![Mafia In Love [KimJane]](https://asset.asean.biz.id/mafia-in-love--kimjane-.webp)
...✨Happy Reading✨...
•
•
“Mr.Albert, saya sudah sampai di lokasi” Aroon kembali menekan alat yang terpasang di telinganya.
“Bagus! Sekarang keluar, aku berada di mobil” titah Albert
“Baik Mr”
Setelah memutuskan komunikasinya, Aroon kini melirik ke arah wanita yang masih tertidur pulas di dalam pelukannya. Ia menatap lekat wajah wanita yang beberapa saat lalu ketakutan dan memeluk tubuhnya erat, seakan takut jika ia tinggalkan.
Deg!! Deg!!
Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, dan hal itu sontak membuatnya panik.
“Oh Hey, jangan berdetak begitu kencang bodoh!! Kau akan membangunkannya kalau begini” Aroon merutuki jantungnya sendiri.
“Eenngghh..”
Dan benar saja, tak lama setelah itu Nik terbangun dari tidurnya. Aroon yang sadar akan pergerakan Nik, mencoba untuk tetap tenang dan mengatur kembali detak jantungnya yang semakin berdetak kencang. Terlebih tangan wanita itu semakin memegang lengannya dengan kencang.
“Nik.. kita sudah sampai” bisik Aroon dengan lembut sembari mendaratkan tangannya ke atas pipi halus itu.
Mata indah itu mengerjap pelan, mengintip dengan seksama tempat yang begitu asing dimatanya.
“Kita sudah sampai di tempat penjemputan Khun Jane! Sekarang ayo turun!” Jelas Aroon
“A-aku takut..” lirihnya dengan mimik wajah yang menggambarkan jelas jika dirinya tengah ketakutan.
Aroon tersenyum, ya laki-laki es batu itu tersenyum ke arah Nik dan membuat wanita itu terdiam untuk sesaat.
“Kau lupa jika sekarang kau ada bersamaku?! Percayalah, kau akan baik-baik saja” ujar Aroon sembari menangkup wajah cantik Nik dengan kedua tangannya.
Nik mengangguk pelan, seolah setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aroon. Bibirnya tertutup rapat, bukan karena malas berbicara melainkan dirinya tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. Senyum manis itu, senyum yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Sekarang kita turun” dengan hati-hati, Aroon mengajak wanita itu turun dan meraih tangannya, berjalan menuju mobil yang terletak di depan gang.
Ah tunggu, Aroon melupakan satu orang lagi.
“Korn, turunlah! Kita sudah sampai” alih-alih berbalik dan mengajak Korn turun, Aroon memilih untuk berteriak dari arah luar.
“Baik Khun Ar..” balas Korn yang ikut keluar dari dalam mobil.
“Selamat malam Mr. Albert” sapa Aroon yang tak lupa untuk menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Bagus Aroon, kau berhasil menyelesaikan misimu dengan cepat” puji Albert yang sudah turun dari dalam mobilnya.
“Terima kasih untuk pujian anda Mr. Albert. Sekarang apa rencana anda selanjutnya?” Tanya Aroon
Albert melirik ke arah seseorang sejenak, bibirnya sedikit terangkat dan kembali fokus pada Aroon.
“Kalian masuklah dan bantu Kim. Aku akan menyusul setelah ini, ada sesuatu yang harus aku selesaikan.” Titah Albert yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Aroon.
Seperti yang dikatakan Albert, mereka bertiga masuk ke dalam gang sepi itu.
•
•
PRANG!!
PRANG!!
Pertarungan di antara kedua kubu masih sangat sengit. Di sisi sebelah kiri, Andra terus menyerang tanpa memberi celah bagi Kim untuk berbalik menyerangnya. Sedang di sisi kanan, Kim terus melangkah mundur sembari menghindari serangan Andra yang bertubi-tubu.
“Ada apa denganmu Kim? Ayo lawan aku” ujar Andra dengan nada mengejek. Kim terdiam, ia tak ingin menjawab apapun karena itu akan membuat tenaganya terkuras.
CRASHH!!
Salah satu mata pedang berhasil mengenai lawannya tepat di bagian lengan. Membuat pertarungan di antara keduanya terhenti sesaat.
