernah memberitahunya, jika iya datang ke mansion Suchart Family untuk menjelaskan kepada nyonya besar Suchart jika dirinya benar-benar tulus mencintai putri bungsu keluarga itu. Namun yang didapat hanya makian dan kata-kata kasar, membuat hati Jane terasa pedih.


Jangan tanya mengapa ia tahu, Jane memiliki mata-mata di dalam mansion itu dan selalu setia melaporkan setiap kejadian yang menyangkut tentang dirinya. Dan dihari dimana mata-mata itu mengirimkan sebuah rekaman video, sang suami ditampar, Jane benar-benar sedih dan merasakan pedihnya bekas tamparan yang selalu bisa Kim sembunyikan dengan baik.


“Jadi itu yang membuatmu bersedih? Jika iya..Maka aku akan berhenti seperti yang kau minta” ujar Kim, sembari mengelus pelan punggung sang istri.


Meskipun Kim merasa terkejut karena Jane mengetahui semua itu, ia memilih tidak bertanya darimana wanita itu tahu akan hal itu.


Bersambung…

__ADS_1


*Jangan lupa like, komen dan Vote**đź’šđź’™*


__ADS_2