“Maaf, aku tidak sengaja” seru Andra kala melihat darah segar mengalir deras dari arah lengan Kim.
“Kau sudah senang sekarang?” Kim bertanya, namun kalimat ini bukan seperti sebuah pertanyaan.
“Tentu saja belum, karena tujuanku ingin membuatmu binasa” jawab Andra dengan percaya diri.
“Sayang sekali jika luka yang aku dapat belum bisa membuatmu senang. Karena saat ini, aku yang akan bersenang-senang” Kim mengangkat pedangnya dan mulai mengayuhkannya ke arah Andra.
Sekarang keadaan berbanding kebalik, Kim kini menyerang Andra dengan membabi buta. Serangan Kim terbilang lebih cepat jika dibandingkan serangan Andra tadi. Bahkan Andra terlihat kualahan saat ini menghadapi Kim.
“Ada apa dengan wajahmu Andra? Kenapa begitu tegang” bisik Kim sembari terus mengayuhkan pedangnya.
Perlahan, Andra mulai kehabisan tenaga karena tak mampu mengimbangi permainan Kim yang begitu brutal.
“Sial dari mana ia mendapat asupan tenaga” batin Andra
CRASHHH!!
“Aakhhhh!!” Pekik Andra kala mata pedang Kim berhasil menyayat tepat di lengan sebelah kanannya.
“Maaf, aku tidak sengaja” ujar Kim membalikkan ucapan Andra beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
CRASHH!!
Lagi, mata pedang Kim berhasil mengenai lawannya, sekarang bukan di bagian lengan, tapi di bagian dada. Membuat Andra akhirnya tumbang dan terjerembab ke atas lantai.
“Huh.. bagaimana?” Kim menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Kakinya bergerak maju untuk mendekati Andra yang terus merangkak mundur.
KRAK!!
“Aaarrgghhhh!!!” Andra berteriak kesakitan ketika ujung pedang Kim menusuk tangannya. Membuat lelaki itu tak bisa bergerak lagi.
“Sama sekali tidak seru! Kau terlalu lemah untuk menjadi lawanku” Kim berjongkok, dengan bertumpuan sebuah pedang yang masih tertancap sempurna di tangan Andra.
“Bunuh saja aku!” Desis Andra, yang dengan berani membalas tatapan Kim.
“Hahaha.. membunuhmu? Itu terlalu mudah! “ Kim tertawa puas.
“KIM!!
Seseorang berteriak dari kejauhan, membuat keduanya menoleh secara bersamaan.
“Jane!!”
Ya, wanita yang berdiri di sebelah kiri adalah Jane. Dan hal ini tentu membuat mata Kim berbinar.
Tanpa basa basi, ia mencabut pedang yang menancap di tangan Andra, berlari dengan cepat untuk menghampiri istrinya itu.
GREPP!!
Kim memeluk erat tubuh sang istri, bahkan sangat erat hingga wanita itu hampir tak bisa bernafas.
“Uhuk!!uhuk!! Aku tidak bisa bernafas” cicit Jane di dalam dekapan sang suami.
“Maaf..maaf.. aku begitu mengkhawatirkanmu” Kim melerai pelukannya dan menatap lekat wajah sang istri. Namun ada sesuatu yang membuat senyum lega di wajah Kim pudar begitu saja.
“Jane, siapa yang melakukan ini?” Tanya Kim yang berfokus pada pipi merah serta ujung bibir Jane yang terluka.
“Aku sudah membalasnya, tidak usah khawatir” Jane tersenyum, berharap apa yang ia katakan dapat meredam emosi sang suami.
“Aku tanya siapa pemilik tangan itu Jane?! Akan ku pisahkan tangan itu dari tubuhnya” Kim kembali bertanya namun kali ini sedikit lebih dingin, membuat Jane sedikit merinding saat mendengarnya.
Jane menghela nafasnya sejenak, baru saja ia hendak menjawab pertanyaan Kim. Sebuah bayangan yang berasal dari belakang membuat berteriak histeris.
“KIM!! Dibelakangmu!!” Pekik Jane lalu langsung menutup matanya dengan kedua tangan.
CRASHH!!
BUGHHHH!!
__ADS_1
“Aarrggghhhh!!!!”
Bersambung….